Paroki St. Yohanes Rasul Wonogiri
  • Home
  • Profil Paroki
  • Katekese
  • Pelayanan
  • Berita Paroki

katekese

Membangun Ukhuwah

7/21/2026

0 Comments

 
Puncta 21 Juli 2026
Selasa Biasa XVI
Matius 12:46-50

DALAM rangka peringatan ulangtahun Paroki St.Yohanes Rasul Wonogiri yang ke 59 tahun 2026 ini, kami mengadakan aneka kegiatan. 

Salah satunya adalah kenduri atau syukuran bersama warga masyarakat di lingkungan sekitar gereja.

Kami juga mengundang pengurus FKUB Kabupaten Wonogiri dan Kepala Kemenag Wonogiri. 

Dalam sambutannya, Kepala Kantor Kemenag mengatakan bahwa kenduri ini adalah wujud silahturahmi dan keguyuban sesama umat beragama.

“Kami sangat mengapresiasi kegiatan ini yang dilakukan oleh Gereja Paroki St.Yohanes Rasul. Inilah wujud nyata membangun ukhuwah persaudaraan sesama anak bangsa dan sesama umat beriman,” katanya dalam sambutan.

Ada tiga ukhuwah dalam kehidupan orang Islam yakni ukhuwah Islamiah, ukhuwah wataniah dan ukhuwah basyariah. Ukhuwah Islamiyah adalah persaudaraan sesama umat Islam yang diikat oleh akidah dan keimanan.

Ukhuwah Wathaniah adalah semangat persaudaraan dalam ikatan kebangsaan atau tanah air, tanpa memandang suku dan agama. 

Ukhuwah Basyariah/Insaniah adalah persaudaraan sesama umat manusia karena berasal dari keturunan ciptaan yang sama (Adam dan Hawa). 

Yesus juga memperluas hubungan manusia atau ukhuwah. Relasi manusia tidak hanya didasarkan pada hubungan darah, tetapi sebagai sesama manusia yang melaksanakan kehendak Tuhan.

Ketika ada orang yang berkata kepada-Nya: "Lihatlah, ibu-Mu dan saudara-saudara-Mu ada di luar dan berusaha menemui Engkau." 

Yesus menjawab; "Ini ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku!  Siapapun yang melakukan kehendak Bapa-Ku di sorga, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku."

Apakah kita mampu memandang orang lain sebagai saudara kita karena mereka juga melakukan kebaikan-kebaikan yang dikehendaki Tuhan? 

Maukah kita menghilangkan sekat-sekat SARA yang memisahkan hubungan dengan sesama kita?

Sepercik pantun buatn anda:

Bukit Tinggi ada di Padang,
Di sana ada bukit Barisan.
Dudu sanak dudu kadang,
Yen mati melu kelangan.

Wonogiri, membangun persaudaraan
Rm. A. Joko Purwanto, Pr
0 Comments

Menuntut Bukti Cinta

7/20/2026

0 Comments

 
Puncta 20 Juli 2026
Senin Biasa XVI
Matius 12:38-42
​
SLAMET sangat mencintai Rahayu kekasihnya. Ia setiap waktu datang apel ke rumah sang pacar dengan membawa makanan kesukaan Rahayu. 

Walaupun jarak rumahnya jauh dan tugas kantor sangat padat, tetapi Slamet berusaha meluangkan waktu untuk kekasihnya.

Suatu saat Rahayu ingin bukti bahwa Slamet sungguh mencintainya. 

“Mas Slamet,” sapanya dengan lemah lembut. “Aku mau minta bukti kalau Mas mencintaiku.” Slamet mendengarkan dengan seksama.

“Bawakan hati ibumu kepadaku, kalau kamu sungguh-sungguh mencintaiku.” 

Slamet pemuda kampung yang lugu itu pusing tujuh keliling. Berhari-hari tidak bisa tidur memikirkan permintaan Rahayu yang dikasihinya.

Akhirnya demi cintanya, di tengah malam yang sepi, Slamet masuk ke kamar ibunya dengan membawa pisau.

