|
Puncta 25 Juli 2026
Pesta St.Yakobus,Rasul Matius 20:20-28 SENGKUNI dan keponakannya, Duryudana adalah pasangan yang gila kuasa. Mereka berdua seperti “tumbu oleh tutup,” pasangan yang cocok karena memiliki ambisi duduk di tahta kerajaan. Maka dengan segala cara Sengkuni berusaha agar Duryudanalah yang menjadi raja di Hastina. Mereka berdua ingin melenyapkan Pandawa agar tidak menjadi ahli waris yang sah dari Negeri Hastina. Dengan akal bulus dibuatlah skenario licik dan kejam. Mereka mengundang Pandawa untuk berpesta di “Bale Sigolo-golo.” Sedang pesta meriah, Balai dibakar dengan api yang membara agar Pandawa mati. Untung ada Garangan Putih yang menyelamatkan mereka. Kali lain, Duryudana minta tolong Pandita Durna melenyapkan Bima. Dengan tipu muslihatnya, Durna menyuruh Bima terjun ke samudera mencari “Banyu suci perwitasari.” Karena kesaktiannya, Bima justru bertemu dengan Sang Hyang Dewa Ruci. Kekuasaan membutakan mata Duryudana. Bersama Sengkuni mereka mengundang Pandawa main dadu. Karena licik dan curang, Kurawa menang. Pandawa diusir dari Amarta dan harus mengembara 12 tahun lamanya di hutan. Demi kekuasaan yang mutlak, mereka menghalalkan segala cara. Lupa aturan, lupa saudara, lupa janji menyejahterakan rakyat. Kekuasaan digunakan dengan kejam untuk menindas rakyat. Para pemimpin korupsi dan berfoya-foya dengan harta yang menumpuk di brankasnya. Pada pesta St.Yakobus, Rasul ini, kita juga diingatkan akan godaan kekuasaan. Ibu Yakobus dan Yohanes punya niat baik, agar anak-anak mereka memiliki kekuasaan di samping Yesus yang akan menjadi Raja. Namun Yesus mengingatkan bahwa kekuasaan itu bukanlah jabatan untuk memperkaya diri dan menindas rakyatnya. "Kamu tahu, bahwa pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi dan pembesar-pembesar menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka,” kata-Nya. “Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu,” pesan Yesus pada murid-murid-Nya. Menjadi pemimpin harus siap melayani. Yang ingin menjadi besar harus berani menjadi hamba bagi semua orang. Seperti Kristus yang datang bukan untuk dilayani, tetapi untuk melayani, demikian juga para murid hendaknya bertindak demikian. Kebesaran seorang pemimpin bukan terletak pada banyaknya kuasa, harta atau kekayaan yang berlimpah ruah, tetapi seberapa besar dia mampu melayani dan mengabdi kepada masyarakat sehingga hidup mereka sejahtera. Sepercik pantun buat anda: Pemimpin berkuasa dengan tangan besi, Semua dikerjakan lewat tentara dan polisi. Jeritan rakyat kecil tak pernah ditanggapi, Yang mereka pikir hanya korupsi tiap hari. Wonogiri, siap melayani jadi abdi Rm. A.Joko Purwanto, Pr
0 Comments
Leave a Reply. |
Archives
December 2034
Categories |
RSS Feed