Paroki St. Yohanes Rasul Wonogiri
  • Home
  • Profil Paroki
  • Katekese
  • Pelayanan
  • Berita Paroki

katekese

Never Let Go

5/27/2025

0 Comments

 
Puncta 27 Mei 2025
Selasa Paskah VI
Yohanes 16: 5-11

ITULAH pesan terakhir Jack Dawson (Leonardo di Caprio) kepada Rose (Kate Winslet) kekasihnya yang mencoba mempertahankan hidup dalam dinginnya samudera Atlantik. Perpisahan yang sangat tragis setelah mereka berkenalan dan menjalin cinta di Kapal Titanic.

Mereka bergelayutan di atas puing kapal yang tenggelam. Rose menguatkan Jack untuk bertahan hidup. Namun sayang, hipotermia menyerangnya dan Jack mati membeku dan tenggelam bersama Titanic.

Sebelum ajal menjemput Jack berpesan singkat pada Rose, “Never let go.” Jack berharap agar Rose tetap berjuang dan hidup untuk cinta mereka berdua. Cinta yang indah di sebuah kapal yang sedang berjalan di samudera luas.

Yesus juga mengadakan salam perpisahan dengan murid-murid-Nya. Dia bersama mereka mengadakan perjamuan makan. Di situ Da memberi amanat perpisahan. 

Dia berjanji akan selalu menuntun dan menemani langkah mereka dalam mewartakan Injil. Dia akan mengutus Roh Penghibur yaitu Roh Kudus.

Dia berpesan, “Adalah lebih berguna bagi kamu, jika Aku pergi. Sebab jikalau Aku tidak pergi, Penghibur itu tidak akan datang kepadamu, tetapi jikalau Aku pergi, Aku akan mengutus Dia kepadamu.”

Kepergian Yesus tidak meninggalkan kita. Dia pergi untuk menyiapkan tempat bagi kita di rumah Bapa yaitu sorga. Dia mengaruniakan Roh-Nya bagi kita agar kita tetap setia mengikuti dan mewartakan kasih-Nya.

Kita ini seperti kapal yang mengarungi samudera luas kehidupan. Kita tidak berjalan sendiri. Roh Kudus diutus membimbing kita. Seperti Jack dan Rose yang saling menguatkan, kita juga diajak untuk saling meneguhkan. 

Roh Kudus menjadi tali pengikat yang mempersatukan kita. Sebagaimana Jack dan Rose disatukan dalam cinta, dan terus berjuang, kita pun disatukan oleh Roh Kudus untuk  saling mengasihi satu sama lain.

Mari kita berjalan saling meneguhkan untuk melaksanakan amanat Tuhan.

Menanti senja di Pantai Ngobaran,
Suara ombak datang berganti-gantian.
Kasih itu harus rela berkorban,
Mau mengasihi tanpa memaksakan.

Wonogiri, amanat kasih setia
Rm. A. Joko Purwanto, Pr
0 Comments

How to become Catholic

5/26/2025

0 Comments

 
Puncta 26 Mei 2025
PW. St. Filipus Neri, Imam
Yohanes 15:26-16:4a

WAFATNYA Paus Fransiskus memberi kesaksian indah bagi banyak orang. Hal ini terlihat di laman internet, banyak orang menulis “How to become Catholic.”  

Rasa kehilangan seorang bapa memang dirasakan umat Katolik sepeninggal Paus. Tetapi kenangan yang indah terus terukir sangat dalam.

Namun berita yang menggembirakan justru muncul saat banyak orang mencari tahu bagaimana caranya menjadi seorang Katolik. 

Berita dari Zenith News mengabarkan bahwa pencarian”How to become Catholic melonjak sangat tinggi yakni mencapai 373 persen di kanal google sejak wafatnya Paus.

Wafatnya Paus justru membawa orang pada pertobatan. Mereka terkesan dengan pribadi Paus Fransiskus yang rendah hati, penuh belas kasih, keteladanan dalam hal-hal yang sederhana tetapi menyentuh, menyapa orang kecil, membasuh kaki para pengungsi dan imigran, hadir di penjara-penjara.

