|
Puncta 18 November 2024
Senin Biasa XXXIII Lukas 18:35-42 KESUKSESAN atau keberhasilan itu tergantung pada seberapa besar dan kuat keyakinan seseorang. Jika orang itu penuh keragu-raguan, hambatan atau rintangan kecil pun akan mengurungkan niatnya. Dia takut menghadapi rintangan. Tetapi kalau orang itu sungguh yakin, hambatan sebesar gunung pun akan diterjangnya, untuk bertekad mencapai puncak prestasi. Keyakinan atau kepercayaan akan sangat berpengaruh pada keberhasilan seseorang. Kita bisa belajar dari kisah orang buta yang mengemis di pinggir jalan. Dia berusaha dengan keras agar dapat bertemu dengan Yesus yang lewat. Kendati orang banyak menegurnya supaya diam, namun dia tetap berseru kepada Yesus. Orang-orang yang berkerumun itu adalah hambatan. Mereka menyuruh supaya diam. Tetapi keyakinannya sangat kuat. Ia tidak mundur dari hambatan. Ia terus berteriak-teriak. Kendati dia tidak bisa melihat, tetapi dia mampu mendengar. Dari pendengarannya, dia percaya bahwa Yesus adalah Juruselamatnya. Dari ungkapannya, menyebut Yesus, Anak Daud, orang buta itu punya pengharapan besar, dia akan disembuhkan. Dia terus menyebut “Yesus, Anak Daud kasihanilah aku!” Inilah doanya yang tidak pernah berhenti. Walau kesulitan menghadang, pengemis buta ini tidak putus asa dan mundur. Dia terus maju dan berusaha dengan keras. Tidak ada orang hidup tanpa kesulitan, hambatan dan rintangan. Justru orang-orang yang mampu keluar dari kesulitan itulah mereka akan menjadi pemenang, berhasil dan sukses. Tidak ada nahkoda hebat yang lahir dari laut yang tenang. Gelombang besar, ombak yang hebat justru melahirkan orang-orang yang kuat dan tangguh dalam hidup. Jangan menjadi anak manja dan suka mengeluh. Kalian tidak akan menjadi pribadi yang tangguh. Mengeluh saja tidak menyelesaikan masalah. Iman yang kuat dan tak kenal putus asa itulah yang diajarkan oleh pengemis buta tadi. Justru itulah Yesus kemudian mengatakan, "Melihatlah engkau, imanmu telah menyelamatkan engkau!" Mari terus berjuang dalam kesulitan. Makan pete dicampur rambutan, Bikin lidah kelu dan kesemutan. Hambatan adalah batu ujian, Jangan menyerah dan putus harapan. Wonogiri, percaya dengan teguh Rm. A. Joko Purwanto, Pr
0 Comments
Puncta 17 November 2024
Mnggu Biasa XXXIII Hari Orang Miskin Sedunia Markus 13:24-32 WAKTU belajar di Seminari, Guru Bahasa Indonesia yaitu Pak Sunaryo tidak pernah memberitahu kepada siswa bahwa akan ada ulangan atau ujian. Dia setiap saat bisa saja berkata kepada murid-muridnya, “Hari ini ulangan, siapkan kertas!” Dia langsung akan menulis di papan tulis beberapa kalimat dan para siswa diminta untuk menjabarkan mana subyek, predikat, obyek, keterangan tempat, waktu dan hukum DMnya. Pak Sunaryo mengandaikan bahwa setiap siswa selalu belajar mempersiapkan diri setiap waktu. Tidak ada istilah belajar system SKS (Sistem Kebut Semalam) atau “wayangan,” istilah untuk belajar semalam suntuk. Kalau ada ujian baru belajar. Kalau tidak ada ujian atau ulangan malas belajar. Siswa tidak pernah menyiapkan diri setiap saat. Kedatangan Anak Manusia kedua kalinya disamakan dengan hari kiamat. Kita tidak tahu kapan dan waktunya hari akhir zaman datang. Hanya Allah Bapa yang mengetahuinya. Maka semua orang diajak untuk bersiap-siap. "Tetapi pada masa itu, sesudah siksaan itu, matahari akan menjadi gelap dan bulan tidak bercahaya dan bintang-bintang akan berjatuhan dari langit, dan kuasa-kuasa langit akan goncang. Pada waktu itu orang akan melihat Anak Manusia datang dalam awan-awan dengan segala kekuasaan dan