|
Puncta 3 April 2026
Jum’at Agung, Mengenang Wafat Tuhan Yohanes 18:1-19:42 KETIKA terjadi serangan teroris di WTC New York pada 11 September 2001, Richard Rescorla menjadi kepala keamanan Morgan Stanley WTC. Ia memandu para pekerja agar menyelamatkan diri dan keluar dari gedung yang akan runtuh. Dengan megaphone ia menenangkan para karyawan yang panik. Ia masih sempat menyanyikan lagu “God Bless America” agar suasana tidak kacau dan semua karyawan tetap tertib. Hampir 2.700 orang yang bekerja di tempat itu bisa keluar gedung dan selamat dari reruntuhan. Ia kemudian masuk kembali dan naik ke lantai 10 untuk memastikan semua orang sudah tidak ada di tempat. Waktu berjalan dengan sangat cepat. Dalam panggilan telepon yang terakhir, sebelum gedung WTC runtuh, dia masih berkata pada istrinya, Susan: “Stop menangis. Aku harus mengeluarkan orang-orang ini dengan selamat. Jika sesuatu terjadi padaku, aku ingin kau tahu aku tidak pernah sebahagia ini." Veteran perang Vietnam ini mewujudkan motto "Saya tidak akan pernah meninggalkan rekan seperjuangan yang gugur" (I will never leave a fallen comrade). Jenazahnya terkubur di bawah reruntuhan WTC dan tidak pernah ditemukan. Ia mengorbankan nyawanya demi keselamatan sesamanya. Pada peringatan wafat Yesus ini, kita bisa merenungkan pengorbanan Yesus untuk menebus dosa-dosa kita. Yesus menerima salib dengan kerelaan hati agar kita diselamatkan dari kegelapan dosa. Yesus seperti anak domba yang tidak memberontak dibawa ke tempat pembantaian. Karena bilur-bilur-Nya kita diselamatkan. Bagaimanakah rasa syukur kita kepada orang yang telah mengorbankan nyawanya demi keselamatan kiat? Apa yang harus kita lakukan untuk membalas cinta-Nya? Semestinya kita menatap hidup ke depan dengan penuh keyakinan bahwa Allah mengasihi kita. Hidup ini sangat berharga karena Allah sendiri yang menebus dengan kematian Putera-Nya. Kita yang kotor karena dosa telah dicuci bersih dengan darah-Nya. Marilah kita hargai hidup ini dengan juga menghargai sesama. Sepercik pantun buat kita: Langit biru sangat indah di angkasa, Bulan purnama mulai menepis senja. Betapa berharganya hidup kita di dunia, Yesus telah menebus kita dari kuasa dosa. Wonogiri, terima kasih atas pengorbanan-Mu Rm. A.Joko Purwanto, Pr
0 Comments
Puncta, 2 April 2026
Kamis Putih dalam Pekan Suci Yohanes 13:1-15 PADA waktu bertugas di Paroki Kendal, saya membuat acara yang berbeda untuk tuguran di hadapan Sakramen Mahakudus. Acara tuguran Kamis Putih diisi dengan renungan singkat tentang kasih Tuhan yang rela membasuh kaki para rasul. Kami membuat kursi melingkar di aula. Keluarga-keluarga duduk berderet. Dalam suasana hening dan tenang masing-masing anggota keluarga secara bergantian membasuh kaki mereka. Diiringi musik rohani instrumental dan lampu temaram dari tahta Sakramen Mahakudus, bapak mulai membasuh kaki istri dan anak-anaknya. Demikian sampai semua melayani satu sama lain. Teladan Yesus tidak hanya diajarkan, tetapi juga langsung dipraktekkan dalam komunitas yang paling kecil, yaitu keluarga. Membasuh kaki adalah tanda merendahkan diri, melayani sebagai hamba dan mengasihi tanpa batas. Setelahnya mereka saling berpelukan, menangis terharu dan mengungkapkan doa syukur atas kasih yang dialami dalam keluarga. “Kami