|
Puncta 22 Mei 2026
Jum’at Paskah VII Yohanes 21:15-19 DALAM Bahasa Yunani ada beberapa tingkatan kasih. Yang sering disebut adalah Eros, Philia dan Agape. Eros berarti cinta berdasarkan hasrat, gairah dan daya tarik fisiologis. Maka muncul kata “Erotis.” Philia adalah kasih persahabatan atau persaudaraan. Ini adalah ikatan kasih yang mendalam atas dasar hubungan darah, kesetiaan, rasa hormat dan visi misi bersama. Orang Jawa menggambarkan dengan pepatah, “Dudu sanak dudu kadang yen mati melu kelangan.” Agape adalah kasih tanpa syarat (Unconditional Love). Inilah kasih ilahi yang memberi tanpa mengharapkan balasan. Kasih pengorbanan bagi siapapun tanpa memperhitungkan untung rugi. Kasih ini bersifat universal. Dalam kutipan ini, dialog Yesus dengan Petrus tentang mengasihi memakai dua kata yang berbeda. Yesus bertanya kepada Petrus, “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi (agape) Aku?" Ini adalah kasih tertinggi dan tanpa syarat, seperti pengorbanan Kristus di kayu salib. Tetapi jawab Petrus tidak sama dengan kasih (Agape) yang disampaikan Yesus. Petrus menjawab, "Tuhan, Engkau tahu bahwa aku mengasihi (phileo) Engkau." Kasih Petrus adalah kasih persahabatan kepada Yesus. Hal itu dikatakan Petrus sampai tiga kali. Ia tidak berani menjawab dengan Agape, tetapi dengan phileo. Maka dalam pertanyaan ketiga, Yesus memutuskan untuk menurunkan tuntutan kasih-Nya dengan istilah phileo, bukan agape. Yesus tahu manusia itu lemah. Ia menurunkan gradasi kasih ke taraf phileo. Petrus sadar atas kelemahannya. Ia pernah menyangkal Yesus tiga kali. Ia gagal dan belum berhasil mencapai Agape yang sejati. Kendati gagal, Petrus terus dibimbing untuk mengasihi Yesus seperti Dia mengasihi. Maka sedih hati Petrus karena Yesus berkata untuk ketiga kalinya: "Apakah engkau mengasihi (phileo) Aku?" Dan ia berkata kepada-Nya: "Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi (phileo) Engkau." Kata Yesus kepadanya: "Gembalakanlah domba-domba-Ku.” Walau gagal, dia diberi tugas sebagai pimpinan atas kawanan domba-Nya. Hanya orang yang mampu menyadari kelemahannya dan terbuka pada bimbingan Tuhan, dialah yang akan tetap setia pada kehendak-Nya. Dengan perlahan tapi pasti, Petrus memimpin gereja dan mengorbankan nyawanya bagi kawanan yang dipercayakan kepadanya. Ia menjadi martir di Roma dan mati seperti Guru-Nya. Ia sampai juga pada Agape, kasih yang rela berkorban seperti yang dikehendaki Kristus. Seberapa besarkah kasih kita pada Kristus? Sudah sampai agape atau baru sampai ke taraf phileo. Atau bahkan hanya sebatas Mania, atau Eros saja? Sepercik pantun buat anda: Pagi-pagi pergi ke kampus, Ketemu dosen bermata biru. Apa jawabanku pada Kristus, Apakah engkau mengasihi Aku? Wonogiri, apakah engkau mengasihi Aku? Rm. A.Joko Purwanto, Pr
0 Comments
Leave a Reply. |
Archives
December 2034
Categories |
RSS Feed