Puncta 21 Juli 2025
Senin Biasa XVI Matius 12: 38-42 TANDA adalah sesuatu yang dipakai untuk menunjukkan pesan atau pernyataan sebuah peristiwa. Ijasah misalnya, adalah sebuah kertas khusus yang dipakai untuk menyatakan bahwa orang itu lulus dalam suatu proses pendidikan. Ijasah palsu atau asli itu urusan lain. Kepala pusing, perut mual-mual itu adalah tanda yang menyatakan badan sedang sakit atau tidak baik-baik saja. Maka harus dibawa ke dokter untuk periksa. Kalau kita pergi melayat, itu juga sebuah tanda yang berbicara pada kita bahwa suatu saat kita akan mengalami hal yang sama. Lalu apa yang perlu kita persiapkan? Gejala-gejala alam juga merupakan tanda. Penduduk di lereng Merapi tahu kalau binatang-binatang turun ke kampung artinya gunung itu akan mengeluarkan lava panas. Maka penduduk harus waspada untuk siap-siap mengungsi. Orang yang peka, tajam hati dan pikirannya tahu akan tanda-tanda di sekitarnya. Kali ini para ahli Taurat datang pada Yesus meminta suatu tanda. Pada waktu itu berkatalah beberapa ahli Taurat dan orang Farisi kepada Yesus: "Guru, kami ingin melihat suatu tanda dari pada-Mu." Mereka ingin melihat suatu bukti bahwa Yesus datang dari Allah. Mata hati mereka tidak mampu melihat apa yang diajarkan, dibuat dan dilakukan Yesus itu adalah sebuah tanda. Membuat mukjizat menyembuhkan orang sakit, membangkitkan orang mati, menghardik badai, mengusir setan-setan tidak mereka lihat sebagai tanda. Tetapi jawab-Nya kepada mereka: "Angkatan yang jahat dan tidak setia ini menuntut suatu tanda. Tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi Yunus.” Yesus tidak mau menanggapi orang yang tidak percaya. Untuk apa diberi tanda jika mereka tidak mau percaya. Yang perlu bagi kita membuka hati agar peka melihat tanda-tanda dari Tuhan dengan dasar iman kepercayaan. Kepekaan hati akan membantu kita melihat tanda-tanda kehidupan. Kita bisa mengantisipasi apa yang akan terjadi dan menyiapkan diri dengan baik. Mari kita peka terhadap tanda-tanda di sekitar kita. Berendam di pemandian Maribaya, Takut “mentas” karena tidak bercelana. Dengan tanda-tanda Tuhan berbicara, Kita diajak membuka hati dan percaya. Wonogiri, lihatlah tanda-tanda Rm. A.Joko Purwanto, Pr
0 Comments
Puncta 20 Juli 2025
Minggu Biasa XVI Lukas 10: 38-42 DALAM program paroki, kami membuat kegiatan kunjungan keluarga untuk menyapa umat di lingkungan-lingkungan. Sudah disepakati bersama bahwa dalam kunjungan, keluarga tidak perlu menyediakan makan dan minum. Yang pokok adalah romo bisa bertemu dengan seluruh keluarga dan bisa ngobrol santai “ngalor-ngidul.” Tetapi orang Jawa itu sungkan dan tidak enak, ada tamu kok tidak disuguhi. Maka sibuklah tuan rumah mempersiapkan makan dan minum. "Nganak- anakke." Tujuan utama untuk berdialog dan wawan hati tidak tercapai karena yang dikunjungi malah sibuk menyiapkan hidangan ini dan itu. Begitulah dalam kunjungan-Nya ke Betania, Yesus bertamu ke rumah Marta dan Maria. Marta sibuk menyiapkan segala sesuatu untuk tamu yang dihormati. Ia ribut ke sana ke mari untuk membuat hidangan terbaik. Sedang Maria duduk dekat Yesus dan mendengarkan Dia. Inilah tujuan Yesus datang. Ia ingin berwawanhati