|
Puncta 22 Agustus 2026
Pw. St. Perawan Maria, Ratu Matius 23:1-12 atau RUybs Lukas 1:26-38 KETIKA muncul berita viral tentang penegak hukum yang ditangkap karena kasus korupsi dan tindak pidana pencucian uang, kita bertanya kaget, “Kok bisa aparat yang harusnya menjalankan aturan hukum malah terjerat hukum?” Masyarakat bertanya-tanya kok ada aparat polisi ditangkap karena membawa narkotika? Atau terjaring kasus korupsi padahal mereka adalah petugas yang harusnya menegakkan hukum di negeri ini? Mereka mengajarkan dan menjaga demi tegaknya aturan, tetapi mereka sendiri yang melanggar aturan. Jangan heran kalau kita mengalami kesusahan untuk menghapus korupsi di negeri ini. Kita bisa melihat terang benderang beberapa bupati dan pejabat ditangkap KPK karena korupsi. Pejabat yang semestinya menjadi panutan moral dan taat aturan, justru mencari celah-celah agar dapat mengambil keuntungan dari jabatan yang diembannya. Sumpah jabatan kepada Allah tidak berlaku setelah menduduki jabatan. Bagaimana korupsi bisa diberantas kalau aparat penegak hukumnya saja dapat disogok, disuap dan ikut main korupsi merugikan uang rakyat yang harus bekerja keras dan membanting tulang? Yesus memperingatkan kepada orang banyak supaya hati-hati terhadap kaum Farisi. “Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa. Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya.” Kemunafikan dipertontonkan kepada masyarakat dengan ajaran-ajaran Taurat. Tetapi kelakuan mereka jauh dari aturan-aturan itu. Mereka hapal ayat-ayat Taurat dan mengajarkan kepada orang lain. Tetapi mereka sendiri tidak melakukannya. Mereka mengikat beban-beban berat, lalu meletakkannya di atas bahu orang, tetapi mereka sendiri tidak mau menyentuhnya. Semua pekerjaan yang mereka lakukan hanya dimaksud supaya dilihat orang; mereka memakai tali sembahyang yang lebar dan jumbai yang panjang. Yesus mengajak kita untuk menjadi pelayan bagi sesama dan membangun semangat rendah hati. “Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu. Dan barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.” Kerendahan hati dan menjadi pelayan adalah jalan menuju kekudusan. Mari kita terus menerus berusaha mengusahakannya dalam kehidupan sehari-hari. Sepercik pantun buat anda: Gajah diblangkoni, Bisa kojah ora bisa nglakoni. Kita pandai menasehati, Tapi tak mampu tepati janji. Wonogiri, belajar rendah hati Rm. A, Joko Purwanto, Pr
0 Comments
Leave a Reply. |
Archives
December 2034
Categories |
RSS Feed