|
Puncta 28 Juli 2025
Senin Biasa XVII Matius 13:31-35 ANDA sekarang menikmati kenyamanan naik Kereta Api? Itu semua dimulai dari tindakan kecil dari seorang Ignatius Jonan. Ia mulai memperbaharui hal-hal kecil, misalnya menjaga kebersihan toilet di setiap stasiun. “Saya mencanangkan seluruh petugas dari tingkat bawah sampai direksi untuk menjamin kebersihan dan kenyamanan toilet setiap stasiun. Kalau menjaga kebersihan toilet di stasiun tidak bisa, hal-hal lain pasti juga tidak akan berhasil.” Katanya dalam dialog di stasiun TV. Memulai dari sesuatu yang kecil dan sederhana, tetapi dampaknya akan terasa menyebar kemana-mana. Akhirnya dari keberhasilan mengurus toilet dilanjutkan dengan pola baru tiket online, semua gerbong berAC baik yang ekonomi maupun gerbong exekutif. Dari hal kecil akhirnya menyebar ke semua aspek sehingga perkeretaapian Indonesia mengalami evolusi yang luar biasa. Sekarang anda bisa menikmati kereta api yang nyaman, aman dan tertib. KAI menjadi moda pilihan transportasi masyarakat. Yesus memberi perumpamaan tentang biji sesawi dan ragi. Biji sesawi adalah benih terkecil dari segala jenis sayuran. Ragi juga sangat kecil sampai tak terlihat. Tetapi keduanya bisa bertumbuh dan berkembang sangat besar. Hal-hal kecil kadang dianggap sepele dan diremehkan. Yang kecil dianggap tidak ada artinya, dibuang dan disingkirkan. Melalui perumpamaan ini Yesus mau menekankan bahwa tidak ada yang tidak berguna. Sekecil apapun jika dipelihara dengan semestinya akan bisa berkembang. Kita kadang juga merasa kecil, tak berguna, tak berharga sehingga kita minder tak mau berkembang. Allah menciptakan kita pasti ada tujuannya. Tidak ada yang diciptakan Allah tidak berguna. Kita semua diberi potensi yang bisa berguna untuk diri sendiri dan sesama. Seperti Jonan itu mulai dari hal-hal yang kecil dan berdampak, kita pun juga bisa mulai dari hal-hal yang kecil untuk berbuat sesuatu bagi lingkungan sekitar kita. Biji sesawi itu kecil tetapi jika dia hidup dapat menjadi pohon dimana burung-burung bisa bersarang di atasnya. Mari kita coba! Mulai menabur biji-biji sesawi, Akan tumbuh menjadi pohon yang tinggi. Kita hargai yang kecil tak berarti, Akan berbuah besar tak tertandingi. Wonogiri, walau kecil tapi berarti Rm. A. Joko Purwanto,Pr
0 Comments
Puncta 27 Juli 2025
Minggu Biasa XVII Hari Kakek & Nenek Sedunia Lukas 11: 1-13 BANYAK sharing tentang doa yang dikabulkan. Kalau kita ikut misa di Gua Maria, banyak ujub syukur atas terkabulnya doa entah lewat novena tiga salam Maria, atau rosario atau doa khusus lainnya. “Doa adalah kekuatan dan pertolongan. Doa adalah teman dalam perjalanan,” kata Romo Pamungkas. Setiap kali mengadakan perjalanan jauh untuk turne atau misa di kampung-kampung pedalaman, dia selalu mendaraskan rosario sambil naik sepeda motornya. “Saya pernah berdoa rosario mengelilingi ladang, minta kepada Tuhan agar dijauhkan dari hama. Waktu itu belalang sedang menyerang semua jenis tanaman. Dalam sekejap ribuan belalang bisa membuat pohon tinggal batangnya,” Pak Redes bercerita. “Dengan doa Rosario, ladang saya tidak diserbu belalang. Saya bisa panen,” katanya penuh syukur. Sinta dan Tony juga bersyukur karena doa-doanya dikabulkan oleh Tuhan. Anak-anaknya bisa diterima di perguruan tinggi. Ada yang sudah lulus dari kedokteran dan bisa langsung bertugas. Semua disyukuri berkat doa-doa yang tiada henti. Ada begitu banyak sharing tentang doa yang dikabulkan. Kalau ada yang belum terkabul, jangan putus asa, teruslah berdoa. Yesus mengajarkan doa Bapa Kami kepada murid-murid-Nya. Mereka diajak untuk berani mengandalkan Allah lewat doa-doa. Doa adalah usaha