|
Puncta 17 Februari 2025
Senin Biasa VI Markus 8: 11-13 PEMUDA pemudi yang sedang dimabuk cinta sering kali meminta bukti atau tanda kalau kekasihnya sungguh-sungguh mencintai. “Mana buktinya kalau kamu mencintai aku? Coba tunjukkan sekarang?” Lalu sang pujaan hati tidak kalah menjawab, “Belahlah dadaku kalau kamu tidak percaya, kalau aku sungguh-sungguh mencintaimu.” Tentu saja jawaban ini hanya kiasan, untuk mengatakan bahwa dia sangat mencintai pacarnya itu. Kata-kata seperti itu hanya ada dalam lagu-lagu romantik, tidak dalam realita hidup. Yana Yulio dan Lita Zein menyatakan itu dalam lagu Emosi Jiwa; “Belah dadaku andai kau ragu. Begitu sayangku padamu. Di setiap mimpi selalu kau hadir, memukau diri ini. Asal kau tahu, betapa hampanya diriku, tanpa kau kasih, pujaanku. Semarak hidup jadi sunyi….” Kalau dadanya sungguh-sungguh dibelah untuk membuktikan cintanya, pastilah akan mati dan dia akan menyesal seumur hidupnya. Orang yang suka menuntut bukti sebenarnya adalah orang yang kurang percaya. Pacar yang selalu hadir menemani, setia mengantar setiap hari, sabar mendengarkan keluh kesah dan beban hidup, itu sudah suatu tanda mengasihi. Tidak perlu membelah dada ingin mengetahui isi hatinya. Dalam perikope Injil hari ini, kaum Farisi datang kepada Yesus dan mereka meminta suatu tanda dari atas, bahwa Yesus sungguh-sungguh datang dari Sorga. Orang-orang macam gini, tidak memahami bahwa cinta itu sebuah proses. Mereka baru akan percaya kalau ada tanda hebat, spektakuler dan instan turun langsung dari sorga. Mereka maunya “ujug-ujug mak jegagig” langsung ada. Mereka tidak paham bahwa dalam proses penciptaan Allah menggunakan waktu, hari demi hari. Ada proses yang berjalan, tidak serta merta atau instan. Begitu pula cinta selalu ada prosesnya, tidak langsung jadi. Menghadapi orang yang degil dan keras hati seperti ini, Yesus berkata, "Mengapa angkatan ini meminta tanda? Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kepada angkatan ini sekali-kali tidak akan diberi tanda." Mari kita berproses memahami tahap demi tahap bagaimana Allah mengasihi kita. Kita tidak perlu menuntut tanda. Kita nanti pasti menemukan dan menyadari dengan sendirinya. Sore-sore duduk minum kopi, Ditemani sepasang merpati. Orang banyak menuntut bukti, justru tanda tidak percaya diri. Wonogiri, percaya saja Rm. A. Joko Purwanto, Pr
0 Comments
Puncta 16 Februari 2025
Minggu Biasa VI Lukas 6: 17.20-26 SUATU pagi sebuah pengalaman di Tayap. Aku harus masak sendiri agar bisa sarapan pagi. Karena hanya ada nasi putih dan ikan asin, maka kubuat saja nasi goreng ikan asin. Untung masih punya bawang putih dan minyak sedikit. Sedang menyiapkan nasi goreng di dapur, ada teman dari pedalaman singgah di pastoran. Aku matikan kompor dan menemui teman yang datang. Kami ngobrol sambil asyik ngopi di kamar tamu depan. Kurang lebih satu jam, teman tadi melanjutkan perjalanan ke Ketapang. Betapa kaget dan mendongkolnya aku ketika masuk dapur, ternyata nasi goreng yang seharusnya kunikmati, sudah didahului oleh beberapa ayam yang kelaparan. Nasi goreng di wajan sudah habis “dithotholi dan dieker-eker” oleh ayamku. Tidak ada lagi nafsu makan. Kendati perut terus berbunyi tetapi ada kebahagiaan yang menyelinap di dalam hati. Aku dikunjungi teman yang singgah, bisa ngobrol bareng dengan sukacita. Perhatian dan penghiburan dari teman lebih dari sekedar kenikmatan nasi goreng. Lagi pula, ayamku juga bisa hidup karena mendapat jatah sarapanku. Mereka berkeliaran dengan sukacita di kebun. Aku lapar tetapi aku bahagia. Kebahagiaan yang sulit untuk diceritakan. Hari ini Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, "Berbahagialah, hai kamu yang miskin, karena kamulah yang empunya Kerajaan Allah. Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini lapar, karena kamu akan dipuaskan.” Kepuasan itu ternyata bukan hanya karena makanan. Menderita demi teman yang mau datang itu juga sebuah kepuasan. Penderitaan yang bisa dimaknai ternyata mampu memberi kepuasan yang lebih. Beranikah kita menderita demi kebahagiaan orang lain? Jika anda berani berkorban, anda akan menemukan kepuasan batin yang melebihi segala jenis kelaparan. Nasi goreng dimakan ayam kesayangan, Ayamnya bertelur di rumah tetangga. Menderita demi orang yang tersayang, Kebahagiaannya sungguh luar biasa. Wonogiri, berbahagialah yang menderita Rm. A. Joko Purwanto, Pr Puncta 15 Februari 2025
Sabtu Biasa V Markus 8: 1-10 TIDAK ada angka yang paling favorit menurut banyak orang selain angka 7. Angka ini sering muncul dalam berbagai peristiwa dan kejadian. Istilah “Lucky number seven” sudah dikenal oleh banyak orang di belahan bumi ini. Orang Jawa menyebut angka tujuh dengan sebutan “Pitu.” Angka ini diartikan sebagai “Pitulungan” atau pertolongan dan keberuntungan dari yang di atas. Coba perhatikan ada tujuh warna pelangi, ada tujuh benua di bumi kita. Istilah kuno “Seven Seas” mau menggambarkan luasnya samudera kita. Tuhan menciptakan alam semesta dan pada hari ke-tujuh Tuhan beristirahat. Semua serba tujuh. Angka Tujuh adalah angka keramat dan bertuah di Klub sepak bola Manchester United. Mereka yang memakai angka tujuh adalah pemain-pemain hebat dan berkharisma seperti George Best, Bryan Robson, Eric Cantona dan David Bekham. Pemain grup band Korea, BTS beranggotakan tujuh orang. Mereka mendapat penghargaan grammy award pada tahun ketujuh karier mereka. Angka yang luar biasa bukan? Dalam Gereja angka tujuh menunjuk jumlah sakramen dalam gereja. Baptis, Ekaristi, Krisma, Pengampunan dosa, perkawinan, imamat dan perminyakan suci. Pusat dari seluruh sakramen itu adalah Ekaristi. Ekaristi didasarkan pada peristiwa Yesus mengambil roti, mengucap berkat dan membagi-bagikannya kepada orang banyak. Yesus membuat mukjizat dari tujuh roti dan memberi makan kepada empat ribu orang. Sisanya ada tujuh bakul. Bukan soal angkanya yang penting, tetapi peristiwa ini menyatakan bagaimana Allah senantiasa memelihara hidup kita. Dengan memberi makan, Yesus menunjukkan Allah itu berbelas kasih pada kita. Yesuslah Roti Kehidupan bagi kita. Inilah pentingnya Ekaristi bagi kita. Pagi-pagi duduk di meja kerja, Ada secangkir kopi dari Toraja. Ekaristi adalah makanan rohani kita, Tidak cukup hanya makan roti saja. Wonogiri, indahnya berbagi cinta Rm. A. Joko Purwanto, Pr Puncta 14 Februari 2025
PW. St. Sirilus, Rahib dan St. Metodius, Uskup Markus 7: 31-37 BAYAT adalah sebuah desa di Klaten. Di sana ada Gua Maria “Marganingsih.” Ingat Bayat, kita ingat almarhum Romo Soenarwijaya SJ dan Romo A. Sandiwan Brata, Pr, karena beliau-beliau berasal dari Bayat, Klaten. Sebelum sampai di Gua Maria, kita melewati toko-toko penjual kerajinan dari tanah liat atau orang Jawa menyebut “Grabah.” Benda itu bisa berbentuk pot, kendi, cobek, jun atau klenthing, dan barang hiasan lainnya. Tukang grabah menciptakan pot atau kendi dari tanah liat. Tanah diolah dengan air sampai lembut. Lalu dibentuk dengan tangannya di meja pencetakan. Kadang belum sempurna, harus dirusak dan dimulai dari awal