|
Puncta 10 Juni 2026
Rabu Biasa X Matius 5:17-19 DALAM kisah wayang ada lakon “Semar Bangun Kahyangan.” Niat Semar ini dianggap oleh para pejabat Kerajaan Amarta sebagai pemberontakan terhadap kuasa para dewa. Semar dituduh ingin membuat kahyangan tandingan atau menghapus Kahyangan yang dihuni para dewa. Padahal yang dimaksud Semar adalah ingin membangun moral kehidupan rakyat agar semua orang mengalami “tata tentrem gemah ripah loh jinawi.” Moral hidup yang baik akan menuntun rakyat menuju damai sejahtera. Itulah maksud sesungguhnya dari Semar. Ia tidak ingin menandingi Kahyangan dengan hukum-hukumnya atau memberontak untuk memusnahkan kuasa para dewa yang mengatur kehidupan manusia. Semar ingin memperbaiki moral kehidupan manusia yang sudah menyeleweng dari hukum-hukum kehidupan. Dalam perikope Injil hari ini, Yesus juga menegaskan bahwa Dia datang tidak untuk meniadakan Hukum Taurat. Ini adalah tuduhan ahli-ahli Taurat dan para penatua Yahudi yang mencurigai tindakan-tindakan Yesus yang melanggar hukum. Misalnya, Yesus sering menyembuhkan orang pada hari Sabat. Para pemimpin Yahudi menambah banyak aturan dan tradisi yang membebani sehubungan Sabat. Mereka tidak boleh melakukan pekerjaan yang besar. Hukum buatan manusia lebih diutamakan daripada perintah Tuhan. Itulah yang ditekankan para ahli kitab. Yesus ingin mengembalikan pelaksanaan hukum secara benar. Para ahli kitab telah mencampuradukkan standar kekudusan mereka sendiri dengan standar Allah sehingga mereka menuduh Yesus melanggar hukum Sabat. Bagi Yesus yang penting dan utama bukan menjaga kemurnian hukum Taurat, tetapi bagaimana hukum Taurat itu diimplementasikan dengan benar dalam kehidupan sehari-hari. Taurat hanya berarti jika perilaku orang dijiwai olehnya. Sama halnya dengan moral hidup kita yang dituntun oleh Pancasila. Pancasila hanya bermakna jika diterapkan dalam kehidupan nyata. Apa artinya Pancasila, kalau moral dan perilaku kita justru jauh dari nilai-nilai Pancasila. Apa gunanya Pancasila kalau kita melakukan kekerasan, penindasan, kolonialisme baru, korupsi, intoleransi dan persekusi masyarakat kecil. Agama jangan hanya sebagai jargon kosong yang tidak ada maknanya bagi kehidupan nyata. Substansi agama dan nilai-nilainya harus diwujudnyatakan dengan benar. Sepercik pantun buat kita: Kita menyebut diri bangsa relijius, Tetapi korupsi terjadi terus menerus. Kita bangga disebut bangsa beragama, Tetapi penindasan terjadi dimana-mana. Wonogiri, wujudkan nilai yang benar. Rm. A. Joko Purwanto, Pr
0 Comments
Leave a Reply. |
Archives
December 2034
Categories |
RSS Feed