|
Puncta 31 Maret 2026
Selasa Pekan Suci Yohanes 13:21-33.36-38 KARYA William Shakespeare yang sangat terkenal adalah drama “Julius Caesar.” Dalam drama itu tokoh utama bukan sang Tiran, Julius Caesar, tetapi justru Marcus Junius Brutus ( 85 SM - 42 SM), sang pengkhianat yang dibantu anggota senat Roma. Ketika Caesar jatuh bersimbah darah oleh 23 tikaman belati para konspirator, dia melihat Brutus dan berkata dalam bahasa Yunani, "Kai su, teknon," yang secara harfiah diterjemahkan sebagai "Kau juga, Nak." Dalam drama terkenal Shakespeare menulis dalam bahasa Latin sebagai " Et tu, Brute?" Kalimat terkenal sepanjang sejarah yang menggambarkan pengkhianatan Brutus. Julius Caesar mati dalam pengkhianatan pada tanggal 15 Maret 44 SM yang disebut dengan "Eid Mar" yang terpatri dalam mata uang denarius dimana satu sisi bergambar wajah Brutus dan di sisi lain bergambar dua belati dan “topi pembebasan” yang dikenakan oleh budak yang telah bebas. Tidak sampai satu abad kemudian pengkhiatanan berikutnya terjadi, bukan di Roma tetapi di Yerusalem, pada Yesus yang dijual oleh murid-Nya sendiri yaitu Yudas Iskariot. Yudas menjual Yesus untuk diserahkan kepada imam-imam kepala dan dijatuhi hukuman mati. Yang sangat menyakitkan peristiwa itu justru terjadi saat Yesus mengadakan perjamuan makan bersama murid-murid-Nya. Setelah Yesus berkata demikian Ia sangat terharu, lalu bersaksi: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya seorang di antara kamu akan menyerahkan Aku." Para murid beradu pandang dan saling bertanya siapakah dia. Jawab Yesus: "Dialah itu, yang kepadanya Aku akan memberikan roti, sesudah Aku mencelupkannya." Sesudah berkata demikian Ia mengambil roti, mencelupkannya dan memberikannya kepada Yudas, anak Simon Iskariot. Pengkhianatan sering dilakukan justru oleh orang dalam lingkaran. Dia yang paling dekat dan sangat dipercaya bisa menikam dari belakang dengan berbagai macam motivasi. Apakah kita tidak menikam Yesus ketika mengaku sebagai murid-Nya tetapi bertindak jauh dan melenceng dari ajaran-Nya? Sikap Yesus terhadap Yudas? Dia tidak marah, tidak menghakimi. Yesus membebaskan Yudas memilih jalannya sendiri. Sesudah Yudas menerima roti itu, ia kerasukan Iblis. Maka Yesus berkata kepadanya: "Apa yang hendak kauperbuat, perbuatlah dengan segera." Apakah kita juga akan mengikuti Yudas mengkhianati Guru dan junjungan sendiri? Sepercik pantun untuk direnungkan: Kota Roma dilanda oleh kerusuhan, Julius Caesar dikhianati oleh Brutus. Kita diberi kebebasan memutuskan, Mengikuti Yudas atau Santo Petrus. Wonogiri, dia menikam dari belakang Rm. A.Joko Purwanto, Pr
0 Comments
Leave a Reply. |
Archives
December 2034
Categories |
RSS Feed