|
Puncta 28 Maret 2026
Sabtu Prapaskah V Yohanes 11:45-56 RENE GIRARD (1923-2015) adalah pemikir besar dari Perancis yang mengembangkan teori kambing hitam dalam penyelesaian konflik di masyarakat. Kekerasan, kekacauan atau konflik komunitas dicarikan jalan penebusannya dengan mengorbankan kelompok minoritas atau orang tertentu. Kambing hitam diartikan sebagai seseorang atau sesuatu yang dijadikan sasaran kesalahan atau dipersalahkan atas suatu masalah, meskipun sebenarnya belum tentu bersalah atau tidak sepenuhnya bertanggung jawab atas masalah itu. Kita ambil contoh, ketika Hitler berkuasa, Nazi menyalahkan komunitas Yahudi sebagai kambing hitam terjadinya kekacauan politik dan ekonomi di Jerman. Maka kaum Yahudi dihabisi melalui kamp konsentrasi dan pembantaian. Untuk mengalihkan kemarahan rakyat dari dirinya, Nero mencari kelompok minoritas dan rentan untuk disalahkan. Pada tahun 64 Masehi Nero mengkambinghitamkan umat Kristen atas kebakaran kota Roma. Umat yang tidak bersalah ditangkap, disiksa dan dibunuh. Di Indonesia, setelah terjadinya peristiwa tahun 1965, segala kekacauan, demontrasi atau kerusuhan, PKI-lah yang akan dijadikan kambing hitamnya. Apapun kerusuhan atau kekacauan selalu dihubungkan dengan PKI. Kasus Kedungombo pada tahun 1990 misalnya. Orang-orang yang menentang penggusuran pembangunan waduk Kedungombo di Jawa Tengah dikambinghitamkan sebagai PKI. KTP mereka diberi cap ET (eks Tapol) oleh penguasa Orde Baru. Setelah membangkitkan Lazarus, makin banyak orang yang percaya kepada Yesus. Pengikut-Nya makin meluas. Hal ini menimbulkan kekawatiran para tua-tua Yahudi. Mereka berunding bagaimana caranya agar tidak terjadi pemberontakan atau kekacauan oleh penguasa Romawi. Mahkamah Agama berkumpul dan mereka berkata: "Apakah yang harus kita buat? Sebab orang itu membuat banyak mujizat. Apabila kita biarkan Dia, maka semua orang akan percaya kepada-Nya dan orang-orang Roma akan datang dan akan merampas tempat suci kita serta bangsa kita." Kayafas, Imam Besar pada tahun itu, berkata kepada mereka: "Kamu tidak tahu apa-apa, dan kamu tidak insaf, bahwa lebih berguna bagimu, jika satu orang mati untuk bangsa kita dari pada seluruh bangsa kita ini binasa." Hal itu dikatakannya bukan dari dirinya sendiri, tetapi sebagai Imam Besar pada tahun itu ia bernubuat, bahwa Yesus akan mati untuk bangsa itu, dan bukan untuk bangsa itu saja, tetapi juga untuk mengumpulkan dan mempersatukan anak-anak Allah yang tercerai-berai. Yesus dijadikan kambing hitam. Ia dipersalahkan dan dikorbankan untuk keselamatan seluruh bangsa. Apakah kita juga sering memakai pola kambing hitam, menyalahkan orang lain untuk menyelamatkan muka kita? Sepercik pantun untuk direnungkan: Pergi mencangkul di sawah sebelah, Memakai celana yang terbuat dari kain. Kita sering bersembunyi dari masalah, Mudah sekali menyalahkan orang lain. Wonogiri, suka mencari kambing hitam Rm. A.Joko Purwanto, Pr
0 Comments
Leave a Reply. |
Archives
December 2034
Categories |
RSS Feed