Paroki St. Yohanes Rasul Wonogiri
  • Home
  • Profil Paroki
  • Katekese
  • Pelayanan
  • Berita Paroki

katekese

Konflik Batin di Biara

9/7/2026

0 Comments

 
Puncta 7 September 2026
Senin Biasa XXIII
Lukas 6:6-11

SEORANG suster menghadapi dilema antara ikuti aturan di komunitas atau menolong orang yang sakit kritis.

Ia mempunyai jiwa sosial yang tinggi karena pernah bertugas di pedalaman yang sangat membutuhkan pertolongan tenaga medis.

Suatu kali dia dimarahi pimpinan komunitas (piko) karena tidak ikut ibadat siang. Ia pergi menolong seorang ibu yang kesulitan saat melahirkan. 

Berkali-kali dia ditegur oleh pikonya karena sering mendapat panggilan darurat untuk menolong orang sakit.

Tetapi suster ini lebih memilih menolong orang daripada doa harian di komunitas. Baginya membantu orang lain yang sedang menghadapi ajal adalah wujud dari doanya juga. 

“Doa ibadat toh bisa kita lakukan setiap saat, tetapi segera bertindak untuk orang sakit harus dilakukan saat itu, kalau tidak, nyawa orang jadi taruhannya,” katanya.

Yesus berhadapan dengan kaum Farisi yang kaku dan keras terhadap aturan Taurat. Mereka memaksa orang lain untuk mengikuti hukum Taurat. 

Salah satunya adalah aturan hukum Sabat. Mereka mengamat-amati Yesus apakah Dia mentaati Sabat atau tidak.

Tetapi Ia mengetahui pikiran mereka, lalu berkata kepada orang yang mati tangannya itu: "Bangunlah dan berdirilah di tengah!" 

Maka bangunlah orang itu dan berdiri. Yesus berkata kepada mereka: "Aku bertanya kepada kamu: Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membinasakannya?"

Mereka tidak menjawab apa-apa. Yesus tahu kedegilan hati mereka. Kendati orang-orang itu pasti akan marah kepada-Nya, tetapi Yesus tetap menyembuhkan orang sakit itu. 

Yesus menegaskan bahwa hari Sabat untuk menyelamatkan dan berbuat baik bukan sekedar mematuhi aturan kaku.

Dengan terang-terangan Yesus berkonfrontasi dengan para ahli Taurat untuk membongkar kemunafikan mereka yang lebih memilih aturan-aturan Taurat daripada menolong dan menyelamatkan nyawa orang. 

Bagaimanakah sikap kita jika menghadapi dilema seperti ini? Apakah kita berani melawan arus demi menyelamatkan dan menolong orang?

Sepercik pantun buat kita:

Di kamar ada lukisan Raden Saleh,
Warnanya indah tak pernah meleleh.
Jangan berpura-pura berlaku saleh,
Kalau hati kita tidak bisa sumeleh.

Wonogiri, selalu berbuat kasih
Rm.A.Joko Purwanto, Pr
0 Comments

Mimbar Bukan Tempat Menghakimi

9/6/2026

0 Comments

 
Puncta 6 September 2026
Minggu Biasa XXIII. 
Minggu Kitab Suci Nasional
Matius 18: 15-20

BEBERAPA umat mengungkapkan keprihatinannya terhadap rama-rama yang suka marah-marah di atas mimbar saat homili. Ada yang menunjuk secara ad hominem kesalahan-kesalahan umat. 

Ada yang menantang umat di atas mimbar.  “Kalau tidak suka dengan saya, silahkan lapor kepada Bapak Uskup. Saya tidak takut!” 

Ada juga yang suka menghakimi; “Umat ini bodoh, orang-orang di lingkungan ini malas-malas.” Kata-kata itu diungkapkan di depan banyak orang saat homili. 

Mimbar harus digunakan dengan bijaksana. Mimbar bukan tempat untuk mengadili orang. Kita ini hanya pelayan. Umat adalah milik Tuhan yang kita layani.

Yesus memberi nasehat bagaimana menyelesaikan masalah. Ada tahap-tahap dialog yang harus dilakukan supaya orang tidak merasa malu, takut, kecewa dan patah hati. 

Bagaimana kita bisa menarik banyak orang ke gereja kalau gembalanya suka marah-marah dan mengadili orang di depan umum?

"Apabila saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia di bawah empat mata. Jika ia mendengarkan nasihatmu engkau telah mendapatnya kembali.” 

