|
Puncta 14 Maret 2026
Sabtu Prapaskah III Lukas 18:9-14 PERDANA menteri Spanyol adalah satu-satunya pemimpin dunia yang terang-terangan menolak terlibat dalam perang antara Amerika versus Iran. “No war” katanya tegas dan jelas. Ia tidak mau pangkalan militer Rota dan Moron di Spanyol dijadikan pangkalan Amerika untuk menyerang Iran. Sikap yang berbeda itulah yang ditunjukkan sang perdana menteri kepada Donald Trump. Berbeda dengan Indonesia. Walaupun berteriak-teriak ingin menjadi mediator tetapi kita seperti macan ompong yang tidak punya gigi. Jadi mediator itu harus duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi. Lah kita? Kita malah mengikut dan merunduk pada keinginan Amerika; setor trilyunan rupiah sebagai anggota Board of Peace dan tunduk pada peraturan pajak perdagangan yang ditentukan Donald Trump. Kita hanya banyak omon-omon tetapi gak punya power di dunia internasional. Seperti dua orang yang pergi ke bait Allah, kita ini seperti kaum Farisi yang menyombongkan dirinya sendiri. Kita membusungkan dada tapi gak punya muka. Kita menyebut diri paling penting dan hebat. Tapi malah jadi bahan candaan di stand up comedy Jimmy Kimmel Live. Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku. Berbeda dengan Pedro Sanchez, PM Spanyol yang tegas berkata, “No War.” Dia sadar bahwa perang hanya menghancurkan dan tak ada yang diuntungkan. Apa yang terjadi waktu perang Irak dapat jadi pelajaran berharga. Cukup sudah perang harus dihentikan. Keputusannya tegas menolak pangkalan militernya dipakai Amerika demi perdamaian kawasan. Pedro Sanchez bisa diibaratkan seperti pemungut cukai yang berdiri jauh-jauh dan memukul dirinya dan berkata: “Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini.” Ia menyadari diri sebagai orang berdosa yang tidak pantas di hadapan Tuhan. Ia merasa tidak berhak memusuhi dan membunuh orang lain. Yang satu menyombongkan diri, yang lain merendahkan dirinya. Yesus menegaskan, “Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan." Apakah kita akan ikut-ikutan sombong atau maukah kita merendahkan diri di hadapan Tuhan dan berani mengasihi sesama dengan menjaga damai? Pilihan itu yang akan menentukan sikap kita. Tak ada gunanya makan bergizi, Kalau otak pikirannya hanya korupsi. Kembangkan semangat rendah hati, Daripada sombong hanya dicaci maki. Wonogiri, filosofi padi yang bernas Rm. A. Joko Purwanto, Pr
0 Comments
Leave a Reply. |
Archives
December 2034
Categories |
RSS Feed