merasa Tuhan sungguh mengasihi lewat istri dan anak-anak, Rama. Syukur kepada Tuhan ada peristiwa ini,” ungkap seorang bapak dalam haru. Peristiwa perjamuan Yesus dengan murid-murid-Nya pasti lebih mengharukan, mencekam dan membuat tanda tanya bagi mereka. Petrus tidak bisa memahami Yesus tiba-tiba membasuh kakinya. Kata Petrus kepada-Nya: "Tuhan, Engkau hendak membasuh kakiku?" Jawab Yesus kepadanya: "Apa yang Kuperbuat, engkau tidak tahu sekarang, tetapi engkau akan mengertinya kelak." Setelah selesai membasuh semua murid-Nya, Ia menjelaskan maksud tindakan-Nya. Lalu Ia berkata kepada mereka: "Mengertikah kamu apa yang telah Kuperbuat kepadamu? Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan. Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamupun wajib saling membasuh kakimu; sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu. Yesus memberi teladan tentang kerendahan hati, siap melayani dan menghargai orang lain. Yesus mengasihi kita sampai pada akhirnya. Mari kita wujudkan kasih Tuhan itu dengan mengasihi sesama dan melayani mereka sebagai sahabat-sahabat kita. Sepercik pantun buat kita: Arus balik kembali ke Jakarta, Jalanan lengang seperti semula. Ia membasuh kaki seperti hamba, Padahal Dialah yang Mahakuasa. Wonogiri, melayani dengan rendah hati Rm. A. Joko Purwanto, Pr Puncta 1 April 2026
Rabu Pekan Suci Matius 26: 14-25 YESUS dikhianati oleh murid-Nya sendiri dan dijual kepada orang-orang Farisi dan tua-tua bangsa Yahudi dengan harga tiga puluh keping perak. Mengapa Yudas tega melakukan pengkhianatan terhadap gurunya sendiri? Tiga tahun hidup bersama dengan komunitas murid Yesus. Yudas ikut berkeliling, berkarya, makan bersama, melihat mukjizat Yesus, dan ikut mengalami banyak peristiwa bersama Yesus. Yudas memberikan hidupnya, tetapi tidak memberikan hatinya pada Tuhan. Hatinya tetap dipenuhi dengan ambisi pribadi. Kita tidak tahu apa motivasinya menjual Yesus kepada orang Farisi. Mengapa Yudas mau menerima uang 30 perak? Jumlah ini adalah harga seorang budak pada waktu itu. Apakah ini merupakan suatu simbol bahwa Yesus disamakan dengan seorang hamba sebagaimana Dia datang bukan untuk dilayani tetapi untuk melayani semua orang? Bisa jadi ini sebagai interprestasi teologis. Namun kalau dikaitkan dengan tugas Yudas sebagai bendahara kelompok murid, bisa jadi fokus utama yang dipikirkan adalah uang. Kebutuhan akan uang telah membutakan matanya sehingga dia tidak pikir panjang dan siap menghalalkan segala cara. Dalam perikope lain Injil Yohanes ditulis tentang karakter Yudas, “Hal itu dikatakannya bukan karena ia memperhatikan nasib orang-orang miskin, melainkan karena ia adalah seorang pencuri; ia sering mengambil uang yang disimpan dalam kas yang dipegangnya.” Motivasi Yudas bukan dalam hal spiritual, atau murni mau menjadi murid-Nya, tetapi karena keinginannya demi keuntungan pribadi, ambisi duniawi, ketamakan, dan keserakahan. Kekayaan adalah yang memicu ambisinya menjual gurunya. Puncak kulminasi dari kekecewaannya pada Yesus dipicu oleh tindakan Maria yang menghambur-hamburkan minyak narwastu yang mahal “hanya untuk meminyaki kaki Yesus.” Uang sebanyak 300 dinar kok hanya disia-siakan. Dengan uang segitu orang tinggal duduk manis tidak bekerja selama satu tahun. Pada perjamuan