kita untuk mengetuk pintu Allah secara terus menerus sampai pintu dibukakan. Yesus membuat perumpamaan tentang sahabat yang meminta roti karena rekannya singgah di rumah dan dia tidak punya apa-apa untuk menjamunya. Ia terus menerus meminta. Aku berkata kepadamu: “Sekalipun ia tidak mau bangun dan memberikannya kepadanya karena orang itu adalah sahabatnya, namun karena sikapnya yang tidak malu itu, ia akan bangun juga dan memberikan kepadanya apa yang diperlukannya.” “Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya." Marilah kita terus berdoa, karena DOA kita akan Didengar Oleh Allah. Ke Cirebon ziarah ke taman doa, Malah dijamu oleh romo di pasturan. Jangan putus-putus untuk berdoa, Allah itu mudah iba berbelas-kasihan. Wonogiri, ayo terus berdoa Rm. A. Joko Purwanto,Pr Puncta 26 Juli 2025
Pw. St.Yoakim dan St. Anna, orangtua St. Maria Matius 13: 24-30 KETIKA Bima sudah menyatu dengan Dewa Ruci, dia mencapai kebahagiaan yang sempurna. Bima disuruh kembali ke dalam dunia nyata. Ketika Bima sudah mendapat wejangan tentang “Banyu Suci Perwita Sari,” dia diminta membaktikan darmanya sebagai ksatria di dunia. Darma bakti seorang ksatria adalah menegakkan kebenaran dan keadilan. Bima dan saudara-saudaranya, Pandawa harus hidup bersama dengan para Kurawa. Pandawa adalah ksatria yang baik, jujur, bertindak berdasarkan kebenaran dan cintakasih. Sedang Kurawa adalah manusia yang penuh dendam, kebencian, serakah, jahat, “adigang, adigung, adiguna.” Mereka hanya mengejar nafsu duniawi dan memburu kepentingan sendiri. Mengapa Pandawa dan Kurawa harus hidup bersama? Pertanyaan ini juga bisa diajukan mengapa benih gandum harus hidup bersama dengan lalang? Mengapa lalang itu tidak dicabut saja sejak awal? Itulah pertanyaan para murid. Lalu berkatalah hamba-hamba itu kepadanya: “Jadi maukah tuan supaya kami pergi mencabut lalang itu?” Tetapi Ia berkata: “Jangan, sebab mungkin gandum itu ikut tercabut pada waktu kamu mencabut lalang itu. Biarkanlah keduanya tumbuh bersama sampai waktu menuai.” Hal yang baik bisa dinilai baik justru karena ada pembandingnya yang kurang baik. Benih akan dikatakan baik kalau di situ ada lalangnya. Kejahatan ada untuk membuktikan kebaikan tetap bernyala. Sebagaimana Pandawa nampak gagah perkasa karena ada Kurawa yang terus mengganggu kebaikan Pandawa. Pada saat menuai hasil, kejahatan atau lalang akan dicabut. Baratayuda adalah saat menuai itu. Saat itulah kebaikan menang. Kejahatan atau keburukan justru menantang kita untuk terus menunjukkan kebaikan. Kalau kita ini adalah benih yang baik maka tetaplah berbuat baik di tengah dunia yang buruk sekalipun. Seberapa kuat kita berada di tengah kejahatan, sebegitu juga kita dipanggil terus berbuat baik. Kalau benih kejujuran kita hayati, seberapa teguh perjuangan kita di tengah dunia yang penuh dengan korupsi, nepotisme, ketidakjujuran dan kebohongan. Tetaplah jadi benih yang baik. Ada buah-buahan di atas meja, Hanya satu yang bikin terpesona. Sebagai ksatria wujudkan darma, Jangan terbawa oleh nafsu dunia. Wonogiri, teguh berbuat baik Rm.A.Joko Purwanto,Pr Puncta 25 Juli 2025
