Paroki St. Yohanes Rasul Wonogiri
  • Home
  • Profil Paroki
  • Katekese
  • Pelayanan
  • Berita Paroki

katekese

Hello Romo!

12/25/2034

17 Comments

 
Berikut adalah kolom untuk bertanya pada Romo. Silakan menulis nama dan pertanyaan di kolom komentar. E-mail dan website dikosongkan saja apabila tidak punya.
17 Comments

Mengandalkan Tuhan Semata

2/5/2026

0 Comments

 
Puncta 5 Februari 2026
Pw. St. Agata, Perawan dan Martir
Markus 6:7-13 atau RUybs Lukas 9:23-26

MENGAPA Yesus mengutus para murid pergi tanpa membawa bekal apa-apa? Ia memanggil kedua belas murid itu dan mengutus mereka berdua-dua. 

Ia memberi mereka kuasa atas roh-roh jahat, dan berpesan kepada mereka supaya jangan membawa apa-apa dalam perjalanan mereka, kecuali tongkat, rotipun jangan, bekalpun jangan, uang dalam ikat pinggangpun jangan, boleh memakai alas kaki, tetapi jangan memakai dua baju.

Perutusan ini adalah karya Tuhan. Para murid diajak untuk tidak mengandalkan kemampuan dan kehebatan sendiri, tetapi melulu bergantung pada kebaikan Tuhan saja. Itulah sebabnya, Tuhan melarang mereka membawa apa-apa dalam perjalanan.

Dalam pengalaman turne di pedalaman, saya mengalami pemeliharaan Tuhan dan kasih-Nya yang melimpah. Saya tidak pernah kekurangan suatu apa pun dalam perutusan. Tuhan selalu mencukupi dengan kelimpahan.

Saat saya lelah dan lapar dari jalan jauh di Sungai Ingin, Bu Anang di Pangkalan Suka selalu siap menyediakan makanan dan tempat meletakkan kepala. Ketika ban motor bocor di tengah jalan, ada orang baik yang menolong.

Ketika jatuh terperosok di sungai, ada tukang sampan yang menyelamatkan. Ketika motor penuh lumpur dan kehujanan, Pak Denggol di Engkadin membantu. 

Ketika butuh teman di perjalanan, Pak Herman, Pak Jali, Pak Redes dan banyak orang siap menjadi malaikat. 

Modalnya hanya siap diutus dan Tuhan akan mengurus segalanya. Bergantung hanya kepada kebaikan Tuhan itulah yang diminta Yesus kepada murid-murid-Nya. 

Dalam menjalankan perutusan, dituntut ketaatan total kepada Allah yang mengutus.

Ketundukan mereka bukan kepada orang-orang yang menerima atau menolak pewartaan mereka. Ketundukan hanya pada Tuhan saja. Ketaatan kita bukan pada uang, materi atau fasilitas, tetapi kehendak Allah semata.

Kalau kita taat melaksanakan kehendak Tuhan, semuanya nanti akan disediakan Tuhan. Bahkan sampai berkelimpahan. 

Karena Tuhan yang mengutus, maka Tuhan juga yang akan mengurus. Maukah kita hanya mengandalkan Dia dalam tugas perutusan ini?

Sepercik pantun buat anda:
Dari Ponti menuju Mempawah,
Sambil menikmati hamparan sawah.
Carilah dahulu Kerajaan Allah,
Semua akan menjadi anugerah.

Wonogiri, Tuhan mengurus segalanya
Rm. A. Joko Purwanto, Pr
0 Comments

Fanatisme Sempit

2/4/2026

0 Comments

 
Puncta 4 Februari 2026
Rabu Biasa IV
Markus 6:1-6

KALAU kita sudah cinta mati mengidolakan seseorang, kita akan terpaku pada orang itu. Kita tidak mau menerima penilaian obyektif tentang idola kita apalagi kalau kritik atau masukan itu berlawanan dengan persepsi kita.

Misalnya kita mengidolakan pemimpin atau tokoh tertentu. Persepsi kita dibangun oleh framing bahwa tokoh itu merakyat, baik hati, peduli terhadap orang kecil, suka blusukan, suka memberi hadiah, dan banyak hal positif lainnya.

Kalau nilai itu sudah mengakar di benak kita, akan sulit menerima kalau tokoh itu ternyata ambisius, menghalalkan segala cara, rela melanggar aturan, nepotisme dan mengejar harga diri demi kepentingan keluarga.