malam Paskah itulah, Yesus dikhianati. Yudas menerima tiga puluh perak harga murah untuk gurunya. Dan sesudahnya ia hidup dalam penyesalan dan kesengsaraan lalu mati dengan cara mengenaskan. Penyesalan selalu datang kemudian. Tetapi Yudas tidak sempat menyesal. Seandainya dia datang seperti penjahat yang disalib bersama Yesus, pasti Yesus juga akan mengampuninya. Apa yang bisa anda pelajari dari sikap dan karakter Yudas ini? Sepercik pantun untuk direnungkan: Dengan uang tigapuluh keping perak, Yudas menjual Yesus gurunya. Ikut Yesus jangan hanya cari enak, Harus berani manggul salib ke Golgota. Wonogiri, kita juga jualan Tuhan? Rm. A.Joko Purwanto, Pr Puncta 31 Maret 2026
Selasa Pekan Suci Yohanes 13:21-33.36-38 KARYA William Shakespeare yang sangat terkenal adalah drama “Julius Caesar.” Dalam drama itu tokoh utama bukan sang Tiran, Julius Caesar, tetapi justru Marcus Junius Brutus ( 85 SM - 42 SM), sang pengkhianat yang dibantu anggota senat Roma. Ketika Caesar jatuh bersimbah darah oleh 23 tikaman belati para konspirator, dia melihat Brutus dan berkata dalam bahasa Yunani, "Kai su, teknon," yang secara harfiah diterjemahkan sebagai "Kau juga, Nak." Dalam drama terkenal Shakespeare menulis dalam bahasa Latin sebagai " Et tu, Brute?" Kalimat terkenal sepanjang sejarah yang menggambarkan pengkhianatan Brutus. Julius Caesar mati dalam pengkhianatan pada tanggal 15 Maret 44 SM yang disebut dengan "Eid Mar" yang terpatri dalam mata uang denarius dimana satu sisi bergambar wajah Brutus dan di sisi lain bergambar dua belati dan “topi pembebasan” yang dikenakan oleh budak yang telah bebas. Tidak sampai satu abad kemudian pengkhiatanan berikutnya terjadi, bukan di Roma tetapi di Yerusalem, pada Yesus yang dijual oleh murid-Nya sendiri yaitu Yudas Iskariot. Yudas menjual Yesus untuk diserahkan kepada imam-imam kepala dan dijatuhi hukuman mati. Yang sangat menyakitkan peristiwa itu justru terjadi saat Yesus mengadakan perjamuan makan bersama murid-murid-Nya. Setelah Yesus berkata demikian Ia sangat terharu, lalu bersaksi: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya seorang di antara kamu akan menyerahkan Aku." Para murid beradu pandang dan saling bertanya siapakah dia. Jawab Yesus: "Dialah itu, yang kepadanya Aku akan memberikan roti, sesudah Aku mencelupkannya." Sesudah berkata demikian Ia mengambil roti, mencelupkannya dan memberikannya kepada Yudas, anak Simon Iskariot. Pengkhianatan sering dilakukan justru oleh orang dalam lingkaran. Dia yang paling dekat dan sangat dipercaya bisa menikam dari belakang dengan berbagai macam motivasi. Apakah kita tidak menikam Yesus ketika mengaku sebagai murid-Nya tetapi bertindak jauh dan melenceng dari ajaran-Nya? Sikap Yesus terhadap Yudas? Dia tidak marah, tidak menghakimi. Yesus membebaskan Yudas memilih jalannya sendiri. Sesudah Yudas menerima roti itu, ia kerasukan Iblis. Maka Yesus berkata kepadanya: "Apa yang hendak kauperbuat, perbuatlah dengan segera." Apakah kita juga akan mengikuti Yudas mengkhianati Guru dan junjungan sendiri? Sepercik pantun untuk direnungkan: Kota Roma dilanda oleh kerusuhan, Julius Caesar dikhianati oleh Brutus. Kita diberi kebebasan memutuskan, Mengikuti Yudas atau Santo Petrus. Wonogiri, dia menikam dari belakang Rm. A.Joko Purwanto, Pr Puncta 30 Maret 2026
