Paroki St. Yohanes Rasul Wonogiri
  • Home
  • Profil Paroki
  • Katekese
  • Pelayanan
  • Berita Paroki

katekese

“Bandha Mung Titipan”

10/4/2026

0 Comments

 
Puncta 4 Oktober 2026
Minggu Biasa XXVII
Matius 21:33-43

PEPATAH dalam Bahasa Jawa berbunyi; “Bandha kuwi mung titipan, nyawa kuwi mung gadhuhan, pangkat kuwi mung sampiran.”  

Artinya, Harta itu hanyalah titipan, nyawa hanyalah pinjaman dan pangkat itu hanya hiasan semata. 

Manusia bukanlah pemilik kehidupan yang sebenarnya. Tuhanlah yang memiliki hidup kita. 

Kita semua hanya dipinjami atau dititipi yang suatu saat harus dikembalikan kepada Sang Pemilik Sejati. Kita harus sadar diri bahwa kita adalah penggarap, bukan pemilik. 

Dosa mulai tumbuh ketika kita merebut apa yang bukan milik kita. Kita mengklaim diri sebagai pemilik kehidupan dan bertindak seolah-olah kita sebagai Allah yang paling berkuasa. Yesus mengkritik para ahli kitab dan orang-orang Farisi.

Mereka mengklaim diri yang paling benar dan merasa berhak atas kehidupannya sendiri. 

Perumpamaan penggarap dan pemilik kebun anggur menggambarkan kesombongan dan keserakahan mereka.

Para penggarap itu menolak utusan dengan memukuli, melemparkan, dan bahkan anak pemilik kebun anggur itu dibunuh agar warisannya jatuh ke tangan mereka. Mereka merebut hak waris yang bukan haknya.

Kaum Farisi dan para ahli kitab menyombongkan diri sebagai bangsa yang berhak atas keselamatan karena mereka merasa sebagai bangsa terpilih. Mereka tidak menggubris para nabi dan Mesias Utusan Allah.

Karena penolakan ini, keselamatan diberikan kepada semua orang yang percaya dan menanggapi warta keselamatan Allah. 

Sebab itu Aku berkata kepadamu, “Kerajaan Allah akan diambil dari padamu, dan akan diberikan kepada suatu bangsa yang akan menghasilkan buah Kerajaan itu."

Apakah kita mampu menghasilkan buah Kerajaan yang dianugerahkan kepada kita sekarang dengan bertanggungjawab atas apa yang telah diberikan Tuhan?

Sepercik pantun buat anda:

Kebakaran hutan mulai diabaikan,
Krakatau meletus di tengah lautan.
Tuhan adalah pemilik kehidupan,
Gunakan hidupmu untuk kebaikan.

Wonogiri, merenungi Piramida
Rm. A. Joko Purwanto, Pr
0 Comments

Enthit dan Ragil Kuning,Orang Kecil yang Bijaksana

10/3/2026

0 Comments

 
Puncta 3 Oktober 2026
Sabtu Biasa XXIII, Sabtu Imam
Lukas 10:17-24

KISAH Enthit dan Ragil Kuning adalah cerita rakyat yang berkembang di Jawa Timur dan Jawa Tengah. 

Mereka adalah pewaris kerajaan yang menyamar sebagai rakyat jelata. Enthit adalah penyamaran dari Panji Asmara Bangun dan Ragil Kuning adalah Dyah Ayu Galuh Candra Kirana.

Kisah asmara mereka dipisahkan oleh situasi kerajaan. Mereka mengembara saling mencari dambaan hatinya. 

Panji menyamar sebagai petani desa, sederhana, tekun, tampan, punya talenta yang banyak dengan nama Enthit.

Sedang Galuh Candra Kirana adalah gadis desa yang cantik dan kagum akan hasil kerja petani muda yang menghasilkan panenan padi bernas, jagung, waluh, timun, semangka dan pisang yang besar-besar mempesonakan.

Orang-orang kecil yang hidup tenang, tekun, bersahaja dan dekat dengan alam mampu melihat karya Allah yang luar biasa. 