 Ibunya yang sedang tidur nyenyak dibelah dadanya dan diambil hatinya dan dibawanya kepada Rahayu yang kaget seketika dan serangan jantung. 

Demi membuktikan cintanya, Slamet kehilangan ibu dan kekasih hatinya. Cinta buta sering menuntut bukti. Tetapi demi bukti orang justru harus rela mengorbankan orang-orang yang dikasihinya.

Pada waktu itu berkatalah beberapa ahli Taurat dan orang Farisi kepada Yesus: "Guru, kami ingin melihat suatu tanda dari pada-Mu." 

Orang-orang itu menuntut sebuah bukti kalau Yesus sungguh-sungguh Mesias, Anak Allah yang datang dari surga.

Tetapi Yesus tidak memberikan apa yang mereka minta. Yesus menunjukkan kisah Nabi Yunus yang tinggal tiga hari tiga malam di dalam perut ikan. 

Demikian juga Anak Manusia akan tinggal di dalam perut bumi selama tiga hari. Itulah kematian Yesus sebagai bukti cinta.

Yesus menunjukkan kematian-Nya dan dikuburkan selama tiga hari kemudian bangkit. Yesus sudah meramalkan kematian-Nya sebagai bukti kasih-Nya kepada manusia. 

Tetapi ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi itu tidak memahaminya.

Mereka yang tidak percaya itu menuntut bukti yang spektakuler kepada Yesus. Walaupun diberi bukti, kalau dasarnya tidak percaya, mereka tidak mau terbuka. 

Sampai sekarang orang Yahudi toh tidak percaya kalau Yesus bangkit dari kematian. 

Bukti sebesar apapun kalau orang tidak mau terbuka dan percaya, tidak ada gunanya. Orang-orang seperti itu tidak akan menemukan kasih yang sejati selama tidak mau bertobat membuka hati kepada Tuhan.

Masihkan kita terus menerus menuntut bukti akan kasih Allah yang telah rela mengorbankan Diri bagi kita?

Sepercik pantun buat anda:

Shinta harus dibakar dengan api,
Sebagai bukti cintanya kepada Rama.
Ahli-ahli Taurat menuntut bukti,
Untuk percaya pada Putera Manusia.

Wonogiri, masih tetap minta bukti?
Rm. A.Joko Purwanto, Pr
0 Comments

“Becik Ketitik, Ala Ketara.”

7/19/2026

0 Comments

 
Puncta 19 Juli 2026
Minggu Biasa XVI
Matius 13:24-30

KITA sedang menunggu pertandingan Piala Dunia di Amerika. Spanyol akan berhadapan dengan Argentina. 

Siapa jagokan Negeri Matador? Siapa yang jagokan Negeri Tanggo? Pertandingan ini pasti seru dan menarik.

Tapi coba bayangkan kalau sang wasit yang mengadili pertandingan juga ikut main di dalamnya, apa yang akan terjadi? Pasti Kacau balau!! 

Penonton bisa marah dan masuk ke lapangan. Itulah yang sering terjadi di Negeri Konoha. Keributan dan kericuhan dalam pertandingan karena wasit yang tidak menjaga fairplay.

Gambaran itu juga bisa kita terapkan dalam pemberantasan korupsi. Bagaimana korupsi bisa diberantas, lha wasitnya yaitu aparat penegak hukum juga ikut bermain di dalamnya? 

Kita semua bisa melihat secara terang benderang dalam kasus pimpinan BGN dan Jampidsus yang jadi tersangka. Orang bilang itu oknum.

Polisi dan jaksa yang semestinya jadi penegak hukum untuk memberantas korupsi, malah ikut main di dalamnya. 

Mereka yang harusnya menjadi benih gandum, malah tumbuh jadi lalang-lalang yang makan uang pajak rakyat. 

Jangan heran kalau rakyat suatu saat akan terjun ke lapangan karena muak melihat tingkah aparat yang ikut bermain dengan curang.