kemuliaan-Nya.” Itulah tanda-tanda yang dikatakan Yesus. Semua akan menghadap ke pengadilan akhir. Semua orang tanpa kecuali akan diadili semua perbuatannya. Yang akan menentukan adalah iman kepercayaan dan perbuatan baik kita. Sejauhmana kita telah percaya kepada Yesus Juruselamat dan bagimana kita melaksanakan kebaikan-kebaikan di dunia. Alam semesta sering memberi tanda-tanda untuk mengingatkan kita agar siap siaga jika akhir zaman tiba. Peka membaca tanda-tanda bisa menolong kita bersiap diri. Bagaimana kita bisa peka? Kalau kita membuka hati mendengarkan Firman-Nya. Mari kita peka akan tanda-tanda akhir zaman. Jalan dari Wonogiri ke Manyaran, Melewati jalan-jalan pegunungan. Peka membaca tanda-tanda zaman, Tuhan datang tanpa pemberitahuan. Wonogiri, siap siaga saatnya tiba Rm. A. Joko Purwanto, Pr Puncta 16 November 2024
Sabtu Biasa XXXII Lukas 18: 1-8 SAYA pernah mengalami berdoa terus menerus, tetapi rasanya tak didengarkan oleh Tuhan. Saya menambah lagi waktu doanya. Namun rasanya Tuhan tidak peduli dengan permohonan yang saya minta. Mungkin anda juga pernah mengalaminya. Tak ada jawaban langsung dari Tuhan, bahkan rasanya seperti sia-sia saja. Saya sampai mempertanyakan apakah Tuhan sungguh mengasihi saya? Usaha dan doa yang siang malam terus dipanjatkan, namun tiada nampak hasil yang diinginkan. Yesus memberi perumpamaan melalui janda yang terus menerus meminta kepada hakim untuk menyelesaikan perkaranya. Janda itu tanpa letih dan malu terus datang dan “menggganggu” hakim yang tidak takut Allah itu. Di kalangan masyarakat Yahudi, seorang janda tidak diperhitungkan nasibnya. Tidak ada orang yang menjamin hidup seorang janda. Kalau suaminya sudah meninggal dan ia tidak memiliki anak laki-laki, maka tidak ada yang mengurus kehidupannya. Kita bisa ingat bagaimana Yesus menyerahkan ibu-Nya kepada Yohanes, murid-Nya ketika Dia akan mati di kayu salib. Ia memikirkan nasib Maria yang sudah janda, agar ada yang menjamin kehidupannya. Janda ini terus menerus meminta kepada hakim untuk memenangkan perkaranya. Lama kelamaan hakim itu risih karena si janda terus mengganggunya. Maka ia mengabulkan permintaan janda itu. Usaha keras tidak akan mengkhianati hasilnya. Hakim itu akhirnya menolong janda yang tak jemu-jemu terus memintanya. Demikian juga Allah akan mengabulkan doa-doa kita yang tiada henti terus berusaha. Sabarkah kita untuk terus datang meminta kepada Tuhan? Hakim yang tidak mengenal dan tidak takut akan Allah saja akhirnya menolong janda itu, apalagi Allah yang mahakuasa pasti juga akan menolong orang yang siang malam datang meminta kepada-Nya. Kita butuh sabar dan gigih terus berusaha. Setiap sore menikmati senja, duduk santai di Pantai Sundak. Jangan pernah berhenti berdoa, Pada waktunya Tuhan bertindak. Wonogiri, semangat terus berdoa Rm. A. Joko Purwanto, Pr Puncta 15 November 2024
Jum’at Biasa XXXII Lukas 17: 26-37 GUNUNG Lewotobi Laki-laki meletus pada Senin dini hari, 4 November 2024. Suara gemuruh disertai hujan batu meluncur dari puncak gunung. Suara gemuruh sungguh menakutkan. Apalagi malam itu hujan turun dengan derasnya. Batu-batu, besar dan kecil beterbangan menjatuhi apa saja. Rumah-rumah warga menjadi rusak. Bahkan banyak korban, manusia dan binatang berjatuhan karena tertimpa hujan batu. Dilaporkan oleh BPBD sudah ada sepuluh korban meninggal. Suster Nikolin SSpS salah satunya. Kita semua ikut berduka. Kita semua ikut prihatin dan berusaha membantu penderitaan para korban dengan berbagai usaha dan doa. Bencana alam tidak dapat