Mereka melestarikan lingkungan hidup sebagai rumah Allah yang harus terus dijaga. 

Keberhasilan Si Enthit mengolah tanah dan hasil bumi membawa damai dan ketentraman serta kebahagiaan hidup yang akhirnya mempersatukan Panji Asmara Bangun dengan kekasih hatinya, Galuh Candra Kirana.

Yesus bersyukur kepada Bapa karena mewahyukan damai sejahtera kepada mereka yang kecil, bukan bagi mereka yang pandai dan bijaksana. 

"Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil. Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu.”

Para murid bersyukur karena berhasil mengusir setan-setan. Tetapi bukan itu tujuannya. Yang pantas disyukuri adalah karena Allah mencatat kebaikan-kebaikan kita di tangan-Nya. 

Sabda Yesus, “Janganlah bersukacita karena roh-roh itu takluk kepadamu, tetapi bersukacitalah karena namamu ada terdaftar di sorga."

Mari kita tetap menjadi orang kecil sederhana yang berhati bijaksana, supaya kita bisa melihat karya-karya Allah yang mengagumkan dunia.

Sepercik pantun buat anda:
Negara besar datang menyerang untuk menjarah,
Mengeruk harta kekayaan bikin rakyat menderita.
Banyak orang besar ingin melihat karya Allah,
Hanya orang kecil dan nestapa bisa menangkapnya.

Wonogiri, ambil nafas di Dubai
Rm. A. Joko Purwanto, Pr
0 Comments

Malaikat Pembimbing

10/2/2026

0 Comments

 
Puncta 2 Oktober 2026
Pw. Para Malaikat Pelindung
Lukas 10:13-16 atau RUybs Matius 18:1-5.10

Kula tansah dipun jagi malaikat / Saya selalu dijaga oleh malaikat
Juru pamong ingkang setya yekti / Sang pembimbing yang setia menemani
Rinten dalu tansah nyuwunken rahmat / Siang malam selalu memohon berkat
Kang supados gesang amba murni / Agar supaya hidupku suci murni


LAGU masa kecil yang indah dan syahdu ini diajarkan oleh orangtua dahulu kepada anak-anaknya sebagai lagu penghantar tidur.

Pada peringatan para malaikat ini, kita diingatkan ada seorang pribadi yang tak kelihatan yakni malaikat yang membimbing langkah kita.

Tokoh-tokoh malaikat yang kita kenal seperti Mikhael, Gabriel dan Rafael. Mereka adalah bala tentara surga yang diutus Allah menjaga manusia. 

Setiap orang dijaga oleh makhluk-makhluk suci ini agar mampu melawan kejahatan. 

Dalam Kitab Wahyu banyak disebut tugas dan peran para malaikat surga. Mereka bertindak sebagai utusan, memberitakan pewahyuan Tuhan dan memuji Allah di surga. Mereka juga berperang melawan naga atau iblis lambang kejahatan.

Mereka menyampaikan peringatan kepada semua manusia agar takut dan menyembah Allah di surga. 

Para malaikat suci ini menjadi abdi Allah dan melayani Allah untuk melaksanakan karya keselamatan yang kekal.

Yesus menggambarkan bahwa para malaikat membimbing dan menolong kaum kecil, lemah dan suci hatinya. 

Mereka digambarkan seperti anak kecil yang polos dan suci hatinya. “Ingatlah, jangan menganggap rendah seorang dari anak-anak kecil ini. 

Karena Aku berkata kepadamu: Ada malaikat mereka di sorga yang selalu memandang wajah Bapa-Ku yang di sorga.”

Anak kecil adalah orang-orang yang lemah, tak berdaya, hanya bergantung pada kebaikan Allah. Anak kecil juga lambang kepolosan, kesucian, kejujuran dan kerendahan hati. Kita diajak bertobat menjadi seorang anak kecil.

Dengan sikap, semangat dan mental seperti anak kecil itu, kita terus dibimbing oleh para malaikat agar hidup seturut kehendak Allah. 