Ini langkah pertama untuk berbicara dari hati ke hati. Tidak langsung diutarakan di tengah-tengah jemaat dalam ibadat.

Langkah kedua, “Jika ia tidak mendengarkan engkau, bawalah seorang atau dua orang lagi, supaya atas keterangan dua atau tiga orang saksi, perkara itu tidak disangsikan.” 

Kita ajak saksi-saksi yang tahu persis masalahnya. Jangan hanya berdasar pada “kata orang, kata ibu ini, isue-isue yang berkembang.”

Langkah ketiga, “Jika ia tidak mau mendengarkan mereka, sampaikanlah soalnya kepada jemaat.” 

Menyampaikan kepada jemaat bukan untuk menjelek-jelekkan, tetapi untuk mencari solusi yang berguna bagi semua orang. 

Langkah terakhir, “Jika ia tidak mau juga mendengarkan jemaat, pandanglah dia sebagai seorang yang tidak mengenal Allah atau seorang pemungut cukai.” Orang-orang seperti itu adalah orang-orang yang perlu dikasihani. 

Yesus tidak menyingkirkan para pemungut cukai, tetapi Yesus justru mengasihani mereka. Para pemungut cukai dan orang berdosa disingkirkan masyarakat. Tetapi Yesus justru mendatangi mereka.

Sebagaimana Yesus, pandanglah mereka sebagai orang yang perlu dikasihani. 

Sepercik pantun buat anda:

Kalau kamu menunjuk orang dengan jari,
Satu jari ke orang lain, tiga jari ke diri sendiri.
Janganlah gunakan mimbar untuk mengadili,
Berkacalah sendiri apa yang salah dengan diriku ini.

Wonogiri, gunakan dialog dengan hati
Rm. A.Joko Purwanto, Pr
0 Comments

Tuhan Atas Hari Sabat

9/5/2026

0 Comments

 
Puncta 5 September 2026
Sabtu Biasa XXII
Lukas 6:1-5

PADA hari Minggu ada acara “Car Free Day” di sebuah alun-alun kota. Jalanan penuh sesak dengan orang-orang yang berolahraga, atau sekedar jalan dan menikmati jajanan. 

Di kanan kiri badan jalan banyak sekali orang berjualan.
Jalan itu adalah satu-satunya akses menuju ke rumah sakit daerah. 

Suatu kali terjadi sebuah ambulance membawa orang yang sakit kritis menuju ke rumah sakit. Tetapi karena kerumunan orang banyak di Car Free Day, mobil tidak mudah mencapai tujuan.

Akibatnya, pasien yang seharusnya bisa tertolong, harus mati tertahan oleh kerumunan CFD yang tak peduli nyawa manusia. 

Walau diprotes banyak orang, Bupati memindahkan acara CFD tidak di alun-alun, tetapi di stadion olahraga yang tidak mengganggu arus lalu lintas. 

Demi keselamatan manusia, aturan bisa diubah agar nyawa manusia lebih diutamakan. 

Seringkali kita tidak berani “uthak-uthik” aturan, apalagi kalau di belakangnya ada ormas-ormas atau kelompok tertentu yang merasa terganggu. 

Aturan dibuat untuk keselamatan semua manusia, bukan untuk kelompok-kelompok tertentu yang mengambil keuntungan dari aturan-aturan itu. 

Kalau aturan itu mengorbankan nyawa orang, maka aturan itu harus ditinjau kembali.

Yesus berhadapan dengan kaum Farisi yang getol dan kaku menjalankan aturan. Hukum adalah hukum, titik! Tak ada dispensasi atau toleransi. 

Mereka memprotes murid-murid Yesus yang memetik gandum pada hari Sabat. Tindakan ini dianggap melanggar aturan Sabat.

Yesus menjawab mereka; "Tidakkah kamu baca apa yang dilakukan oleh Daud, ketika ia dan mereka yang mengikutinya lapar, bagaimana ia masuk ke dalam Rumah Allah dan mengambil roti sajian, lalu memakannya dan memberikannya kepada pengikut-pengikutnya, padahal roti itu tidak boleh dimakan kecuali oleh imam-imam?"

Yesus menegaskan bahwa Dia adalah Tuhan atas hari Sabat. "Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat." 

Tuhan berkuasa atas segala waktu dan aturan-aturannya. Kita sering membuat aturan-aturan kaku dan membelenggu manusia. 

Kita lebih sering mementingkan aturan daripada perikemanusiaan. Yang lebih parah, ada pihak-pihak yang memutarbalikkan aturan demi kepentingan sendiri atau kelompok tertentu. 