Yesus membentangkan suatu perumpamaan lain lagi kepada mereka, kata-Nya: "Hal Kerajaan Sorga itu seumpama orang yang menaburkan benih yang baik di ladangnya. 

Tetapi pada waktu semua orang tidur, datanglah musuhnya menaburkan benih lalang di antara gandum itu, lalu pergi. Ketika gandum itu tumbuh dan mulai berbulir, nampak jugalah lalang itu.”

Hamba-hamba penjaga kebun anggur ingin mencabuti lalang. Tetapi tuan itu berkata: “Jangan, sebab mungkin gandum itu ikut tercabut pada waktu kamu mencabut lalang itu.” 

Tuan itu membiarkan proses berjalan bersama. Ada waktu untuk menuai.

Orang Jawa punya prinsip, “Becik ketitik, ala ketara.” Artinya yang baik nanti akan terdeteksi, yang jahat atau buruk nanti akan kelihatan dengan sendirinya. 

Waktu masih kecil gandum dan lalang tidak kelihatan. Tetapi pada akhirnya akan nampak mana lalang dan gandum.

Yesus mengajak kita menghargai proses pertumbuhan bersama. Kualitas dan integritas nanti akan dilihat di ujung perjalanan. 

Pada akhirnya orang yang dinilai sebagai gandum akan masuk ke lumbung kebahagiaan. Orang yang menjadi lalang akan dibakar dalam penderitaan.  

“Wong urip bakal ngundhuh wohing pakarti.” Setiap orang akan memetik dari apa yang ditaburkannya. 

Apakah anda mau menabur gandum atau lalang, itu menjadi tanggungjawab anda sendiri. Silahkan memilih sendiri.

Sepercik pantun buat anda:

Polisi dan jaksa masuk dalam pusaran korupsi,
Kita tinggal nunggu hancurnya sebuah negeri.
Rakyat yang menderita disuruh bersabar hati,
Setia bayar pajak tapi diemplang pejabat tinggi.

Wonogiri, mau jadi ilalang atau anggur?
Rm. A.Joko Purwanto, Pr
0 Comments

Buluh yang Terkulai

7/18/2026

0 Comments

 
Puncta 18 Juli 2026
Sabtu Biasa XV
Matius 12:14-21

PENEMU lampu listrik yang sekarang kita pakai adalah Thomas Alfa Edison. Waktu kecil dia hanya bersekolah selama tiga bulan. 

Gurunya angkat tangan untuk mendidiknya. Dia dianggap bodoh dan tertinggal dari teman-teman lainnya.

Karena tidak mampu mendidik, gurunya memulangkan Thomas kepada ibunya. 

“Anak ibu terlalu jenius, sekolah ini terlalu kecil dan tidak ada guru yang sanggup mendidiknya,” isi surat sekolah kepada Ny. Nancy Mathew, ibu Thomas.

Ibunya tidak putus asa, anaknya ditolak di sekolah. Ia mendidiknya sendiri di rumah.

 Ia percaya bahwa setiap anak punya bakat dan talentanya sendiri. Dengan tekun dan penuh kasih sayang, ia mendampingi Thomas. 

Inilah yang dia lakukan; “Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskan-Nya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkan-Nya, sampai Ia menjadikan hukum itu menang.” 

Ketekunan dan kesabarannya mendidik anak membuahkan hasil. Thomas mampu menemukan lampu listrik yang menerangi seluruh kota di Manhattan, New York pada 1882, dan dipasang di jalanan dan rumah-rumah yang membentang hingga satu kilometer.

Nabi Yesaya menubuatkan kedatangan sang Mesias yang dijanjikan Tuhan. "Lihatlah, itu Hamba-Ku yang Kupilih, yang Kukasihi, yang kepada-Nya jiwa-Ku berkenan; Aku akan menaruh roh-Ku ke atas-Nya, dan Ia akan memaklumkan hukum kepada bangsa-bangsa”

Ia datang bukan untuk mematahkan buluh yang hampir patah atau memadamkan nyala sumbu yang pudar. 