diperkirakan. Gempa, erupsi, banjir, tanah longsor, tsunami tak bisa diduga sebelumnya. Kita diajak waspada karena musim hujan sudah tiba. Yesus menjelaskan tentang kedatangan Anak Manusia. Semua orang tidak menyadari akan datang-Nya. Mereka semua melakukan aktivitas rutin setiap hari. Ada yang makan-minum, kerja sepanjang hari, kawin dan dikawinkan. Semua sibuk melakukan tugas masing-masing. Gambaran tentang peristiwa Sodom dan Gomora dipakai oleh Yesus untuk mengingatkan agar orang berjaga-jaga. Tidak hanyut oleh urusan-urusan duniawi saja, tetapi berjaga jaga dan waspada, jika saatnya tiba. Orang yang mendengarkan suara Tuhan akan selamat. Contohnya, Nuh saat dia membuat bahtera dan Lot yang menyelamatkan diri dari hujan belerang. Sedang istri Lot menoleh ke belakang untuk mengambil harta bendanya. Ia tidak selamat. Kita boleh menjalankan rutinitas hidup kita. Tetapi kita juga diingatkan bahwa saatnya akan tiba kita menghadap Allah Mahakuasa. Di sanalah saatnya hari kedatangan Anak Manusia yang akan mengadili kita. Selagi masih diberi waktu kita perlu menyiapkan diri, mengumpulkan bekal ke surga. Kebaikan, ketulusan, pengampunan, kerendahan hati dan suka menolong, berbagi adalah bekal dalam perjalanan abadi. Mari kita selalu bersiap siaga. Ke Pasar Klewer beli kemeja, Pilih warna biru dan hijau muda. Alam sering mengingatkan kita, Agar tawakal dan tunduk pada-Nya. Wonogiri, berjaga-jagalah senantiasa Rm. A. Joko Purwanto, Pr Puncta 14 November 2024
Kamis Biasa XXXII Lukas 17: 20-25 KRESNA adalah penjelmaan Dewa Wisnu, pemelihara kehidupan di alam semesta. Ia memiliki tiga senjata yakni Senjata Cakra, Bunga Wijayakusama dan Kaca Paesan. Masing-masing memiliki kesaktian yang berbeda. Senjata Cakra berguna untuk menumpas segala kejahatan. Wijayakusuma berfungsi untuk menghidupkan segala makhluk yang mati belum waktunya. Kaca Paesan berguna untuk melihat peristiwa-peristiwa yang akan terjadi di depan. Dengan senjata Kaca Paesan, Kresna bisa “ngerti sadurunge winarah” (mengetahui apa yang akan terjadi). Kaum Farisi suka mencobai Yesus dan bertanya hal-hal yang bisa menjatuhkan-Nya. Maka mereka bertanya, apakah Yesus tahu kapan Kerajaan Allah itu datang. Karena mereka mendengar Yesus berasal dari Allah. “Kerajaan Allah datang tanpa tanda-tanda lahiriah. Tidak dapat dikatakan, lihat ia ada di sini, atau ia ada di sana. Sebab sesungguhnya Kerajaan Allah sudah ada di tengah-tengahmu,” Jawab Yesus. Seperti orang Farisi, kita sering juga ingin melihat tanda-tanda lahiriah, seperti mukjijat luar biasa, kejadian aneh bin ajaib, hal-hal yang di luar akal sehat atau sesuatu yang tidak masuk akal. Kerajaan Allah harus dilihat dengan iman yang bening dari hati seorang yang sederhana dan tekun mencari Allah. Seperti Kresna butuh “Kaca Paesan” untuk melihat masa depan, kita butuh mata hati yang jernih dan iman yang kuat agar mampu melihat Allah yang meraja. Kerajaan Allah itu istilah yang menggambarkan Allah meraja di tengah-tengah kita. Dunia yang damai, tentram aman, sejahtera bahagia adalah tanda Kerajaan Allah. Seperti Kresna membutuhkan “Kaca Paesan”, kita membutuhkan Roh Kudus yang menolong kita menerawang hadirnya Kerajaan Allah. Apakah anda sering berdoa mohon karunia Roh Kudus agar mampu melihat karya Allah yang hadir di tengah-tengah kita? Doa menjadi cara mengetahui kehendak Allah. Silahkan dicoba. Hujan deras belum reda-reda, Petir dan kilat saling sambar, Allah hadir di tengah kita, Jika hati suci dan sabar. Wonogiri, mohon bimbingan Roh Kudus Rm. A. Joko Purwanto, Pr Puncta 13 November 2024