dengan mereka. Tetapi cara mereka menerima-Nya berbeda-beda. Padahal hanya satu yang dikehendaki Yesus yakni perjumpaan. Kadang kita sibuk dengan hal-hal yang tidak penting kala berjumpa dengan Yesus dalam doa. Pikiran kita melayang-layang kemana-mana memikirkan hal-hal yang tidak perlu. Padahal yang diperlukan hanyalah duduk diam di hadapan Tuhan. Kadang kita terlalu menyibukkan diri dengan hal-hal yang tidak perlu dan mengabaikan Tuhan yang berbicara pada kita. Kita seperti Marta yang sibuk sendiri. Tetapi Tuhan berkata: "Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya." Mari kita bisa membuat prioritas, dari hal-hal yang baik itu mana yang paling pantas untuk berjumpa dengan Tuhan. Yesus sudah “keraya-raya” datang menjumpai kita. Maka janganlah menyibukkan diri dengan hal yang tidak berguna. Makan nasi dibungkus daun kelapa, Lauknya ayam goreng bagian kepala. Yesus ingin berbicara dengan kita, Jangan kita sibuk dengan hal tak berguna. Wonogiri, sabar untuk mendengar Rm. A. Joko Purwanto,Pr Puncta 19 Juli 2025
Sabtu Biasa XV Matius 12:14-21 KETIKA musim tebu tiba, kita bisa mendapatkan buluh atau batang dari bunga-bunga tebu yang menjulang. Buluh tebu atau glagah itu rapuh karena di dalamnya ada rongga kosong. Maka kalau kena angin buluh-buluh itu bisa terkulai dan putus. Dari buluh tebu itu kita bisa bikin mainan; bikin suling yang dilubangi kecil-kecil; bikin roda mobil-mobilan. Sambil mengambil glagah, kami juga sering mencuri tebu-tebu di sawah. Dikejar-kejar oleh Pak Mandor itu pengalaman yang sangat seru dan mendebarkan. Ada gejolak adrenalin yg kuat. Yesus mengambil contoh buluh yang terkulai dan sumbu yang hampir padam untuk menggambarkan kasih Allah yang tidak mematikan, tetapi justru dipelihara agar tetap hidup. Ketika nyala sumbu pelita mulai redup, ia tidak dimatikan, tetapi disambung agar tetap menyala. Ini adalah sikap Allah yang tidak memupus harapan tetapi justru menghidupkan. Buluh yang terkulai atau sumbu yang redup adalah lambang kehidupan kita. Kadang kita mengalami beban berat, putus asa dan tiada harapan. Kita rentan alami redup bahkan gagal dalam hidup. Di mata manusia, buluh yang terkulai dan sumbu yang padam dianggap sudah tidak ada gunanya. Apalah untungnya menyimpan barang yang sudah rusak. Tetapi bagi Allah, kegagalan atau kehancuran tidak menjadi alasan untuk tidak mengasihinya. Justru Allah peduli dengan orang yang lagi patah harapan. Kalau ada teman yang jatuh, gagal, kita sering menyingkirinya dan mengasingkan atau bahkan membuangnya. Namun Allah tidak akan menghancurkan hidup kita. Allah akan tetap memelihara kita yang mudah jatuh dan gagal. Apakah kita berani mengambil sikap seperti Allah jika ada teman kita yang jatuh, terkulai, putus asa, gagal dan hampir padam semangatnya? Apakah kita punya empati kepada mereka yang sedang terpuruk? Pergi ke Solo dengan naik taksi, Sampai di pasar beli gudeg nasi. Mengasihi diawali dengan empati, Yang gagal dan jatuh jangan dijauhi. Wonogiri, memberi harapan Rm.A. JokoPurwanto, Pr Puncta 18 Juli 2025