Senin Pekan Suci Yohanes 12:1-11 SEPEKAN sebelum Yesus menghadapi penderitaan-Nya, Ia makan bersama dengan keluarga Betania yakni Marta, Maria dan Lazarus. Di situ juga ada orang-orang Yahudi yang datang bukan saja untuk melihat Yesus tetapi juga ingin ketemu Lazarus yang dibangkitkan. Pada saat perjamuan itu, Maria membasuh kaki Yesus dengan minyak narwastu yang mahal dan menyekanya dengan rambutnya yang panjang dan indah. Hal ini dilakukan Maria sebagai penghormatan kepada Yesus. Maria dan saudaranya sangat mengasihi Yesus. Maka dia memberikan yang terbaik, termahal untuk Yesus. Tindakan Maria ini adalah wujud kasih dan perendahan diri serta penghormatan yang tak ternilai kepada Tuhan. Maria tahu bagaimana menghormati orang yang sangat dikasihi. Minyak narwastu setengah kati (164 gram) yang bisa dihargai 300 dinar – upah hampir satu tahun kerja - tidaklah mahal bagi orang yang sangat dimuliakan. Bahkan rambut sebagai mahkotanya perempuan pun dipakai untuk mengusap kaki Yesus. Tanda hormat penuh cinta. Berbeda dengan Yudas Iskariot yang menyayangkan tindakan Maria sebagai pemborosan. Apa yang dikatakan Yudas adalah kemunafikan. Ia seolah-olah memikirkan kaum miskin, padahal dalam hatinya ingin meraup keuntungan untuk pribadi saja. "Mengapa minyak narwastu ini tidak dijual tiga ratus dinar dan uangnya diberikan kepada orang-orang miskin?" Hal itu dikatakan Yudas bukan karena ia memperhatikan nasib orang-orang miskin, melainkan karena ia adalah seorang pencuri; ia sering mengambil uang yang disimpan dalam kas yang dipegangnya. Yang dipikirkan Yudas adalah kepentingan pribadinya, bukan karena dia ingin membantu orang miskin, tetapi ingin menjarah uang untuk dirinya sendiri. Kadang ada orang yang punya usul atau ide-ide yang baik dan saleh, namun di baliknya ada unsur egoistik demi kepentingan diri sendiri. Di lingkungan atau komunitas selalu ada orang yang suka mengkritik dan punya usul yang “muluk-muluk” tetapi pas hari H-nya tidak muncul dan tak mau terlibat. Tetapi kalau ada yang menguntungkan, dia yang pertama ambil kesempatan. Orang yang merasa dikasihi seperti Maria akan siap berkorban apa pun yang terbaik sebagai ungkapan syukur. Namun orang yang tidak punya pengalaman kasih seperti Yudas, dia hanya berpikir untuk kepentingannya sendiri. Dia tidak mau berkorban sedikit pun karena tidak menguntungkannya. Siapakah diri kita? Tipe orang seperti Maria atau model orang seperti Yudas Iskariot? Kita tidak sampai menyangkal atau mengkianati Yesus sih, tetapi barangkali kita memanfaatkan Tuhan demi keuntungan pribadi kita. Sepercik pantun untuk direnungkan: Minyak narwastu sangat mahal harganya, Diberikan untuk souvenir bagi kekasihnya. Sikap syukur nampak dalam tindakan nyata, Siap berkorban bagi orang yang mengasihi kita. Wonogiri, syukur atas cinta-Nya Rm. A. Joko Purwanto, Pr Puncta 29 Maret 2026
