|
Puncta 26 Oktober 2026
Senin Biasa XXX Lukas 13:10-17 HARI Jum’at 9 Oktober 2026 kemarin kami tiba di Danau Galilea. Kami menginap di salah satu hotel di dekat danau. Jalan kaki ke pinggir danau hanya butuh tujuh menit saja. Kami masuk hotel sudah sore hari. Jalanan dan toko-toko sudah mulai sepi karena persiapan hari Sabat. Tidak ada orang lalu lalang di jalan-jalan. Waktu malam tiba, banyak keluarga Yahudi menginap di hotel. Mereka tidak bekerja pada hari Sabat. Mereka membaca Kitab Taurat dan melagukan puji-pujian seperti berzikir. Di restoran hotel itu suasana jadi ramai oleh doa-doa mereka. Rombongan kami menikmati santap malam sambil mendengarkan nyanyian-nyanyian mereka. Sabat adalah hari libur. Orang Yahudi tidak boleh bekerja. Mereka sangat taat pada hukum Taurat, termasuk pada hari Sabat. Maka ketika Yesus menyembuhkan seorang perempuan yang sakit sudah delapan belas tahun pada hari sabat, kepala rumah ibadat itu gusar. Dia merasa scruple atas tindakan Yesus yang melanggar hukum sabat. Dia protes dengan berkata, "Ada enam hari untuk bekerja. Karena itu datanglah pada salah satu hari itu untuk disembuhkan dan jangan pada hari Sabat." Tetapi Yesus balik menjawab dia kata-Nya, "Hai orang-orang munafik, bukankah setiap orang di antaramu melepaskan lembunya atau keledainya pada hari Sabat dari kandangnya dan membawanya ke tempat minuman?” Bukankah perempuan ini, yang sudah delapan belas tahun diikat oleh Iblis, harus dilepaskan dari ikatannya itu, karena ia adalah keturunan Abraham?" kata Yesus. Yesus tidak ingin dibatasi untuk berbuat baik. Kapan pun dan dimanapun ada kesempatan berbuat baik, harus dilakukan. Hari Sabat dibuat untuk manusia bukan manusia untuk hari Sabat. Para ahli kitab sering memutlakkan aturan-aturan buatan manusia. Mereka memaksakan aturan yang membuat orang menjadi terbelenggu. Tidak berani melakukan apa-apa karena aturan yang mengikat. Kemunafikan ini dikecam oleh Yesus. Dia tetap melakukan penyembuhan pada hari sabat. Bagi-Nya menyelematkan orang lebih utama daripada melakukan hukum yang tidak menghasilkan apa-apa. Kita pun diajak bersikap bijaksana agar lebih mementingkan kemanusiaan daripada aturan yang dibuat manusia. Sepercik pantun buat anda: Jalan-jalan ke kota Lumajang, Menikmati air terjun di tengah hutan. Lebih baik menyelamatkan orang, Daripada terbelenggu pada aturan. Wonogiri, berbuat baik selalu Rm. A. Joko Purwanto, Pr
0 Comments
Leave a Reply. |
Archives
December 2034
Categories |
RSS Feed