Pesta St. Yakobus, Rasul Matius 20:20-28 DIMANA saja seorang ibu pasti ingin agar anaknya berhasil dalam karier. Bisa menduduki jabatan di perusahaan, pemerintahan atau di sebuah partai politik. Maka dengan segala macam cara ditempuh agar anaknya berhasil. Menggunakan pendekatan KKN lewat hubungan kekerabatan. Memakai jalur hukum untuk mengubah undang-undang. Menempatkan orang-orang dekat di posisi penting sebagai pengambil keputusan. Bahkan kalau perlu menyuap atau menyogok dengan amplop berisi segepok uang dan menyingkirkan para pembangkang. Begitulah yang dilakukan oleh Tzu Hsi, sang ibu suri untuk menaikkan Pu Yi yang baru berusia 3 tahun supaya bisa naik tahta kerajaan. Pu Yi hanyalah kaisar bayangan. Yang berkuasa sesungguhnya adalah ibu suri Tzu Hsi sendiri. Kekuasaan atau tahta tidak hanya bagian kaum lelaki. Tetapi perempuan pun juga berambisi dan tergoda untuk menikmati tahta kekuasaan, entah diwakili anaknya atau dia sendiri yang menyetir dari belakang. Begitulah ibu Zebedeus juga tertarik pada kekuasaan. Ia meminta kepada Yesus agar anak-anaknya kelak dapat duduk sebelah kanan dan kiri Yesus ketika berkuasa. "Berilah perintah, supaya kedua anakku ini boleh duduk kelak di dalam Kerajaan-Mu, yang seorang di sebelah kanan-Mu dan yang seorang lagi di sebelah kiri-Mu," demikian pintanya. Tidak demikian dengan kehendak Tuhan. Kekuasaan itu bukan sebuah prestasi atau kehormatan belaka. Kekuasaan adalah wujud dari pelayanan nyata. Maka Yesus menasehati murid-murid-Nya; "Kamu tahu, bahwa pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi dan pembesar-pembesar menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka. Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu.” Sebagaimana Yesus datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani semua orang, demikianlah kita sebagai murid Yesus hendaknya mau saling melayani satu sama lain. Melayani bukan tindakan yang rendah atau hina. Justru melayani adalah wujud nyata dari tindakan kasih. Penguasa yang dihormati adalah dia yang mau melayani, bukan dilayani atau disanjung tinggi-tinggi. Tiba-tiba ada gajah di dalam kota, Mengejar banteng yang kesepian. Kekuasaan membuat mata jadi buta, Yang dulunya kawan bisa jadi lawan. Wonogiri, hati-hati godaan tahta Rm. A.Joko Purwanto, Pr Puncta 24 Juli 2025
Kamis Biasa XVI Matius 13:10-17 BIMBO pernah menyanyikan lagu yang liriknya antara lain sebagai berikut: Bermata tapi tak melihat. Bertelinga tapi tak mendengar. Bermulut tapi tak menyapa. Berhati tapi tak merasa. Berharta tapi tak sedekah. Berbenda tapi tak berzakat. Berilmu tapi tak beramal. Berjalan tapi tak terarah. Semoga kita terhindar dari hal-hal sedemikian. Semoga kita menjauh dari sifat sedemikian. Yesus berbicara dengan perumpamaan. Para murid bertanya kepada-Nya. "Mengapa Engkau berkata-kata kepada mereka dalam perumpamaan?" Jawab Yesus: "Kepadamu diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Sorga, tetapi kepada mereka tidak. Itulah sebabnya Aku berkata-kata dalam perumpamaan kepada mereka; karena sekalipun melihat, mereka tidak melihat dan sekalipun mendengar, mereka tidak mendengar dan tidak mengerti.” Hanya orang-orang yang mau membuka hati dan mengimani, maka mereka akan memahami arti perumpamaan itu. tetapi yang tidak mau membuka hati dan percaya, mereka tetap bebal tidak mengerti. Bagi orang yang mau menerima pencerahan sabda Tuhan, kepadanya akan ditambahkan lebih banyak lagi. Tetapi kepada orang yang menutup diri terhadap sabda Tuhan, apa pun yang ada padanya malah akan diambil. Orang yang tak mau menanam, pasti tidak akan menuai. Orang yang tak mau memberi pasti tidak akan menerima. Punya mata tapi tidak digunakan untuk melihat. Punya telinga tapi tak mau mendengar. Punya hati tapi tak mau peduli dan empati. Pasti tidak terjadi perkembangan rohani dari mereka-mereka itu. Walau kita mengundang pengkotbah terkenal, humornya lucu, sering diundang kemana-mana, tetapi kebenaran firman Allah adalah anugerah bagi orang yang mau membuka hati. Kalau kita hanya mencari seru dan lucunya, kita hanya mau cari hiburan sekejap.Habis itu pulang tak dapat apapun. Yang diingat cuma lucunya saja. Tidak ada pencerahan yang dibawa pulang kecuali “ger-geran ketawa terpingkal-pingkal.” Apakah kita hanya suka melihat penampilan luar atau kita sungguh membuka hati mendengarkan Sabda Tuhan? Bagaimana dengan kita sendiri? Dokter gigi memasang gigi palsu, Lalu siapa yang bikin ijasah palsu? Senang sekali mendengar kotbah lucu, Tapi ketika ditanya isinya tidak tahu. Wonogiri, mendengar tapi tak mengerti Rm. A.Joko Purwanto,Pr Puncta 23 Juli 2025
