|
Puncta, 2 April 2026
Kamis Putih dalam Pekan Suci Yohanes 13:1-15 PADA waktu bertugas di Paroki Kendal, saya membuat acara yang berbeda untuk tuguran di hadapan Sakramen Mahakudus. Acara tuguran Kamis Putih diisi dengan renungan singkat tentang kasih Tuhan yang rela membasuh kaki para rasul. Kami membuat kursi melingkar di aula. Keluarga-keluarga duduk berderet. Dalam suasana hening dan tenang masing-masing anggota keluarga secara bergantian membasuh kaki mereka. Diiringi musik rohani instrumental dan lampu temaram dari tahta Sakramen Mahakudus, bapak mulai membasuh kaki istri dan anak-anaknya. Demikian sampai semua melayani satu sama lain. Teladan Yesus tidak hanya diajarkan, tetapi juga langsung dipraktekkan dalam komunitas yang paling kecil, yaitu keluarga. Membasuh kaki adalah tanda merendahkan diri, melayani sebagai hamba dan mengasihi tanpa batas. Setelahnya mereka saling berpelukan, menangis terharu dan mengungkapkan doa syukur atas kasih yang dialami dalam keluarga. “Kami merasa Tuhan sungguh mengasihi lewat istri dan anak-anak, Rama. Syukur kepada Tuhan ada peristiwa ini,” ungkap seorang bapak dalam haru. Peristiwa perjamuan Yesus dengan murid-murid-Nya pasti lebih mengharukan, mencekam dan membuat tanda tanya bagi mereka. Petrus tidak bisa memahami Yesus tiba-tiba membasuh kakinya. Kata Petrus kepada-Nya: "Tuhan, Engkau hendak membasuh kakiku?" Jawab Yesus kepadanya: "Apa yang Kuperbuat, engkau tidak tahu sekarang, tetapi engkau akan mengertinya kelak." Setelah selesai membasuh semua murid-Nya, Ia menjelaskan maksud tindakan-Nya. Lalu Ia berkata kepada mereka: "Mengertikah kamu apa yang telah Kuperbuat kepadamu? Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan. Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamupun wajib saling membasuh kakimu; sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu. Yesus memberi teladan tentang kerendahan hati, siap melayani dan menghargai orang lain. Yesus mengasihi kita sampai pada akhirnya. Mari kita wujudkan kasih Tuhan itu dengan mengasihi sesama dan melayani mereka sebagai sahabat-sahabat kita. Sepercik pantun buat kita: Arus balik kembali ke Jakarta, Jalanan lengang seperti semula. Ia membasuh kaki seperti hamba, Padahal Dialah yang Mahakuasa. Wonogiri, melayani dengan rendah hati Rm. A. Joko Purwanto, Pr
0 Comments
Leave a Reply. |
Archives
December 2034
Categories |
RSS Feed