Jum’at Biasa XV Matius 12: 1-8 KETIKA saya bertanya pada Meta AI, mengapa di Indonesia banyak rumah ibadah, tetapi korupsi merajalela? Meta AI menjawab; korupsi dan religiusitas memiliki hubungan yang kompleks di Indonesia. Meskipun mayoritas penduduk mengaku bahwa agama sangat penting dalam hidup mereka, namun tingkat korupsi di negara ini masih tinggi. Beberapa faktor yang berkontribusi terhadap hal ini adalah; Pertama, Struktur hirarki keagamaan yang sangat ketat dapat berkorelasi dengan tingkat korupsi yang lebih tinggi. Struktur hirarki dapat menciptakan stratifikasi dan penyalahgunaan kekuasaan. Kedua, kesenjangan antara ritual dan perilaku sosial. Banyak orang menjalankan agama hanya sebatas ritual, tanpa memahami nilai-nilai moral dan etika yang terkandung di dalam ajaran agama. Inilah yang terjadi antara Kaum Farisi dan murid-murid Yesus. Kaum Farisi hanya memandang agama sebagai suatu ritual. Hukum agama atau aturan-aturan dibaca secara leterlijk tanpa dasar kasih sayang. Salah satu yang menjadi polemik adalah aturan Hari Sabat. Pada hari Sabat menurut hukum tidak boleh melakukan pekerjaan. Tapi murid-murid Yesus memetik biji gandum dan memakannya. Ini sebuah pelanggaran dan najis bagi para Farisi. Mereka lebih suka menghakimi dan menyalahkan orang lain daripada memperbaiki diri sendiri. Mereka lebih takut pada aturan agama daripada menjalankan kebaikan untuk sesama. Merasa lebih berdosa melanggar aturan agama daripada merampas uang rakyat dengan korupsi. Inilah kesenjangan antara kata dan tindakan, antara ajaran dan praktek hidup. Yesus menasehati orang-orang Farisi itu; “Jika memang kamu mengerti maksud firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, tentu kamu tidak menghukum orang yang tidak bersalah.” Mari kita belajar memahami maksud dan kehendak Tuhan, bukan memaksakan kehendak dan pikiran kita sendiri. Kita mudah sekali menggunakan dalil agama untuk mengadili orang lain. Ada ijasah palsu alias abal-abal, Tetapi bisa dipakai untuk ikut festival. Ada kesenjangan antara ritual dan moral, Karena kita hidup tidak pakai nalar akal. Wonogiri, mari menggunakan nalar Rm. A.Joko Purwanto, Pr Puncta 17 Juli 2025
Kamis Biasa XV Matius 11:28-30 DALAM kisah pewayangan sering diceritakan para ksatria Pandawa datang kepada seorang Resi yang bijaksana yaitu Resi Wiyasa atau Abiyasa. Dia mesanggrah di Padepokan Ratawu, Saptaarga. Siapapun datang kepada Begawan atau Resi yang bijaksana dan saleh itu untuk “curhat” meminta nasehat, petunjuk dan “ngudhari ruwet rentenging prakara,” untuk memecahkan masalah-masalah pelik. Segala persoalan dan perkara menjadi terang benderang jika para ksatria itu datang ke Padepokan Saptaarga. Mereka merasa dicerahkan, diberi jalan dan petunjuk untuk menghadapi kehidupan. “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Kupun ringan,” Sabda Yesus. Sabda Yesus ini adalah sabda yang menyejukkan bagi siapa pun. Kita diundang kepada-Nya ketika sedang mengalami letih lesu dan berbeban berat. Kita diajak untuk belajar kepada Yesus yang lemah lembut dan rendah hati. Hanya datang! Ya Yesus membuka hati untuk kita. Kadang kita sulit memberi waktu untuk datang kepada-Nya. Duduk berdua dengan Yesus. Mendengarkan Dia dalam doa hening. Sudahkah kita memberi waktu sejenak, “Me Time” dengan