Kesaksian hidup Paus Fransiskus membuka sekat-sekat pemisah, mengasihi tanpa membedakan, mengampuni daripada menghakimi orang lain. Cara hidup seperti itu nampaknya yang membuat banyak orang tertarik mencari jalan menjadi Katolik.

Yesus memberi perintah kepada murid-murid-Nya, ”Jikalau Penghibur yang akan Kuutus dari Bapa datang, yaitu Roh Kebenaran yang keluar dari Bapa, Ia akan bersaksi tentang Aku. Tetapi kamu juga harus bersaksi, karena kamu dari semula bersama-sama dengan Aku.”

Dunia terhenti sejenak, terhenyak saat Paus wafat. Semua orang disadarkan akan tujuan hidup yang sebenarnya. Dunia menawarkan kemewahan, tetapi hati kosong. Hidup berkelimpahan tetapi batin tak terisi apa-apa alias hampa. Manusia terus mencari kebahagiaan dunia tetapi tak mendapat apa-apa.

Paus Fransiskus memberi kesaksian bukan dengan kotbah panjang bertele-tele, tetapi dengan tindakan kasih yang nyata. Ia menyatakan bahwa gereja bukan tempat orang suci, tetapi rumah bagi jiwa-jiwa yang sakit dan terluka, yang mencari Tuhan. Ia mewujudkan kasih Allah dengan teladan nyata.

Benar pepatah yang berkata, “Mati satu tumbuh seribu.” Paus Fransiskus wafat, tetapi ada ribuan orang yang pulang kembali ke pangkuan Gereja Katolik. 

Inilah karya Roh Kudus yang dijanjikan Yesus kepada kita. Roh Kudus bekerja di tengah-tengah kita.

Waduk Gajah Mungkur banyak ikan,
Sampai dijajakan di pinggir jalan.
Kita semua bisa menjadi saksi iman,
Jika kita hidup memberi keteladanan.

Wonogiri, kamu adalah saksi-Ku
Rm. A. Joko Purwanto, Pr
0 Comments

Putri Bau Nyale

5/25/2025

0 Comments

 
Puncta 25 Mei 2025
Minggu Paskah VI
Yohanes 14: 23-29

PERNAH ke Mandalika? Bukan sirkuitnya saja yang terkenal karena dikunjungi Marc Marques atau Daniel Pedrosa dan Valentino Rosi, tetapi di Pantai Seger, bersebelahan dengan arena sirkuit ada legenda cinta yang diabadikan dalam patung Dewi Mandalika dan ketiga pangeran.

Mandalika adalah gadis cantik anak dari raja Tonjang Beru dan Dewi Seranting. Ia diperebutkan oleh tiga pangeran dari kerajaan tetangga. Karena tidak ingin terjadi pertumpahan darah akibat persaingan, Sang Puteri memutuskan terjun ke laut.

Sebelum terjun, dia berpesan, “Aku akan datang setiap tahun pada waktu tertentu. Datanglah ke pantai dan kalian akan menjumpai aku.” Lalu terjunlah sang puteri ke laut dan hilang dibawa ombak.

Bersamaan itu muncullah nyale palolo (cacing warna-warni) dari balik bebatuan. Rakyat percaya itu pemberian sang putri. 

Tradisi bau nyale (menangkap cacing) masih hidup sampai sekarang sebagai penghormatan kepada Putri Mandalika atau Putri Bau Nyale.

Dalam amanat perpisahan-Nya, Yesus berpesan kepada para murid-Nya, “Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu.” 

Yesus akan pergi meninggalkan para murid. Tetapi Dia akan datang kembali. “Janganlah gelisah dan gentar hatimu. Aku pergi tetapi Aku datang kembali kepadamu.”

Yesus akan mengutus Roh Penghibur, yaitu Roh Kudus. Kata Yesus, ”Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu.”

