|
Puncta 10 Oktober 2026
Sabtu Biasa XXVII Lukas 11:27-28 SESANTI atau doa ini adalah harapan semua orangtua. “Mikul dhuwur” artinya anak bisa menghormati orangtua setinggi mungkin dan menjaga nama baik keluarga atau masyarakat. Sedangkan “Mendhem jero” artinya dapat mengubur dalam-dalam kekurangan atau aib keluarga. Konsep ini punya makna filosofis bahwa setiap anak punya kewajiban untuk menjunjung tinggi kebaikan, jasa, dan kehormatan serta harga diri keluarga, sekaligus menutup rapat kekurangan, kesalahan, atau aib mereka. Dengan menjadi anak yang baik, hormat, tahu tentang tata krama dan sopan santun, menghargai sesama dan penuh bakti, seorang anak dapat menjunjung martabat keluarga. Orangtua pasti bangga jika anaknya berhasil menjadi orang yang baik dan tahu berterimakasih. Dalam etika Jawa, manusia tidak hidup seorang diri tetapi terikat oleh nilai-nilai moral dan sosial. Menghormati orangtua dan leluhur tidak hanya persoalan membalas budi, tetapi menjaga harmoni batin dan tatanan keselarasan sosial. Kebaikan yang diwariskan harus terus dikembangkan dan dihayati sebagai habitus keluarga. Kekurangan atau keburukan keluarga tidak perlu dibuka tetapi dikubur dalam-dalam karena bisa merusak martabat dan harmoni keselarasan. Anak yang berbakti kepada keluarga akan berusaha “mikul dhuwur mendhem jero” dengan tabiat, perilaku dan tindakan yang baik dalam kehidupan di tengah masyarakat. Dengan demikian dia akan membawa nama harum bagi keluarganya. Melihat hidup, karya dan pelayanan Yesus, seorang ibu memuji dengan berkata: “Sungguh berbahagia wanita yang melahirkan dan menyusui Engkau!” Wanita itu melihat apa yang dilakukan Yesus membawa kebahagiaan dan kebanggaan seorang ibu yang melahirkannya. Namun Yesus menegaskan bahwa yang lebih berbahagia adalah setiap orang yang mendengarkan dan melaksanakan sabda Tuhan dengan tekun dan setia. Yesus menjawab, “Lebih berbahagia lagi orang yang mendengar perkataan Allah dan menjalankannya!” Kebahagiaan bukan dipandang secara sempit bagi orangtua atau keluarga. Kebahagiaan bisa dialami oleh setiap orang asal dia mau mendengarkan dan melaksanakan sabda Tuhan. Syarat orang menjadi bahagia adalah menjadi pendengar dan pelaksana sabda. Maukah kita hidup bahagia? Bersiaplah mendengarkan dan melaksanakan sabda Tuhan. Sepercik pantun buat anda: Ziarah menuju Bukit Golgota, Ikut Yesus dalam duka sengsara. Jadilah orang baik dan berguna, Bisa menjunjung martabat keluarga. Wonogiri, menyusuri lorong-lorong sempit Yerusalem Rm. A. Joko Purwanto, Pr
0 Comments
Leave a Reply. |
Archives
December 2034
Categories |
RSS Feed