Begitulah yang dialami orang-orang Nasaret, yang sekampung dengan Yesus. Mereka punya pemikiran sempit tentang siapa Yesus, teman sepermainan mereka. Menurut anggapan mereka Yesus hanyalah anak tukang kayu.

Mereka tidak mengerti dan tak mau terbuka dengan mukjizat-mukjizat Yesus di Kapernaum. Kota itu lebih terbuka dan percaya pada Yesus sehingga banyak karya-karya besar terjadi di Kapernaum. Mereka mengakui Yesus lebih dari sekedar nabi dan pengajar yang berkeliling. 

Tetapi di Nasaret, mereka hanya mengenal Yesus sebagai anak tukang kayu. Bukankah Ia ini tukang kayu, anak Maria, saudara Yakobus, Yoses, Yudas dan Simon? Dan bukankah saudara-saudara-Nya yang perempuan ada bersama kita?" Lalu mereka kecewa dan menolak Dia.

Karena orang-orang Nasaret tidak mau terbuka dan percaya, maka Yesus tidak banyak membuat mukjizat di kampungnya sendiri. Penilaian mereka sudah menutup keyakinan bahwa Yesus itu bukan siapa-siapa.

Kadang kita juga menilai seseorang hanya berdasarkan persepsi dan pikiran kita yang sempit. Kita tidak mengenal secara dalam, tetapi sudah membuat penilaian dan kesimpulan-kesimpulan pribadi. 

Kenalilah secara mendalam orang-orang di sekitarmu. Jangan menilai seseorang dari kaca mata sempit dan gelap yang kau pakai. 

Tetapi terbukalah dengan persepsi yang luas dan obyektif sehingga tidak salah menilai.

Sepercik pantun buat anda:
Jalan-jalan menyeberangi parit,
Banyak ikan mujair berseliweran.
Orang Nazareth berpikiran sempit,
Tidak percaya pada Utusan Tuhan.

Wonogiri, jangan berpikir sempit
Rm. A.Joko Purwanto, Pr
0 Comments

Pengharapan Tetap Menyala

2/3/2026

0 Comments

 
Puncta 3 Februari 2026
Selasa Biasa IV
Markus 5:21-43

DALAM kunjungan keluarga di lingkungan, kami berjumpa dengan banyak umat yang imannya sangat hidup dan kuat. Ada seorang ibu yang sakit diabetes dan hanya bisa berbaring di tempat tidur cukup lama.

Dia mengungkapkan masih bisa bersyukur kepada Tuhan. Walau tidak bisa kemana-mana tetapi dia masih bisa berdoa untuk siapapun juga. 

Ada juga seorang bapak yang sakit mata cukup lama. Ia sudah menjalani operasi tetapi hasilnya nihil. Ia tetap tidak bisa melihat.

Bapak ini berkata, “Wontenipun sakmenika namung matur nuwun Rama, taksih dipun paringi gesang dening Gusti.” (Adanya hanya bersyukur Rama, karena masih diberi hidup oleh Tuhan).

Ia bersyukur karena masih bisa menikmati canda tawa dan sukacita dari cucu-cucunya yang sering datang ke rumahnya. Ia merasakan kasih Tuhan yang luar biasa. 

Hari ini Yesus menyembuhkan dua orang yakni seorang ibu yang sudah 12 tahun sakit pendarahan dan membangkitkan anak Yairus di rumahnya. Ibu ini sudah lama sakit dan sudah berusaha berobat ke banyak tabib. Tetapi tidak berhasil.

Ia mendekati Yesus dengan iman yang kuat. “Asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh.” 

Seketika itu juga berhentilah pendarahannya dan ia merasa, bahwa badannya sudah sembuh dari penyakitnya.

Yesus menegaskan kepada perempuan itu: "Hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau. Pergilah dengan selamat dan sembuhlah dari penyakitmu!"

Ketika masih di perjalanan, orang-orang mengabarkan bahwa anak kepala rumah ibadat itu sudah mati. "Anakmu sudah mati, apa perlunya lagi engkau menyusah-nyusahkan Guru?" kata mereka.

Tidak ada harapan lagi. Tetapi Yesus mengatakan, "Jangan takut, percaya saja!" 

Ia masuk ke rumah dan membangkitkan anak itu dengan berkata, “Talita kum!” 

