|
Puncta 7 Agustus 2026
Jum’at Biasa XVIII Matius 16:24-28 HAMPIR di semua tempat ziarah, entah di gua-gua Maria atau taman-taman doa, prosesi jalan salib banyak dihindari orang. Tidak banyak orang yang melakukan ritual jalan salib. Selain dianggap terlalu lama dan menghabiskan waktu, orang mencari hal-hal yang praktis dan instan. Ziarah tidak lagi menjadi cara orang mendekatkan diri pada Tuhan, tetapi hanya dipakai sekedar menjalankan ritual. Yang penting healing-healing atau happy and fun journey saja. Program ziarah yang melulu hanya doa dan laku prihatin dihindari orang. Budaya modern sekarang ini menggerogoti usaha manusia untuk dekat dengan Tuhan. Orang zaman sekarang melihat penderitaan sebagai kegagalan. Kesuksesan, kehebatan dan kemewahan dianggap sebagai nilai tertinggi. Penderitaan dihindari. Kerja keras dan pengorbanan kalau bisa dijauhkan. Orang mau cari enak, nyaman dan sukses tanpa harus berjuang jatuh bangun berpeluh keringat dan berdarah-darah. Adagium “muda kaya raya, tua foya-foya, mati masuk surga,” itulah yang didambakan orang. Tetapi menjadi pengikut Kristus tak bisa berlaku demikian. Kristus menuntut dengan tegas syarat-syarat menjadi murid-Nya. “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku. Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.” Menyangkal diri berarti berani melepaskan egonya dan tidak mementingkan dirinya sendiri. Hidup tidak hanya untuk dirinya sendiri, tetapi berani berkorban bagi orang lain. Memikul salibnya berarti mau menghadapi penderitaan demi kesetiaan pada Kristus yang mengasihi. Mengikuti Yesus artinya meneladani Kristus sebagai jalan, kebenaran dan hidup. Tidak mengikuti janji-janji kosong dunia yang semu dan tidak membawa keselamatan abadi. Mengikuti Dia berarti setia pada kehendak Bapa, bahkan jika harus menderita sekalipun. Ikut Yesus atau jadi murid-Nya itu tidak mudah. Tidak cukup hanya hapal “Credo” atau syahadat para rasul. Tidak cukup hanya seminggu sekali ke gereja. Tidak cukup hanya hapal doa-doa dari Buku Puji Syukur atau Madah Bakti. Apakah kita sungguh-sungguh siap menjadi murid-Nya, jika Tuhan menuntut kita memanggul salib dan menyangkal diri agar bisa mengikuti pola hidup-Nya? Sepercik pantun buat anda: Tak ada yang jalan salib di Sendangsono, Enak naik angkot dari pinggir kali Progo. Jadi murid Yesus jangan suka sembrono, Rela menderita agar kita masuk ke surga. Wonogiri, rela memanggul salib Rm. A. Joko Purwanto, Pr
0 Comments
Leave a Reply. |
Archives
December 2034
Categories |
RSS Feed