Mari kita bertobat untuk tidak memaksakan kehendak sendiri dengan dalih-dalih demi taat aturan.

Sepercik pantun buat anda:

Kalimantan diliputi kabut pekat,
Orang kecil jadi korban aturan yang ketat 
Yesus adalah Tuhan atas hari Sabat,
Jangan bikin aturan yang buat orang sekarat.

Wonogiri, aturan untuk menyejahterakan
Rm. A.Joko Purwanto,Pr
0 Comments

Zaman Baru, Hukum Baru

9/4/2026

0 Comments

 
Puncta 4 September 2026
Jum’at Biasa XXII
Lukas 5:33-39

YESUS datang membawa kebaruan. Pembaharuan dicanangkan Yesus dalam pengajaran dan sikap hidup. Pengajaran-Nya dinilai sangat berwibawa dan berkuasa. Bahkan setan-setan pun tunduk dan taat kepada-Nya.

Hukum Taurat ditafsirkan secara baru. Orang tidak hanya taat buta pada aturan-aturan yang tertulis dalam Kitab Taurat, tetapi orang diajak masuk ke dalam inti substansi atas aturan-aturan itu. Ia membawa hukum yang baru yakni Hukum Kasih.

Kasih kepada Allah dan kasih kepada sesama manusia seperti pada diri sendiri, itulah inti dasar dari segala hukum yang tertera dalam Taurat. 

Yesus mengajarkan sekaligus melaksanakan Hukum Kasih itu. Ia membuka zaman baru dengan hukum yang baru.

Oleh karena itu Yesus membawa zaman baru dalam penghayatan cara hidup beragama di kalangan orang-orang Yahudi. 

Banyak orang yang terkejut dan tidak memahami apa yang diajarkan Yesus. Mereka menganggap Yesus akan menghapuskan Hukum Taurat.

Salah satu hal yang diperdebatkan oleh mereka adalah tentang berpuasa. Orang-orang Farisi itu berkata pula kepada Yesus: "Murid-murid Yohanes sering berpuasa dan sembahyang, demikian juga murid-murid orang Farisi, tetapi murid-murid-Mu makan dan minum."

Ia mengumpamakan Diri-Nya sebagai mempelai laki-laki yang sedang bersama dengan para tamu di dalam perjamuan nikah. 

Tidak mungkin orang berpuasa saat mempelai itu ada bersama mereka. Kehadiran mempelai membawa sukacita. Mereka berpesta dan bergembira.

Kalau mempelai diambil dari mereka, maka mereka tidak makan atau minum. Pesta sudah usai maka mereka tidak makan dan minum. Mereka boleh berpuasa. 

Ketka kita dekat dengan Tuhan, kita tidak berpuasa. Ketika kita merasa Tuhan jauh dari kita, disitulah kita berpuasa.

Kehadiran Yesus membawa sikap mental yang baru. Apa yang lama ditinggalkan dan zaman baru disambut dengan sikap hidup yang baru yakni berusaha makin mengasihi Allah sedalam-dalamnya.

Mengikuti Yesus berarti mau berubah, mau hidup secara baru seperti yang dikehendaki oleh Tuhan. 

Aturan yang membelenggu harus ditinggalkan dan diubah dengan semangat kasih yang menyelamatkan.

 Maukah kita hidup dengan sikap Yesus yang baru?

Sepercik pantun buat anda:

Perusahaan membakar lahan-lahan,
Orang kecil yang disalah-salahkan.
Yesus datang membawa perubahan,
Hukum Kasih diatas segala aturan.

Wonogiri, membangun hukum kasih
Rm.A.Joko Purwanto,Pr
0 Comments

Duc In Altum

9/3/2026

0 Comments

 
Puncta 3 September 2026
Pw. St. Gregorius Agung 
Lukas 5:1-11 atau RUybs  Lukas 22:24-30

SESUDAH Yesus mengajar orang banyak dari atas perahu Simon, Ia menyuruh Simon bertolak ke tempat yang lebih jauh untuk menangkap ikan. 

Hari itu sudah mulai siang. Simon baru saja membasuh jalanya. Sepanjang malam dia menjala, tetapi tidak mendapat apa-apa.

Kegagalan itu disampaikan kepada Yesus. ”Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga.”

Semalaman mereka bekerja sendiri. Kini Yesus bersama mereka, ada di atas perahu mereka. Dia menyuruh Simon menebarkan jala walau bukan saat yang tepat untuk menangkap ikan. Namun karena perintah-Nya, Simon taat kepada-Nya.

