|
Puncta 20 Juli 2026
Senin Biasa XVI Matius 12:38-42 SLAMET sangat mencintai Rahayu kekasihnya. Ia setiap waktu datang apel ke rumah sang pacar dengan membawa makanan kesukaan Rahayu. Walaupun jarak rumahnya jauh dan tugas kantor sangat padat, tetapi Slamet berusaha meluangkan waktu untuk kekasihnya. Suatu saat Rahayu ingin bukti bahwa Slamet sungguh mencintainya. “Mas Slamet,” sapanya dengan lemah lembut. “Aku mau minta bukti kalau Mas mencintaiku.” Slamet mendengarkan dengan seksama. “Bawakan hati ibumu kepadaku, kalau kamu sungguh-sungguh mencintaiku.” Slamet pemuda kampung yang lugu itu pusing tujuh keliling. Berhari-hari tidak bisa tidur memikirkan permintaan Rahayu yang dikasihinya. Akhirnya demi cintanya, di tengah malam yang sepi, Slamet masuk ke kamar ibunya dengan membawa pisau. Ibunya yang sedang tidur nyenyak dibelah dadanya dan diambil hatinya dan dibawanya kepada Rahayu yang kaget seketika dan serangan jantung. Demi membuktikan cintanya, Slamet kehilangan ibu dan kekasih hatinya. Cinta buta sering menuntut bukti. Tetapi demi bukti orang justru harus rela mengorbankan orang-orang yang dikasihinya. Pada waktu itu berkatalah beberapa ahli Taurat dan orang Farisi kepada Yesus: "Guru, kami ingin melihat suatu tanda dari pada-Mu." Orang-orang itu menuntut sebuah bukti kalau Yesus sungguh-sungguh Mesias, Anak Allah yang datang dari surga. Tetapi Yesus tidak memberikan apa yang mereka minta. Yesus menunjukkan kisah Nabi Yunus yang tinggal tiga hari tiga malam di dalam perut ikan. Demikian juga Anak Manusia akan tinggal di dalam perut bumi selama tiga hari. Itulah kematian Yesus sebagai bukti cinta. Yesus menunjukkan kematian-Nya dan dikuburkan selama tiga hari kemudian bangkit. Yesus sudah meramalkan kematian-Nya sebagai bukti kasih-Nya kepada manusia. Tetapi ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi itu tidak memahaminya. Mereka yang tidak percaya itu menuntut bukti yang spektakuler kepada Yesus. Walaupun diberi bukti, kalau dasarnya tidak percaya, mereka tidak mau terbuka. Sampai sekarang orang Yahudi toh tidak percaya kalau Yesus bangkit dari kematian. Bukti sebesar apapun kalau orang tidak mau terbuka dan percaya, tidak ada gunanya. Orang-orang seperti itu tidak akan menemukan kasih yang sejati selama tidak mau bertobat membuka hati kepada Tuhan. Masihkan kita terus menerus menuntut bukti akan kasih Allah yang telah rela mengorbankan Diri bagi kita? Sepercik pantun buat anda: Shinta harus dibakar dengan api, Sebagai bukti cintanya kepada Rama. Ahli-ahli Taurat menuntut bukti, Untuk percaya pada Putera Manusia. Wonogiri, masih tetap minta bukti? Rm. A.Joko Purwanto, Pr
0 Comments
Leave a Reply. |
Archives
December 2034
Categories |
RSS Feed