Seketika itu juga anak itu bangkit berdiri dan berjalan, sebab umurnya sudah dua belas tahun. Semua orang yang hadir sangat takjub.

Iman nampak dalam pengharapan yang tidak pernah pudar. Harapan kepada Tuhan tidak pernah sia-sia. Tuhan akan menjawab dan memenuhi pengharapan yang disertai dengan kepercayaan. 

Masihkah kita punya harapan yang kuat? 

Sepercik pantun buat anda;
Menjala ikan di tengah samudera,
Kapal bergoyang bikin sakit kepala.
Harapan adalah api yang menyala,
Hidup bersemangat karna sepercik asa.

Wonogiri, tetap punya harapan
Rm. A. Joko Purwanto, Pr
0 Comments

Trio Srikandi

2/2/2026

0 Comments

 
Puncta 2 Februari 2026
Pesta Yesus Dipersembahkan di Bait Allah
Lukas 2:22-40

PEPUNDHEN atau pinisepuh adalah tokoh yang dituakan dan dihormati. Di lingkungan Pokoh Banyuaeng, ada pepundhen yang dihormati yakni tiga ibu tua atau simbah yang menjadi panutan umat.

Mereka adalah Mbah Kar, Mbah Niti dan Mbah Atmo. Mereka ini bisa disebut tiga Srikandi penyebar iman di Pokoh dan sekitarnya. Saya adalah salah satu yang dibimbing dan didampingi oleh Mbah Kar mulai dari menerima sakramen komuni pertama dan krisma.

Beliau seperti pembimbing rohani yang selalu memberi dukungan dan nasehat yang baik kepada setiap orang. Setiap kali liburan dari Seminari pasti saya “sowan” menghadap ke beliau untuk minta doa restu.

Ketika saya tahbisan di Kentungan, Mbah Kar dan mBah Niti bisa hadir. Beliau merasa bangga dan senang karena doa-doanya terkabul dan bisa melihat saya ditahbiskan oleh Bapak Uskup. 

Trio Srikandi ini adalah pendoa dan penasehat yang baik untuk saya. Pasti mereka sekarang bahagia di sorga dan menerima mahkota abadi dalam kumuliaan.

Simeon dan Hana adalah tokoh rohani yang hidup di Bait Suci. Mereka menerima Maria dan Yusuf saat mempersembahkan bayi Yesus di Kenisah. Simeon membopong Yesus dan bersukacita. Ia melihat Sang Penebus telah datang.

"Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu, sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu, yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa, yaitu terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel."

Bahagia karena melihat janji Allah terpenuhi dalam diri Yesus, itulah yang dirasakan Simeon dan Hana. Mereka bersyukur karena Allah telah melawat umat-Nya. Orang-orang saleh yang tajam hati nuraninya bisa melihat karya Allah dalam hidup nyata.

Apakah kita juga mampu melihat Allah hadir dalam pengalaman hidup kita dan memuji Tuhan karena penyertaan-Nya yang senantiasa memelihara kita? 

Mari kita persembahkan hidup kita kepada Allah. Pasti Dia akan memberikan jalan terang bagi langkah kita.

Sepercik pantun buat anda:
Ke Rawaseneng melihat sapi perah,
Penghasil susu yang berlimpah-limpah.
Buatlah hidupmu menjadi berkah,
Dunia sekitarmu akan bersinar cerah.

Wonogiri, hidup adalah berkah
Rm. A. Joko Purwanto, Pr
0 Comments

Standar Hidup Bahagia

2/1/2026

0 Comments

 
Puncta 1 Februari 2026
Minggu Biasa IV
Matius 5:1-12a

JIKA harta kekayaan bisa membuat orang bahagia, mengapa Adolf Merckle, milyalder dari Jerman itu bunuh diri pada 5 Januari 2009 dengan menabrakkan diri ke kereta api di dekat Blaubeuren, Jerman, tak jauh dari rumahnya?

Jika kekuasaan bisa membuat orang bahagia, mengapa Getúlio Vargas, presiden Brasil (1930–1945, 1951–1954), bunuh diri dengan menembak dadanya sendiri di Istana Palacio Catete, Rio de Janeiro, pada 24 Agustus 1954?

Jika ketenaran dan popularitas bisa membuat orang bahagia, mengapa Michael Jackson, Raja Penyanyi Pop dunia itu meninggal dengan mengkonsumsi obat tidur sampai overdosis pada 28 Agustus 2009?

