|
Puncta 8 Maret 2026
Minggu Prapaskah III Yohanes 4:5-42 KALAU kita masuk pelataran Gereja Pugeran, di sana ada sumur Yakub, yang sering ditimba airnya oleh Pak Pur yang buka warung angkringan di depan gereja. Air dari sumur ini ditimba, dimasak menjadi minuman teh “nasgithel” yang legend sejak tahun 1954. Sekarang dikelola oleh Bu Ranti, generasi kedua yang melanjutkan. Banyak pengunjung datang ke warung menikmati segelas teh dari air sumur Yakub. Sumur memiliki makna rohani yang dalam. Tidak sekedar air tawar, tetapi dia adalah air kehidupan. Sumur melambangkan kedalaman rohani dan sumber inspirasi. Sumur adalah tempat perjumpaan manusia dengan Yang Ilahi. Kadang ada doa-doa dilakukan di sumur. Sesajen juga ditaruh di sumur sebagai doa syukur dan permohonan agar Tuhan mengalirkan anugerah-Nya tanpa henti. Yesus berjumpa dengan wanita Samaria di sumur Yakub. Perjumpaan yang mengarah pada pengenalan akan Allah yang sejati dan penyembahan yang benar. Dialog dimulai dari air di sumur itu. Yesus meminta kepada wanita itu, “Berilah Aku minum.” Sapaan yang manusiawi dan alami. Dari pembicaraan ringan menjadi dialog yang serius. Dari ngomong tentang air minum menjadi air kehidupan. Dari tidak kenal, tak bertegur sapa menjadi akrab sangat mendalam. Wanita Samaria itu dari pribadi yang tertutup menjadi terbuka. Dari tidak percaya menjadi pewarta kabar sukacita. Yesus mewahyukan dirinya secara perlahan-lahan melalui dialog yang tidak menghakimi walau latar belakang kehidupan wanita itu sangat gelap dan suram. Yesus memperkenalkan Allah yang mengampuni dan mengasihi. Allah tidak disembah dalam batu dan hukum, tetapi Allah yang hadir di dalam hati setiap orang. Wanita itu menjadi yakin bahwa Yesus adalah Mesias yang ditunggu-tunggu Israel. Ia kembali ke kampung dan mengabarkan kepada semua orang. Mereka berbondong-bondong datang kepada Yesus. Mereka menjadi percaya. "Kami percaya, tetapi bukan lagi karena apa yang kaukatakan, sebab kami sendiri telah mendengar Dia dan kami tahu, bahwa Dialah benar-benar Juruselamat dunia," kata orang banyak itu. Iman adalah proses pengenalan akan Tuhan. Ia tidak berhenti atau disimpan untuk diri sendiri. Tetapi diwartakan kepada semua orang, agar mereka juga mengenal Tuhan. Kita bisa menjadi wanita Samaria. Kita bisa membuka hati pada Tuhan dan memberitakan kasih-Nya pada sesama. Percik pantun untuk renungan: Minum teh di depan Pugeran, Sambil melihat mobil lalu lalang. Wanita Samaria memiliki iman, Ia wartakan kepada semua orang. Wonogiri, iman yang terus berkembang Rm. A.Joko Purwanto, Pr
0 Comments
Leave a Reply. |
Archives
December 2034
Categories |
RSS Feed