Roh Kudus atau Roh Yesus Kristus itulah yang menuntun kita sekarang. Yesus tidak hadir tetapi Dia mengutus Roh-Nya untuk mengajari kita akan segala sesuatu. Dengan Roh-Nya itu, Yesus menjanjikan damai sejahtera kepada kita semua.

Kalau Putri Mandalika memberi nyale kepada rakyatnya, Yesus memberikan Roh Kudus kepada kita. Kita tidak melangkah sendirian. Hidup kita selalu ada dalam perlindungan-Nya karena Roh Penghibur yang diberikan kepada kita. 

Jalan-jalan ke Mandalika,
Menangkap nyale di pinggir pantai.
Yesus mengutus Roh Kudus-Nya,
Agar kita hidup dalam damai.

Wonogiri, Roh Kudus diberikan pada kita
Rm. A. Joko Purwanto,Pr
0 Comments

Derita Menghadang di Depan

5/24/2025

0 Comments

 
Puncta 24 Mei 2025
Sabtu Paskah V
Yohanes 15: 18-21

KUMBAKARNA adalah adik Rahwana. Ia menasehati kakaknya untuk tidak memperistri Shinta, karena Shinta adalah istri Rama. 

Rahwana menculik Shinta. Hal ini adalah sebuah kejahatan. Ia memperingatkan kakaknya yang serakah dan jahat.

Namun Kumbakarna justru diusir oleh Rahwana. Raja yang jahat itu marah karena adiknya tidak menyetujui niatnya. 

Begitu juga kepada Gunawan Wibisana. Ia menasehati kakaknya agar bertindak benar dan lurus.

Menculik Shinta adalah kejahatan. Gunawan tidak setuju dengan tindakan jahat kakaknya. 

Ia lebih memilih berpihak kepada Rama yang jujur dan benar. Namun tindakannya ini dibenci oleh Rahwana. Ia juga diusir dari Alengkadiraja.

Orang yang memilih kebenaran akan dibenci dan dijauhi oleh orang banyak. Mereka yang berjuang membela keadilan dan kebenaran akan menghadapi banyak hambatan dan kesulitan.

Yesus sudah memprediksi sejak awal. Maka Dia berkata sembari mengingatkan  murid-murid-Nya, “"Jikalau dunia membenci kamu, ingatlah bahwa ia telah lebih dahulu membenci Aku dari pada kamu. 

Sekiranya kamu dari dunia, tentulah dunia mengasihi kamu sebagai miliknya. Tetapi karena kamu bukan dari dunia, melainkan Aku telah memilih kamu dari dunia, sebab itulah dunia membenci kamu.”

Berjuang membela kebenaran seperti melawan tembok tebal yang sulit ditembus. Ada banyak hambatan. Mereka sering menghadapi teror dan intimidasi, kekerasan dan hinaan, tuduhan dan ancaman. Bahkan nyawa menjadi taruhan.

Yesus berjuang mewartakan kebenaran. Ia harus menerima salib dan kematian. Maka para murid-Nya diminta untuk teguh berdiri jika menghadapi segala tantangan. Berani memanggul salib adalah tanda dan cara kita mengikuti Kristus. 

Mereka sering memakai nama Tuhan untuk menentang kebenaran. Sebenarnya mereka tidak sungguh-sungguh mengenal Tuhan.

 “Semuanya itu akan mereka lakukan terhadap kamu karena nama-Ku, sebab mereka tidak mengenal Dia, yang telah mengutus Aku,” itulah yang dikatakan Yesus.

Terus berjuang mengikuti Yesus mewartakan kebenaran dan keadilan bagi semua orang. Salib adalah mahkota kemuliaan.

Wibisana bergabung ke pasukan Rama,
Berjuang melawan dusta angkara murka.
Membela kebenaran akan dibenci dunia,
Mereka tidak mengenal Allah sesungguhnya.

Wonogiri, tetap teguh berjuang
Rm. A. Joko Purwanto, Pr
0 Comments

Konklaf yang Cepat

5/23/2025

0 Comments

 
Puncta 23 Mei 2025
Jum’at Paskah V
Yohanes 15: 12-17

GEREJA KATOLIK memang sangat unik, kaya akan pengalaman rohani dan terbuka akan karya Roh Kudus. Pemilihan pemimpin agama dan juga kepala pemerintahan Negara Vatican paling cepat dan damai adalah pemilihan Paus Leo XIV kemarin.