Jika kecantikan bisa membuat seseorang bahagia, mengapa aktris cantik Marilyn  Monroe harus mati dengan minum alkohol dan obat depresi hingga overdosis pada 5 Agustus 1962? 

Artikel halaman depan New York Daily Mirror terpampang; “Marilyn Monroe kills self. Found nude in bed….hand on phone….took 40 pills.

Pertanyaan kita semua, sebenarnya apa yang membuat kita ini bahagia?

Yesus memberi jawaban bukan berdasarkan standar hidup duniawi yang dikejar semua orang yakni, kekayaan, kekuasaan, ketenaran atau kecantikan. 

Tetapi cara hidup bahagia yang diajarkan Yesus adalah memiliki Allah sebagai harta satu-satunyanya.

Orang yang memiliki Allah tetap bahagia kendati hidup miskin dan menderita. Orang bisa bahagia dengan bersikap lemah lembut, murah hati, suci hati dan rela menderita demi kebenaran. 

Ada kebahagiaan yang lebih ketika orang rela menderita demi mereka yang dikasihinya. Maka Yesus berkata, “Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. 

Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat.”

Apakah standar kebahagiaan yang anda canangkan untuk hidup dan masa depan anda di dunia ini?

Sepercik pantun buat anda:
Ke Kopeng melewati Salatiga,
Hawanya dingin karena cuaca.
Banyak harta belum tentu bahagia,
Banyak mencinta itulah jalannya.

Wonogiri, kota bakso
Rm. A. Joko Purwanto, Pr
0 Comments

Ketika Badai

1/31/2026

0 Comments

 
Puncta 31 Januari 2026
Pw. St. Yohanes Bosco, Imam
Markus 4:35-41

Ketika badai melanda hidupku, kuberlindung pada-Mu Tuhan.
Pabila ombak menimpa jalanku, kubersandar pada-Mu Tuhan.

Hanya padamu Tuhan harapku tlah kupautkan
Hanya padamu Tuhan hidupku akan kuserahkan

Syair lagu dari Madah Bakti ini masih terngiang di telinga dengan merdunya saat kita memasuki masa Adven.

 Lagu dengan pola melodi gaya Sunda ini menghibur dan menentramkan kita saat menghadapi kesulitan.

Hidup kita ini seperti sebuah perjalanan atau peziarahan hidup. Kita mengarungi lautan dengan ombak yang kadang menakutkan dan badai yang menghantam. Tanpa bantuan Tuhan kita tak mampu mengatasinya.

Demikianlah yang dialami para murid ketika mereka menyeberang dengan perahu. Hari sudah petang, mereka naik perahu bersama Yesus. Di tengah perjalanan taufan menerjang dan perahu terombang-ambing menghujam.

Mereka sangat ketakutan tak mampu mengatasi keadaan. Yesus sedang tertidur di buritan. Mereka berteriak kepada-Nya, “"Guru, Engkau tidak perduli kalau kita binasa?” 

Iapun bangun, menghardik angin itu dan berkata kepada danau itu: "Diam! Tenanglah!" Lalu angin itu reda dan danau itu menjadi teduh sekali.

Kuasa Yesus sungguh luar biasa. Mereka kagum dan heran. "Siapa gerangan orang ini, sehingga angin dan danau pun taat kepada-Nya?" 

Kita juga sering menghadapi badai kehidupan. Banyak persoalan yang menghimpit sehingga kita terombang-ambing oleh taufan kehidupan. Mengapa kita tidak minta bantuan kepada Yesus seperti para murid itu?

"Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?" Pertanyaan Yesus ini juga ditujukan kepada kita. Mengapa kita tidak menyerahkan semua persoalan kita kepada Tuhan? 

Ia berkuasa atas hidup kita. Ia mampu melakukan segalanya. Yang dituntut dari kita adalah percaya.

Pendaki naik ke gunung Lawu,
Ada yang tersesat di tengah jalan.
Ketika badai menerpa hidupku,
Kuberlindung pada-Mu Tuhan.

Wonogiri, percayalah selalu
Rm. A. Joko Purwanto, Pr
0 Comments

Mbah Sadiman, Peraih Kalpataru

1/30/2026

0 Comments

 
Puncta 30 Januari 2026
Jum’at Biasa III
Markus 4: 26-34

SOSOK lelaki berjengggot putih itu menjadi inspirasi bagi masyarakat Wonogiri untuk melestarikan lingkungan hidup. Ia menanam ribuan pohon beringin di perbukitan Bulukerto, Wonogiri.