Hari Minggu Palma, Pengenangan Sengsara Tuhan Matius 26:14-27:66 KALAU kita membaca Injil dari awal sampai akhir, kita akan menemukan ungkapan pernyataan iman tentang siapakah Yesus Kristus. Dari awal kehidupan dan sampai akhir hayat-Nya, Yesus berkarya, mengajar dan menunjukkan pribadi-Nya. Tiap orang yang membaca Injil berproses menuju pengakuan imannya. Di awal Injil sinoptik, siapa Yesus dikabarkan oleh malaikat kepada para gembala. "Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud." Di tengah-tengah Injil, pengakuan Petrus menyatakan siapa Yesus. Ketika Yesus bertanya siapakah Dia, orang banyak menjawab Elia atau nabi lain. Namun, Petrus mengakui imannya: "Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!" Di akhir Injil Matius, melalui peristiwa penyaliban, lewat mulut Kepala pasukan yang menjaga-Nya ia mengakui, "Sungguh, Ia ini adalah Anak Allah." Pengakuan ini adalah kesimpulannya. Pengakuan iman bahwa Yesus adalah Mesias, Putra Allah yang hidup dilalui lewat pengorbanan-Nya di kayu salib. Salib bukan lambang kekalahan, tetapi justru menunjukkan kemuliaan Kristus. Kemuliaan-Nya diakui oleh orang-orang yang mengelu-elukan Yesus di Yerusalem. Yesus adalah Raja yang datang bukan dengan kekuatan prajurit atau senjata yang memusnahkan tetapi Dia adalah Raja yang lemah lembut penuh kasih bagi siapa pun juga, bahkan musuh-musuh-Nya juga diterima dan diampuni-Nya. Kasih yang demikian besar itulah yang dialami kepala pasukan yang melihat Yesus wafat di salib dan berkata, "Sungguh, Ia ini adalah Anak Allah." Hanya orang yang punya pengalaman dikasihi Allah, seperti kepala pasukan ini, yang mampu mengakui Yesus sebagai Allah. Apakah penderitaan dan pengorbanan Yesus Kristus di kayu salib sungguh anda alami sebagai pengalaman kasih Allah yang tak terbatas dan menyentuh hati anda yang paling dalam? Apakah anda mengalami dikasihi sedemikian sampai Allah mengorbankan Putera-Nya yang terkasih? “Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seseorang yang merelakan nyawa bagi sahabat-sahabat-Nya. Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu melakukan apa yang Kuperintahkan kepadamu,” itulah pesan Yesus bagi kita sahabat-Nya. Sepercik pantun untuk direnungkan: Dari Jawa menyeberang ke Lampung, Jangan lupa singgah di Kalianda. Salib adalah tanda kasih paling agung, Ia mengorbankan diri bagi dosa kita. Wonogiri, kasih yang luar biasa Rm. A.Joko Purwanto, Pr Puncta 28 Maret 2026
Sabtu Prapaskah V Yohanes 11:45-56 RENE GIRARD (1923-2015) adalah pemikir besar dari Perancis yang mengembangkan teori kambing hitam dalam penyelesaian konflik di masyarakat. Kekerasan, kekacauan atau konflik komunitas dicarikan jalan penebusannya dengan mengorbankan kelompok minoritas atau orang tertentu. Kambing hitam diartikan sebagai seseorang atau sesuatu yang dijadikan sasaran kesalahan atau dipersalahkan atas suatu masalah, meskipun sebenarnya belum tentu bersalah atau tidak sepenuhnya bertanggung jawab atas masalah itu. Kita ambil contoh, ketika Hitler berkuasa, Nazi menyalahkan komunitas Yahudi sebagai kambing hitam terjadinya kekacauan politik dan ekonomi di Jerman. Maka kaum Yahudi dihabisi melalui kamp konsentrasi dan pembantaian. Untuk mengalihkan kemarahan rakyat dari dirinya, Nero mencari kelompok minoritas dan rentan untuk disalahkan. Pada tahun 64 Masehi Nero mengkambinghitamkan umat Kristen atas kebakaran kota Roma. Umat yang tidak bersalah ditangkap, disiksa dan dibunuh. Di Indonesia, setelah terjadinya peristiwa tahun 1965, segala kekacauan, demontrasi atau kerusuhan, PKI-lah yang akan dijadikan kambing hitamnya. Apapun kerusuhan atau kekacauan selalu