Ia justru mengasihi orang-orang kecil yang tak punya pengharapan. Dia mengayomi orang-orang kecil dan miskin.

Ia datang membawa damai sejahtera. Mesias yang diutus Tuhan akan membebaskan orang dari segala penindasan yang membelenggu hidup orang. Dia datang tidak untuk menghukum, tetapi mengasihi dengan kasih seorang Bapa.

Sebagaimana ibu Thomas Alfa Edison yang menerima anaknya yang dianggap bodoh, hina, rendah dan “tidak normal,” begitu pula Allah tidak akan mematahkan buluh yang patah dan sumbu yang hampir padam. 

Allah akan selalu menjaga dan melindungi mereka yang kecil, lemah dan tertindas. Yesus menampakkan wajah Allah yang penuh belas kasih. 

Maukah kita datang dan mengharapkan belaskasihan-Nya?

Sepercik pantun buat anda:
Semalam ada arak-arakan pesta budaya,
Mengiringi bupati yang masuk penjara.
Kasih Allah lebih besar pada manusia,
Ia selalu berpihak pada yang menderita.

Wonogiri, melindungi yang lemah
Rm. A.Joko Purwanto, Pr
0 Comments

Belas Kasih Mengatasi Aturan Kaku

7/17/2026

0 Comments

 
Puncta 17 Juli 2026
Jum’at Biasa XV
Matius 12:1-8

SEORANG pemadam kebakaran akan lebih memilih menyelamatkan nyawa orang walaupun ia harus melanggar aturan hari Sabat. 

Atau seorang driver ambulance yang membawa orang sakit parah harus melanggar lampu merah di jalanan demi menyelamatkan pasien yang sedang kritis.

Salah satu pertentangan terbesar antara Yesus dan kaum Farisi adalah dalam pelaksanaan aturan Sabat. 

Dalam perikop ini, Yesus dikritik oleh para pemimpin agama karena membiarkan para murid-Nya memetik dan memakan biji-biji gandum pada hari Sabat. 

Kaum Farisi menganggap ini sebagai pekerjaan yang dilarang pada hari Sabat. Yesus mengabaikan interpretasi hukum dan motivasi tindakan mereka. 

Dia berpendapat bahwa memetik gandum yang cukup untuk menghilangkan rasa lapar tidak melanggar Sabat. 

Hal ini dilakukan demi menyambung hidup. Juga dulu pernah terjadi pada zaman Raja Daud dan para imam di bait suci yang makan roti sajian tanpa menimbulkan teguran dari Allah.

Selain itu, ketaatan yang benar terhadap Hukum Musa harus dimotivasi oleh belas kasihan dan kemurahan Allah. 

Kasih kemurahan Allah lebih tinggi daripada keinginan Allah akan korban bakaran dan persembahan, seperti yang telah diungkapkan oleh nabi Mikha.

Kita sering menghadapi dilema seperti ini. Antara memilih berbuat baik atau melakukan aturan yang berlaku. Kalau kita mengikuti jalan pikiran Yesus, kita diajak untuk memilih yang sesuai dengan kehendak Allah.

Kehendak Allah adalah keselamatan manusia lahir dan batin. Allah lebih mengutamakan keselamatan manusia. Bahkan Allah mengorbankan keallahan-Nya demi menyelamatkan manusia. 

Yesus tidak menganggap kesetaraan dengan Allah sebagai sesuatu yang harus dipertahankan. Tetapi Ia memilih menjadi manusia demi keselamatan kita.

Pilihan itulah yang dilakukan Yesus untuk menyelamatkan kita. Ia mendekati dan bergaul dengan pendosa. Ia merangkul orang kusta dan menerima pemungut cukai. Ia melanggar aturan-aturan yang membatasi untuk menyelamatkan manusia.

Beranikah kita mengutamakan keselamatan dan kebahagiaan orang daripada mengikuti aturan-aturan sosial yang membuat kita tidak berani berbuat apa-apa?

