|
Puncta 23 Maret 2026
Senin Prapaskah V Yohanes 8:1-11 RANCANGAN undang-undang perampasan aset sampai sekarang tetap tersimpan rapi di meja DPR. Entah kapan itu akan disahkan. Nampaknya semua enggan untuk mengesahkan karena kalau RUU itu disahkan, orang takut melakukan korupsi. Walaupun kita sudah melakukan reformasi pada tahun 1998, namun korupsi tetap saja berjalan, bahkan semakin menggurita dan terang-terangan dari tingkat atas sampai ke bawah. Hampir setiap tahun ada saja pejabat yang ditangkap KPK karena korupsi. Ada menteri, wakil menteri, bupati dan kroni-kroninya. Hukuman tidak membuat orang jera melakukan korupsi. Mereka sudah bisa berhitung, masih tetap untung dengan korupsi walaupun harus masuk bui. Toh setelah keluar, nanti bisa menjabat lagi dan korupsi lagi. Hukuman tidak mampu membersihkan mental korup. Apakah harus diampuni? Kaum Farisi ingin mencobai Yesus dengan membawa perempuan yang ketahuan berzinah. Mereka ingin menghukum perempuan itu dengan merajamnya sampai mati. Mereka menempatkan perempuan itu di tengah-tengah lalu berkata kepada Yesus: "Rabi, perempuan ini tertangkap basah ketika ia sedang berbuat zinah. Musa dalam hukum Taurat memerintahkan kita untuk melempari perempuan-perempuan yang demikian. Apakah pendapat-Mu tentang hal itu?" Yesus tidak menanggapi pertanyaan mereka. Dia hanya menulis di tanah. Namun karena didesak, akhirnya Yesus berkata, "Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu." Mereka pergi satu per satu. Tak ada satupun yang menghukum perempuan itu. Kepada perempuan itu Yesus berpesan, "Hai perempuan, di manakah mereka? Tidak adakah seorang yang menghukum engkau?" Jawabnya: "Tidak ada, Tuhan." Lalu kata Yesus: "Akupun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang." Allah itu maha pengampun. Ia mengasihi dengan pengampunan-Nya. Tetapi lebih dari itu, kita diajak untuk tidak berbuat dosa lagi. Pesan “Jangan berbuat dosa lagi” adalah kesempatan bagi kita untuk berlaku baik dan benar di hadapan Tuhan. Hidup baik dan benar adalah cara kita membalas pengampunan dan belaskasih Allah. Marilah kita bersyukur karena kita diampuni Tuhan dan membaharui hidup dengan baik dan benar. Sepercik pantun: Ketupat ada di lebaran, Mohon maaf jika ada kesalahan. Pengampunan adalah jembatan, Hubungkan manusia dengan Tuhan. Wonogiri, berani mengampuni Rm. A. Joko Purwanto, Pr
0 Comments
Leave a Reply. |
Archives
December 2034
Categories |
RSS Feed