Yesus? Sisihkan dan relakan waktumu sepuluh atau limabelas menit saja bersama Tuhan setiap hari. Pasti kita akan mendapatkan kekuatan dan daya hidup yang tak akan padam. “Me Time” dengan Tuhan itu seperti batterey charger yang terus menyala. “Datanglah kepada-Ku,” Yesus sudah menawarkan diri. Marilah kita segera tanggapi dengan menyisihkan waktu dan menemui-Nya dalam doa hening. Malam-malam tidur di Seminari, Ada suara renyah di balik jendela. Tuhan sudah menawarkan diri, Kita diundang menghadap-Nya. Wonogiri, Me Time dengan Tuhan Rm. A. Joko Purwanto, Pr Puncta 16 Juli 2025
Rabu Biasa XV Matius 11:25-27 KETIKA kehidupan rakyat di Kerajaan Amarta carut marut; para pemimpin hanya mengeruk kekayaan untuk diri sendiri, korupsi merajalela dari atas sampai bawah secara terang-terangan, banyak pajak mencekik rakyat, penguasa berebut menguasai sumber daya alam, PHK dimana-mana, rakyat sedang menjerit. Institusi agama tidak memberi contoh yang baik, bahkan kongkalikong mengolah hasil tambang di negeri yang gemah ripah lohjinawi ini. Banyak rakyat yang terjepit dan menjerit namun tak mendapat keadilan. Para pemimpin sibuk memikirkan keluarganya sendiri, Adalah Semar, rakyat jelata yang punya inisiatif membangun Kahyangan. Kahyangan adalah suasana yang aman, damai, tentram, rukun, guyub dan penuh kasih sayang. Semar memikirkan bagaimana rakyat kecil bisa hidup tenang dan nyaman, damai sejahtera. Semar adalah abdi, gambaran orang kecil yang hati dan budinya murni tanpa pamrih. Pikirannya jernih menuju kepada kebaikan bersama. Ia hidup sederhana dan mensyukuri segala anugerah Tuhan. Pada waktu itu berkatalah Yesus: "Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil.” Mari kita renungkan kata-kata bijak para leluhur kita dulu: ”Ora kabeh wong pinter kuwi bener” (tidak semua orang pintar itu benar) “Ora kabeh wong bener kuwi pinter” (tidak semua orang benar itu pintar) “Akeh wong pinter ning ora bener” (banyak orang yang pintar tapi tidak benar) “Lan akeh wong bener senajan ora pinter” (banyak orang benar meskipun tidak pintar) “Nanging tinimbang dadi wong pinter ning ora bener, Luwih becik dadi wong bener senajan ora pinter” (Daripada jadi orang pintar tapi tidak benar, lebih baik jadi orang benar meskipun tidak pintar) “Ana sing luwih prayoga yaiku dadi wong pinter sing tansah tumindak bener.” (Ada yang lebih bijak, yaitu jadi orang pintar yang selalu berbuat benar) “Minterna wong bener, kuwi luwih gampang tinimbang mbenerake wong pinter…” (Memintarkan orang yang benar, itu lebih mudah daripada membenarkan orang yang pintar) “Mbenerake wong pinter kuwi mbutuhke beninge ati, lan jembare dada.” (Membenarkan orang yang pintar itu membutuhkan beningnya hati, dan luasnya kesabaran). Marilah kita menjadi orang benar walaupun tidak pintar. Jadi orang bijaksana walau tidak kaya harta. Hidup penuh syukur karena kita suka “nandur” (menanam kebaikan). Semar mbangun kahyangan, Para penguasa mbangun kerajaan. Makna sebuah kebahagiaan, Tidak diukur oleh harta kekayaan. Wonogiri, sepi ing pamrih rame ing gawe Rm. A. Joko Purwanto,Pr Puncta 15 Juli 2025