Rabu Biasa XXXII Lukas 17: 11-19 ORANG Jepang kendati negara mereka sangat maju dan modern, tetapi tidak meninggalkan tradisi-tradisi nenek moyang yang luhur. Salah satu nilai tradisi yang terus dijaga adalah hormat dan berlaku sopan terhadap orang lain. Sejak anak usia dini mereka sudah diajarkan sikap hormat dan berterimakasih pada orang lain. Mereka selalu membungkukkan badan sambil menganggukan kepala kepada orang lain sebagai tanda hormat dan terimakasih. Tradisi ini disebut Ojigi. Ojigi adalah tanda kesopanan, berterimakasih, dan meminta maaf. Ojigi menjadi tradisi yang selalu dan terus menerus diajarkan mulai dari anak-anak, kaum dewasa bahkan orangtua juga melakukan. Ojigi mengajarkan kita untuk berlaku hormat, sopan dan berterimakasih kepada orang dan lingkungan sekitarnya. Ada sepuluh orang kusta yang disembuhkan oleh Yesus. Mereka diminta memperlihatkan diri kepada imam, sebab imamlah yang berhak mengumumkan bahwa mereka telah tahir. Hal ini berhubungan dengan aturan Taurat tentang najis dan tidaknya seseorang. Dari sepuluh orang itu, hanya satu, bahkan dia adalah orang Samaria, yang kembali mengucapkan terimakasih kepada Yesus. Yang Sembilan lainnya tidak kembali. Yesus tidak mengharapkan ucapan terimakasih atau balasan apa pun. Tetapi kita harusnya tahu diri karena sudah ditolong dan disembuhkan. Ada dua hal yang dapat kita pelajari dari kutipan Injil ini. Pertama, kita mudah lupa untuk berterimakasih kalau sedang mengalami sukacita. Saking gembiranya sampai lupa berterimakasih kepada Tuhan. Kedua, kita sering salah duga. Kita sering menilai orang lain jelek, kotor, kafir dan merasa diri paling benar. Kita mudah menganggap orang lain rendah atau hina. Tetapi justru mereka menunjukkan sikap dan tindakan yang baik. Contohnya orang Samaria yang sakit kusta itu. dialah satu-satunya yang tahu berterimakasih dan kembali untuk memuliakan Tuhan. Marilah kita memperbaiki diri dengan membiasakan berterimakasih dan menghormati orang lain kendati mereka berbeda dengan kita. Ke toko membeli kain, Untuk dirangkai menjadi topi. Hormatilah orang lain, Jika engkau ingin dihormati. Wonogiri, hormatilah sesamamu manusia Rm. A. Joko Purwanto, Pr Puncta 12 November 2024
PW. St. Yosafat, Uskup dan Martir Lukas 17: 7-10 DENGAN niat murni serta usaha yang keras, Yosafat uskup di Belarusia mencoba untuk memperjuangkan kesatuan antara Gereja Ortodoks dengan Gereja Roma. Dia berkotbah kemana-mana untuk mengajak umat bersatu dengan Gereja Barat. Hidupnya yang saleh membawa banyak pertobatan. Pada tahun 1595 Metropolitan Ortodoks Kiev dan lima Uskup Ortodoks lainnya yang mewakili jutaan umat Ruthenia (Ukraina dan Belarusia) bertemu di kota Brest dan menandatangani deklarasi untuk bersatu kembali dengan Uskup Roma. Namun ada juga kelompok-kelompok yang iri hati atas keberhasilannya mengantar umat ke pangkuan Gereja Roma. Mereka malah membenci Yosafat dan mengarah kematiannya. Pada tanggal 12 November 1623, Yosafat dibunuh oleh lawan-lawannya yang tidak ingin bersatu dengan Gereja Roma. Ia mati memperjuangkan kesatuan gereja Kristus. Baru setelah kematiannya, banyak orang menyadari kebenaran apa yang diajarkan oleh Uskup Yosafat. Ia menunjukkan kesetiaan imannya sebagai hamba Tuhan. Santo Yosafat menghayati sabda Kristus, “Demikian jugalah kamu. Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan." Ia melaksanakan tugasnya sebagai hamba dan menyerahkan dirinya kepada Kristus sebagai Tuannya. Seorang hamba tidak menuntut balasan apa pun dari tuannya. Ia hanya menjalankan tugasnya dengan setia. Kita semua adalah hamba di hadapan Tuhan. Kita hanya menjalankan perintah-Nya. Kita menjalani hidup dengan percaya dan setia kepada-Nya. Nonton bioskop di lantai tiga, Liftnya mati jalan pakai tangga. Kita ini hanyalah seorang hamba, Kita tak boleh sombong dan jumawa. Wonogiri, kawula abdining Allah Rm. A. Joko Purwanto, Pr Puncta 11 November 2024
