|
Puncta 19 Agustus 2026
Rabu Biasa XIX Matius 20:1-16a YESUS memberi pengajaran tentang kemurahan Allah lewat perumpamaan Tuan pemilik kebun anggur dan lima kelompok penggarapnya yang digaji satu dinar sehari. Kita belajar bahwa keadilan Tuhan berbeda dengan perhitungan, pikiran, kehendak dan keputusan manusia. Ada lima kelompok kerja. Pertama, kelompok yang mulai kerja jam 6 pagi; lalu jam 9, 12, 15 dan jam 17.00 sore. Kelompok pertama punya kesepakatan dengan tuannya bahwa mereka akan digaji sedinar sehari. Yang lainnya diajak kerja hanya karena kebaikan tuan itu. Diberi pekerjaan saja mereka sudah bersyukur. Kelompok pertama adalah Bangsa Israel yang punya hukum Taurat sebagai “perjanjian” dengan Tuhan. Kelompok lainnya adalah bangsa-bangsa lain di luar Israel. Kelompok pekerja pertama merasa iri karena yang lain diberi upah yang sama. Padahal mereka bekerja kurang dari sehari. Apalagi yang masuk jam lima sore. Ini adalah satire atau sindiran bagi mereka yang merasa aman diselamatkan karena punya hukum perjanjian. Tetapi Allah adalah kasih. Ia tidak membeda-bedakan siapapun. Disinilah letak bedanya pikiran Allah dengan manusia. ‘Ketika mereka menerimanya, mereka bersungut-sungut kepada tuan itu, katanya: Mereka yang masuk terakhir ini hanya bekerja satu jam dan engkau menyamakan mereka dengan kami yang sehari suntuk bekerja berat dan menanggung panas terik matahari.’ Kita berpikir seolah karena jasa kita yang sudah bekerja lama, Tuhan akan memberi kita lebih daripada mereka yang terlambat bekerja. Kita tidak bisa menyombongkan jasa-jasa kita, tetapi keselamatan melulu karena belas kasih Tuhan. Yesus sengaja mengurutkan pemberian upah dari yang paling akhir bekerja. Kalau yang pertama diberi upah lalu disuruh pulang, mungkin tidak ada masalah. Pengampunan dan belaskasih Allah diberikan kepada siapa saja yang percaya dan bertobat. Seperti kasus penjahat yang bertobat saat menjalani penyaliban bersama Yesus, ia mengungkapkan pertobatannya dan berkata; “Yesus ingatlah aku jika Engkau masuk ke dalam Firdaus.” Pada saat akhir hidupnya, ia menerima belaskasih Tuhan. Bukan berarti bahwa kita seenaknya saja dan menunda-nunda untuk bertobat serta merasa aman-aman saja. Kita mesti menyesuaikan dengan mengikuti kehendak dan rencana Tuhan. Bagaimana kita bertanggungjawab atas anugerah hidup ini agar sesuai dengan rencana-Nya, disitulah letak masalahnya. Sepercik pantun buat anda: Naik kereta melewati Pemanukan, Tujuan akhirnya sampai di Pamulang. Hidup kita ibarat sebuah perjalanan, Pada akhirnya kita semua harus pulang. Wonogiri, syukuri anugerah Tuhan Rm. A. Joko Purwanto, Pr
0 Comments
Leave a Reply. |
Archives
December 2034
Categories |
RSS Feed