Pw. St. Bonaventura, Uskup dan Pujangga Matius 11:20-24 ISTILAH dalam Bahasa Latin itu berarti dosa orang-orang Sodom atau kejahatan kaum Sodom. Hal ini berhubungan dengan kebejatan moral yang dilakukan kaum lelaki di kota Sodom pada zaman Abraham. Dalam Kitab Kejadian (18-20) Tuhan melihat kebejatan penduduk Sodom. Dua malaikat yang diutus pergi ke rumah Lot, mau “digarap” oleh kaum lelaki Sodom. Lot dengan terpaksa menawarkan dua anak gadisnya, tetapi mereka lebih memilih dua tamu di rumahnya. Niat jahat mereka dibalas dengan kebutaan mata mereka. Para Psikolog menghubungkan kelakuan penduduk Sodom ini dengan tindakan penyimpangan sexual sebagai sebuah penyakit psikologis. Maka muncul istilah Sodomi sebagai kejahatan amoral yang dikutuk oleh Tuhan. Kota itu dihancurkan Tuhan dengan mengirim hujan belerang dan api sehingga luluh lantak tak terselamatkan. Lot dan dua anak gadisnya diselamatkan Tuhan karena taat dan setia mengikuti perintah-Nya. Yesus menyebut kota Sodom dan Gomora saat mengingatkan penduduk Khorazim, Betsaida dan Kapernaum. Kalau mereka tidak bertobat, maka nasib mereka akan sama seperti kota Sodom dan Gomora. Bahkan bisa lebih dahsyat lagi. Pertobatan itulah yang diharapkan Tuhan kepada kita. Tak cukup orang hanya meminta mukjizat tetapi tidak ada niat untuk bertobat. Orang-orang Kapernaum banyak melihat mukjizat karya-karya Yesus, tetapi mereka hanya berhenti di situ. Tidak mau bertobat Yesus bersabda, “Aku berkata kepadamu: Pada hari penghakiman, tanggungan negeri Sodom akan lebih ringan dari pada tanggunganmu." Hal ini menyiratkan bahwa dibutuhkan pertobatan agar orang selamat sebagaimana Lot dan keluarganya. Bagi kita sekarang, peringatan Tuhan ini apakah hanya sebatas angin lalu atau kita bersungguh-sungguh menanggapinya dengan perubahan hidup yang nyata? Jika kita tidak berubah, jangan terkejut kuasa Tuhan akan dinyatakan pada kita. Lebih suka makan sotomie, Daripada makan mie goreng. Lebih baik mengubah hati, Daripada berlaku sedeng. Wonogiri, kembali pada Tuhan Rm. A. Joko Purwanto, Pr Puncta 14 Juli 2025
Senin Biasa XV Matius 10:34-11:1 PALGUNA alias Arjuna menjadi murid tersohor Pandita Durna. Ia menjadi pemanah ulung tanpa tanding. Di Ekalaya ada seorang pemuda bernama Palgunadi. Ia juga ingin menjadi murid Durna. Namun Durna menolaknya. Tidak putus asa atas penolakan sang guru, Palgunadi pergi ke hutan dan membuat patung Durna. Ia belajar memanah seolah-olah diawasi oleh “gurunya yang hebat.” Secara otodidak Palgunadi menjadi pemanah unggul. Dia pergi ke Sokalima ingin menantang Palguna, murid Durna yang sebenarnya. Ternyata Palguna kalah. Karena mampu mengalahkan murid kesayangan, Durna menerima Palgunadi sebagai murid juga. Karena sudah menjadi murid, Palgunadi harus mengikuti segala perintah gurunya. Durna meminta aji-aji kesaktian Palgunadi yaitu cincin mustikaning ampal yang ada di jari manisnya. Jari manis Palgunadi dipotong, dikorbankan demi guru yang dihormati. Karena tidak punya daya kekuatan, Palgunadi bisa dikalahkan Arjuna. Ia mati mengikuti kemauan gurunya. Yesus meminta kepada murid-murid-Nya untuk mengorbankan segala-galanya. Siapa yang ingin mengikuti Yesus harus berani meninggalkan semuanya. Inilah konsekuensi menjadi murid-Nya. Rela