Simon takjub akan hasil yang ditangkapnya. Bahkan dia sampai tidak mampu menarik jalanya. Ia memanggil teman-temannya untuk membantu. 

Ia mengisi semua perahu dengan ikan yang banyak. Melihat itu, Simon tersungkur didepan Yesus. ”Tuhan, pergilah dari padaku, karena aku ini seorang berdosa.”

Menjumpai pengalaman yang menakjubkan, kita hanya bisa tersungkur dan merasa berdosa. Tak pantaslah diri kita di hadapan Tuhan yang Mahabesar. Simon tersungkur dan mohon belas kasihan. Ia merasa sebagai orang yang berdosa.

Kita diajar dari pengalaman Simon bahwa tidak ada yang sia-sia jika kita taat pada perintah Tuhan. Dia akan memberikan berkat pada saat yang tepat.

Kendati kita harus bertolak ke tempat yang dalam, sulit, berbahaya dan penuh tantangan. Tetapi Tuhan pasti akan memberikan hasil yang berlimpah.

Taat pada perintah Tuhan itulah yang dilakukan Simon. Kemudian, berkah Tuhan dibagi-bagi untuk orang lain. 

Simon tidak menikmati berkah itu sendiri. Namun ia membaginya untuk teman-temannya. “Dan mereka itu datang, lalu mereka bersama-sama mengisi kedua perahu itu dengan ikan hingga hampir tenggelam.”

Pernahkan anda alami dalam hidup, ketika anda taat pada Tuhan, walau harus berjuang, tetapi berkat-Nya melimpah ruah melebihi apa yang anda harapkan? 

Lalu apa yang anda lakukan selanjutnya?

Sepercik pantun buat anda:

Kebakaran melanda di Kalimantan,
Rakyat kecil menderita tanpa bantuan.
Kalau kita taat pada perintah Tuhan,
Berkat Tuhan diberikan berkelimpahan.

Wonogiri, senja penuh harapan
Rm. A.Joko Purwanto, Pr
0 Comments

Mutasi; Siap Diutus

9/2/2026

0 Comments

 
Puncta 2 September 2026
Rabu Biasa XXII
Lukas 4:38-44

BULAN Juli-Agustus adalah saat dimana ada mutasi bagi para imam. Ada yang berpindah dari desa ke paroki kota. Ada yang ditugaskan dari kota ke desa. Bahkan ada yang dikirim jauh ke luar keuskupan. 

Perpindahan atau mutasi adalah hal biasa bagi para imam. Namun kadang ada penilaian keliru dari umat, kalau dipindah jauh dianggap dibuang atau sedang bermasalah. Kalau dipindah ke paroki kota dibilang sedang dipromosikan.

Dimana pun kita ditugaskan, itu adalah perutusan. Sebagai seorang imam, kita harus siap diberi tugas dimana pun. 

Kita tidak boleh “mager” di suatu tempat. Kita perlu waspada kalau mulai merasa aman di zona nyaman. Bisa-bisa kita terlena menuju kematian.

Dalam perikope Injil hari ini, Yesus menolak keinginan banyak orang untuk tinggal di Kapernaum. Mereka melihat keberhasilan Yesus; banyak orang disembuhkan, banyak setan diusir, roh-roh jahat tunduk kepada-Nya dan kuasa-Nya luar biasa.

Mereka berusaha menahan Dia agar tetap tinggal di situ. Namun Yesus dengan bijak berkata; “Juga di kota-kota lain, Aku harus mewartakan Injil Kerajaan Allah, sebab untuk itulah Aku diutus.” 

Yesus mengajar kita agar tidak terikat pada satu hal saja; tempat, tugas, orang, umat, komunitas, keberhasilan, sukses atau hobby sekalipun.

Tidak mudah berpindah tugas. Kadang ada perasaan tidak rela meninggalkan kemapanan, keberhasilan, kenyamanan dan ketergantungan. 

Tetapi disinilah dibutuhkan kerendahan hati. Tempat baru menantang kita untuk belajar, berpikir secara baru dan kreatif.

Mewartakan Injil adalah perutusan. “Untuk itulah aku ditahbiskan dan diutus!” 

Menjadi imam harus siap diutus kemana saja. Kita tidak bisa memilih tempat-tempat yang nyaman, enak, basah atau mudah. 

Kemana saja kita dimutasi dan ditugaskan, disitulah kemurnian motivasi kita ditantang. Untuk itulah aku diutus agar semakin banyak orang merasakan kasih Tuhan. 

