|
Puncta 5 September 2026
Sabtu Biasa XXII Lukas 6:1-5 PADA hari Minggu ada acara “Car Free Day” di sebuah alun-alun kota. Jalanan penuh sesak dengan orang-orang yang berolahraga, atau sekedar jalan dan menikmati jajanan. Di kanan kiri badan jalan banyak sekali orang berjualan. Jalan itu adalah satu-satunya akses menuju ke rumah sakit daerah. Suatu kali terjadi sebuah ambulance membawa orang yang sakit kritis menuju ke rumah sakit. Tetapi karena kerumunan orang banyak di Car Free Day, mobil tidak mudah mencapai tujuan. Akibatnya, pasien yang seharusnya bisa tertolong, harus mati tertahan oleh kerumunan CFD yang tak peduli nyawa manusia. Walau diprotes banyak orang, Bupati memindahkan acara CFD tidak di alun-alun, tetapi di stadion olahraga yang tidak mengganggu arus lalu lintas. Demi keselamatan manusia, aturan bisa diubah agar nyawa manusia lebih diutamakan. Seringkali kita tidak berani “uthak-uthik” aturan, apalagi kalau di belakangnya ada ormas-ormas atau kelompok tertentu yang merasa terganggu. Aturan dibuat untuk keselamatan semua manusia, bukan untuk kelompok-kelompok tertentu yang mengambil keuntungan dari aturan-aturan itu. Kalau aturan itu mengorbankan nyawa orang, maka aturan itu harus ditinjau kembali. Yesus berhadapan dengan kaum Farisi yang getol dan kaku menjalankan aturan. Hukum adalah hukum, titik! Tak ada dispensasi atau toleransi. Mereka memprotes murid-murid Yesus yang memetik gandum pada hari Sabat. Tindakan ini dianggap melanggar aturan Sabat. Yesus menjawab mereka; "Tidakkah kamu baca apa yang dilakukan oleh Daud, ketika ia dan mereka yang mengikutinya lapar, bagaimana ia masuk ke dalam Rumah Allah dan mengambil roti sajian, lalu memakannya dan memberikannya kepada pengikut-pengikutnya, padahal roti itu tidak boleh dimakan kecuali oleh imam-imam?" Yesus menegaskan bahwa Dia adalah Tuhan atas hari Sabat. "Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat." Tuhan berkuasa atas segala waktu dan aturan-aturannya. Kita sering membuat aturan-aturan kaku dan membelenggu manusia. Kita lebih sering mementingkan aturan daripada perikemanusiaan. Yang lebih parah, ada pihak-pihak yang memutarbalikkan aturan demi kepentingan sendiri atau kelompok tertentu. Mari kita bertobat untuk tidak memaksakan kehendak sendiri dengan dalih-dalih demi taat aturan. Sepercik pantun buat anda: Kalimantan diliputi kabut pekat, Orang kecil jadi korban aturan yang ketat Yesus adalah Tuhan atas hari Sabat, Jangan bikin aturan yang buat orang sekarat. Wonogiri, aturan untuk menyejahterakan Rm. A.Joko Purwanto,Pr
0 Comments
Leave a Reply. |
Archives
December 2034
Categories |
RSS Feed