|
Puncta 3 Maret 2026
Selasa Prapaskah II Matius 23:1-12 ORANG yang berpakaian agamis belum tentu menggambarkan kekudusan dan kesalehannya. Orang yang memakai jubah putih tidak serta merta hatinya juga putih suci. Mochtar Lubis pernah menyatakan bahwa kita orang Indonesia ini punya watak munafik. Munafik adalah karakter dimana perkataan yang keluar dari mulut tidak sesuai dengan perilaku atau tindakannya sehari-hari. Orang suka melakukan kebohongan, berpura-pura dan suka ingkar janji. Orang munafik suka pamer kesalehan. Biar dilihat orang bahwa dirinya saleh, suci dan dihormati. Banyak orang berkata-kata dengan bahasa Kitab Suci, pandai mengajar dan mengutip ayat-ayat dan menasehati orang dengan firman Tuhan. Tetapi kehidupannya sehari-hari jauh dari apa yang diajarkan dan dinasehatkan. Yesus mengkritik para ahli-ahli Taurat dan kaum Farisi yang suka memakai jumbai yang panjang dan tali ikat pinggang ungu agar dilihat orang. Mereka melakukan tradisi agama hanya ingin dipuji dan dihormati orang lain. Sayangnya yang mereka cari bukan sabda Tuhan dan melakukan kehendak-Nya, tetapi agar dilihat dan dipuji orang. Mereka memakai nama Tuhan untuk menindas dan mengeruk harta orang. Mereka tidak segan-segan minta mobil mewah, uang sumbangan yang banyak menggunakan nama Tuhan. "Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa. Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya,” kata Yesus. Yesus mengingatkan kepada pengikut-Nya agar melayani dengan rendah hati. “Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu. Dan barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.” Kehebatan seseorang tidak dilihat dari pakaiannya, kendaraannya, jabatannya, tetapi dari tindakan yang baik dan tutur katanya yang sopan dan menghargai. Kerendahan hati justru menunjukkan keluhuran budinya. Berhati-hatilah jika kita sudah mulai mencari pujian dan senang memamerkan kehebatan dan kesuksesan kita. Jangan-jangan kita sudah mulai gila pujian. Sepercik pantun buat anda: Banyak Sengkuni yang suka dipuji-puji, Jalannya miring mukanya berseri-seri. Jadilah orang yang suka menghargai, Tanpa basa-basi namun suka melayani. Wonogiri, jangan berlaku munafik Rm. A.Joko Purwanto, Pr
0 Comments
Leave a Reply. |
Archives
December 2034
Categories |
RSS Feed