lagi, sampai jadi indah dan baik. Peristiwa Yesus menyembuhkan orang yang tuli dan yang gagap kali ini mengingatkan akan kisah penciptaan manusia dalam Kitab Kejadian. Hal ini dipertegas dengan kalimat orang banyak yang menyatakan: "Ia melakukan segala-galanya dengan baik; yang tuli dijadikan-Nya mendengar, yang bisu dijadikan-Nya berkata-kata." Kita diingatkan akan pernyataan bahwa "Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik." Kita menjadi Katolik tidak otomatis menjadi sempurna. Masih ada banyak cacat cela dan kerusakan dalam diri kita. Maka kita terus memohon kepada Tuhan untuk memperbaiki kita. Kita ini berasal dari tanah. Biarkan Tuhan yang membentuk kita. Kita hanya siap sedia jika proses penciptaan itu terus berlangsung. Kadang hidup kita hancur, berantakan, gagal, jatuh dan pecah. Biarlah Tuhan membentuk kita kembali menjadi indah dan bagus lagi. Ingatlah bahwa kita masing-masing diciptakan baik adanya oleh Tuhan. Bisa jadi sekarang kita sedang mengalami pembentukan kembali untuk diperbaiki oleh Tuhan. Setelah jalan di Pantai Drini, Jangan lupa santap ikan dan nasi. Cobaan datang silih berganti, Jangan biarkan doamu berhenti. Wonogiri, dibentuk kembali Rm. A. Joko Purwanto, Pr Puncta 13 Februari 2025
Kamis Biasa V Markus 7: 24-30 SEORANG ibu datang dengan menangis karena kakaknya masuk ke rumah sakit harus menjalani operasi di kepala. Ada pembuluh darah yang pecah di otaknya. Harus segera dilakukan pembedahan. Dia membutuhkan biaya yang tidak sedikit karena kebetulan BPJS-nya sudah lama nunggak. Ibu ini menghadapi beban kesulitan yang berat. Ia terus berdoa semoga Tuhan menolong memberi jalan bagi kesembuhan kakaknya. Di saat bersamaan anaknya sedang menjalani test masuk di SMA di Muntilan. Doanya tidak pernah berhenti. Hanya Tuhan saja yang menjadi andalan. Untunglah anaknya diterima. Tuhan mendengarkan doanya. Tetapi dia membutuhkan surat pengantar dari Pastor Paroki. Dia ditolak pastor paroki yang berasumsi bahwa dia meminta surat keringanan biaya. “Saya tidak bisa menolong. Tidak bisa lewat “orang dalam,” kata Pastor. Ibu ini menjelaskan bahwa yang diperlukan adalah surat keterangan sebagai umat dan aktif di paroki. Ia dikira mencari "katebelece." “Saya umat miskin, tetapi saya berusaha membiayai anak semampu saya. Hanya surat keterangan saja yang saya perlukan agar anak saya bisa melengkapi persyaratan masuk sekolah,” katanya sambil “ngelus dada.” Yesus ditemui oleh seorang ibu dari Siro Fenisia, yang anaknya sakit kerasukan setan. Mungkin karena lelah seharian telah bekerja, kedatangan-Nya dirahasiakan supaya orang tidak mengetahui-Nya. Tetapi Ibu ini tahu dan langsung sujud memohon kepada-Nya. Karena tidak mau diganggu, Yesus tidak menanggapi dan berkata, "Biarlah anak-anak kenyang dahulu, sebab tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing." Perempuan itu ditolak. Bahkan direndahkan seperti anjing. Tetapi dia tidak putus asa. "Benar, Tuhan. Tetapi anjing yang di bawah meja juga makan remah-remah yang dijatuhkan anak-anak." Dia tetap sabar dan rendah hati disamakan dengan anjing. Yang penting anaknya sembuh. Dan benar, Tuhan melihat iman ibu ini sangat kuat. Tuhan berkata, "Karena kata-katamu itu, pergilah sekarang sebab setan itu sudah keluar dari anakmu." Tuhan kadang menguji kesabaran dan ketekunan kita. Ibu dari Siro Fenisia itu menunjukkan kerendahan hati, ketekunan dan kesabarannya. Mari kita terus sabar dan tekun meminta dengan percaya kepada Tuhan. Jalan-jalan di Negeri Gajah, Singgah dulu di Singapura. Orang sabar dikasihi Allah, Yang rendah hati disayangi-Nya. Wonogiri, tetap sabar dan rendah hati Rm. A. Joko Purwanto, Pr Puncta 12 Februari 2025