berkorban demi menyelamatkan. Siapa saja yang tidak bersungguh-sungguh dalam mengikut Kristus, ia tidak layak bagi-Nya. Mengapa? Karena Yesus juga sudah secara total memberikan Diri-Nya kepada kita. Ia rela mati di salib demi menyelamatkan manusia. Jadi, mengikuti Dia tidak bisa setengah-setengah. Apa jaminan mengikuti-Nya dengan total? Yesus berkata, “Barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya. Barangsiapa menyambut kamu, ia menyambut Aku, dan barangsiapa menyambut Aku, ia menyambut Dia yang mengutus Aku.” Yesus sudah total menyerahkan Diri-Nya untuk kita, mari kita juga secara total mengikuti-Nya. Percayakan hidupmu kepada-Nya tanpa ragu dan bimbang, seperti Paulus; “Bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.” Pegi ke pasar beli bawang merah, Bawangnya hancur diinjak gajah. Ikut Yesus tidak setengah-setengah, Kita pasti akan mendapat berkah Wonogiri, ikut Yesus tanpa reserve Rm. A.Joko Purwanto, Pr Puncta 13 Juli 2025
Minggu Biasa XV Lukas 10: 25-37 KISAH orang Samaria yang baik hati ini sangat populer. Sering dikisahkan dan digunakan untuk berbagai pengajaran. Bahkan Victor Hugo mendasarkan novelnya yang berjudul “Les Miserables” dari perumpamaan yang diceritakan Yesus ini. So, kita langsung saja mengambil hikmah dari perumpamaan ini. Ada beberapa hal yang dapat kita petik; Pertama, orang yang suka berbicara tentang kebenaran, belum jadi jaminan bahwa isi hatinya juga benar. Kisah ini menjawab pertanyaan “tidak tulus” dari seorang ahli Taurat. Ia bukan ingin tahu tentang kebenaran, tetapi mau mencobai Yesus. Tersembunyi niat yang jahat di dalam hati si penanya. Seorang ahli Taurat semestinya tahu tentang isi Taurat. Tetapi dia ingin menguji dan menjebak lawan. Siapa tahu bisa mempermalukan Yesus di depan umum. Mungkin kita juga punya sikap kesombongan rohani seperti ini. Kedua, hapal ayat-ayat belum menjamin kelakuannya sesuai yang dihapalkannya. Lukas mencatat bahwa ahli Taurat itu sangat menguasai kitab suci. Ia bisa menyebut dengan runtut dan benar isi hukum yang utama. Tetapi ketika Yesus berkata, "Jawabmu itu benar; perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup." Ia justru menghindar dan balik bertanya, “Siapakah sesamaku manusia?” Mungkin kita juga sering lari menghindar ketika diminta bertanggungjawab. Ketiga, dengan mengambil contoh ahli Taurat dan Imam Lewi yang tidak berbuat apa-apa, Yesus mau berkata, “Gajah diblangkoni, bisa kotbah ora bisa nglakoni.” Ahli Taurat itu bisa mengajarkan. Kaum Lewi itu rajin melayani di altar bait suci, tetapi ketika harus harus menolong sesama yang menderita, mereka lewat pura-pura tak melihat. Apakah kita juga seperti gajah diblangkoni? Keempat, kita diajak mengasihi sesama, bukan yang sama dengan kita. Yesus menohok gambaran sesama menurut ahli Taurat itu. Sesama itu bukan yang satu agama, kelompok, suku atau satu aliran. Dengan mengambil orang Samaria, Yesus mengajarkan bahwa sesama itu siapa pun yang sedang menderita. Tidak perlu dibeda-bedakan atau dipisah-pisahkan oleh agama, suku, ras atau golongan. Kita mau menolong orang kalau dia sealiran, seagama atau sekelompok dengan kita. Yang lain? No way!! Kelima, kisah