|
Puncta 6 April 2026
Senin dalam Oktaf Paskah Matius 28:8-15 SEBELUM misa pembaharuan janji imamat, para rama mengadakan rekoleksi bersama. Rm.Indra Sanjaya menampilkan tokoh Petrus yang kendati rapuh, pernah gagal, menyangkal Yesus, namun akhirnya dipilih menjadi pemimpin gereja universal. Perjumpaan dengan teman-teman imam selalu memberi gairah dan kebahagiaan karena bisa saling belajar dari pelayanan pastoral masing-masing. Saya belajar dari ketekunan rama-rama “sepuh” dalam menjalani karya. Perjumpaan punya dampak positif. Mereka memberi inspirasi karena tekun dan setia menjalani panggilan. Dari ungkapan dan gesture gerak hidupnya nampak kebahagiaan imamatnya kendati juga tidak mudah melayani banyak orang. Kebahagiaan itu menular dan memberi insight baru yang menginspirasi. Begitulah perjumpaan para perempuan dengan Yesus yang bangkit. Pada awalnya mereka mengalami ketakutan. Namun tiba-tiba di tengah jalan mereka berjumpa dengan Yesus. Mereka sangat gembira. Mereka sujud dan menyembah di depan kaki Yesus. Kata Yesus kepada mereka: ”Jangan takut. Pergi dan katakanlah kepada saudara-saudara-Ku, supaya mereka pergi ke Galilea, dan di sanalah mereka akan melihat Aku.” Perjumpaan dengan Yesus selalu ada buah, dampak positif; kegembiraan dan perutusan. Berbeda dengan para imam-imam kepala dan serdadu-serdadu yang menjaga makam. Mereka ketakutan dan menciptakan kebohongan. Mereka takut dampak kebangkitan akan menghancurkan reputasi mereka. Maka dibuatlah berita bohong. Kata imam-imam kepala, ”Kamu harus mengatakan, bahwa murid-murid-Nya datang malam-malam dan mencuri-Nya ketika kamu sedang tidur. Dan apabila hal ini kedengaran oleh wali negeri, kami akan berbicara dengan dia, sehingga kamu tidak beroleh kesulitan apa-apa.” Kebohongan demi kebohongan justru akan membawa ketakutan dan kekawatiran menjadi lebih besar. Kebohongan tidak akan menyelesaikan masalah tetapi justru akan membawa masalah. Mereka menolak kebangkitan. Mereka tidak mempercayai Yesus yang hidup. Hidup mereka dikuasai oleh ketakutan. Dengan ketakutan itu mereka menciptakan kebohongan dan menyebarkannya. Mereka tidak mengalami kebahagiaan karena tunduk pada ketakutan. Berbeda dengan para wanita dan para murid. Mereka mengalami kebahagiaan karena bertemu dengan Yesus yang bangkit. Kebahagiaan mereka menular dan menginspirasi yang lain; memberi semangat, menepis rasa takut dan hidup diliputi kebahagiaan. Apakah kita akan membiarkan hidup kita dikuasai oleh kebohongan, ketakutan dan rasa was-was atau mau dikuasai Yesus yang bangkit membawa warta bahagia dan menyebarkannya kepada orang lain? Sepercik pantun buat anda: Pergi ke Gombong atau Pangandaran, Menyusuri pantai jumpa para nelayan Berita bohong membawa kehancuran, Warta kebangkitan bawa kebahagiaan Wonogiri, bahagia yang menular Rm. A.Joko Purwanto, Pr
0 Comments
Leave a Reply. |
Archives
December 2034
Categories |
RSS Feed