Berjuang seorang diri untuk menghijaukan bukit yang luas demi melestarikan sumber air bagi warga setempat. “Kalau saya menanam cengkeh, hasilnya hanya untuk saya sendiri, tetapi kalau saya tanam beringin, masyarakat bisa menikmati.”

Sekarang masyarakat Desa Geneng, Kecamatan Bulukerto, Wonogiri tidak lagi kesulitan air bersih. Pohon beringin menjadi penyangga sumber air di gunung dan dampaknya bisa dinikmati oleh masyarakat.

“Saya hanya menanam, Gusti Allah yang menghidupkan,” tegas mBah Sadiman.

Yesus menggambarkan Kerajaan Allah itu seumpama benih yang ditabur orang dan tumbuh menjadi besar. Orang tidak tahu bagaimana pertumbuhan itu. 

Halnya juga seperti biji sesawi yang kecil, dan tumbuh menjadi pohon besar, bisa untuk bernaung berbagai jenis burung.

Tindakan sekecil apapun, ketika kita menabur benih kebaikan, pelayanan, kepedulian bagi orang lain, nantinya akan tumbuh menjadi besar oleh karya Tuhan. Jangan lelah untuk menabur kebaikan.

Kadang kita hanya fokus pada hasil atau buah. Tetapi lupa untuk menabur dan menanam benih. Orang Jawa punya filosofi “Wong sing nandur, bakal ngundhuh,” artinya orang yang menanam akan memetik hasilnya.

Orang yang berbuat baik, pasti juga akan dihampiri oleh kebaikan. Orang yang berbuat jahat kepadanya akan memetik hasil kejahatannya. 

Mari kita sesering mungkin menanam kebaikan. Tuhan akan memperbanyak kebaikan itu untuk kita semua.

Sepercik pantun buat anda;
Prabu Rama mengutus Hanoman.
Untuk menjemput Dewi Sinta di Alengka.
Menanam berbagai pohon kebaikan,
Tuhan akan memperlipatgandakan buahnya.

Wonogiri, tanamlah benih kebaikan
Rm. A.Joko Purwanto,Pr
0 Comments

Suara Otokritik di Panggung

1/29/2026

0 Comments

 
Puncta 29 Januari 2026
Kamis Biasa III
Markus 4: 21-15

KOMIKA Pandji Pragiwaksono dilaporkan ke polisi karena pementasannya di depan publik dianggap melecehkan pejabat negara. 

Kalau dilihat materi pentasnya, ia sedang menyuarakan apa yang terpendam di dasar pemikiran banyak orang.

Panggung seni sudah sejak zaman dahulu  digunakan banyak orang untuk ajang kritik sosial terhadap situasi dan kondisi masyarakat. Suara yang terpendam dan tersembunyi di akar rumput disampaikan dalam bentuk satire di panggung hiburan.

Bukan hanya Pandji, dulu ada Butet Kartasedjasa, Teater Koma, Yayak Kencrit harus berurusan dengan aparat. Bahkan Widji Thukul sampai sekarang hilang tak tahu rimbanya karena menyuarakan situasi masyarakat yang tertindas. 

Yesus berkata kepada mereka: "Orang membawa pelita bukan supaya ditempatkan di bawah gantang atau di bawah tempat tidur, melainkan supaya ditaruh di atas kaki dian. 

Sebab tidak ada sesuatu yang tersembunyi yang tidak akan dinyatakan, dan tidak ada sesuatu yang rahasia yang tidak akan tersingkap.”

Sekarang zaman makin terbuka. Media sosial adalah panggung terbuka yang bisa menyuarakan banyak hal tersembunyi dan rahasia. Jejak digital bisa ditelusuri untuk mengungkap kebenaran yang tersembunyi.

Kalau kita bisa bersikap dewasa, suara-suara itu adalah otokritik yang dapat didengar untuk merefleksikan diri dan memperbaiki sikap atau perilaku. 

Kemarahan dan tindakan destruktif hanya menyatakan bahwa apa yang disuarakan itu ada benarnya.