Hanya dalam waktu yang singkat, dua hari saja dan dipenuhi dengan suasana suka cita terpilih pimpinan tertinggi agama Katolik. 

Sharing pengalaman Kardinal Suharyo yang ikut dalam konklaf meneguhkan kasih Allah dan kuasa Roh Kudus bekerja dalam Gereja.

“Tidak ada kampanye, tidak ada suap menyuap, tidak ada amplop. Kalau ada, saya pasti sudah menerima,” kata Kardinal disambut tawa umat yang hadir. Ya, pemilihan yang sarat dengan doa dan percaya pada kuasa Roh Kudus.

Kalau tidak didasari oleh cintakasih dan kuasa Roh Kudus, tak mungkin bisa terjadi. Tidak ada nama Kardinal Robert Prevost beredar. 

Dalam bursa media massa, nama itu tidak muncul. Yang sering disebut Kardinal Erdo, Kardinal Parolin, Kardinal Luis Tagle dari Filipina. Nama Robert Prevost dari Peru tersembunyi di sudut Basilika.

Hanya karena kasih persaudaraan, pemilihan itu berlangsung dengan cepat. Seratus tigapuluh tiga kardinal dalam tiga kali putaran langsung menemukan nama yang menjadi Paus Leo XIV. Ajaran kasih Kristus terus berlangsung dalam Gereja Katolik.

“Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu. Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya. Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Ku perintahkan kepadamu.” 
Sabda Yesus inilah yang menjadi kunci pemilihan pimpinan.

Menjadi pemimpin sejatinya bukan untuk rebutan jabatan, bahkan menghalalkan segala cara untuk mengalahkan musuhnya, tetapi pemimpin adalah pelayanan untuk mengasihi sesama sebagaimana Kristus telah mengasihi manusia.

Kalau pemimpin didasari oleh kasih akan yang lain, dia tidak akan memikirkan dirinya sendiri, tetapi berusaha untuk menyejahterakan dan membahagiakan orang-orang yang dikasihi Tuhan, yakni mereka yang kecil, lemah, miskin dan tersingkir.

Bersama Paus Leo XIV mari kita wujudkan kasih persaudaraan kepada semua orang.

Kuda liar ada di Pulau Bima,
Susu kuda bisa bikin awet muda.
Perintah kasihilah pada sesama,
Bukan kasih untuk yang sama saja.

Wonogiri, love each other 
Rm. A. Joko Purwanto, Pr
0 Comments

Loranthus

5/22/2025

0 Comments

 
Puncta 22 Mei 2025
Kamis Paskah V
Yohanes 15: 9-11

KATA dari Bahasa Latin di atas berarti Benalu, yaitu tumbuhan yang menempel, mengambil hara, makanan dari pohon inang yang diserapnya. Benalu makan dari induk yang ditempelinya sehingga akhirnya malah mematikan.

Benalu sangat merugikan karena membuat tidak subur, tidak produktif dan menghancurkan. Maka orang memotong benalu yang mengganggu kesuburan tanaman. 

Ranting-ranting yang tidak menghasilkan dipangkas bersama dengan benalu yang hanya numpang makan.

Dalam perumpamaan tentang Pokok Anggur, Yesus berbicara tentang “tinggal di dalam Aku,” sampai tujuh kali. Itu menggambarkan betapa pentingnya kita tinggal di dalam Kristus.

Seperti ranting yang tinggal di dalam pokok, tujuannya supaya berbuah banyak. Kalau tidak berbuah akan dipotong. 

Ranting yang tidak berbuah saja dipangkas, apalagi benalu yang hanya mengisap makanan tetapi tidak menghasilkan apa-apa.

Analog yang dijelaskan Yesus adalah seperti Diri-Nya yang tinggal di dalam Bapa dan menghasilkan buah-buah penebusan. Yesus menyatu dengan Bapa seperti ranting menyatu dengan pokoknya.

