|
Puncta 27 Mei 2026
Pekan Biasa VIII Markus 10:32-45 KEKUASAAN Presiden kedua RI tumbang pada bulan Mei 1998. Kita tidak boleh lupa pada sejarah bangsa sendiri, agar kita bisa belajar bagaimana mengemban kekuasaan yang benar untuk rakyat, bukan demi kepentingan diri sendiri atau kelompoknya. Suharto lengser diawali dengan kenaikan harga BBM dan tarif daftar listrik pada 4 Mei 1998. Kebijakan ini disambut demo besar-besaran oleh mahasiswa dan rakyat di berbagai kota. Aparat keamanan dipakai untuk meredam demo. Tetapi mereka justru menembaki mahasiswa dan korban berjatuhan di beberapa tempat. Empat mahasiswa Trisakti Jakarta: Elang Mulia Lesmana, Heri Hertanto, Hafidin Royan, dan Hendriawan Sie, tewas dan puluhan lainnya luka-luka. Peristiwa ini terjadi pada 12 Mei 1998. Demo, penjarahan, pembakaran dan chaos terjadi di mana-mana: Jakarta, Bandung, Semarang, Medan, Surabaya, Yogyakarta. Demo meluas kemana-mana antara tanggal 13-15 Mei 1998. Rakyat marah terhadap kekuasaan yang menindas selama 32 tahun. Korupsi, penguasa yang otoriter dan penderitaan rakyat akibat krisis ekonomi memicu kemarahan masyarakat. Pada 18 Mei 1998, mahasiswa dan rakyat berhasil menduduki gedung DPR RI. Dan pada 21 Mei 1998, Suharto mengumumkan lengser dari kekuasaan. Bulan Mei ini adalah bulan pengingat bagi semua warga bangsa bahwa kekuasaan yang dijalankan dengan tangan besi dan menindas rakyat akhirnya akan tumbang. Kepada para murid-Nya, Yesus wanti-wanti agar berhati-hati jika diberi amanah untuk berkuasa. "Kamu tahu, bahwa mereka yang disebut pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi, dan pembesar-pembesarnya menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka.” Tetapi Yesus menasehatkan kepada mereka agar jangan menindas. Jangan otoriter dan tangan besi. “Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu dan barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya.” Sekarang ini sudah ada tanda-tanda kekuasaan dijalankan dengan otoriter. Aparat digunakan untuk mendukung kebijakan politik. Korupsi dan hidup mewah pejabat dipertontonkan ke masyarakat. Harga-harga bahan pokok naik, rupiah terpuruk terhadap dolar. Penguasa merasa paling benar, anti kritik, buta dan tuli atas penderitaan rakyat. Penguasa atau pemimpin yang benar bukan minta dilayani, melainkan untuk melayani dan memberikan karya dan pengabdiannya sepenuhnya untuk kesejahteraan masyarakat. Sepercik pantun buat anda: Di Kerajaan Astina ada Patih Sengkuni, Yang suka pesta pora makan hasil korupsi. Pemimpin harus melayani, bukan dilayani. Jangan hanya mencari keuntungan diri sendiri. Wonogiri, pilihlah pemimpi yang melayani Rm. A. Joko Purwanto, Pr
0 Comments
Leave a Reply. |
Archives
December 2034
Categories |
RSS Feed