|
Puncta 26 September 2026
Sabtu Biasa XXV Lukas 9:43b-45 PEPATAH berkata; “Emas dimurnikan dengan api.” Untuk menghasilkan emas 24 karat, orang harus menggunakan api yang panasnya mencapai 1.064 derajat Celcius. Panas api akan memisahkan lelehan emas dari kotoran sehingga terbentuk emas yang murni dan berkilau. Makna dari pepatah itu adalah kualitas karakter pribadi seseorang akan terbentuk melalui proses yang sulit dan penuh dengan penderitaan. Kesulitan hidup adalah batu uji yang memurnikan sifat-sifat dan kualitas hidup seseorang. Dengan berbagai tantangan dan kesulitan, orang dibentuk menjadi pribadi yang matang, dewasa dan berkarakter. Api adalah lambang pemurnian melalui derita dan tantangan di tengah kehidupan. Pribadi kita akan menjadi berkilau cemerlang jika mampu melewati aneka macam batu ujian. Yesus mengungkapkan pewahyuan Diri-Nya yang sebenarnya kepada para murid-Nya. Ia dengan terus terang berkata; "Dengarlah dan camkanlah segala perkataan-Ku ini: Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia." Berita ini tidak bisa dipahami oleh para murid-Nya. Mereka hanya melihat Yesus sebagai Kristus yang jaya. Mereka hanya mengenal Yesus yang banyak membuat mukjizat, menyembuhkan banyak penyakit, memberi makan limaribu orang dan mengusir setan-setan. Tidak terbayang bagi mereka Yesus yang gagal, menderita dan mati di tangan para tua-tua bangsa Israel. Mereka tidak bisa menangkap arti penderitaan Yesus yang harus memanggul salib dan dihina serendah-rendahnya. Lukas menulis; “Mereka tidak mengerti perkataan itu, sebab artinya tersembunyi bagi mereka, sehingga mereka tidak dapat memahaminya.” Banyak juga dari kita yang tidak mampu memahami makna salib dan penderitaan. Bahkan kalau bisa, kita semua akan menghindari dan menepis segala derita dan kegagalan. Tetapi perlahan-lahan Yesus membuka tabir kepada para murid arti dari “Emas dimurnikan oleh api.” Iman yang murni harus dilewati dengan derita dan tantangan. Kita mesti belajar dari Yesus yang menerima salib dan penderitaan sebagai jalan menuju kepada keselamatan. Kita mesti juga berani mengikuti Yesus yang menerima penderitaan untuk mencapai kemuliaan. Emas akan nampak berkilau dan cemerlang kalau dia dipanaskan sehingga semua kotoran bisa dibuang agar kemurnian emas menjadi nampak indah. Kita pun sebagai pribadi juga harus dimurnikan dengan penderitaan, kegagalan dan tantangan agar menjadi pribadi yang matang berkualitas tinggi. Sepercik pantun buat anda: Berakit-rakit ke hulu, Berenang-renang ke tepian. Bersakit-sakit dahulu, Bersenang-senang kemudian. Wonogiri, tahan uji hadapi derita hidup Rm. A.Joko Purwanto, Pr
0 Comments
Leave a Reply. |
Archives
December 2034
Categories |
RSS Feed