Kita juga diharapkan menyatu dengan Kristus dan merasakan sukacita yang berbuah banyak bagi lingkungan sekitarnya. Cirinya orang yang tinggal di dalam Kristus adalah sukacita.

“Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku, seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya. Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya sukacita-Ku ada di dalam kamu dan sukacitamu menjadi penuh.”

Merasakan sukacita gak anda tinggal di dalam Kristus? Jika selama ini anda belum menemukan sukacita, mungkin anda tidak benar-benar menyatu dengan Kristus. 

Jangan-jangan anda hanyalah benalu yang mengambil manfaat dari pokok inang tetapi tidak menghasilkan apa-apa.

Ada benalu di pohon anggur,
Numpang makan di pucuknya.
Gembala jangan banyak nganggur,
Domba-domba lari keluar gereja.

Wonogiri, suka jadi benalu ya?
Rm. A. Joko Purwanto, Pr
0 Comments

Pokok Anggur

5/21/2025

0 Comments

 
Puncta 21 Mei 2025
Rabu Paskah V
Yohanes 15: 1-8

KITA masih ingat lagu Sekolah Minggu “Yesus pokok dan kitalah carangnya, tinggalah di dalamnya. Pastilah kau akan berbuah.” 

Lagu itu mengajarkan pada kita bahwa Yesus menjadi pokok anggur dan kita hanya bisa berbuah kalau tinggal di dalamnya. Cinta-Nya menular ke aku, kau dan dia.

Dengan lagu-lagu sederhana kita mengajarkan kepada anak-anak bahwa kita mesti tetap tinggal di dalam Yesus. Dengan tinggal di dalam pokok, kita mampu berbuah banyak. 

Melalui nyanyian-nyanyian yang menarik, kita menanamkan nilai-nilai Injil kepada mereka.

Demikian juga Yesus menggunakan perumpamaan yang dekat dengan kehidupan orang sezaman-Nya untuk menggambarkan hubungan Allah dengan manusia. 

Perumpamaan tentang Kebun anggur, penggarap, domba, gembala adalah hidup mereka setiap hari.

Dengan perumpamaan itu, para murid dan orang banyak mudah menangkap dan mengerti apa yang disampaikan Yesus. 

“Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.”

Ranting akan berbuah jika tetap tinggal di dalam pokoknya. Demikian juga, iman kita akan berbuah dalam kebajikan jika kita tinggal dalam Kristus. Iman yang tidak menghasilkan perbuatan baik akan mati.

Iman yang berasal dari Yesus akan menghasilkan cintakasih, pengampunan, belarasa, kerendahan hati, dan keutamaan-keutamaan ilahi. Tinggal dalam Yesus berarti aktif menyerap nilai-nilai yang diajarkan Yesus.

Pertanyaan untuk kita renungkan sendiri; sudahkah kita menghasilkan buah-buah iman yang dapat dirasakan oleh sesama kita? 

Apakah kita setia tinggal di dalam pokok anggur yang sejati yaitu Yesus sendiri?

Pergi ke pasar pagi-pagi buta,
Disuruh ibu untuk membeli minyak.
Kalau kita tinggal di dalam Dia,
Kita akan menghasilkan buah banyak.

Wonogiri, Tinggal bersama Dia
Rm. A. Joko Purwanto,Pr
0 Comments

Lukisan Merpati di Tembok Kota

5/20/2025

0 Comments

 
Puncta 20 Mei 2025
Selasa Paskah V
Yohanes 14: 27-31a

PERANG antara Rusia dan Ukraina masih terus berlangsung. Banyak korban berjatuhan. Rakyat Ukraina sangat menderita karenanya. Hal ini mengusik seorang seniman Jerman bernama Justus Becker.

Ia melukis seekor merpati yang membawa ranting zaitun dalam warna nasional Ukraina (biru dan kuning) di dinding luar sebuah bangunan di Frankfurt. 

Dengan mural tersebut, warga Frankfurt menyiratkan bentuk harapan dan solidaritas untuk warga Ukraina yang sedang porak poranda dibombardir Rusia. 

