|
Puncta 7 Maret 2026
Sabtu Prapaskah II Sabtu Imam Lukas 15:1-3.11-32 SEORANG ibu dengan wajah sedih dan mata berkaca-kaca menceritakan kepedihan hatinya saat anak gadisnya pulang ke rumah malam-malam dengan wajah kebingungan. Ia minta kepada ibunya sejumlah uang untuk menebus temannya yang terjerat narkoba. Kalau tidak disediakan uang, ia juga akan diciduk oleh petugas. Ini bukan yang pertama terjadi. Sudah berulangkali kejadian, anak gadisnya terjerat barang haram karena pergaulan dengan teman-temannya. Sawah sudah dijual. Mobil sudah masuk pegadaian. Tak ada lagi yang bisa diuangkan. Namun ibu itu tetap merangkul anaknya. Dia ciumi buah hati yang sangat dikasihinya. Dalam tangisan di kamar yang gelap, ibu itu berkata, “Nak, kalau boleh, ibu saja yang masuk penjara. Aku rela menggantikan dirimu.” Ada pepatah; “Kasih ibu sepanjang jalan, kasih anak sepanjang galah.” Jalan tak pernah putus walau harus berkelok-kelok dan berliku-liku. Penderitaan apapun akan diterima demi kebahagiaan anak yang dilahirkannya. Demikianlah kasih Allah yang tak terbatas digambarkan oleh Yesus dengan perumpamaan anak yang hilang. Kisah ini sangat familier dan tidak asing bagi kita semua. Bapa mengasihi semua anaknya tak terkecuali. Anak bungsu yang telah menghambur-hamburkan harta warisan dan terpuruk dalam lembah kenistaan, diterima kembali dengan sukacita. Bahkan dibuatkan pesta meriah. Kata ayahnya, “Kita patut bersukacita dan bergembira karena adikmu telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali." Kasih yang tiada batas itu membuat anak sulungnya cemburu dan irihati. Ia merasa telah berjasa tinggal taat bersama ayahnya, tetapi tidak pernah diberi penghargaan. “Telah bertahun-tahun aku melayani bapa dan belum pernah aku melanggar perintah bapa, tetapi kepadaku belum pernah bapa memberikan seekor anak kambing untuk bersukacita dengan sahabat-sahabatku.” Ia yang berstatus anak malah berlaku seperti budak. Harus dihargai, diberi imbalan dan diperintah. Kata ayahnya kepadanya: “Anakku, engkau selalu bersama-sama dengan aku, dan segala kepunyaanku adalah kepunyaanmu.” Mari kita syukuri rahmat Allah yang tiada batasnya. Allah tidak pernah berubah mengasihi kita, kendati kita jatuh dalam dosa. Kasih Allah lebih besar daripada dosa-dosa kita. Janganlah kita menyia-nyiakan kasih-Nya. Mari bernyanyi lagu kanak-kanak zaman dulu: Kasih ibu kepada beta, tak terhingga sepanjang masa. Hanya memberi, tak harap kembali. Bagai sang surya menyinari dunia. Wonogiri, syukuri kasih Tuhan Rm. A. Joko Purwanto, Pr
0 Comments
Leave a Reply. |
Archives
December 2034
Categories |
RSS Feed