|
Puncta 5 Mei 2026
Selasa Paskah V Yohanes 14:27-31a PEPATAH Latin ini berarti “Jika kamu menginginkan perdamaian, bersiaplah untuk perang.” Semboyan ini ditulis oleh ahli militer Romawi Publius Flavius Vegetius Renatus, dalam bukunya yang berjudul “De Re Militari.” Jika kita ingin hidup dalam damai maka persiapkanlah senjata perang yang memadai agar lawan atau musuh tidak berani menyerang dan mengalahkan. Kita harus menyiapkan kemampuan bertahan dengan senjata super lengkap. Damai yang diciptakan seperti itu hanyalah damai semu. Damai namun disertai dengan tingkat kekawatiran yang tinggi karena setiap saat orang atau negara akan diserang oleh musuh di sekitarnya. Kita bisa melihat sendiri bagaimana negara kecil Israel tidak pernah mengalami damai karena selalu kawatir akan diserang negara-negara tetangganya. Damai yang diciptakan manusia tidak mampu menjamin ketentraman dan kebahagiaan. Yesus berjanji akan memberikan damai sejati. “Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu,” kata-Nya kepada para murid. Damai yang diberikan Yesus adalah hidup dengan kasih yang tulus kepada siapa pun. Kasih pada sesama tanpa membeda-bedakan. Damai diciptakan dari dalam hati masing-masing. Hati yang didasari oleh semangat kasih tanpa pamrih, penghargaan terhadap martabat tiap orang. Maka Yesus pernah berkata, “Apa yang kauinginkan agar orang lain perbuat bagimu, lakukanlah itu.” Jika kita ingin dihargai, maka hargailah sesamamu. Jika engkau ingin dihormati oleh orang lain, maka hormatilah mereka. Jika kamu tidak ingin dibenci dan dicaci, maka janganlah melakukan itu kepada orang lain. Kalau kamu tidak ingin disakiti atau diganggu orang, maka jangan menyakiti dan mengganggu mereka. Dengan melakukan aturan emas ini, kita akan hidup dengan damai. Kalau kita hanya melakukan pertahanan diri agar tidak diserang orang lain, kita justru menciptakan psywar “ancaman” yang membuat orang lain mencurigai. Hidup dengan saling curiga tidak akan menciptakan perdamaian. Yesus mengajarkan kepada kita untuk saling mengasihi dan menghormati. Dengan sikap itu kita menemukan damai yang sesungguhnya, bukan damai semu yang ditawarkan oleh dunia. Sepercik pantun buat anda: Berlayar dengan perahu ke Sumatera, Tak terasa tersesat sampai di Karimata. Kalau kita ingin damai dengan sesama, Kasihi dan hormati mereka seperti saudara. Wonogiri, Yesus membawa damai Rm. A. Joko Purwanto, Pr
0 Comments
Leave a Reply. |
Archives
December 2034
Categories |
RSS Feed