|
Puncta 13 April2026
Senin Paskah II Yohanes 3:1-8 KAMI, paling tidak saya sering merasa lahir kembali ketika kumpul dan ngobrol bareng dengan Rusa Jantan (sebutan alumni Merto 81-85). Tadi kami ziarah bareng ke Sendang Ratu Kenya di Danan. Ada yang dari Solo, Muntilan dan Wonogiri ngumpul berdoa. Ngobrolnya itulah yang bikin kami lahir kembali. Tetapi banyak orang sering melakukan ziarah pada malam hari. Tradisi ini sudah terjadi turun temurun. Saya sering melihat di Bayat ada makam Sunan Pandanaran. Banyak peziarah datang pada tengah malam dan berdoa di sana. Di Gua Maria Kerep Ambarawa atau di Gua Maria Sendangsono juga banyak peziarah yang datang pada waktu malam. Mereka mencari keheningan dan ketenangan untuk dapat berjumpa dengan Tuhan. Malam adalah saat yang sakral dan ilahi. Nikodemus seorang tokoh agama Yahudi datang pada Yesus pada malam hari, saat yang tidak biasa untuk menerima tamu. Tetapi Yesus menerimanya dengan tangan terbuka dan hati yang lapang. Mereka berdiskusi sangat mendalam. Nikodemus bukan orang sembarangan. Ia pemimpin Yahudi, tokoh agama, seorang Farisi yang cakap yang oleh Yesus kelak disebut pengajar Israel. Ia datang dengan takzim dan berkata dengan hormat, "Rabi, kami tahu Engkau datang dari Allah sebagai guru." Yesus tidak berhenti pada penghormatan, Ia tahu kebutuhan dasar Nicodemus sampai datang kepada-Nya. Tokoh agama yang dihormati dan disegani banyak orang Yahudi ini sampai datang tengah malam. Pasti ada kerinduan yang tak terkatakan. Yesus langsung pada inti kerinduan si tokoh ini. Bukan soal tambahan pengetahuan rohani, tetapi soal hidup dan mati di akherat nanti. "Jika seseorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah." Lahir kembali bukan secara fisik tetapi secara rohani. Lahir kembali berarti menerima hidup dari Allah. Kerajaan Allah tidak sekedar diketahui secara intelektual, tetapi diterima dari Allah melalui penerangan Roh Kudus. Kerajaan Allah hanya dapat dilihat oleh hati yang dibukakan melalui kelahiran baru. Nikodemus menjawab dengan pertanyaan yang sangat harafiah. Ia membayangkan orang tua masuk lagi ke dalam rahim ibunya. Respons ini menunjukkan bahwa pikiran manusia secara alami tidak sanggup memahami realitas rohani tanpa pertolongan Allah. Tuhan menjelaskan karya Roh Kudus itu seperti angin. Angin bertiup ke mana ia mau. Kita mendengar bunyinya, merasakan lembut sentuhannya, melihat pengaruhnya, tetapi kita tidak dapat mengendalikan lajunya. Namun kita bisa melihat buahnya. Demikian juga Roh Kudus. Orang yang dilahirkan kembali oleh Roh Kudus akan merasakan dan mengalami buahnya. Hati yang dulu keras menjadi lembut. Hidup yang tidak terarah menjadi fokus pada Tuhan. Yang tadinya suka marah menjadi pemaaf. Apakah kita sudah pernah mengalami dilahirkan kembali oleh kuasa Tuhan? Sepercik pantun buat anda: Menikmati indahnya puncak Merapi, Erupsi lahar berwarna merah hati. Tuhan menuntun kita lahir kembali, Menuju hidup yang penuh cahaya ilahi. Wonogiri, lahir kembali oleh Roh Tuhan Rm. A.Joko Purwanto, Pr
0 Comments
Leave a Reply. |
Archives
December 2034
Categories |
RSS Feed