Sepercik pantun buat anda:

Mobil ambulance melintas di jalan,
Semua minggir demi keselamatan.
Orang munafik lebih taat aturan,
Orang suci mengutamakan kebaikan.

Wonogiri, utamakan keselamatan
Rm. A. Joko Purwanto, Pr
0 Comments

The Karate Kid

7/16/2026

0 Comments

 
Puncta 16 Juli 2026
Kamis Biasa XV
Matius 11: 28-30

TUAN HAN adalah tukang reparasi mobil yang miskin dan sederhana. Ia diminta oleh Dre Parker, anak remaja yang baru pindah ke Hongkong mengikuti ibunya, untuk  melatih kungfu. 

Dre pernah dikeroyok dan dipukuli sampai sekarat oleh Cheng, anggota kelompok beladiri.

Ceng merasa cemburu dan tidak suka karena Dre dekat dengan Meiying, teman sekolahnya. 

Karena itu Dre selalu dibully oleh Ceng dan gerombolannya. Saat dikeroyok dengan sadis itulah Tuan Han menolong Dre.

Tuan Han yang tidak tampak sebagai guru kungfu mengajarkan kepada Dre bahwa kungfu adalah seni menguasai diri, belajar ketenangan dan kedewasaan. 

Kunci seni beladiri ini bukan terletak pada kesombongan, kekuatan otot atau pukulannya, tetapi pengendalian diri.

Maka Tuan Han mengajari Dre penguasaan diri dan kedewasaan hidup dengan melakukan gerakan-gerakan sederhana yang dilatih terus menerus seperti mencantolkan jaketnya di hanger. 

Semakin pandai dan tinggi ilmu beladiri semakin rendah hati, lemah lembut dan welas asih dengan orang lain.

Yesus berkata kepada murid-murid-nya; “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. 

Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan.”

Dre Parker mengalami beban berat karena dibully, disiksa, dipukuli dan diserang dengan brutal oleh Ceng dan gerombolannya. 

Ia letih lesu dan putus asa sampai tidak mau sekolah. Untunglah dia berkenalan dengan Tuan Han yang lemah lembut, welas asih dan suka menolong.

Dia diberi pelajaran tentang ketenangan, pendewasaan, kelemah-lembutan dan kerendahan hati. 

Dengan nilai-nilai hidup itu, dia bisa mengalahkan kesombongan Ceng dan teman-temannya. Kebajikan seseorang justru dinilai dari semangat rendah hati dan kelembutan.

Kita bisa belajar dari tanaman padi. Semakin bernas bulir-bulir padi, semakin merunduk ke bawah. 

Semakin orang menjadi pintar, pandai dan berkuasa, semakin merunduk dan merendahkan diri. Semkin bijaksana semakin lemah lembut, rendah hati dan welas asih. 

Sepercik pantun buat anda:

Tong kosong berbunyi nyaring,
Air beriak-riak tanda tak dalam.
Orang sombong merasa sok penting,
Wajahnya manis tapi hatinya kejam.

Wonogiri, lemah lembut dan welas asih
Rm. A.Joko Purwanto, Pr
0 Comments

Oh Buona Ventura !

7/15/2026

0 Comments

 
Puncta 15 Juli 2026
Pw. St. Bonaventura, Uskup dan Pujangga Gereja
Matius 11:25-27 atau RUybs Matius 23:8-12

NAMA Bonavetura diberikan oleh Santo Fransiskus Asisi kepada anak kecil bernama Giovanni di Fidanza. 

Waktu itu Giovanni sakit, kemudian didoakan oleh Santo Fransiskus dan dia kemudian sembuh. 

Santo Fransiskus berucap, “Oh Buona ventura” artinya 'O keberuntungan (nasib) yang baik.'  Anak itu kemudian dipanggil Bonaventura. 

Kalau Santo Fransiskus di Jawa, mungkin dia berkata, “Oh beja banget.” Lalu anaknya akan dipanggil Beja, atau Slamet. 

Memang nasib baik menyertai Bonaventura. Ia kemudian masuk Ordo Fransiskan dan menjadi pembaharu dalam kehidupan membiara. 

