|
Puncta 21 September 2026
Pesta St. Matius, Rasul dan Penginjil Matius 9:9-13 RAMA MANGUNWIJAYA (1929-1999) adalah imam Diosesan Keuskupan Agung Semarang yang hidup bersama kaum miskin di bantaran Kali Code, dekat jembatan Gandalayu, Yogyakarta. Ia dikenal sebagai arsitek, penulis, budayawan dan aktivis sosial. Ia dijuluki pembela “wong cilik.” Ia berinteraksi langsung dengan para pemulung, tukang becak, penjaja koran, penyemir sepatu, dan kaum miskin yang hidup dengan rumah dari kardus-kardus bekas di pinggir Code. Ketika Pemkot Yogyakarta akan menggusur mereka, Rama Mangun protes dengan mogok makan. Ia membina warga masyarakat bawah agar memiliki harga diri. Ia mendampingi warga Code dengan berbagai ketrampilan. Membangun rumah ramah lingkungan dan bersih sehingga menjadi percontohan. Rama Mangun sungguh menyatu dengan kaum miskin. Mereka membutuhkan pendampingan agar tidak jadi tumbal pembangunan kota. Ia hidup bersama warga yang dipinggirkan, dibuang dan dianggap sampah masyarakat. Kedekatannya dengan anak-anak Code dipakai untuk menasehati mereka, “Oleh wae ibumu lonte, tapi kowe ora oleh dadi lonte.” Boleh saja ibumu seorang pelacur, tetapi kamu tidak boleh jadi pelacur juga.” Ia ingin mengubah dan mengangkat derajat hidup mereka. Yesus memanggil Matius seorang pemungut cukai yang disingkiri masyarakat. Pemungut cukai dianggap pengkhianat bangsanya karena menindas rakyat dengan memungut pajak tinggi. Mereka disebut para pendosa. Yesus bahkan makan bersama Matius dan teman-temannya di rumahnya. Hal ini membuat banyak orang bersungut-sungut. Kaum Farisi melihat hal itu, berkatalah mereka kepada murid-murid Yesus: "Mengapa gurumu makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?" Yesus menjawab, "Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit. Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa." Inilah panggilan keselamatan. Yesus datang bukan untuk orang sehat, tetapi orang sakit.Yesus datang bukan untuk orang benar, tetapi orang berdosa. Apakah kita berani mengambil pilihan seperti Yesus? Ataukah kita lebih memilih yang enak, nyaman, menyenangkan dan tanpa resiko? Sepercik pantun buat anda: Kalau sakit minumlah Antangin, Biar badan terasa hangat di dada. Yesus datang untuk orang miskin, Kita malah melayani yang berharta. Wonogiri, layani yang miskin Rm. A. Joko Purwanto, Pr
0 Comments
Leave a Reply. |
Archives
December 2034
Categories |
RSS Feed