orang Samaria ini seperti palu godam yang menghantam keangkuhan kita. Kita sering merasa diri paling benar, suci, saleh dan taat. Tetapi dalam kenyataan kita tidak berbuat-apa-apa seperti Ahli Taurat dan orang Lewi itu. Perumpamaan ini membuat kita harus bertobat dan membongkar kesombongan diri. Kata Yesus kepada ahli Taurat itu: "Pergilah, dan perbuatlah demikian!" Kalimat ini juga ditujukan kepada kita. Mari kita langsung melakukannya. Aja dadi gajah diblangkoni, Kakehan kojah ora bisa nglakoni. Wonogiri, jadilah orang Samaria masa kini Rm. A.Joko Purwanto,Pr Puncta 11 Juli 2025
Pw. St. Benediktus, Abas Matius 10: 16-23 SEPASANG suami istri yang baru tiga tahun menikah bertengkar hebat semalam suntuk. Mereka telpon saya mau berkonsultasi untuk datang pagi harinya. Saya menunggu kedatangan mereka sambil nyapu di halaman. Di dalam hati saya mohon bimbingan Tuhan. Dari kejauhan mereka datang naik sepeda motor, berboncengan. Dengan wajah masih menyimpan kemarahan mereka menemui saya. Saya bingung juga dengan situasi kaku dan tegang ini. Mau mulai dari mana? Sang istri membuka pembicaraan dalam kemarahan, “Romo, langsung saja, saya minta cerai dengan dia. Kami tidak cocok lagi.” Lalu pertengkaran tadi malam dilanjutkan lagi di ruang tamu. Mereka saling menyalahkan satu sama lain. “Maaf,” saya menyela. “Tadi waktu kalian datang kemari naik motor berboncengan kan?” Mereka hanya mengangguk. Saya bertanya pada si istri, “Tadi kamu berpegangan di pinggang suamimu gak?” Istrinya hanya mengangguk. “Kalian bisa saling berboncengan, berpegangan tangan, berjalan bersama sampai Pastoran, bukankah ini rencana Tuhan untuk menyatukan kalian berdua?” tanya saya. “Nanti kalau pulang berboncengan lagi yang mesra, jangan sendiri-sendiri. Renungkan lagi di rumah dalam doa bersama. Tuhan pasti menolong kalian.” Mereka akhirnya pulang berboncengan. Esok berikutnya mereka telpon lagi. Tidak jadi bercerai, sudah saling memaafkan dan mau hidup bersama dengan baik. Yesus berkata: “Janganlah khawatir akan bagaimana dan akan apa yang harus kalian katakan, karena semuanya itu akan dikaruniakan kepadamu pada waktu itu juga. Karena bukan kalian yang berbicara, melainkan Roh Bapamu.” Seorang imam tidak akan mampu melakukan semuanya sendirian. Ada banyak masalah yang harus dihadapi. Ia mendengarkan keluhan, tangisan, derita, kesulitan banyak umat yang dilayani. Kalau tidak mengandalkan Tuhan, ia bisa depresi. Mungkin itu yang dialami oleh Pastor Matteo Balzano di Paroki Cannobio, Keuskupan Novara, Italia. Imam muda berusia 35 tahun itu ditemukan meninggal bunuh diri pada 5 Juli 2025 di kamarnya. Semua orang terkejut dan tidak menduga. Yesus sudah mengingatkan akan tugas berat seorang utusan. “Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati.” Jika bukan karena Tuhan saja, kita tidak akan mampu menghadapi segala perkara. Imam juga seorang manusia yang rapuh seperti bejana tanah liat. Mari kita hanya mengandalkan Tuhan saja. Ketemu kawan-sahabat erat, Sambil menikmati kopi pekat. Beban hidup makin berat, Peganglah Tuhan setiap saat. Wonogiri, sepanjang jalan kenangan Rm. A. Joko Purwanto, Pr |
Archives
December 2034
Categories |