|
Puncta 28 September 2026
Senin Biasa XXVI Lukas 9:46-50 BANYAK di antara kita yang suka mengejar kekuasaan. Kekuasaan dipandang sebagai simbol kebesaran. Maka tidak heran kita sering menghalalkan segala cara agar memperoleh kekuasaan. Perebutan kekuasaan bisa membawa korban. Bahkan yang dulu adalah teman, karena kekuasaan bisa menjadi lawan yang saling menjatuhkan. Kisah Ken Arok dengan keris Empu Gandring yang membawa banyak korban menjadi peringatan kepada kita semua agar berhati-hati dengan kekuasaan. Kisah Haryo Penangsang yang tewas oleh Danang Sutawijaya juga karena perebutan kekuasaan. Manusia yang suka mengejar kekuasaan kadang lupa dengan sesama atau kawannya. Antar saudara menjadi bermusuhan hanya karena kekuasaan. Sampai sekarang perebutan kekuasaan masih terjadi di Keraton Kasunanan Surakarta. Ada dua raja kembar di Surakarta yang sama-sama mengklaim bergelar Pakubowono XIV yakni Gusti Purbaya dan Gusti Mangkubumi. Mereka berdua dengan dukungan kerabat masing-masing merasa berhak atas tahta keraton. Yesus mengingatkan kepada para murid-Nya ketika mereka bertengkar tentang siapa yang terbesar di antara mereka. Ia berkata, “Barangsiapa menyambut anak ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku; dan barangsiapa menyambut Aku, ia menyambut Dia, yang mengutus Aku. Karena yang terkecil di antara kamu sekalian, dialah yang terbesar.” Yang terbesar adalah mereka yang rela merendahkan diri dan menjadi pelayan bagi semuanya. Sikap kerendahan hati dan mau menjadi yang terkecil itulah yang menjadi tolok ukur kebesaran seseorang. Kebesaran tidak diukur oleh kekuasaan seseorang tetapi bagaimana dia mampu menghargai sesamanya dan membuat hidup menjadi bermanfaat bagi orang lain. Apa gunanya kekuasaan kalau dengannya orang malah menindas dan merendahkan sesamanya. Sikap fanatisme sempit dan eksklusif buta dari para murid tidak dibenarkan oleh Yesus. Siapapun boleh berbuat baik. Kebaikan tidak hanya milik kita. Klaim sepihak seperti itu tidak dibenarkan. Yesus berkata: “Jangan kamu cegah, sebab barangsiapa tidak melawan kamu, ia ada di pihak kamu.” Mari kita bersikap rendah hati dan terbuka dengan kebaikan orang lain. Sepercik pantun buat anda: Piknik ke Malioboro naik pedati, Lewat kota yang tak pernah sepi. Marilah kita bersikap rendah hati, Seperti padi yang penuh berisi. Wonogiri, rendah hati bagi sesama Rm. A. Joko Purwanto, Pr
0 Comments
Leave a Reply. |
Archives
December 2034
Categories |
RSS Feed