PW St. Martinus dari Tours Lukas 17: 1-6 BATU KILANGAN (Hibrani: רֵחַיִם - REKHAYIM), adalah sejenis gilingan biji-bijian gandum, jelai, untuk membuat tepung roti di daerah Timur Tengah zaman dahulu. Sejak zaman Abraham, alat ini sudah dipakai oleh Sarah dan kaum perempuan untuk menggiling gandum. Batu itu cukup berat, harus digerakkan oleh dua orang perempuan agar bisa menggisar biji-bijian yang dimasukkan sehingga menjadi tepung. Hampir setiap keluarga memiliki batu kilangan di rumahnya. Yesus menyebut batu kilangan untuk memperingatkan orang agar jangan sampai menyesatkan sesamanya. Menyesatkan adalah perbuatan dosa yang berat. Hukumannya adalah dilemparkan ke dalam laut dengan memakai batu kilangan. Maka disarankan agar tindakan dan perilaku kita jangan sampai menyesatkan orang lain. Yesus mengajak murid-murid-Nya untuk tidak menghukum tetapi rela mengampuni. Bahkan kalau saudara kita berbuat salah sampai tujuh kali, dan dia minta ampun. Kita harus mengampuni tujuh kali pula. Angka tujuh adalah symbol bukan hanya soal jumlah. Tujuh adalah symbol kesempurnaan, tanpa batas. Maka pengampunan juga harus dilakukan tanpa batas. Dasarnya adalah Allah yang selalu mengampuni kita tiada henti. Yesus berpesan, “Jagalah dirimu! Jikalau saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia, dan jikalau ia menyesal, ampunilah dia. Bahkan jikalau ia berbuat dosa terhadap engkau tujuh kali sehari dan tujuh kali ia kembali kepadamu dan berkata: Aku menyesal, engkau harus mengampuni dia." Mengampuni itu tidak mudah, maka para murid mohon agar diberi karunia iman. Hanya karena kekuatan imanlah kita mampu mengampuni sesama kita. Tanpa iman yang kuat kita tidak mampu memberi pengampunan. Mari kita juga mohon iman yang teguh dan lapang, agar kita mampu mengampuni orang lain. Doa di Taman Pahlawan Wonogiri, Menabur bunga mawar dan melati. Niat hati selalu mau mengampuni, Namun adanya hanyalah sakit hati. Wonogiri, rela mengampuni Rm. A. Joko Purwanto, Pr Puncta 10 November 2024
Minggu Biasa XXXII Markus 12: 38-44 atau Markus 12: 41-44 DALAM Injil hari ini, Yesus menyampaikan kritikan-Nya atas sikap hidup para ahli kitab yang mempertontonkan kesalehan hidup untuk dilihat orang. Mereka pergi ke mana-mana, bukan ingin mengajarkan keutamaan keagamaan, tetapi lebih memamerkan kesalehan pribadi, agar mendapat pujian dan simpati banyak orang. Mereka mengira, dengan melakukan demikian, mereka sudah melaksanakan perintah Taurat. Yesus jelas tidak suka dengan cara hidup demikian. Yesus menunjukkan contoh hidup yang lain. Di adalah janda miskin yang pergi ke bait suci dan tanpa koar-koar bersedekah. Sebuah tindakan konkret, yang jauh dari sorotan wartawan dan tidak dipamerkan dengan hingar bingar agar dilihat orang. Bahkan orang yang datang memberi sedekah pun tidak tahu kalau janda itu baru saja memberi seluruh harta miliknya kepada Tuhan. Ini adalah sebuah peringatan pada orang banyak untuk hati – hati dengan pola laku para ahli kitab yang suka memamerkan kesalehan pribadi. Mereka menutupi borok mereka dengan tampilan luar yang saleh, anggun, mewah dengan dandanan sok suci dan agamis. Nampak mewah secara lahiriah, tetapi