Karakter merpati adalah pembawa damai. Dia tidak pernah membunuh dalam mencari makan. Burung lain bukanlah musuh atau pesaing. 

Ia tidak pernah membalas atau melawan saat diserang. Ia cenderung menghindar saat berhadapan dengan lawan.

Merpati adalah lambang romantisme. Ia sangat mengasihi dan menjaga pasangannya. Binatang ini selalu bekerjasama dengan jodohnya. Merpati adalah binatang monogam yang setia pada pasangannya. 

Keduanya saling membantu dan mengisi. Jika yang betina mengeram, sang jantan menjaga di dekat sarang. 

Jika sang betina kelelahan, si jantan mengganti untuk mengerami demi kehangatan bagi telur-telur mereka.

Belajar dari merpati yang menjadi simbol damai, kita ingat sabda Yesus yang memberi damai pada kita. “Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia.”

Damai sejahtera tidak melulu soal duniawi saja. Damai sejahtera adalah merasakan kedekatan dan persatuan dengan Tuhan. Asal orang mengalami perlindungan Allah, disana ada damai sejahtera. 

Syalom atau damai sejahtera adalah berkat karena kasih Allah yang tiada henti. Damai adakah saat orang mengalami dekat dengan Tuhan.

Kendati Yesus pergi kepada Bapa, tetapi Dia meninggalkan damai sejahtera bagi kita. Ia tetap bersama dengan kita dengan damai sejahtera-Nya. Maka kita dipanggil untuk membawa damai itu kepada semua orang.

Kalau kita mengasihi Yesus, maka kita akan mewartakan damai dan sukacita kepada semua orang. Orang Katolik dimanapun dipanggil untuk membawa damai bagi dunia sekitarnya.

Apakah anda sudah membawa damai kepada tetangga-tetangga di sekitar anda? Apakah kehadiran anda membawa sukacita bagi sekitarnya?

Pergi ke ladang memanen banyak buah petai,
Dijual ke pasar untuk membeli aneka panganan.
Orang yang mengasihi Tuhan membawa damai,
Ia tidak menebarkan permusuhan dan kebencian.

Wonogiri, bawalah damai kemanapun
Rm. A. Joko Purwanto, Pr
0 Comments

Boing, Anjing yang Setia

5/19/2025

0 Comments

 
Puncta 19 Mei 2025
Senin Paskah V
Yohanes 14: 21-26 

SUDAH setengah tahun aku pindah dari Cawas. Di tempat ini aku memelihara anjing yang kuberi nama Boing, perpanjangan dari Rebo Pahing, karena dia datang waktu masih kecil tepat pada hari Rabu Pahing.

Dia kupelihara dan kusayangi. Setiap hari kuberi makan. Bahkan kalau jajan di warung, ada sisa tulang-tulang aku membawakan untuk Boingku. Anjing itu tahu kalau disayang tuannya. 

Kini aku pindah tugas di Wonogiri. Ketika aku mampir ke Pastoran Cawas, Boing langsung mengenali dan mendekat seolah-olah dia merindukanku. 

Seperti kawan yang lama tidak berjumpa. Dia mengajak bermain dengan lari-lari dan mengibaskan ekornya. 

Anjing yang disayangi dan dikasihi, dia akan menuruti perintah dan mengenali siapa yang memelihara dan mengasihinya. 

Kita sudah dikasihi oleh Yesus. Dia  berkata, "Jika seorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku dan Bapa-Ku akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia.”

Binatang saja bisa mengenali siapa yang mengasihinya, masakan kita tidak paham akan kasih Tuhan yang demikian besar bagi kita? 

Seekor anjing sangat setia pada tuan yang memeliharanya, masakan kita tidak setia pada Tuhan yang menjaga dan memelihara kita?

Yesus telah menunjukkan kasih-Nya yang sempurna kepada kita dengan mengorbankan Diri di kayu salib. Tidak ada kasih yang sedemikian besar dari kasih  yang rela mengorbankan nyawanya.