Ia dipilih menjadi pemimpin ordo. Ia dijuluki sebagai pendiri kedua Ordo Fransiskan sesudah Santo Fransiskus Asisi.

Karyanya meluas tidak hanya untuk ordonya sendiri, tetapi juga untuk gereja universal. Pengajarannya sangat berpengaruh bagi iman, teologi dan karya pastroal. 

Namun dia tetap berpegang pada semangat kemiskinan yang mendasari kehidupan Fransiskan.

Sebagai pemimpin ordo, Bonaventura tidak ingin dipandang sebagai penguasa, tetapi dia banyak melayani dan memberi teladan bagi anak buahnya. 

Ia menjalankan semangat kemiskinan dengan tulus dan penuh kerendahan hati sehingga dicintai banyak orang.

Dalam bacaan Injil, Matius menegaskan agar murid Yesus tidak mencari gelar kehormatan, melainkan melayani dan merendahkan diri untuk ditinggikan oleh Allah. 

Kebesaran seorang pemimpin diukur dari kesediaanya melayani, bukan seberapa banyak orang melayani dia.

Yesus mengecam kemunafikan kaum Farisi karena meraka hanya mengejar citra diri. 

Pencitraan diri agar dilihat oleh orang banyak, tetapi senyatanya kosong tak ada isinya. Mereka hanya mencari pujian dan penghormatan.

Seorang pemimpin berkarya demi bonum commune atau kebaikan banyak orang, bukan menggunakan jabatan untuk menguasai demi kepentingan diri sendiri, menimbun harta kekayaan untuk keluarganya.

Jika pemimpin lebih sibuk mencari citra diri, anti kritik, merasa diri paling benar dan tidak mendengarkan aspirasi rakyat, apakah dia pemimpin? 

Jika ia lebih suka cari pujian, daripada mendengar keluhan penderitaan rakyat, lebih mengejar kuasa daripada melayani rakyat bawah? Apakah dia seorang pemimpin sejati?

Belajar dari Bonaventura, kita bisa melihat seorang pemimpin yang tulus dan rendah hati. Ia tetap menghayati hidup miskin kendati dia seorang pemimpin. Ia tetap bersahaja kendati dia adalah penguasa. 

“Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu. Dan barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan,” inilah pesan Yesus bagi kita.

Sepercik pantun buat anda:

Banyak bupati ditangkap KPK,
Kasus korupsi semakin merajalela.
Kalau kita mau jadi penguasa,
Jangan gila harta nanti masuk penjara.

Wonogiri, melayani bukan cari harta
Rm. A.Joko Purwanto, Pr
0 Comments

Bukan Mukjizat, Tetapi Bertobat

7/14/2026

0 Comments

 
Puncta 14 Juli 2026
Selasa Biasa XV
Matius 11:20-24

SETELAH upacara pemakaman Ayatollah Alie Khamenei, pemimpin Iran yang tewas oleh serangan Amerika beberapa bulan yang lalu, rakyat Iran mengecam dan mengancam akan mengadakan pembalasan kepada Amerika.

Pemakaman yang dihadiri oleh jutaan orang itu bak demontrasi besar-besaran terhadap Amerika. 

Mereka membawa spanduk-spanduk yang bertuliskan pesan kecaman dan pembalasan kepada Donald Trump. 

Sebaliknya, Trump melalui media sosial juga mengancam Iran. Jika nyawanya terancam, dia telah menyiapkan ribuan rudal untuk menghujani kota-kota di Iran. Saling kecam dan saling ancam terjadi di kedua belah pihak.

Tidak ada pihak yang mundur. Tidak ada pihak yang mau mengalah. Tidak ada usaha perdamaian. Tidak ada yang mau bertobat.

Perundingan yang telah dilaksanakan antara keduanya gagal tak ada hasilnya. Semua saling mengancam dan ingin membalas dendam.