Coba anda lihat drama yang terjadi di Kabupaten Pati. Tokoh pendemo Bupati Pati yang didukung masyarakat malah ditahan polisi. Dan ternyata Bupati Pati sekarang kena tangkap KPK karena kasus korupsi. Rakyat mengadakan kenduri syukuran dan pawai sukacita di jalan.

Tidak ada hal tersembunyi yang tidak akan tersingkap. Pepatah berkata, “Sepandai-pandai menyimpan bangkai, baunya akan tercium juga.” 

Serapi apapun orang menyembunyikan kejahatan, keburukan atau kebohongan suatu saat akan tersingkap juga. 

Yesus menasehati kita semua, "Camkanlah apa yang kamu dengar! Ukuran yang kamu pakai untuk mengukur akan diukurkan kepadamu, dan di samping itu akan ditambah lagi kepadamu.”

Kritikan orang di panggung bukan untuk menjatuhkan kita, tetapi menyadarkan kita agar bercermin dan memperbaiki diri tentang bagaimana kita mengukur orang lain dan diri kita sendiri.

Tiap pagi makan telur itik,
Biar wajah halus berseri-seri.
Jangan alergi terhadap kritik,
Itu ibarat cermin untuk diri sendiri.

Wonogiri, syukuri saja kritik itu
Rm. A.Joko Purwanto, Pr
0 Comments

Tanah yang Subur

1/28/2026

0 Comments

 
Puncta 28 Januari 2026
Pw. St. Thomas Aquinas, Imam dan Pujangga Gereja
Markus 4:1-20 atau RUybs Matius 23:8-12

KALAU anda berziarah ke Holyland, anda akan melihat pemandangan mencolok dari Sinai menuju wilayah sekitar Danau Galilea. 

Mulai dari Gunung Sinai, seluas mata memandang hanyalah gurun pasir yang gersang, panas, tiada tumbuhan.

Tetapi sesampai di daerah Danau Galilea, pemandangan hijau dari bukit yang satu ke bukit yang lain. Pohon angur, jeruk, zaitun, kurma, pisang, sayur-sayuran dan hasil pertanian menggambarkan kesuburan tanah di sekitarnya.

Tanah yang subur adalah humus (bumi). Kata ini menjadi akar dari Humilis, lalu menjadi humility (kerendahan hati). 

Kerendahan hati menumbuhkan sikap-sikap keutamaan dalam diri manusia. Kesuburan keutamaan dimulai dari humility.

Yesus menggambarkan sikap hati seseorang dengan sifat-sifat tanah yang menerima benih-benih sabda. Tanah tandus di pinggir jalan, tanah berbatu-batu, tanah yang penuh semak duri dan tanah yang subur.

Tanah yang subur adalah humus. Orang yang punya kerendahan hati (humility) mampu menerima sabda dan mengolahnya sehingga menghasilkan buah berlipat ganda. 

Ada yang tigapuluh kali lipat, ada yang enampuluh kali lipat dan seratus kali lipat.

Agar bisa menjadi tanah yang subur dibutuhkan sifat humility atau kerendahan hati. Kerendahan hati untuk menerima sabda dan kehendak Allah. Dibentuk dan dioleh oleh rencana Allah. 

Sabda Allah itu harus dirawat dan dipelihara, diresapkan dan diterapkan dalam hidup yang nyata. Kerendahan hati adalah seperti humus, tanah yang subur. Dia akan menghasilkan buah-buah bagi kehidupan. Maukah anda menjadi humus ?

Ke pasar membeli rempah-rempah,
Yang jual seperti Siti Nurhalizah.
Hidup harus menghasilkan buah,
Jadi tanah yang subur adalah berkah.

Wonogiri, menjadi tanah subur
Rm. A. Joko Purwanto, Pr
0 Comments
<<Previous

    Archives

    December 2034
    January 2026
    December 2025
    November 2025
    October 2025
    September 2025
    August 2025
    July 2025
    June 2025
    May 2025
    April 2025
    March 2025
    February 2025
    January 2025
    December 2024
    November 2024
    October 2024
    September 2024
    August 2024
    February 2024
    February 2022
    January 2022
    December 2021
    November 2021
    October 2021
    July 2021

    Categories

    All
    Hello Romo!
    Katekese
    Puncta
    Rubrik Alkitab

    RSS Feed

Site powered by Weebly. Managed by Rumahweb Indonesia
  • Home
  • Profil Paroki
  • Katekese
  • Pelayanan
  • Berita Paroki