dihubungkan dengan PKI. Kasus Kedungombo pada tahun 1990 misalnya. Orang-orang yang menentang penggusuran pembangunan waduk Kedungombo di Jawa Tengah dikambinghitamkan sebagai PKI. KTP mereka diberi cap ET (eks Tapol) oleh penguasa Orde Baru. Setelah membangkitkan Lazarus, makin banyak orang yang percaya kepada Yesus. Pengikut-Nya makin meluas. Hal ini menimbulkan kekawatiran para tua-tua Yahudi. Mereka berunding bagaimana caranya agar tidak terjadi pemberontakan atau kekacauan oleh penguasa Romawi. Mahkamah Agama berkumpul dan mereka berkata: "Apakah yang harus kita buat? Sebab orang itu membuat banyak mujizat. Apabila kita biarkan Dia, maka semua orang akan percaya kepada-Nya dan orang-orang Roma akan datang dan akan merampas tempat suci kita serta bangsa kita." Kayafas, Imam Besar pada tahun itu, berkata kepada mereka: "Kamu tidak tahu apa-apa, dan kamu tidak insaf, bahwa lebih berguna bagimu, jika satu orang mati untuk bangsa kita dari pada seluruh bangsa kita ini binasa." Hal itu dikatakannya bukan dari dirinya sendiri, tetapi sebagai Imam Besar pada tahun itu ia bernubuat, bahwa Yesus akan mati untuk bangsa itu, dan bukan untuk bangsa itu saja, tetapi juga untuk mengumpulkan dan mempersatukan anak-anak Allah yang tercerai-berai. Yesus dijadikan kambing hitam. Ia dipersalahkan dan dikorbankan untuk keselamatan seluruh bangsa. Apakah kita juga sering memakai pola kambing hitam, menyalahkan orang lain untuk menyelamatkan muka kita? Sepercik pantun untuk direnungkan: Pergi mencangkul di sawah sebelah, Memakai celana yang terbuat dari kain. Kita sering bersembunyi dari masalah, Mudah sekali menyalahkan orang lain. Wonogiri, suka mencari kambing hitam Rm. A.Joko Purwanto, Pr Puncta 27 Maret 2026
Jum’at Prapaskah V Yohanes 10:31-42 DALAM literatur Babad Tanah Jawi terselip kisah pertentangan antara Syech Siti Jenar dengan Walisanga. Syech Siti Jenar adalah ulama atau wali yang mengajarkan konsep “Manunggaling Kawula Gusti.” Bersatunya (manunggal) hamba (kawula) dan Tuhan (Gusti). Konsep ini sering disalah artikan sebagai Tuhan yang menyatu dengan manusia atau manusia yang menyamakan diri dengan Tuhan. Padahal para pengikutnya meyakini bahwa konsep ini hanya ada dalam kesadaran spiritual. Ajaran ini menimbulkan perbedaan pandangan dengan para wali sehingga Syech Siti Jenar harus menerima hukuman dari penguasa Demak dan para wali. Ajaran tasawuf yang dikembangkan Syech Siti Jenar dianggap membahayakan. Maka harus dihentikan. Orang-orang Yahudi ingin melempari Yesus dengan batu. Bukan karena perbuatan baik yang dilakukan Yesus tetapi karena Yesus dianggap menghojat Allah. Dia menyamakan diri-Nya dengan Allah. Mereka marah karena Yesus mengajarkan konsep “Manunggaling kawula Gusti.” Jawab orang-orang Yahudi itu: "Bukan karena suatu pekerjaan baik maka kami mau melempari Engkau, melainkan karena Engkau menghujat Allah dan karena Engkau, sekalipun hanya seorang manusia saja, menyamakan diri-Mu dengan Allah." Jawab Yesus, ”Jikalau Aku tidak melakukan pekerjaan-pekerjaan Bapa-Ku, janganlah percaya kepada-Ku, tetapi jikalau Aku melakukannya dan kamu tidak mau percaya kepada-Ku, percayalah akan pekerjaan-pekerjaan itu, supaya kamu boleh mengetahui dan mengerti, bahwa Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Bapa." Kaum