|
Puncta 27 Februari 2026
Jum’at Prapaskah I Matius 5:20-26 SAYA mempunyai guru di SMP waktu itu, namanya Pak Suhari. Beliau pernah bercerita, ketika kuliah di Sanata Dharma, dia mempunyai patokan waktu belajar, yaitu pesawat latih dari AURI Yogyakarta. Beliau “ngekost” di dekat kampus Mrican. Wilayah udara di situ sering dipakai oleh para calon penerbang AURI untuk latihan menerbangkan pesawat. Pesawat terbang dari lapangan Adisucipto itu berputar-putar meraung-raung sampai malam hari di atas daerah Mrican. Suhari muda yang sedang belajar berpikir; “Aku tidak akan berhenti belajar kalau pesawat terbang itu belum juga berhenti latihan.” Semangatnya membara tidak mau kalah dengan para calon penerbang yang berlatih sampai malam hari. Inilah semangat magis. Magis berasal dari Bahasa Latin yang berarti lebih besar, “greater” atau semakin besar. Konsep ini dikembangkan oleh St.Ignatius Loyola dengan motto “Ad Maiorem Dei Gloriam” demi kemuliaan Tuhan yang semakin besar. Magis bukan berarti mengerjakan sesuatu lebih banyak atau lebih baik. Tetapi semangat untuk menjadi semakin dekat dengan Kristus. Istilah “magis” menunjukkan tindakan konkret dan mendalam untuk semakin memiliki relasi yang dekat dengan Allah, semakin mempunyai relasi yang dekat dengan Kristus. Semakin menjadi “Alter Christi.” Semangat itu dapat kita temukan dalam perikope Injil hari ini. “Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga,” kata Yesus pada murid-murid-Nya. Hal yang kongkret dikatakan Yesus dalam mentaati hukum Taurat. “Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala.” “Tetapi Aku berkata kepadamu,” kalimat ini mau mengungkapkan penekanan semangat lebih atau magis yang dimaksud oleh Yesus. Jangankan membunuh, orang yang marah kepada saudaranya saja harus dihukum. Orang yang berkata”Kafir” atau “Jahil” harus diadili dan masuk ke neraka. “Siapa pun yang meminta engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil." Semangat magis diwujudkan untuk semakin bermurah hati seperti Allah yang murah hati adanya. Maukah kita memiliki semangat magis dalam pelayanan agar kita semakin menyerupai Tuhan Yesus yang mengasihi kita? Sepercik pantun buat anda: Banyak uang beredar di desa-desa, Aksi sunyi dari para pegawai raja. Jika kita murah hati kepada sesama, Tuhan juga akan bermurah hati pada kita. Wonogiri, ultah penuh berkah Rm. A. Joko Purwanto, Pr
0 Comments
Leave a Reply. |
Archives
December 2034
Categories |
RSS Feed