Rabu Biasa V Markus 7: 14-23 DARI Kitab Kejadian kita membaca bagaimana Tuhan menjadikan segala sesuatu baik adanya. Manusia ditempatkan di Taman Eden dalam kondisi yang baik, bersih, damai sejahtera. Semua diciptakan baik demi keselamatan kita. Kehancuran mulai ketika hati manusia diliputi keserakahan. Apa yang dilarang oleh Tuhan dilanggar manusia karena hati yang jahat dan serakah. Segala kebaikan dan kejahatan dimulai dari hati manusia sendiri. Pesawat terbang diciptakan untuk sarana transportasi yang cepat. Tetapi ada orang yang punya niat jahat untuk menghancurkan Gedung WTC di Amerika sana. Aplikasi-aplikasi modern seperti FB, WA, TikTok, Youtube, Instagram diciptakan untuk membantu manusia. Tetapi orang jahat menggunakannya untuk menipu, memeras, menyebarkan berita bohong dan lainnya. Alfred Nobel menemukan dinamit pada awalnya bukan untuk membunuh orang, tetapi untuk memecahkan bebatuan. Tetapi oleh tentara dinamit dipakai untuk senjata perang. Nobel menyesali temuannya yang disalahgunakan orang. Dia mempersembahkan seluruh kekayaannya untuk perdamaian dunia sebagai Hadiah Nobel. Begitu juga pisau, keris, atau benda tajam lainnya. Benda-benda itu diciptakan untuk membantu manusia, bukan untuk berbuat jahat. Hati manusia yang jahatlah yang membuat benda itu menjadi alat mematikan. Yesus berkata, “Dari hati yang kotor akan timbul segala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinahan, keserakahan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, dan kebebalan. Semua hal-hal jahat ini timbul dari dalam dan menajiskan orang“. Ia mengajar kepada kita bahwa bukan karena kodratnya alam ciptaan menjadi baik atau jahat, haram atau halal; melainkan karena sikap hati kita. Kalau hatinya jorok, pikirannya “ngeres,” nafsunya tak terkendali, ngeliat patung telanjang saja sudah panas dingin basah kuyub. Lalu patung harus ditutupi kain. Patung tidak salah. Yang ngeres itu hati manusianya. Mari kita mengelola hati kita. Karena bukan dari luar yang menajiskan kita tetapi justru dari dalam hatilah segala yang jahat bisa terjadi. Terhuyung-huyung harus dipapah, Karna disepak kaki Jerapah. Hati yang tulus membawa berkah, Hati yang jahat karena serakah. Wonogiri, murnikanlah hatimu Rm. A. Joko Purwanto, Pr Puncta 11 Februari 2025
Hari Orang Sakit Sedunia Markus 7: 1-13 KONFLIK Yesus dengan kaum Farisi berkisar pada peraturan adat istiadat dan perwujudan iman kepada Allah. Kaum Farisi lebih menekankan aturan-aturan yang dibuat oleh nenek moyang. Aturan-aturan itu didewakan sehingga orang dianggap berdosa kalau tidak melakukannya. Orang jatuh pada legalisme aturan sehingga mengabaikan perintah Tuhan. Kaum Farisi menjunjung aturan-aturan tak tertulis para rabi. Ada 613 kumpulan aturan yang menjadi pedoman hidup sehari-hari. Yesus mengkritik kemunafikan dan kelaliman mereka. Aturan-aturan agama yang ditetapkan bertentangan dengan inti ajaran agama itu sendiri. Mereka melakukan aturan hanya untuk mencari pujian dan pameran kesalehan. Hipokrisi atau kemunafikan bisa terjadi di mana-mana. Bukan hanya di zaman Yesus saja, di zaman sekarang pun dapat kita lihat maraknya kemunafikan orang beragama. Kita bisa melihat ketidakadilan, korupsi, ketidaksetiaan dan kekerasan, terjadi dimana-mana, juga di dalam institusi agama. Rumah ibadah banyak bertebaran dimana-mana tetapi korupsi, kekerasan, penindasan dan persekusi juga merajalela. Maka Yesus mengatakan, "Benarlah nubuat Yesaya tentang kamu, hai orang-orang munafik! Sebab ada tertulis: Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku. Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia. Perintah Allah kamu abaikan untuk berpegang pada adat istiadat manusia." Koruptor diadili di hadapan hakim memakai baju-baju agamis, biar kelihatan saleh sehingga hukumannya menjadi ringan. Tetapi di dunia nyata dia tega mengambil harta rakyat jelata yang menderita. Apakah kita bahagia dengan hidup berpura-pura? Apakah kita suka pamer kesalehan demi keuntungan ego semata? Yesus mengkritik kaum Farisi, tetapi Dia sedang mengkritik kita juga. Pergi ke Solo naik pedati, Jalannya pelan sampainya sore hari. Kita senang meniru kaum Farisi, Suka beribadah tapi lupa berdarma bakti. Wonogiri, malu jadi muna maya Rm. A. Joko Purwanto, Pr Puncta 10 Februari 2025
PW. St. Skolastika, Perawan Markus 6: 53-56 PAUS Fransiskus menggelari Suster Teresa dari Kalkuta dengan predikat Santa atau orang kudus pada tanggal 15 Maret 2016. Kekudusan Mother Teresa diwujudkan dengan kesetiaannya melayani orang-orang miskin, sakit dan terlantar di pinggir-pinggir jalan di Kalkuta, India. Suster bertubuh mungil dari Albania itu mengawali pelayanannya karena mendapat visiun dari Tuhan Yesus yang tergantung di salib. Yesus berkata kepada Teresa, “I thisty.” Aku haus, sabda Yesus. Dengan pengalaman rohani itulah Suster Teresa meninggalkan biaranya di Loreto dan mendirikan komunitas para suster Misionaris Cinta kasih (Missionaries of Charity). Bunda Teresa menolong orang-orang miskin, terlantar, sakit dan tersingkirkan. Di dalam diri mereka, Teresa mendengar kata-kata Yesus, "Aku haus." Bersama teman-temannya, ia memberi penghormatan akan hidup manusia. Bahkan mereka yang miskin dan tersingkir pun pantas mendapat perlakuan yang semartabat dengan manusia lainnya. Mereka yang sakit, lapar, haus, tidak punya rumah, tersingkir, sakit dan sekarat hampir mati dipandang sebagai perwujudan Yesus yang sedang haus, minta diberi minum. Teresa mengulurkan tangan untuk mereka. Pada perikope Injil hari ini, Yesus juga melayani banyak orang yang sedang sakit. Dimana pun Yesus berada, banyak orang sakit dibawa kepada-Nya untuk disembuhkan. Dengan belaskasih-Nya Yesus menolong dan menjamah mereka. Wajah belas kasih Allah inilah yang dihadirkan Yesus kepada mereka yang lemah, sakit dan tersingkir. Apakah kita sebagai murid-murid Yesus juga mau menampilkan wajah belas kasih Tuhan kepada mereka yang kecil, lemah, miskin dan tersingkir? Santa Teresa dari Kalkuta telah mengawalinya, apakah kita mau melanjutkannya untuk meneruskan kasih Yesus kepada semua orang? Menghantar romo pulang ke jalan Kaliurang, Rumah abadi bagi mereka yang tekun setia. Banyak orang membutuhkan kasih sayang, Maukah kita membuka tangan bagi mereka? Wonogiri, wajah Yesus ada di orang miskin Rm. A. Joko Purwanto, Pr Puncta 9 Februari 2025