Yesus mengecam beberapa kota yang tidak mau bertobat. Walaupun mereka telah melihat mukjizat-mukjizat yang dilakukan Yesus, namun mereka tetap tegar tengkuk. Mereka tidak mau mengubah cara hidupnya untuk kembali kepada Tuhan.

"Celakalah engkau Khorazim! Celakalah engkau Betsaida! Karena jika di Tirus dan di Sidon terjadi mujizat-mujizat yang telah terjadi di tengah-tengah kamu, sudah lama mereka bertobat dan berkabung,” sabda Yesus.

Mukjizat di Tirus dan Sidon terjadi pada anak perempuan dari Siro Fenisia yang dibebaskan Yesus dari kerasukan setan. 

Di Kapernaum Yesus banyak melakukan penyembuhan dan pengusiran setan. Kapernaum adalah pusat pelayanan Yesus.

“Dan engkau Kapernaum, apakah engkau akan dinaikkan sampai ke langit? Tidak, engkau akan diturunkan sampai ke dunia orang mati! 

Karena jika di Sodom terjadi mujizat-mujizat yang telah terjadi di tengah-tengah kamu, kota itu tentu masih berdiri sampai hari ini,” tegas-Nya.

Pertobatan diri dibutuhkan agar orang dapat menerima sabda Tuhan dan melaksanakannya. Orang tidak cukup hanya melihat mukjizat, tetapi tidak mau bertobat. 

Apa gunanya bisa melihat mukjizat kebangkitan orang mati, tetapi kalau tidak mau bertobat memperbaiki diri.

Yesus mengajak kita melakukan pertobatan diri dan pembaharuan hidup agar dapat mengalami keselamatan yang kekal. Marilah membuka hati untuk bertobat.

Sepercik pantun buat anda:

Pak Jaksa mundur dengan hormat,
Tapi dia ada catat MBG yang diembat.
Jika kita tidak mau bertobat,
Jangan harap bisa melihat mukjizat.

Wonogiri, harus bertobat
Rm.A.Joko Purwanto, Pr
0 Comments

Harta atau Surga?

7/13/2026

0 Comments

 
Puncta 13 Juli 2026
Senin Biasa XV
Matius 10:34-11:1

SEORANG umat pernah berkisah bahwa keluarganya yang memilih mengikuti Yesus dijauhi oleh saudara-saudaranya. 

Ketika orangtuanya masih hidup, mereka  rukun-rukun saja. Namun setelah orangtuanya meninggal, mereka berpisah karena perbedaan iman.

Keluarga Katolik ini perlahan-lahan dijauhi. Salah seorang saudaranya pernah berkata, ”Mas tinggal hari raya ini saja saya dan anak istri datang berkunjung di sini, tahun depan saya sudah tidak akan datang lagi karena keluargamu jadi Nasrani”

Saudara yang lain lagi menyalahkan karena mengikuti Yesus maka keluarganya tidak bisa kaya. Maka mereka membujuk untuk meninggalkan imannya agar bisa kaya. Mereka bilang menjadi miskin itu karena dikutuk Tuhan. 

Inilah konsekwensi mengikuti Yesus. Dalam perikope hari ini, Yesus bukan mau mengajarkan tentang perpecahan, kekerasan dalam rumah tangga dan masyarakat. Tetapi kondisi itu akan dihadapi para murid karena pilihan ikut Yesus.

Kesulitan-kesulitan di tengah keluarga akan muncul akibat keputusan menjadi murid Yesus. Kehadiran Yesus menyebabkan perbedaan pilihan dan akibatnya akan ada pemisahan di antara anggota keluarga. 

“Sebab Aku datang untuk memisahkan orang dari ayahnya, anak perempuan dari ibunya, menantu perempuan dari ibu mertuanya, dan musuh orang ialah orang-orang seisi rumahnya.”

Inilah konsekwensi salib yang harus dipikul para murid Yesus. “Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku.” 

Maksud “salib” di sini dipahami sebagai penderitaan yang ditanggung oleh seseorang karena menjadi pengikut Yesus. 