Sebagai balasan atas kasih-Nya adalah menuruti dan melakukan firman-Nya. Hanya dengan menuruti sabda-Nya kita benar-benar menjadi murid-Nya. Kita akan mampu melakukan kehendak-Nya jika kita mau dibimbing oleh Roh Penghibur.

Roh Kristus itulah sekarang yang berkarya menuntun kita melakukan kehendak-Nya. Maukah kita diajar dan dibimbing oleh Roh-Nya?

Kuberikan padamu mawar biru,
Semoga tertanam di hatimu.
Ajarilah kami bahasa cinta-Mu,
Agar kami setia pada-Mu.

Wonogiri, bimbing aku ya Tuhan
Rm. A. Joko Purwanto, Pr
0 Comments

Berjuang Tanpa Kekerasan

5/18/2025

0 Comments

 
Puncta 18 Mei 2025
Minggu Paskah V
Yohanes 13: 31-33a.34-35

WILSON PINHEIRO berkotbah di gereja dengan membawa sapu lidi. Dia menggambarkan kepada umat, “Kalau kita semua bersatu seperti sapu lidi, kita tak bisa dikalahkan. Siapakah yang bisa mematahkan sapu ini?”

Wilson adalah pejuang hak hak sipil di Brasil. Ia menyadarkan masyarakatnya untuk melawan penindasan penguasa dan pengusaha yang memiskinkan rakyat. 

Namun akhirnya dia mati ditembak oleh tentara. Kotbah tentang sapu lidi itu adalah warisan terakhir yang terus dihidupi warga.

Perjuangannya kemudian dilanjutkan oleh Fransisco “Chico” Mendes. Dia membuat perkumpulan para penyadap karet di hutan Amazon. Dia melawan penindasan dan ketidakadilan. 

Chico berjuang tanpa kekerasan. Ia mengajarkan kasih kepada rakyat kecil, agar tidak melawan dengan senjata.

Kisah nyata Chico Mendes ini dapat kita lihat dalam Film “The Burning Season.” Ajaran tentang kasih kepada sesama, bahkan musuh-musuh yang menindasnya dihadapi dengan berjuang tanpa kekerasan, tanpa senjata.

Yesus menyampaikan salam perpisahan kepada murid-murid-Nya dengan memberi perintah ini; “Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. 

Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi."

Ajaran kasih itu bisa diwujudkan dengan berbagai macam cara. Chico Mendes menterjemahkan kasih Tuhan dengan berjuang tanpa kekerasan. Ia tidak membalas kekerasan dengan kekerasan.

Seorang ayah mewujudkan kasih dengan giat bekerja demi keluarga. Seorang ibu mengasihi dengan setia mendampingi anak-anaknya. 

Ada yang mengasihi dengan melayani orang kecil, lemah, miskin, tersingkir, anak-anak difabel dan lainnya.

Bagaimana anda mewujudkan ajaran kasih Yesus kepada orang-orang yang ada di sekitar kita?

Pergi ke kebun memetik bunga,
Ada melati, mawar dan dahlia.
Kasih tidak memandang SARA,
Kasih peduli pada semua manusia.

Wonogiri, kasihilah sesamamu yang menderita
Rm. A.Joko Purwanto,Pr
0 Comments
<<Previous
Forward>>

    Archives

    December 2034
    May 2026
    April 2026
    March 2026
    February 2026
    January 2026
    December 2025
    November 2025
    October 2025
    September 2025
    August 2025
    July 2025
    June 2025
    May 2025
    April 2025
    March 2025
    February 2025
    January 2025
    December 2024
    November 2024
    October 2024
    September 2024
    August 2024
    February 2024
    February 2022
    January 2022
    December 2021
    November 2021
    October 2021
    July 2021

    Categories

    All
    Hello Romo!
    Katekese
    Puncta
    Rubrik Alkitab

    RSS Feed

Site powered by Weebly. Managed by Rumahweb Indonesia
  • Home
  • Profil Paroki
  • Katekese
  • Pelayanan
  • Berita Paroki