|
Puncta 31Juli 2026
Pw. St. Ignatius Loyola, Imam Matius 13: 54-58 atau RUybs Lukas 14:25-33 KETIKA Semar ingin membangun Kahyangan, dia ditentang dan ditolak oleh raja dan kalangannya sendiri. Bendara dan kerabatnya mencemooh, mencurigai dan merendahkan niat baik yang mau dilaksanakan. Membangun Kahyangan maknanya adalah membangun moral kehidupan masyarakat di Dusun Karang Kadempel. Tetapi niat baik itu ditolak oleh kalangannya sendiri. Para punggawa yang semestinya mendukung niatnya, justru menolak maksud baik Semar. Kebaikan belum tentu diterima semua orang. Apa yang terjadi dengan Yesus di Nasaret menunjukkan bahwa niat baiknya, ajarannya, mukjizatnya hanya dikagumi tetapi mereka tidak mempercayai-Nya, bahkan menolaknya. Justru orang-orang terdekat-Nya yang berasal dari kampung-Nya sendiri tidak mempercayai-Nya. Mereka mempertanyakan dari manakah kuasa-Nya itu. “Bukankah Ia ini anak tukang kayu? Bukankah ibu-Nya bernama Maria dan saudara-saudara-Nya: Yakobus, Yusuf, Simon dan Yudas? Dan bukankah saudara-saudara-Nya perempuan semuanya ada bersama kita? Jadi dari mana diperoleh-Nya semuanya itu?" Lalu mereka kecewa dan menolak Dia. Luka batin yang paling dalam seringkali justru datang dari pihak yang paling dekat. Penolakan, penghinaan, cemoohan justru datang dari orang-orang yang dekat dengan kita. Di Nasaret, di tengah kaum kerabat-Nya, orang-orang disana tidak menghargai-Nya. Mereka tidak mempercayai semua yang dilakukan Yesus. Tidak dihargai, tidak diterima oleh keluarga sendiri bagi kita bisa menjadi luka batin yang menyayat. Tetapi Yesus tidak menunjukkan kekecewaan, kemarahan atau sakit hati. Yesus hanya berkata kepada mereka: "Seorang nabi dihormati di mana-mana, kecuali di tempat asalnya sendiri dan di rumahnya." Dan karena ketidakpercayaan mereka, tidak banyak mujizat diadakan-Nya di situ. Perlakuan buruk kepada orang lain, tidak akan merugikan mereka, tetapi justru merugikan diri sendiri. Orang-orang Nasaret tidak mengalami mukjizat-mukjizat besar karena mereka tidak mau percaya. Kalau mereka mau terbuka, mereka pasti mengalami karunia yang besar. Kita belajar dari peristiwa ini, jangan menutup diri atau merendahkan orang lain, kita tidak akan menerima rahmat darinya. Kita percaya setiap orang membawa berkahnya sendiri bagi kita. Kita hargai dan terima orang lain dengan kasih karunia. Sepercik pantun buat anda: Belum ada universitas tetapi sudah ada rektornya, Belum ada tugas pekerjaan tetapi sudah ada gajinya. Belum ketemu orang tetapi sudah menolaknya, Belum mendapat mukjizat tetapi sudah meragukannya. Wonogiri, percayalah jangan ragu-ragu Rm. A.Joko Purwanto,Pr
0 Comments
Leave a Reply. |
Archives
December 2034
Categories |
RSS Feed