Salib yang paling berat adalah ketika orang itu ditolak atau dijauhi oleh anggota keluarga sendiri. Mereka menghakimi bahwa penderitaannya karena jadi Katolik. 

Rejeki seret karena jadi Katolik. Seorang murid Yesus harus sanggup menanggung salib seperti ini.

Namun Yesus berjanji barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya. 

Dia akan menganugerahkan kehidupan dan keselamatan kekal bagi mereka yang dengan teguh dan gigih berjuang sampai akhir. Maukah kita tekun berjuang?

Sepercik pantun buat anda:

Pak jaksa uangnya berkarung-karung,
Juga emas batangan yang menggunung.
Murid Yesus harus berani bertarung,
Melawan godaan yang bikin linglung.

Wonogiri, ikut memikul salib
Rm.A.Joko Purwanto, Pr
0 Comments

Tanah Macam Apa Kita?

7/12/2026

0 Comments

 
Puncta 12 Juli 2026
Minggu Biasa XV
Matius 13:1-23 (Mat: 13:1-19)

SEORANG petani akan melihat kualitas tanah yang akan ditanami. Selain itu ia juga harus pandai mengenali musim yang akan datang, agar tanaman tidak kekurangan nutrisi dan air. 

Ia akan membuat survey atau pengamatan macam tanah yang akan menghasilkan buah lebat. Tempat dimana benih ditabur harus tanah berhumus.

Petani juga harus memperhitungkan hama-hama yang akan menyerang tanamannya. Ada burung, wereng, monyet, tikus dan keong emas yang akan cepat menghabiskan batang pohon. Semua harus dihitung dengan masak, sebelum penanaman dilakukan.

Yesus memberi perumpamaan kepada orang banyak tentang kualitas hidup kita dengan gambaran penabur yang menaburkan benih di ladang. 

"Adalah seorang penabur keluar untuk menabur. Pada waktu ia menabur, sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu datanglah burung dan memakannya sampai habis. 

Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, yang tidak banyak tanahnya, lalu benih itupun segera tumbuh, karena tanahnya tipis.” 

Ada lagi benih yang jatuh di atas semak duri. Benih itu akan mati dibelenggu oleh kemewahan duniawi.

Benih yang jatuh ditanah yang baik akan menghasilkan buah limpah. Ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat. Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!"

Para pendengar diajak untuk merenungkan dirinya di posisi tanah macam apa. Kita semua yang mendengarkan kotbah Yesus ini mesti bertanya diri; “Tanah model apakah saya ini? 

Apakah kita ini tanah subur yang menghasilkan buah atau tanah tandus dan kering yang tidak menghasilkan apa-apa?

Tanda sebagai tanah baik adalah hidup penuh rasa syukur, banyak teman yang ada di sekitar kita, banyak orang yang mengasihi karena kebaikan dan ketulusan hati kita pada orang lain. 

Marilah menebar kebaikan supaya kita boleh memetik hasil dari kebaikan kita.

Sepercik pantun buat anda:

Tanah yang subur banyak buahnya,
Banyak buah dimakan kelelawar.
Sering berbuat baik untuk sesama,
Bikin hati damai, tentram dan sabar.

Wonogiri, ada senja yang bahagia 
Rm. A.Joko Purwanto, Pr
0 Comments
<<Previous
Forward>>

    Archives

    December 2034
    July 2026
    June 2026
    May 2026
    April 2026
    March 2026
    February 2026
    January 2026
    December 2025
    November 2025
    October 2025
    September 2025
    August 2025
    July 2025
    June 2025
    May 2025
    April 2025
    March 2025
    February 2025
    January 2025
    December 2024
    November 2024
    October 2024
    September 2024
    August 2024
    February 2024
    February 2022
    January 2022
    December 2021
    November 2021
    October 2021
    July 2021

    Categories

    All
    Hello Romo!
    Katekese
    Puncta
    Rubrik Alkitab

    RSS Feed

Site powered by Weebly. Managed by Rumahweb Indonesia
  • Home
  • Profil Paroki
  • Katekese
  • Pelayanan
  • Berita Paroki