Yahudi lebih menekankan hukum Taurat. Sedang Yesus lebih menekankan hakikat manusia dengan Tuhan. Allah adalah Mahabaik dan Maha benar. Kalau kita melakukan kebaikan dan kebenaran berarti kita melakukan pekerjaan Allah. Allah berada dalam diri orang dan menuntunnya melakukan kebaikan dan kebenaran bagi sesamanya. Pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan Yesus itu berasal dari Allah. Kalau kita mempercayai Yesus, berarti kita juga mempercayai Allah yang bekerja di dalam-Nya. Namun hal seperti ini tidak dipercaya dan diterima oleh orang-orang Yahudi. Mereka tidak mampu menangkap maksud ajaran Yesus. Maka mereka ingin melempari Yesus dengan batu dan menghukumnya. Apakah kita mampu memahami apa yang diajarkan Yesus kepada kita? Apakah kita juga meyakini bahwa Yesus adalah sungguh Allah dan sungguh manusia? Kalau kita membaca Kitab Suci, kita baru bisa memahami ajaran ini. Sepercik pantun untuk direnungkan: Pergi ke hutan menangkap lebah, Lebah bersarang di pohon gandarusa. Yesus adalah sungguh Putera Allah, Dialah Firman yang menjadi manusia. Wonogiri, Yesus sungguh Allah Rm. A. Joko Purwanto, Pr Puncta 26 Maret 2026
Kamis Prapaskah V Yohanes 8:51-59 PADA pertengahan abad ke 19 muncul tokoh pekabar Injil yang bernama Kyai Sadrach. Nama aslinya Radin. Sejak muda dia suka “nyantri” di Pondok Pesantren Jombang dan Ponorogo. Namanya kemudian menjadi Radin Abas. Perkenalannya dengan ajaran Kristen terjadi karena Radin bertemu dengan Jellesma. Kemudian dia dibimbing oleh Kyai Tunggul Wulung dan dibaptis di Batavia 14 April 1867. Ia berkeliling ke Jawa Tengah dan menjadi pewarta Injil di daerah Purworejo, Bagelen. Karena pengaruhnya yang besar Sadrach dipanggil sebagai Kyai oleh para pengikutnya. Cara dan pola pekabarannya berbeda dengan kaum zending Belanda. Ia menggunakan model pesantren dan budaya Jawa. Untuk jadi Kristen orang tidak harus meninggalkan tradisi dan adat istiadat Jawa. Cara berpakaian, cara sembahyang dan bentuk bangunan gereja memakai model-model Jawa. Hal ini yang menimbulkan gesekan dengan kaum Zending. Mereka berpikir menjadi Kristen harus mengikuti budaya Barat. Jadi Kristen harus ikut budaya Eropa. Orang Eropa tidak bisa memahami budaya, adat dan tatacara hidup orang pribumi. Sadrach dianggap menyeleweng karena mencampuradukkan iman dan tradisi budaya Jawa. Sadrach berusaha mempribumikan iman Kristen. Berlawanan dengan paham kaum Zending yang Eropa. Tidak ada titik temu yang bisa menyatukan perbedaan pandangan mereka. Paham dan pandangan Yesus dengan kelompok Yahudi juga tidak ada titik temunya. Bahkan mereka menganggap Yesus gila, kerasukan setan. Mereka tidak bisa menerima pandangan Yesus bahwa Allah adalah Bapa-Nya.Yesus dan Bapa adalah satu. Bahwa Yesus sudah ada sebelum Abraham ada. Ia berbicara tentang Sabda yang sudah ada sebelum segala sesuatu dijadikan. Tetapi pandangan Yesus ini tidak bisa dipahami dan diterima oleh orang-orang Yahudi pada waktu itu. Maka mereka mau melempari Yesus dengan batu. Batu melambangkan kekerasan, ketegaran hati seperti manusia yang keras membatu tidak mau percaya kepada Yesus. Mereka menolak Yesus sebagai utusan Allah. Seandainya kaum Zending Belanda itu tidak kaku dan keras hatinya, mungkin Sadrach sudah bisa membawa banyak jiwa-jiwa di Tanah Jawa ini yang diselamatkan dan percaya kepada Kristus. Apakah hati kita juga keras membatu sehingga tak tersentuh oleh kasih Kristus? Sepercik pantun untuk direnungkan: 100% Katolik Seratus persen Indonesia, Jadi orang katolik tidak harus jadi Eropa. Mengikuti Yesus dengan budaya kita, Tidak akan mengurangi kerohanian kita. Wonogiri, beriman dan berbudaya Rm. A.Joko Purwanto, Pr Puncta 25 Maret 2026
