|
Puncta 8 November 2026
Minggu Biasa XXXII Matius 25:1—13 PERINGATAN Sumpah Pemuda, 28 Oktober 2026 diwarnai demo dari para mahasiswa di Jakarta. Di antara mereka tampil Srikandi-Srikandi hebat yang menyuarakan aspirasi rakyat yang sedang susah. Mereka adalah Fathimah Azzahra (Universitas Indonesia), Zahra Nazira Firman (Universitas Trisakti) dan Naomi Artika Simamora (Universitas Palangka Raya). Dengan jaket alma maternya mereka berorasi dengan berani bahkan harus berdebat menembus barisan polisi dengan tameng dan pentungan. Mereka memprotes pemerintah yang tidak peduli terhadap kebakaran hutan, rakyat yang makin menderita karena pajak dan biaya hidup. Tanggal 29 Oktober 2026 ada demo tandingan yang dihadiri Raffi Ahmad, Utusan Khusus Presiden Bidang Pembinaan Generasi Muda dan Pekerja Seni. Ada juga mahasiswi gadungan bernama Sari Putri yang mengenakan jas almamater Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) palsu. Ketika ditanya dari universitas mana, Sari gelagapan tidak bisa menjelaskan. Akhirnya dia minta maaf kepada publik karena hanya disuruh hadir dalam acara itu dan dipinjami jaket kampus UBSI. Raffi Ahmad pun diprotes jutaan netizen dengan beramai-ramai boikot seluruh acaranya. Nampak disini mana mahaisiwi yang cerdas, bijaksana dan lantang bersuara memperjuangkan nasib rakyat dan mahasiswi gadungan yang dibayar dan bodoh tidak tahu apa-apa, hanya ikut-ikutan tanpa punya kepedulian terhadap nasib rakyat. Yang penting dapat duit dan nasi bungkus. Yesus memberi perumpamaan tentang lima gadis bodoh dan lima gadis bijaksana. Yang bodoh datang ke pesta perjamuan membawa pelita tetapi tidak menyiapkan minyak. Lima gadis yang bijaksana, selain membawa pelita tetapi juga minyak dalam buli-buli. Ketika malam tiba, gadis-gadis bodoh itu bingung karena minyak dalam pelita hampir habis. Akhirnya mereka tidak bisa mengikuti pesta perjamuan nikah. Sedang gadis-gadis bijaksana bisa masuk ke perjamuan karena menyiapkan segala kemungkinan. Yesus mengajak kita untuk bersiap siaga dengan bijaksana karena kita tidak tahu kapan saatnya Tuhan datang. Ia berkata, “Karena itu, berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu akan hari maupun akan saatnya." Raffi Ahmad itu seperti gadis-gadis yang tidak membawa minyak. Ia ditinggalkan jutaan fans karena tidak bijaksana membuat pilihan dan keputusan. Tidak mau berpihak pada rakyat yang sedang menderita. Berbanding terbalik dengan gaya hidup dan kekayaannya. Jangan menyesal kalau nanti rakyat menghukumnya. Mari kita punya nurani dan peka melihat derita massa. Bersikap bijaksana dalam tindakan dan tutur kata agar tidak menyakiti rakyat yang sedang putus asa. Maka bijaksanalah dalam menghadapi kehidupan ini. Sepercik pantun buat anda: Gadis bodoh tidak bawa minyak, Yang bijaksana masuk ke dalam pesta. Derita rakyat bertambah banyak, Para elite hanya saling berebut kuasa. Wonogiri, salam perjuangan tiga jari Rm. A. Joko Purwanto, Pr
0 Comments
Leave a Reply. |
Archives
December 2034
Categories |
RSS Feed