|
Puncta 16 Maret 2026
Senin Prapaskah IV Yohanes 4:43-54 SEMAR ingin membangun kahyangan. Ia minta kepada Petruk dan Bagong datang ke Amarta dan mohon kepada Prabu Yudistira untuk meminjamkan pusaka Jamus Kalimasada. Maksud Petruk dan Bagong dihalangi oleh Prabu Kresna yang juga ingin memboyong pusaka Jamus. Maka terjadilah rebutan antara Petruk yang didukung anak-anak Pandawa dengan Kresna gadungan yang hanya ingin merebut pusaka Jamus. Mereka bermaksud memboyong pusaka itu dengan keyakinan siapa yang dikawal pusaka ini akan berhasil hidupnya. Pusaka itu jadi rebutan untuk dibawa ke tempat asal mereka masing-masing. Tidak berhasil membawa pusaka artinya tidak akan mengalami ketentraman hidup dan gagal membangun kahyangan. Dalam perikope Injil hari ini, Yesus diminta oleh kepala rumah ibadat untuk menyembuhkan anaknya yang hampir mati di rumahnya. Ketika ia mendengar, bahwa Yesus telah datang dari Yudea ke Galilea, pergilah ia kepada-Nya lalu meminta, supaya Ia datang dan menyembuhkan anaknya, sebab anaknya itu hampir mati. Kata Yesus kepadanya: "Pergilah, anakmu hidup!" Orang itu percaya akan perkataan yang dikatakan Yesus kepadanya, lalu pergi. Ketika ia masih di tengah jalan hamba-hambanya telah datang kepadanya dengan kabar, bahwa anaknya hidup. Yesus menyembuhkan dari jarak jauh. Ia tidak harus datang langsung ke rumah kepala ibadat. Hanya dengan berkata, "Pergilah, anakmu hidup!" anak itu langsung sembuh. Kuasa Allah mengatasi ruang dan waktu. Tidak seperti pusaka Jamus yang harus “cumondok” hadir langsung, dengan bersabda saja anak itu sembuh. Yang dibutuhkan adalah percaya. Kepala rumah ibadat itu percaya tanpa ragu dengan kata-kata Yesus. Ia langsung pulang ke rumah dan mendapati anaknya sudah sembuh. Iman yang dihayati kemudian diwartakan kepada seluruh isi rumahnya dan mereka menjadi percaya. Sabda atau Firman Allah sungguh berkuasa. Apakah kita percaya pada Firman Tuhan walaupun kita tidak langsung berhadapan dengan Allah, tetapi Firman-Nya bisa menyembuhkan dan menyelamatkan kita. Sepercik pantun untuk direnungkan: Orang mengkritik pedas kata-katanya, Tapi sayang sering tidak pakai logika. Percaya tidak membutuhkan tanda, Ia hanya taat pada Allah yang bersabda. Wonogiri, percaya saja Rm. A. Joko Purwanto, Pr
0 Comments
Leave a Reply. |
Archives
December 2034
Categories |
RSS Feed