Rabu Biasa XVI Matius 13:1-9 KISAH Panji Asmara Bangun putra raja Jenggala mencari kekasihnya didongengkan dalam banyak cerita. Salah satunya adalah Kisah Enthit. Pangeran itu menyamar sebagai petani bernama Enthit. Apa yang ditanam selalu tumbuh dengan subur. Tanah yang digarapnya menghasilkan banyak buah. Kekasihnya bernama Dyah Ayu Galuh Candra Kirana yang mengagumi hasil kerja Enthit. Mereka berbalas pantun dalam sebuah lagu. Saya terjemahkan nyanyian mereka secara bebas. "Enthit.....siapa yang menanam padi bernas subur ini?" "Sayangku, Cintaku. Akulah yang menanam. Ambillah bila kau mau. Sekalian dengan hatiku ya sayang." "Tidak, Enthit. Aku hanya bertanya saja." "Enthit.....siapa yang menanam mentimun besar-besar ini?" Oh Dara nan cantik. Akulah yang menanam. Ambillah bila kau mau. Seluruh hartaku dan hatiku hanya untukmu, sayang." "Tidak, Enthit. Hatiku sudah ada yang punya." Begitulah, Enthit memikat hati Galuh Candra Kirana karena berhasil menjadi petani yang hebat. Akhirnya mereka bertemu kembali sebagai pasangan suami istri. Yesus memberi perumpamaan tentang penggarap tanah yang menaburkan benih ke ladangnya. Tanah itu ada yang berbatu, ada yang penuh onak duri, tetapi juga ada tanah yang subur makmur. Tanah yang subur bisa menghasilkan seratus kali lipat, enampuluh kali lipat dan tigapuluh kali lipat. Kita ini seperti tanah-tanah yang ditaburi benih sabda Tuhan. Ada yang tandus, tak berbuah. Ada yang penuh rintangan duri menghambat perkembangannya. Tetapi ada juga yang dipelihara dengan baik dan menghasilkan buah berlimpah seperti Enthit. Lalu dimanakah posisi kita sebagai tanah yang ditaburi benih sabda Tuhan itu? Apa hasil yang kita berikan sehingga Tuhan dapat memetik buahnya? Ikan lele atau ubur-ubur, Ditangkap di tengah sawah. Marilah kita jadi tanah subur, Agar menghasilkan buah berlimpah. Wonogiri, teruslah berbuah Rm. A. Joko Purwanto, Pr Puncta 22 Juli 2025
Pesta St. Maria Magdalena Yohanes 20:1.11-18 HERCULE Poirot adalah detektif yang memeriksa kasus pembunuhan di dalam gerbong Kereta Orient Express. Seorang dermawan, Ratchett ditemukan tewas di gerbong mewah dengan duabelas tusukan. Anehnya tusukan itu dilakukan oleh dua tangan, yakni kanan dan kiri. Poirot harus bisa memecahkan masalah ini dalam perjalanan kereta yang cepat. Ia menemukan satu bukti kuat yakni pisau yang berlumuran darah. Novel Murder on the Orient Express mengajarkan kita agar tidak mempercayai tentang apa yang kita lihat dan apa yang kita dengar tanpa membuktikannya. Seperti yang dikatakan oleh Poirot sendiri, “Kamar ini penuh dengan petunjuk, tapi dapatkah dipercaya bahwa semua petunjuk itu memang demikian adanya?” Dari petunjuk-petunjuk itu Poirot membuat analisa dan kesimpulan siapa pembunuh misterius di kereta mewah itu. Dalam kisah kebangkitan, Maria Magdalena mengabarkan kepada murid-murid yang lain. Petrus dan murid lainnya datang mau melihat apa yang terjadi sesungguhnya. Mereka tidak percaya omongan perempuan-perempuan yang suka ngegosip itu. Mereka menemukan kain kapan sudah terletak di tanah dan kain peluh yang tadinya ada di kepala Yesus tidak terletak dekat kain kapan itu, tetapi agak di samping di tempat yang lain dan sudah