|
Puncta 10 September 2026
Kamis Biasa XXIII Lukas 6: 27-38 SETELAH Mahabarata usai, para Pandawa melakukan perjalanan pelepasan diri agar mereka siap menghadapi kematian. Segalanya telah ditinggalkan. Kerajaan, kemenangan, kemuliaan dan gemerlapnya segala kesenangan dunia. Mereka berjalan berenam bersama Drupadi, istri Pandawa. Tiba-tiba seekor anjing muncul dan mengikuti mereka dari belakang. Perjalanan ini sungguh berat, panjang dan melelahkan. Satu per satu para Pandawa jatuh dan mati dalam keheningan. Tinggal Puntadewa dan anjingnya yang setia dari awal sampai akhir. Ketika Dewa Indra menjemput Puntadewa untuk masuk ke swargaloka, Putra Kunti itu mengajukan syarat. “Saya akan masuk ke surga bersama anjing yang setia ini. Jika tidak, saya lebih baik tetap tinggal di sini.” “Saudaramu sedarah daging saja kautinggalkan, kenapa anjing kotor ini lebih kaupikirkan keselamatannya?” tanya Dewa Indra. “Saudaraku telah menempuh jalannya sendiri. Mereka telah melakukan darmanya di dunia. Anjing ini telah setia berjalan bersamaku. Makhluk terkecil, hina dan kotor sekalipun akan tetap kulindungi dan kukasihi karena itulah wujud nyata darma manusia.” “Harta terkaya di dunia ini bukan emas yang berkilau, melainkan jiwa yang saling mengasihi dalam keheningan tanpa menghitung berapa besarnya,” lanjut Puntadewa. “Cinta tidak pernah menghitung apa yang telah diberi. Kesetiaan tidak menuntut apa yang harus dikembalikan. Anjing ini telah memberikan hidupnya untuk menemaniku dengan setia. Aku akan mengasihi sebagaimana ia telah mengasihi.” Yesus mengajarkan hukum yang paling tinggi yaitu Hukum Kasih. Kasih diwujudkan dalam tindakan nyata yaitu darma atau bakti kepada mereka yang kecil, lemah, miskin, tersingkir. Kasih yang nyata tidak mengharapkan balasan dan tidak dihitung-hitung sebagai hutang budi. Yesus tidak hanya mengajarkan kasih kepada yang berbuat baik, tetapi kasih juga dilakukan untuk mereka yang membenci dan memusuhi. "Tetapi kepada kamu, yang mendengarkan Aku, Aku berkata: Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu; mintalah berkat bagi orang yang mengutuk kamu; berdoalah bagi orang yang mencaci kamu.” Landasan ajaran Yesus adalah kasih Allah Bapa sendiri. ”Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati." Karena Bapa telah mengasihi kita lebih dulu, maka kita pun diajak mengasihi sesama sebagaimana Dia telah mengasihi kita. Marilah kita melakukan darma kita di dunia yakni dengan saling mengasihi tanpa pamrih dan tulus ikhlas tanpa mengharapkan balasan yang setimpal. Tuhan sendirilah yang akan membalasnya. Sepercik pantun: Tiket pesawat mahal sekali, Lebih baik pergi jalan kaki. Hendaklah kamu murah hati, Seperti Allah telah mengasihi. Wonogiri, saling mengasihi Rm. A. Joko Purwanto, Pr
0 Comments
Leave a Reply. |
Archives
December 2034
Categories |
RSS Feed