|
Puncta 15 Juli 2026
Pw. St. Bonaventura, Uskup dan Pujangga Gereja Matius 11:25-27 atau RUybs Matius 23:8-12 NAMA Bonavetura diberikan oleh Santo Fransiskus Asisi kepada anak kecil bernama Giovanni di Fidanza. Waktu itu Giovanni sakit, kemudian didoakan oleh Santo Fransiskus dan dia kemudian sembuh. Santo Fransiskus berucap, “Oh Buona ventura” artinya 'O keberuntungan (nasib) yang baik.' Anak itu kemudian dipanggil Bonaventura. Kalau Santo Fransiskus di Jawa, mungkin dia berkata, “Oh beja banget.” Lalu anaknya akan dipanggil Beja, atau Slamet. Memang nasib baik menyertai Bonaventura. Ia kemudian masuk Ordo Fransiskan dan menjadi pembaharu dalam kehidupan membiara. Ia dipilih menjadi pemimpin ordo. Ia dijuluki sebagai pendiri kedua Ordo Fransiskan sesudah Santo Fransiskus Asisi. Karyanya meluas tidak hanya untuk ordonya sendiri, tetapi juga untuk gereja universal. Pengajarannya sangat berpengaruh bagi iman, teologi dan karya pastroal. Namun dia tetap berpegang pada semangat kemiskinan yang mendasari kehidupan Fransiskan. Sebagai pemimpin ordo, Bonaventura tidak ingin dipandang sebagai penguasa, tetapi dia banyak melayani dan memberi teladan bagi anak buahnya. Ia menjalankan semangat kemiskinan dengan tulus dan penuh kerendahan hati sehingga dicintai banyak orang. Dalam bacaan Injil, Matius menegaskan agar murid Yesus tidak mencari gelar kehormatan, melainkan melayani dan merendahkan diri untuk ditinggikan oleh Allah. Kebesaran seorang pemimpin diukur dari kesediaanya melayani, bukan seberapa banyak orang melayani dia. Yesus mengecam kemunafikan kaum Farisi karena meraka hanya mengejar citra diri. Pencitraan diri agar dilihat oleh orang banyak, tetapi senyatanya kosong tak ada isinya. Mereka hanya mencari pujian dan penghormatan. Seorang pemimpin berkarya demi bonum commune atau kebaikan banyak orang, bukan menggunakan jabatan untuk menguasai demi kepentingan diri sendiri, menimbun harta kekayaan untuk keluarganya. Jika pemimpin lebih sibuk mencari citra diri, anti kritik, merasa diri paling benar dan tidak mendengarkan aspirasi rakyat, apakah dia pemimpin? Jika ia lebih suka cari pujian, daripada mendengar keluhan penderitaan rakyat, lebih mengejar kuasa daripada melayani rakyat bawah? Apakah dia seorang pemimpin sejati? Belajar dari Bonaventura, kita bisa melihat seorang pemimpin yang tulus dan rendah hati. Ia tetap menghayati hidup miskin kendati dia seorang pemimpin. Ia tetap bersahaja kendati dia adalah penguasa. “Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu. Dan barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan,” inilah pesan Yesus bagi kita. Sepercik pantun buat anda: Banyak bupati ditangkap KPK, Kasus korupsi semakin merajalela. Kalau kita mau jadi penguasa, Jangan gila harta nanti masuk penjara. Wonogiri, melayani bukan cari harta Rm. A.Joko Purwanto, Pr
0 Comments
Leave a Reply. |
Archives
December 2034
Categories |
RSS Feed