tergulung. Tidak mungkinlah seorang pencuri sempat-sempatnya membuka kain kapan dan menggulung kain peluh ditata rapi di tempat yang lain. Seorang saksi mata melihat dengan jeli kain kapan dan kain peluh itu sebagai bukti bahwa Yesus tidak dicuri, tetapi Yesus hidup. Ia seperti Poirot yang melihat pisau berlumuran darah adalah sebuah bukti. Maria Magdalena yang kita peringati hari ini punya peranan penting. Dialah yang pertama melaporkan kejadian ini kepada Petrus dan murid yang lain. Dialah pewarta kebangkitan Yesus. Kendati awalnya dugaannya salah, tetapi dia terus maju untuk menjadi percaya. Marilah kita meneladan Maria Magdalena yang berani menjadi saksi Kristus dan mewartakan kepada orang lain. Kendati dia pernah hidup dalam dosa, tetapi karena kasih-Nya, Maria membalas dengan sepenuh jiwa. Kasih tak memandang kegagalan atau kedosaan orang. Waduk Wonogiri banyak ikan, Dijajakan di pinggir-pinggir jalan. Wanita dosa jadi pewarta iman, Dengan total ia mengasihi Tuhan. Wonogiri, marilah jadi pewarta iman Rm. A. Joko Purwanto, Pr Puncta 21 Juli 2025
Senin Biasa XVI Matius 12: 38-42 TANDA adalah sesuatu yang dipakai untuk menunjukkan pesan atau pernyataan sebuah peristiwa. Ijasah misalnya, adalah sebuah kertas khusus yang dipakai untuk menyatakan bahwa orang itu lulus dalam suatu proses pendidikan. Ijasah palsu atau asli itu urusan lain. Kepala pusing, perut mual-mual itu adalah tanda yang menyatakan badan sedang sakit atau tidak baik-baik saja. Maka harus dibawa ke dokter untuk periksa. Kalau kita pergi melayat, itu juga sebuah tanda yang berbicara pada kita bahwa suatu saat kita akan mengalami hal yang sama. Lalu apa yang perlu kita persiapkan? Gejala-gejala alam juga merupakan tanda. Penduduk di lereng Merapi tahu kalau binatang-binatang turun ke kampung artinya gunung itu akan mengeluarkan lava panas. Maka penduduk harus waspada untuk siap-siap mengungsi. Orang yang peka, tajam hati dan pikirannya tahu akan tanda-tanda di sekitarnya. Kali ini para ahli Taurat datang pada Yesus meminta suatu tanda. Pada waktu itu berkatalah beberapa ahli Taurat dan orang Farisi kepada Yesus: "Guru, kami ingin melihat suatu tanda dari pada-Mu." Mereka ingin melihat suatu bukti bahwa Yesus datang dari Allah. Mata hati mereka tidak mampu melihat apa yang diajarkan, dibuat dan dilakukan Yesus itu adalah sebuah tanda. Membuat mukjizat menyembuhkan orang sakit, membangkitkan orang mati, menghardik badai, mengusir setan-setan tidak mereka lihat sebagai tanda. Tetapi jawab-Nya kepada mereka: "Angkatan yang jahat dan tidak setia ini menuntut suatu tanda. Tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi Yunus.” Yesus tidak mau menanggapi orang yang tidak percaya. Untuk apa diberi tanda jika mereka tidak mau percaya. Yang perlu bagi kita membuka hati agar peka melihat tanda-tanda dari Tuhan dengan dasar iman kepercayaan. Kepekaan hati akan membantu kita melihat tanda-tanda kehidupan. Kita bisa mengantisipasi apa yang akan terjadi dan menyiapkan diri dengan baik. Mari kita peka terhadap tanda-tanda di sekitar kita. Berendam di pemandian Maribaya, Takut “mentas” karena tidak bercelana. Dengan tanda-tanda Tuhan berbicara, Kita diajak membuka hati dan percaya. Wonogiri, lihatlah tanda-tanda Rm. A.Joko Purwanto, Pr Puncta 20 Juli 2025
