|
Puncta 5 Oktober 2026
Senin Biasa XXVII Lukas 10:25-37 ADA pemandangan beda di Kampus Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta. Terlihat seorang biarawati dengan jubah, slayer penutup kepala dan kalung salib di dadanya melangkah tenang di antara para mahasiswa-mahasiswi Muhamadiyah. Dia adalah Sr. M. Felika SCMM yang kuliah di UAD mengambil jurusan Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini angkatan 2024. Ia diterima dengan sukacita oleh teman-temannya walau mereka berbeda agama, suku dan budaya. Inilah gambaran inklusivitas sesungguhnya bagi mereka yang menghargai martabat manusia. Kendati beragam dan berbeda namun kemanusiaan adalah sama. Kita semua sama derajatnya di hadapan Tuhan. Agama yang benar adalah agama yang menghargai martabat manusia apa adanya. Ia tidak membeda-bedakan latar belakangnya. Semua orang diterima dan dihargai bahkan dibantu untuk mengembangkan hidupnya. Kisah Orang Samaria yang baik hati dikisahkan oleh Yesus untuk mengkritik kelompok-kelompok yang suka membeda-bedakan sesamanya. Orang Samaria dan Orang Yahudi saling curiga dan bermusuhan. Mereka tidak mau bergaul satu sama lain. Alkisah, ada orang yang dirampok habis-habisan dan terluka di pinggir jalan. Ada imam lewat di situ, tetapi dia tidak mau menolongnya. Ada Levi juga lewat di situ tetapi melewatinya. Padahal mereka itu adalah ahli-ahli agama dan kitab suci. Lewatlah orang Samaria, yang dimusuhi oleh kaum Yahudi. Orang ini datang merawat dan membalut lukanya. Ia membawanya ke penginapan untuk dirawat. Bahkan ia masih memberi uang untuk biaya pengobatan. Kalau masih kurang, ia bermurah hati siap menambahi saat ia kembali. Yesus bertanya; siapakah sesama bagi orang yang menjadi korban perampokan tadi? Bukan imam, bukan Levi, tetapi orang Samaria yang dibenci dan dicurigai. Sesama tidak dibatasi oleh suku, agama, etnis, status sosial. Sesama adalah mereka yang menunjukkan belaskasih kepada siapapun tanpa membeda-bedakan. Cinta paling murni bukan mereka yang bersatu, tetapi yang berbeda-beda namun tulus memberi tanpa menuntut balasan atau pujian. Beranikah kita mengasihi tanpa membeda-bedakan? Sepercik pantun buat anda: Kabut asap ada di Kalimantan, Sangat mengganggu penerbangan. Kasih tidak membeda-bedakan, Ia memberi tanpa meminta balasan. Wonogiri, mengasihi sampai Gunung Sinai Rm. A. Joko Purwanto, Pr
0 Comments
Leave a Reply. |
Archives
December 2034
Categories |
RSS Feed