HR.Kabar Sukacita Lukas 1:26-38 APAKAH anda tahu Pati ada dimana? Beberapa anak muda saya tanya Pati ada di mana? Mereka geleng kepala. Ya mungkin anda juga baru mendengar atau tahu ada kota Pati di Jawa Tengah. Pati adalah kota kecil di daerah Pantura Jawa Tengah. Pati kalah mentereng dengan Kudus atau Demak tetangganya. Kudus terkenal dengan Pabrik Rokok Djarum yang pemiliknya baru saja meninggal dunia. Demak dikenal dengan mesjidnya yang ikonik dan tempat Kerajaan Islam pertama yang didirikan oleh Raden Patah. Pati? Tak terdengar sebelum ada kasus Mas “Botok” dan Teguh yang menggegerkan karena menggalang demo untuk pemaksulan Bupati Sudewo pada tahun 2025 kemarin. Supriyono “Botok” dan Teguh Istiyanto adalah aktivis Masyarakat Pati Bersatu. Mereka orang kecil yang terpanggil menyuarakan kebenaran dan keadilan atas praktik-praktik koruptif yang dilakukan pejabat. Mereka berjuang untuk masyarakat bawah yang mengalami ketidakadilan oleh penguasa. Namun mereka justru dikriminalisasi. Dari kota kecil Pati, yang tidak diperhitungkan muncul suara hati nurani rakyat yang menggugat. Dari Pati yang tidak terkenal terbit secercah pengharapan untuk berjuang menegakkan keadilan. Ini adalah kabar gembira yang perlu diwartakan ke seluruh pelosok negeri. Siapa tahu dari Pati kota kecil ini muncul suara pembebasan. Nazaret juga tidak terkenal seperti Betlehem, Yerusalem atau kota-kota lainnya. Nazaret hanyalah kota kecil. Tetapi dari Nazaret muncul pribadi yang berani menanggapi tawaran Tuhan melalui Malaikat Gabriel. Dan dia adalah seorang perawan yang tidak diperhitungkan yaitu Maria. Maria berani mengambil resiko untuk permulaan karya Allah menebus manusia. Perempuan yang tidak dianggap dalam strata masyarakat ini berani menjawab YA, terjadilah padaku menurut perkataanmu itu. Kendati masa depan tidak jelas, tidak ada jaminan yang pasti dari Tuhan, namun Maria berani menjawab panggilan Allah. Sikap kerendahan hati dan kepasrahan pada penyelenggaraan Tuhan adalah keberanian hebat dari Perawan Maria. Tanpa YA dari Maria, tak mungkin terjadi Sabda menjadi manusia. Tanpa kesediaan Maria, tak mungkin rencana inkarnasi Sabda menjadi daging terwujud seperti yang kita imani dalam diri Yesus Kristus, Sang Imanuel, Allah beserta kita. Dari Nazaret, kota kecil dimulailah karya penebusan Tuhan ke seluruh dunia. Dari perawan Maria yang berani menjawab tawaran Tuhan, kita semua diselamatkan dan ditebus oleh Yesus Kristus. Inilah kabar gembira yang menentukan karya penyelamatan kita manusia. Inilah kabar gembira bahwa Allah beserta kita, melalui Maria. Sepercik pantun buat anda: Orang berlibur dan berwisata, Mengisi lebaran bareng keluarga. Maria gadis perawan muda dari desa, Menjawab YA untuk keselamatan kita. Wonogiri, kabar sukacita Rm. A. Joko Purwanto, Pr |
Archives
December 2034
Categories |
RSS Feed