Paroki St. Yohanes Rasul Wonogiri
  • Home
  • Profil Paroki
  • Katekese
  • Pelayanan
  • Berita Paroki

katekese

"Sanguis Martyrum Semen Christianorum"

8/10/2026

0 Comments

 
Puncta 10 Agustus 2026
Pw. St. Laurentius, Diakon dan Martir
Yohanes 12:24-26

SEMINARI Menengah di Ketapang memakai nama pelindung Santo Laurensius. Ketika sekolah calon imam ini dibuka, pendamping pertamanya adalah Frater Laurensius Sutadi. 

Karena belum memiliki nama pelindung, maka Santo Laurensius dipilih untuk mengayomi para calon imam yang sedang studi.

Laurensius adalah seorang diakon yang membantu Paus Sixtus II. Ia dengan setia dan tanggungjawab membantu karya Paus. 

Ketika Paus Sixtus ditangkap serdadu-serdadu Romawi, Laurensius bertekad mendampaingi Paus sampai mati.

"Aku akan menyertaimu kemana saja engkau pergi. Tidaklah pantas seorang imam agung Kristus pergi tanpa didampingi diakonnya," kata Laurensius kepada Paus yang menghadapi ajal.

  "Janganlah sedih dan menangis, anakku! Aku tidak sendirian. Kristus menyertai aku. Dan engkau, tiga hari lagi, engkau akan mengikuti aku ke dalam kemuliaan surgawi" jawab Paus.

Betul sekali, beberapa waktu kemudian Laurensius ditangkap oleh Prefek Roma. Dia disuruh menyerahkan seluruh harta gereja. 

Tetapi apa yang dibawa oleh Laurensius? Ia menyerahkan orang-orang miskin seluruh kota Roma kepada sang penguasa.

Kepada penguasa Roma itu, Laurensius berkata: "Tuanku, inilah harta kekayaan Gereja yang saya jaga. Terimalah dan periharalah mereka dengan sebaik-baiknya." Tindakan ini dianggap sebagai penghinaan terhadap penguasa. 

Laurensius ditangkap dan dibakar hidup-hidup oleh penguasa Romawi. Ia mati sebagai martir yang gagah perkasa. Ia membela imannya dengan tekun dan setia serta bertanggungjawab atas tugas yang dipercayakan kepadanya. 

Yesus berkata, “Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah.” 

Berkat kematian Laurensius Gereja malah tumbuh berkembang dengan pesat. 

Tertulianus, Bapa Gereja awal yang hidup di Kartago menulis, "Sanguis martyrum semen christianorum" yang artinya darah para martir adalah benih subur bagi umat Kristiani. Kematian Laurensius seperti biji gandum yang jatuh ke tanah dan mati.

Kematian para martir Kristen tidak menghancurkan iman, tetapi justru menyuburkan iman pengikut Kristus. 

Penderitaan, kesulitan, penganiayaan dan kesusahan tidak menjadi penghalang untuk bertekun dalam iman. Pengorbanan menjadi cara mencapai kekudusan untuk memanggul salib bersama Kristus.

Semoga keteladanan Santo Laurensius menginspirasi kita untuk tetap setia mengikuti Kristus kendati kita harus menderita memanggul salib setiap hari.

Sepercik pantun buat anda:

Santo Laurensius ada di Ketapang,
Jaraknya jauh dari Paroki Kendawangan.
Marilah kita terus tekun berjuang,
Walau harus mati untuk membela iman.

Wonogiri, setia dan bertanggungjawab dalam tugas
Rm. A.Joko Purwanto, Pr
0 Comments



Leave a Reply.

    Archives

    December 2034
    July 2026
    June 2026
    May 2026
    April 2026
    March 2026
    February 2026
    January 2026
    December 2025
    November 2025
    October 2025
    September 2025
    August 2025
    July 2025
    June 2025
    May 2025
    April 2025
    March 2025
    February 2025
    January 2025
    December 2024
    November 2024
    October 2024
    September 2024
    August 2024
    February 2024
    February 2022
    January 2022
    December 2021
    November 2021
    October 2021
    July 2021

    Categories

    All
    Hello Romo!
    Katekese
    Puncta
    Rubrik Alkitab

    RSS Feed

Site powered by Weebly. Managed by Rumahweb Indonesia
  • Home
  • Profil Paroki
  • Katekese
  • Pelayanan
  • Berita Paroki