Minggu Biasa V Lukas 5: 1-11 PADA Bulan Februari 2019, persis enam tahun yang lalu ada peristiwa bersejarah yakni pertemuan Paus Fransiskus dengan Imam Besar Al Azhar Sheikh Ahmed al Tayeb, menandatangani dokumen bersejarah tentang persaudaraan manusia untuk perdamaian dunia dan hidup berdampingan guna menangkal radikalisme dan terorisme. Paus juga mengadakan misa akbar di Stadion Sayed Sport City, Uni Emirat Arab. Paus mengarungi samudera dan masuk ke tempat yang dalam di jazirah Arab menyapa dan membangun persaudaraan kemanusiaan. Paus mengikuti sabda Yesus kepada Simon. “Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan”. Paus menebarkan jala kasih dan persaudaraan dengan semua orang tanpa membedakan latar belakang agama. Kasih dan persaudaraan adalah bahasa universal manusia. Siapa pun yang beriman pada Tuhan pasti akan menebarkan kasih dan persudaraan kepada siapapun tanpa membeda-bedakan. Sebagaimana jala yang bisa menangkap berbagai macam ikan, demikian juga kasih dan persaudaraan yang dibawa Paus mampu menembus sekat-sekat perbedaan. Ia mampu menangkap ikan yang besar di Uni Emirat Arab. Kita kadang merasa takut pergi ke tempat yang dalam. Kita hanya memilih tempat yang “cethek-cethek” sehingga hanya ikan-ikan kecil yang kita dapat. Yesus mengajak Simon mencari tempat yang dalam. Laut yang dalam pasti banyak bahaya. Tetapi di sana kita bisa mendapat ikan yang banyak dan besar-besar. Simon berani mengikuti perintah Yesus. Ia mendapatkan hasil di luar dugaan. Kalau hanya mengikuti kemauan sendiri, sepanjang malam ia tidak mendapat apa-apa. Tetapi ketika kita mau mengikuti kehendak Tuhan, hasilnya sungguh mentakjubkan. Maukah kita mengikuti kehendak Tuhan? Naik motor sampai ke Tuban, Tersesat di tengah hutan Grobogan. Kalau kita setia pada Tuhan, Dia akan memberi berkelimpahan. Wonogiri, Tuhan, aku tidak layak Rm. A.Joko Purwanto, Pr Puncta 8 Februari 2025
Sabtu Biasa IV Markus 6: 30-34 KOMUNITAS imam-imam yang terinspirasi oleh cara hidup Charles de Foucauld sering malakukan kegiatan retret Padang Gurun. Mereka pergi ke tempat sunyi selama satu hari untuk mendekatkan diri pada Tuhan. Padang Gurun hanya sebuah istilah untuk meninggalkan kesibukan sehari-hari, dan berhenti sejenak untuk menyepi. Tujuannya agar kita memperoleh kekuatan atau spirit baru dari Tuhan dalam melaksanakan tugas pelayanan sehari-hari. Pergi ke tempat sunyi juga bisa berarti beristirahat sebentar dari pekerjaan pelayanan yang dilakukan sepanjang hari. Seperti HP yang perlu dicharge agar bisa terus hidup, demikian juga semangat kita perlu disegarkan kembali. Sesudah melakukan tugas pelayanan, rasul-rasul itu kembali berkumpul dengan Yesus dan memberitahukan kepada-Nya semua yang mereka kerjakan dan ajarkan. Lalu Ia berkata kepada mereka: "Marilah ke tempat yang sunyi, supaya kita sendirian, dan beristirahatlah seketika!" Sebab memang begitu banyaknya orang yang datang dan yang pergi, sehingga makan pun mereka tidak sempat. Maka berangkatlah mereka untuk mengasingkan diri dengan perahu ke tempat yang sunyi. Tugas pelayanan bisa menguras tenaga dan pikiran. Kalau hanya mengikuti tuntutan kerja, tidak akan ada habis-habisnya. Kita juga perlu mengolah batin dan mental kita agar tidak kehilangan arah dan spirit kerja. Yesus mengajak para murid-Nya untuk pergi ke tempat sunyi. Mereka diajak untuk menimba kekuatan spiritual, agar pelayanan mereka tetap satu visi dengan karya Tuhan. Mereka tidak kehabisan daya karena kelelahan dan beban yang berat. Kita juga membutuhkan waktu untuk pergi ke tempat sunyi, menyatu dan menimba kekuatan dari Tuhan. Seperti seorang yang menggergaji pohon, perlu duduk, diam istirahat sebentar, mengumpulkan tenaga agar punya kekuatan baru, kita juga perlu menyisihkan waktu untuk diam, pergi ke tempat sunyi bersama Tuhan. Pergi retret ke Tawangmangu, Tempatnya sunyi langitnya biru. Kita butuh semangat yang baru, Agar selalu happy banyak ngguyu. Wonogiri, happy dalam pelayanan Rm. A. Joko Purwanto, Pr |
Archives
December 2034
Categories |
RSS Feed