Bukan untuk diriku sendiri, tetapi bagi semakin banyak umat   dilayani dan Injil diwartakan.

Sepercik pantun buat anda:

Pergi ke Bekasi naik Parahiyangan,
Sambil menikmati indahnya pegunungan.
Jadi imam bukan mencari keuntungan,
Beruntung kita dipilih untuk mewartakan.

Wonogiri, untuk itu aku diutus
Rm. A. Joko Purwanto, Pr
0 Comments

Wibawa dan Integritas

9/1/2026

0 Comments

 
Puncta 1 September 2026
Selasa Biasa XXII
Lukas 4:31-37

SUATU kali seorang wanita tua dari Kemusuk Argomulyo Sedayu mau pergi ke Pasar Gamping. Ia menunggu mobil angkutan. Ia hendak menyeberang jalan raya. 

Hari masih gelap. Matahari masih berada di peraduannya. Ia melihat sesosok polisi yang berdiri tegak di pinggir jalan. 

“Pak Polisi tulung kula disebrangke nggih,” (Pak Polisi tolong saya diseberangkan ya) sambil “nyeblek-nyeblek” (colek-colek)  tangan pak polisi. 

Berkali-kali dia menepuk-nepuk badan polisi itu tetapi dia tidak bersuara ataupun bereaksi. Hanya berdiri dengan tegap memandang ke depan.

Ternyata “Polisi” itu hanya patung yang berseragam polisi dengan nama mentereng Pak Wibawa. Tetapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Pak Wibawa tetapi tidak punya wibawa sama sekali.

Kewibawaan itu nampak dari kata-kata dan tindakannya. Orang yang berwibawa tidak hanya pandai berkata-kata, tetapi tidak bisa berbuat apa-apa. Orang yang berwibawa menunjukkan satunya ucapan dan tindakannya.

Kewibawaan itu nampak dari benarnya apa yang diucapkan dan terwujudnya kata-kata yang disampaikan. Integritas seseorang dinilai dari menyatunya tindakan dan ucapannya. Mari kita belajar dari perikop Injil hari ini.

Yesus dipandang oleh orang-orang di Kapernaum sebagai pengajar yang beribawa. “Alangkah hebatnya perkataan ini! Sebab dengan penuh wibawa dan kuasa Ia memberi perintah kepada roh-roh jahat dan mereka pun keluar.”

Yesus menunjukkan ucapan-Nya sangat berkuasa dan berwibawa. Ia menyuruh setan untuk pergi dari orang yang kerasukan. Walaupun setan itu memuji-muji Yesus sebagai Yang Kudus dari Allah, tetapi Yesus tidak silau dengan pujian. 

Setan selalu punya seribu satu tipu muslihat bahkan dengan hal-hal yang indah, manis dan mempesona. Yesus tidak terjebak dan tertipu oleh rayuan dan pujian. Ia mengusir setan itu keluar. Dan setan itu tunduk oleh kuasa-Nya.

Jangan lemah oleh rayuan dan pujian. Kebaikan dan kebenaran harus tetap ditegakkan meskipun kita dihujani oleh aneka macam pujian yang memabukkan. 

Disinilah kuasa dan wibawa Yesus makin bersinar karena Dia selalu tegas dalam kata dan tindakan-Nya.

Mari kita meneladan sikap Yesus yang penuh wibawa. Kita akan dihargai oleh integritas yang kita bangun melalui kata dan tindakan kita.

Sepercik pantun buat anda:

Patung Polisi namanya Wibawa,
Tapi dia tak bisa berbuat apa-apa.
Tuhan Yesus menunjukkan kuasa,
Dengan tindakan kasih yang nyata.

Wonogiri, senja datang sebentar
Rm. A. Joko Purwanto, Pr
0 Comments
Forward>>

    Archives

    December 2034
    September 2026
    August 2026
    July 2026
    June 2026
    May 2026
    April 2026
    March 2026
    February 2026
    January 2026
    December 2025
    November 2025
    October 2025
    September 2025
    August 2025
    July 2025
    June 2025
    May 2025
    April 2025
    March 2025
    February 2025
    January 2025
    December 2024
    November 2024
    October 2024
    September 2024
    August 2024
    February 2024
    February 2022
    January 2022
    December 2021
    November 2021
    October 2021
    July 2021

    Categories

    All
    Hello Romo!
    Katekese
    Puncta
    Rubrik Alkitab

    RSS Feed

Site powered by Weebly. Managed by Rumahweb Indonesia
  • Home
  • Profil Paroki
  • Katekese
  • Pelayanan
  • Berita Paroki