Paroki St. Yohanes Rasul Wonogiri
  • Home
  • Profil Paroki
  • Katekese
  • Pelayanan
  • Berita Paroki

katekese

Kemunafikan Sosial

2/10/2026

0 Comments

 
Puncta 10 Februari 2026
Pw. St. Skolastika, Perawan
Markus 7:1-13 atau RUybs Lukas 10:38-42

KEMATIAN anak usia SD di Kabupaten Ngada, NTT tanggal 29 Januari 2026 menyentakkan kita semua. Peristiwa ini menampar dunia pendidikan kita. 

Anak kecil itu terpaksa memilih gantung diri karena tidak diberi uang untuk membeli buku dan pena. Mungkin dia putus asa karena pendidikan sebagai satu-satunya cara mencapai masa depan tak mungkin digapai.

Ditemukan selembar surat pamit yang ditulis anak itu kepada ibunya. Surat itu ditulis dalam bahasa daerah, jika diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, berbunyi:

“Mama saya pergi dulu. Mama relakan saya pergi. Jangan menangis ya Mama. Mama saya pergi. Tidak perlu Mama menangis dan mencari atau merindukan saya. Selamat tinggal Mama.” 

Terasa menyayat dan memilukan hati, sedemikian derita yang harus dirasakan oleh seorang warga yang katanya punya negara yang kaya dan makmur.

"Kita sudah mendapat pagu anggaran Rp 268 triliun dengan dana standby Rp 67 triliun, sehingga total dianggarkan Rp 335 triliun," ujar Dadan Hindayana, kepala Badan Gizi Nasional (BGN) saat ditemui di Menara Kompas, Jakarta Pusat, Senin (19/1/2026).

Betapa kayanya kita bisa memberi makan gratis dengan anggaran yang berlimpah ruah.

Sungguh ironis sekali biaya MBG sedemikian besar, tetapi di akar rumput, ada anak SD bunuh diri karena tidak mampu membeli buku dan pena untuk bersekolah. 

Keluarganya hidup dengan kondisi miskin. Mungkin juga tidak mendapat bantuan sosial dari pemerintah.

Inilah kemunafikan sosial yang tengah terjadi. Kemunafikan sosial ada hubungannya dengan kemunafikan religius. Orang mengaku beragama tetapi tidak peduli terhadap penderitaan sesama. 

Gereja dibangun dengan megahnya tetapi banyak rakyat miskin dibiarkan saja.

Anak SD di Ngada ini sedang memberi pelajaran kemanusiaan kepada kita semua. Topeng kemunafikan terlalu tebal menutupi wajah kita, sehingga kita tidak peka dan peduli dengan jeritan penderitaan sesama.

Yesus mengkritik perilaku munafik orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat yang bertanya kepada-Nya: "Mengapa murid-murid-Mu tidak hidup menurut adat istiadat nenek moyang kita, tetapi makan dengan tangan najis?"

Yesus berkata, "Benarlah nubuat Yesaya tentang kamu, hai orang-orang munafik! Sebab ada tertulis: Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku.”

Kita harus mengakui, terlalu sering memuji Allah dengan bibir, tetapi hati dan perilaku kita jauh dari Allah. Kita sering mengklaim diri orang beragama, tetapi kita tega mencuri hak orang-orang miskin dan menderita.

Apakah kita harus menunggu jatuhnya korban lagi, anak-anak yang harus mati, baru bertindak untuk mengakhiri penderitanaan dan kemiskinan ini? 

Sepercik pantun buat anda:

Tak mampu beli buku dan pena,
Lebih baik mengakhiri hidup selamanya.
Kaum munafik sedang meraja lela,
Kelihatannya baik ternyata serigala semua.

Wonogiri, kita sedang ditampar nurani kita
Rm. A. Joko Purwanto, Pr
0 Comments



Leave a Reply.

    Archives

    December 2034
    February 2026
    January 2026
    December 2025
    November 2025
    October 2025
    September 2025
    August 2025
    July 2025
    June 2025
    May 2025
    April 2025
    March 2025
    February 2025
    January 2025
    December 2024
    November 2024
    October 2024
    September 2024
    August 2024
    February 2024
    February 2022
    January 2022
    December 2021
    November 2021
    October 2021
    July 2021

    Categories

    All
    Hello Romo!
    Katekese
    Puncta
    Rubrik Alkitab

    RSS Feed

Site powered by Weebly. Managed by Rumahweb Indonesia
  • Home
  • Profil Paroki
  • Katekese
  • Pelayanan
  • Berita Paroki