|
Puncta 26 Maret 2026
Kamis Prapaskah V Yohanes 8:51-59 PADA pertengahan abad ke 19 muncul tokoh pekabar Injil yang bernama Kyai Sadrach. Nama aslinya Radin. Sejak muda dia suka “nyantri” di Pondok Pesantren Jombang dan Ponorogo. Namanya kemudian menjadi Radin Abas. Perkenalannya dengan ajaran Kristen terjadi karena Radin bertemu dengan Jellesma. Kemudian dia dibimbing oleh Kyai Tunggul Wulung dan dibaptis di Batavia 14 April 1867. Ia berkeliling ke Jawa Tengah dan menjadi pewarta Injil di daerah Purworejo, Bagelen. Karena pengaruhnya yang besar Sadrach dipanggil sebagai Kyai oleh para pengikutnya. Cara dan pola pekabarannya berbeda dengan kaum zending Belanda. Ia menggunakan model pesantren dan budaya Jawa. Untuk jadi Kristen orang tidak harus meninggalkan tradisi dan adat istiadat Jawa. Cara berpakaian, cara sembahyang dan bentuk bangunan gereja memakai model-model Jawa. Hal ini yang menimbulkan gesekan dengan kaum Zending. Mereka berpikir menjadi Kristen harus mengikuti budaya Barat. Jadi Kristen harus ikut budaya Eropa. Orang Eropa tidak bisa memahami budaya, adat dan tatacara hidup orang pribumi. Sadrach dianggap menyeleweng karena mencampuradukkan iman dan tradisi budaya Jawa. Sadrach berusaha mempribumikan iman Kristen. Berlawanan dengan paham kaum Zending yang Eropa. Tidak ada titik temu yang bisa menyatukan perbedaan pandangan mereka. Paham dan pandangan Yesus dengan kelompok Yahudi juga tidak ada titik temunya. Bahkan mereka menganggap Yesus gila, kerasukan setan. Mereka tidak bisa menerima pandangan Yesus bahwa Allah adalah Bapa-Nya.Yesus dan Bapa adalah satu. Bahwa Yesus sudah ada sebelum Abraham ada. Ia berbicara tentang Sabda yang sudah ada sebelum segala sesuatu dijadikan. Tetapi pandangan Yesus ini tidak bisa dipahami dan diterima oleh orang-orang Yahudi pada waktu itu. Maka mereka mau melempari Yesus dengan batu. Batu melambangkan kekerasan, ketegaran hati seperti manusia yang keras membatu tidak mau percaya kepada Yesus. Mereka menolak Yesus sebagai utusan Allah. Seandainya kaum Zending Belanda itu tidak kaku dan keras hatinya, mungkin Sadrach sudah bisa membawa banyak jiwa-jiwa di Tanah Jawa ini yang diselamatkan dan percaya kepada Kristus. Apakah hati kita juga keras membatu sehingga tak tersentuh oleh kasih Kristus? Sepercik pantun untuk direnungkan: 100% Katolik Seratus persen Indonesia, Jadi orang katolik tidak harus jadi Eropa. Mengikuti Yesus dengan budaya kita, Tidak akan mengurangi kerohanian kita. Wonogiri, beriman dan berbudaya Rm. A.Joko Purwanto, Pr
0 Comments
Leave a Reply. |
Archives
December 2034
Categories |
RSS Feed