|
Puncta 1 April 2026
Rabu Pekan Suci Matius 26: 14-25 YESUS dikhianati oleh murid-Nya sendiri dan dijual kepada orang-orang Farisi dan tua-tua bangsa Yahudi dengan harga tiga puluh keping perak. Mengapa Yudas tega melakukan pengkhianatan terhadap gurunya sendiri? Tiga tahun hidup bersama dengan komunitas murid Yesus. Yudas ikut berkeliling, berkarya, makan bersama, melihat mukjizat Yesus, dan ikut mengalami banyak peristiwa bersama Yesus. Yudas memberikan hidupnya, tetapi tidak memberikan hatinya pada Tuhan. Hatinya tetap dipenuhi dengan ambisi pribadi. Kita tidak tahu apa motivasinya menjual Yesus kepada orang Farisi. Mengapa Yudas mau menerima uang 30 perak? Jumlah ini adalah harga seorang budak pada waktu itu. Apakah ini merupakan suatu simbol bahwa Yesus disamakan dengan seorang hamba sebagaimana Dia datang bukan untuk dilayani tetapi untuk melayani semua orang? Bisa jadi ini sebagai interprestasi teologis. Namun kalau dikaitkan dengan tugas Yudas sebagai bendahara kelompok murid, bisa jadi fokus utama yang dipikirkan adalah uang. Kebutuhan akan uang telah membutakan matanya sehingga dia tidak pikir panjang dan siap menghalalkan segala cara. Dalam perikope lain Injil Yohanes ditulis tentang karakter Yudas, “Hal itu dikatakannya bukan karena ia memperhatikan nasib orang-orang miskin, melainkan karena ia adalah seorang pencuri; ia sering mengambil uang yang disimpan dalam kas yang dipegangnya.” Motivasi Yudas bukan dalam hal spiritual, atau murni mau menjadi murid-Nya, tetapi karena keinginannya demi keuntungan pribadi, ambisi duniawi, ketamakan, dan keserakahan. Kekayaan adalah yang memicu ambisinya menjual gurunya. Puncak kulminasi dari kekecewaannya pada Yesus dipicu oleh tindakan Maria yang menghambur-hamburkan minyak narwastu yang mahal “hanya untuk meminyaki kaki Yesus.” Uang sebanyak 300 dinar kok hanya disia-siakan. Dengan uang segitu orang tinggal duduk manis tidak bekerja selama satu tahun. Pada perjamuan malam Paskah itulah, Yesus dikhianati. Yudas menerima tiga puluh perak harga murah untuk gurunya. Dan sesudahnya ia hidup dalam penyesalan dan kesengsaraan lalu mati dengan cara mengenaskan. Penyesalan selalu datang kemudian. Tetapi Yudas tidak sempat menyesal. Seandainya dia datang seperti penjahat yang disalib bersama Yesus, pasti Yesus juga akan mengampuninya. Apa yang bisa anda pelajari dari sikap dan karakter Yudas ini? Sepercik pantun untuk direnungkan: Dengan uang tigapuluh keping perak, Yudas menjual Yesus gurunya. Ikut Yesus jangan hanya cari enak, Harus berani manggul salib ke Golgota. Wonogiri, kita juga jualan Tuhan? Rm. A.Joko Purwanto, Pr
0 Comments
Leave a Reply. |
Archives
December 2034
Categories |
RSS Feed