|
Puncta 20 Maret 2026
Jum’at Prapaskah IV Yohanes 7:1-2.10.25-30 SALAH satu pilar demokrasi adalah kebebasan berekspresi dan mengeluarkan pendapat yang dijamin oleh undang-undang. Kasus penyiraman air keras kepada Andrie Yunus, seorang aktivis HAM adalah cacat demokrasi yang akut. Andrie Yunus adalah aktivis Kontras, yang berbicara kritis terhadap kekuasaan, peran militer yang makin kentara di ranah sipil. Pada 12 Maret 2026 ia disiram air keras di wajahnya setelah ia menyelesaikan rekaman podcast bertema “Remiliterisme dan Judicial Review di Indonesia” di kantor YLBHI. Andrie sering menyuarakan pembelaan HAM dan demokrasi. Ia termasuk yang menolak revisi UU TNI. Bahkan, pada 2025, Andrie sempat melakukan interupsi dalam rapat tertutup pembahasan RUU tersebut, yang kemudian membuat namanya viral. Dari aktivitasnya ini pasti ada lembaga insitusional yang tidak menyukai. Ia pernah mengalami teror dan intimidasi melalui HP. Kantornya juga dipantau dan didatangi orang yang tidak dikenal. Puncaknya adalah pencobaan pembunuhan terhadap aktivis HAM ini. Situasi yang dialami Andrie ini juga dialami Yesus. Ia sudah tidak aman untuk datang terang-terangan di Yerusalem, karena ada beberapa kelompok yang merencanakan pembunuhan-Nya. Yesus sering mengkritik institusi keagamaan Yahudi. Yesus berangkat ke pesta Pondok Daun dengan tidak terang-terangan. “Iapun pergi juga ke situ, tidak terang-terangan tetapi diam-diam. Beberapa orang Yerusalem berkata: "Bukankah Dia ini yang mereka mau bunuh?” Namun muncul perdebatan dengan kemunculan-Nya di Bait Suci. Ia mengajar kepada orang banyak. Mereka bertanya apakah para pemimpin mengakui bahwa Dia adalah Mesias. Padahal Mesias itu tidak diketahui asal-usulnya, sedangkan Yesus ini mereka tahu datang dari Nasaret. Maka Yesus menjawab mereka, "Memang Aku kamu kenal dan kamu tahu dari mana asal-Ku; namun Aku datang bukan atas kehendak-Ku sendiri, tetapi Aku diutus oleh Dia yang benar yang tidak kamu kenal. Aku kenal Dia, sebab Aku datang dari Dia dan Dialah yang mengutus Aku." Masalah ini makin meruncing dan permusuhan mulai dibangun oleh kelompok-kelompok yang tidak menerima Yesus. Mereka menggunakan kekerasan, intimidasi, teror, menyebar berita hoax untuk memojokkan Yesus. Pola itu sampai sekarang masih dipakai dan Andrie Yunus menjadi korban. Nanti akan makin banyak korban berjatuhan ketika kekuasaan otoriter dijalankan dan pemimpin tidak mau dikritik. Kasus Andrie adalah cara kekuasaan membungkam mereka yang bersikap kritis. Pantun untuk direnungkan: Apakah kita akan kembali ke Orde Baru? Aktivis dan pengkritik sudah mulai diburu. Yesus datang membawa pembaharu, Namun musuhnya menggunakan serdadu. Wonogiri, kebenaran akan menang Rm. A. Joko Purwanto, Pr
0 Comments
Leave a Reply. |
Archives
December 2034
Categories |
RSS Feed