Mari kita bersyukur atas bimbingan dan perlindungan para malaikat di surga.

Sepercik pantun buat anda:

Jalan jauh ke Raja Ampat,
Mabuk laut sampai mau sekarat.
Kita dibimbing oleh Malaikat,
Agar bisa melawan yang jahat.

Wonogiri, sowan Mbah Soetta
Rm. A.Joko Purwanto, Pr
0 Comments

Jalan Kecil Theresia

10/1/2026

0 Comments

 
Puncta 1 Oktober 2026
Pesta St.Theresia Kanak-Kanak Yesus, 
Perawan, Pujangga Gereja dan Pelindung Misi
Matius 18:1-5

SANTA Theresia dari Kanak-Kanak Yesus menghayati hidupnya seperti anak kecil yang lugu, polos, jujur, sederhana dan rendah hati. 

Ia bergaul dengan Yesus yang juga seperti Kanak-Kanak dengan keceriaan dan kegembiraan.

Kepolosan, kejujuran dan kerendahan hati itulah yang digambarkan Yesus untuk menjawab pertanyaan para murid tentang siapa yang terbesar dalam Kerajaan Allah. 

Mungkin para murid berpikir yang terbesar dalam Kerajaan Allah adalah yang hebat, jaya, besar dan agung, kuat dan berprestasi, berjasa dan dikagumi dunia.

Tetapi Yesus justru mengambil anak kecil dan mengatakan, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga. 

Sedangkan barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga.”

Bukan yang terbesar, terhebat, terunggul atau terkenal, tetapi justru mereka yang merendahkan diri dan bertobat dengan jujur, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Allah. 

Kualitas bukan ditentukan oleh mata dunia, tetapi oleh kebaikan dan kerahiman Allah.

Santa Theresia menjalani hidupnya dengan penuh kesabaran dan kerendahan hati. 

Ia tidak memilih popularitas, kemewahan, atau jabatan tinggi dalam komunitas. Tetapi dia mengambil peran tersembunyi dalam kerendahan hati.

Ia menghidupi hal-hal yang biasa dengan cinta yang luar biasa. Ia menghargai setiap hal yang kecil dan sederhana dengan perhatian yang total. 

Sebagaimana Yesus yang memberi hati kepada mereka yang miskin, kecil dan tertindas, demikian juga Theresia menjalani hidupnya dengan jalan kesederhanaan.

Yesus menghargai yang kecil, seperti seekor domba yang hilang dan dicari-Nya sampai Ia menemukan dan membawanya kembali kepada kawanan dengan selamat dan aman. 

Hidup St. Theresia menjadi contoh bahwa kebahagiaan kekal bisa dicapai lewat hal-hal kecil dan sederhana.

Mari kita jalani hidup kita dengan penuh syukur dan sukacita layaknya anak-anak kecil yang polos, lugu dan jujur di hadapan Tuhan.

Sepercik pantun buat anda:

Menikmati indahnya Pantai Pacitan,
Lewat jalur lintas selatan yang lebar.
Kesederhanaan adalah jalan kekudusan,
Lakukan hal kecil dengan cinta yang besar.

Wonogiri, jalanku kecil sederhana 
Rm. A. Joko Purwanto Pr
0 Comments

    Archives

    December 2034
    October 2026
    September 2026
    August 2026
    July 2026
    June 2026
    May 2026
    April 2026
    March 2026
    February 2026
    January 2026
    December 2025
    November 2025
    October 2025
    September 2025
    August 2025
    July 2025
    June 2025
    May 2025
    April 2025
    March 2025
    February 2025
    January 2025
    December 2024
    November 2024
    October 2024
    September 2024
    August 2024
    February 2024
    February 2022
    January 2022
    December 2021
    November 2021
    October 2021
    July 2021

    Categories

    All
    Hello Romo!
    Katekese
    Puncta
    Rubrik Alkitab

    RSS Feed

Site powered by Weebly. Managed by Rumahweb Indonesia
  • Home
  • Profil Paroki
  • Katekese
  • Pelayanan
  • Berita Paroki