|
Puncta 13 Oktober 2026
Selasa Biasa XXVIII Lukas 11:37-41 KITA semua sedang gelisah penuh tanya. Apa yang salah dengan negeri kita ya? Korupsi merajalela dari pusat sampai ke daerah. Berapa saja bupati dan walikota tertangkap KPK karena kasus korupsi dan pencucian uang. Padahal kita melihat rumah ibadah penuh sesak di mana-mana. Sekolah berbasih agama menjamur seperti cendawan di kampung dan desa-desa. Di berbagai stasiun televisi para pendakwah mengadakan ceramah rohani hampir setiap waktu tiada habisnya. Banyak orang hapal ayat-ayat Kitab Suci, dimana-mana ada tukang tafsir yang ahli, tetapi kenapa korupsi tidak bisa berhenti? Tiap hari raya keagamaan banyak orang berbondong-bondong pergi ke tempat ibadah. Tapi kenapa korupsi terus muncul setiap hari? Masyarakat bawah sudah berdemo mendesak agar DPR mengesahkan UU Perampasan aset dan menghukum seberat-beratnya bagi para koruptor. Tetapi para pembuat kebijakan “mlempem kayak krupuk,” senang memberi harapan kosong pada rakyat kecil. Tetapi tidak ada action nyata. Banyak orang mengucapkan sumpah jabatan sebelum dilantik. Tetapi sumpah itu menguap saat berhadapan dengan amplop dan suap menyuap. Slogan-slogan diucapkan ingin berjuang demi kemakmuran rakyat. Setelah menjabat hanya mikir bagaimana mengembalikan modal yang telah lenyap. Kemunafikan itulah yang dipertontonkan di tengah kehidupan yang makin absurd ini. Yesus datang membuka topeng-topeng kemunafikan kaum Farisi. "Kamu orang-orang Farisi, kamu membersihkan bagian luar dari cawan dan pinggan, tetapi bagian dalammu penuh rampasan dan kejahatan.” Yesus mengkritik kaum Farisi yang memamerkan kesalehan dari luar agar dipuji dan dihormati orang. Tetapi kehidupannya yang terdalam penuh dengan rampasan dan kejahatan. Kita sebenarnya juga sedang dikritik oleh Yesus. Sikap hipokrit yang melekat dalam diri kita harus dibongkar. Topeng-topeng kemunafikan itu harus dibuang. Membersihkan dari dalam yakni mental korup dan serakah harus kita dilakukan. Tidak ada gunanya sering beribadah, hapal ayat-ayat, berpenampilan agamis, tetapi hanya dipakai sebagai topeng kemunafikan. Bersihkanlah bagian dalammu maka yang diluar juga akan bersih. Itulah pesan perikope hari ini. Sepercik pantun buat anda: Naik pedati di tengah kota, Menyusuri toko-toko busana. Bukalah topengmu di muka, Hidup jujur tanpa berpura-pura. Wonogiri, memasuki perbatasan Yordania Rm. A. Joko Purwanto, Pr
0 Comments
Leave a Reply. |
Archives
December 2034
Categories |
RSS Feed