miskin jiwanya, Yesus justru memuji si janda miskin. Ia menjalankan kewajiban agama tanpa pamrih. Bahkan janda itu justru memberi dari kekurangannya. Sebuah tindakan keagamaan tanpa perhitungan tanpa motivasi popularitas dan tanpa mengharapkan imbalan. Inilah sikap iman yang asli alamiah. Kadang kala dalam hidup ini, kita sering terjebak dalam sikap hidup sok pamer agar dilihat dan dianggap suci, saleh. Sikap ini sering kita pertontonkan dalam hidup rohani kita. Kita sering kali menjadi orang munafik, gila pujian, ingin dihormati setinggi langit. Bisa jadi pelayanan di gereja disisipi motivasi tersembunyi, agar dianggap hebat, suci, saleh dan penuh pengorbanan. Pada point ini kita terjebak dalam sikap iman lipstick gincu merah menyala, agar kelihatan hebat, tetapi cepat pudar dan tidak bertahan dalam arus tantangan zaman. Mari kita mencontoh perwujudan iman janda miskin itu. Kita diajak mengasihi tanpa pamrih, tanpa pamer-pamer ingin dipuji-puji orang lain. Kasih yang tulus tidak mengharapkan balasan. Mengirim beberapa tanki air bersih, Agar petani bisa menabur banyak benih. Allah mengasihi kita tanpa pamrih, Kita pun dipanggil wartakan belas kasih. Wonogiri, kasih tanpa pamrih Rm. A. Joko Purwanto, Pr Puncta 9 November 2024
Pesta Pemberkatan Basilika Lateran Yohanes 2: 13-22 KALAU anda termasuk penyuka karya-karya seni yang eksotik dan megah, silahkan datang ke Basilika Agung St. Yohanes Lateran di Roma. Di sana anda akan dibuat kagum oleh karya seni pahat, ukir dan bangunan indah hasil karya keluarga Cosmati pada abad pertengahan. Basilika ini adalah bangunan gereja tertua di Eropa yang dibangun zaman Kaisar Konstantinus (306-377) bertahta. Dia dibangun lebih awal dari Basilika St. Petrus di Vatikan. Maka disebut Basilika Agung dari empat basilika yang ada yakni; Basilika Agung Santo Yohanes Lateran (Basilica San Giovanni in Laterino), Basilika Santo Petrus (Basilica di San Pietro), Basilika Santo Paulus di luar tembok (Basilica San Paolo Fuori le Mura) dan Basilika Santa Maria Maggiore (Basilica di Santa Maria Maggiore). Yang istimewa lagi adalah kenyataan bahwa kursi Uskup (Chatedra) Roma berada di Basilika ini. Sebagai uskup Roma, Paus bertahta di Basilika St.Yohanes Lateran. Sebagai pemimpin umat katolik sedunia, Paus berkarya di Basilika St. Petrus, Vatikan. Basilika ini didirikan di atas tanah milik Keluarga Lateran, maka disebut Basilika Yohanes Lateran. Karena dibangun paling awal, basilika ini dianggap sebagai “Ibu” bagi basilika lainnya. Iman Katolik sungguh luar biasa karena mewariskan nilai-niai keagungan yang demikian indah dan luhur. Kekaguman tidak boleh hanya berhenti pada hal-hal fisik duniawi. Apalagi kemudian menyimpang dari inti iman yang sesungguhnya. Yesus memperbaharui semangat rohani bangsa dengan mengembalikan fungsi Bait Suci sebagai rumah Tuhan. Ia mengusir pedagang-pedagang yang mencari untung untuk diri sendiri di Bait Suci. Gereja bukan tempat untuk mencari untung dan menindas orang lain. Gereja adalah tempat untuk memuji dan memuliakan Allah. Gereja menjadi oase menimba semangat kasih kepada Allah dan sesama. Kita harus selalu memurnikan motivasi kita dalam berelasi dengan Allah di gereja. Tempat suci harus dijauhkan dari motivasi-motivasi cari keuntungan untuk diri sendiri dan keluarga. Sungguh sedap bunga kamboja, Harumnya menyebar di seluruh dunia. Tuhan harus ada di atas segalanya, Bukan harta benda yang menguasai kita. Wonogiri, Gunakan gereja untuk berdoa Rm. A. Joko Purwanto, Pr |
Archives
December 2034
Categories |
RSS Feed