Minggu Biasa XVI Lukas 10: 38-42 DALAM program paroki, kami membuat kegiatan kunjungan keluarga untuk menyapa umat di lingkungan-lingkungan. Sudah disepakati bersama bahwa dalam kunjungan, keluarga tidak perlu menyediakan makan dan minum. Yang pokok adalah romo bisa bertemu dengan seluruh keluarga dan bisa ngobrol santai “ngalor-ngidul.” Tetapi orang Jawa itu sungkan dan tidak enak, ada tamu kok tidak disuguhi. Maka sibuklah tuan rumah mempersiapkan makan dan minum. "Nganak- anakke." Tujuan utama untuk berdialog dan wawan hati tidak tercapai karena yang dikunjungi malah sibuk menyiapkan hidangan ini dan itu. Begitulah dalam kunjungan-Nya ke Betania, Yesus bertamu ke rumah Marta dan Maria. Marta sibuk menyiapkan segala sesuatu untuk tamu yang dihormati. Ia ribut ke sana ke mari untuk membuat hidangan terbaik. Sedang Maria duduk dekat Yesus dan mendengarkan Dia. Inilah tujuan Yesus datang. Ia ingin berwawanhati dengan mereka. Tetapi cara mereka menerima-Nya berbeda-beda. Padahal hanya satu yang dikehendaki Yesus yakni perjumpaan. Kadang kita sibuk dengan hal-hal yang tidak penting kala berjumpa dengan Yesus dalam doa. Pikiran kita melayang-layang kemana-mana memikirkan hal-hal yang tidak perlu. Padahal yang diperlukan hanyalah duduk diam di hadapan Tuhan. Kadang kita terlalu menyibukkan diri dengan hal-hal yang tidak perlu dan mengabaikan Tuhan yang berbicara pada kita. Kita seperti Marta yang sibuk sendiri. Tetapi Tuhan berkata: "Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya." Mari kita bisa membuat prioritas, dari hal-hal yang baik itu mana yang paling pantas untuk berjumpa dengan Tuhan. Yesus sudah “keraya-raya” datang menjumpai kita. Maka janganlah menyibukkan diri dengan hal yang tidak berguna. Makan nasi dibungkus daun kelapa, Lauknya ayam goreng bagian kepala. Yesus ingin berbicara dengan kita, Jangan kita sibuk dengan hal tak berguna. Wonogiri, sabar untuk mendengar Rm. A. Joko Purwanto,Pr Puncta 19 Juli 2025
Sabtu Biasa XV Matius 12:14-21 KETIKA musim tebu tiba, kita bisa mendapatkan buluh atau batang dari bunga-bunga tebu yang menjulang. Buluh tebu atau glagah itu rapuh karena di dalamnya ada rongga kosong. Maka kalau kena angin buluh-buluh itu bisa terkulai dan putus. Dari buluh tebu itu kita bisa bikin mainan; bikin suling yang dilubangi kecil-kecil; bikin roda mobil-mobilan. Sambil mengambil glagah, kami juga sering mencuri tebu-tebu di sawah. Dikejar-kejar oleh Pak Mandor itu pengalaman yang sangat seru dan mendebarkan. Ada gejolak adrenalin yg kuat. Yesus mengambil contoh buluh yang terkulai dan sumbu yang hampir padam untuk menggambarkan kasih Allah yang tidak mematikan, tetapi justru dipelihara agar tetap hidup. Ketika nyala sumbu pelita mulai redup, ia tidak dimatikan, tetapi disambung agar tetap menyala. Ini adalah sikap Allah yang tidak memupus harapan tetapi justru menghidupkan. Buluh yang terkulai atau sumbu yang redup adalah lambang kehidupan kita. Kadang kita mengalami beban berat, putus asa dan tiada harapan. Kita rentan alami redup bahkan gagal dalam hidup. Di mata manusia, buluh yang terkulai dan sumbu yang padam dianggap sudah tidak ada gunanya. Apalah untungnya menyimpan barang yang sudah rusak. Tetapi bagi Allah, kegagalan atau kehancuran tidak menjadi alasan untuk tidak mengasihinya. Justru Allah peduli dengan orang yang lagi patah harapan. Kalau ada teman yang jatuh, gagal, kita sering menyingkirinya dan mengasingkan atau bahkan membuangnya. Namun Allah tidak akan menghancurkan hidup kita. Allah akan tetap memelihara kita yang mudah jatuh dan gagal. Apakah kita berani mengambil sikap seperti Allah jika ada teman kita yang jatuh, terkulai, putus asa, gagal dan hampir padam semangatnya? Apakah kita punya empati kepada mereka yang sedang terpuruk? Pergi ke Solo dengan naik taksi, Sampai di pasar beli gudeg nasi. Mengasihi diawali dengan empati, Yang gagal dan jatuh jangan dijauhi. Wonogiri, memberi harapan Rm.A. JokoPurwanto, Pr |
Archives
December 2034
Categories |
RSS Feed