Paroki St. Yohanes Rasul Wonogiri
  • Home
  • Profil Paroki
  • Katekese
  • Pelayanan
  • Berita Paroki

katekese

Rama Sandjaya Pr, Martir di Muntilan

11/26/2025

0 Comments

 
Puncta 26 November 2025
Rabu Biasa XXXIV
Lukas 21:12-19

TIGA tahun setelah kemerdekaan Indonesia, kondisi keamanan belum kondusif. Masih terjadi perang di daerah-daerah. 

Apalagi Belanda masih ingin menguasai Indonesia. Beberapa kali terjadi agresi di Semarang, Ambarawa, Muntilan dan Yogya.

Rm. Sandjaya bertugas di Seminari Muntilan. Situasi revolusi masih belum aman. Seminari mau dibakar oleh para pejuang kiri. 

Situasi mencekam karena ancaman dan teror. Rama Rektor yang adalah pastor Belanda diundang rapat oleh para pemuda.

Rama Sandjaya mencium ada gelagat yang mencurigakan. Maka ia minta ijin menggantikan Rama Rektor menghadiri “rapat” di desa sebelah. Bersama Fr. Bouwens SJ, Rama dijemput pemuda-pemuda Muntilan.

Tanggal 20 Desember 1948 malam hari Rama Sandjaya dibawa pemuda-pemuda kampung. Itu adalah malam terakhir hidup Rama Sandjaya. 

Belum sampai di Bale desa, Rama Sandjaya dan Fr. Bouwens dibunuh oleh para pemuda di antara desa Kembaran dan Patosan. 

Jenasahnya ditemukan di tengah sawah dalam kondisi yang mengenaskan. Ia mengalami penyiksaan dan kemudian ditembak di malam yang gelap itu. 

Kini makam Rama Sandjaya di Kerkhof Muntilan dikunjungi banyak peziarah. Mereka percaya Rm. Sandjaya adalah martir suci yang membela imannya.

Yesus menasehatkan kepada para murid-Nya untuk tetap teguh dan percaya menghadapi segala pencobaan dan penderitaan demi imannya.

 Ia berkata, “Tetapi sebelum semuanya itu kamu akan ditangkap dan dianiaya; kamu akan diserahkan ke rumah-rumah ibadat dan penjara-penjara, dan kamu akan dihadapkan kepada raja-raja dan penguasa-penguasa oleh karena nama-Ku. Hal itu akan menjadi kesempatan bagimu untuk bersaksi.”

Yesus juga berpesan agar para murid tetap tenang dan yakin, tidak perlu takut karena Dia akan menjaga dan melindungi mereka. “Kalau kamu tetap bertahan, kamu akan memperoleh hidupmu." 

Nyawa tidak lebih berharga dengan jaminan keselamatannya. Apa gunanya punya nyawa tetapi akhirnya tidak selamat, tidak masuk sorga? 

Orang rela mengorbankan nyawanya karena ia percaya akan selamat di sorga. Yesuslah yang menjamin keselamatan kita.

Beli empek-empek ke Palembang,
Aku suka yang rasa kapal selam.
Janganlah takut dan bimbang
Yesus siap memberikan jaminan.

Wonogiri, jangan takut
Rm. A.Joko Purwanto, Pr
0 Comments

Di Balik Kemegahan Borobudur

11/25/2025

0 Comments

 
Puncta 25 November 2025
Selasa Biasa XXXIII
Lukas 21: 5-11

RIBUAN pelacong baik domestik maupun mancanegara berbondong-bondong datang ke Candi Borobudur di Magelang. Mereka mengagumi hasil karya abad ke 8 Masehi zaman Dinasti Syailendra yang hebat ini.

Mereka berdecak kagum akan karya besar manusia pada zaman itu. Mereka mengelilingi candi yang berbentuk mandala dan menaiki tanggga-tangga menuju puncak. 

Di atas candi mereka bisa melihat pemandangan indah. Ada banyak stupa-stupa yang di dalamnya ada patung Budha bersemadi.

Banyak turis asing naik ke puncak juga ingin menikmati pemandangan matahari terbit yang sangat indah. Walau harus membayar tiket mahal, namun menikmati keindahan Candi Borobudur tak seberapa dengan harga yang harus dibayar.

Namun orang sering hanya berhenti mengagumi keindahan luarnya saja. Keindahan fisik itu hanya sementara saja. 

Orang lupa bahkan tidak tahu bahwa di balik keindahan Borobudur itu ada nilai-nilai kekal yang diajarkan lewat panel-panel dinding candi.

Relief candi mengajarkan nilai-nilai luhur untuk mencapai kesempurnaan hidup. Dalam relief itu ada tingkatan perjalanan hidup manusia; Kamadhatu (dunia nafsu), Rupadhatu (dunia bentuk, wujud) dan Arupadhatu (dunia tanpa wujud, kosong, hampa).

Yesus memperingatkan orang-orang yang datang ke Bait Suci untuk mengagumi bangunan yang indah dan megah itu. 

Tetapi itu hanyalah bangunan fisik atau wujud yang akan hancur. Orang tidak sadar siapa yang ada di dalam bangunan itu. Dia adalah Allah yang tak kelihatan.

"Semua hal yang kamu lihat ini sekarang – akan datang saatnya di mana tidak satu batu pun akan dibiarkan terletak di atas batu yang lain: semuanya akan hancur,” kata Yesus.

Iman kepada Allah-lah yang semestinya dicari orang, bukan bangunan atau gedung yang megah dan indah. Gedung hanyalah sarana fisik yang bisa roboh, tetapi iman yang kuat kepada Tuhan tak bisa diruntuhkan.

Marilah kita memperkuat iman kita kepada Tuhan, agar dalam situasi apa pun kita tidak akan digoyahkan. Entah penderitaan, ancaman, kesulitan menghadang tidak akan mempengaruhi iman kita.

Borobudur adalah mahakarya dunia,
Dikagumi oleh orang dari segala bangsa.
Jangan mengagumi keindahan luarnya,
Tetapi kagumilah Tuhan Sang Pencipta.

Wonogiri, Bersyukurlah kepada Tuhan
Rm. A. Joko Purwanto, Pr
0 Comments

Lebih Dari Sekedar Mimpi

11/24/2025

0 Comments

 
Puncta 24 November 2025
Pw. St. Andreas Dung Lac, Imam dkk, Martir
Lukas 21:1-4 atau Ruybs

SUATU sore di halaman depan Pastoran Sedayu. Saya sedang menyapu halaman di bawah pohon beringin. Terdengar suara pesawat terbang yang melintas di atas gereja. 

Memang waktu itu di atas Sedayu adalah jalur lalu lintas pesawat yang akan turun atau naik dari dan ke Bandara Adisucipto. Sekarang sudah sepi karena Bandara pindah di Kulon Progo.

Melihat pesawat terbang itu, terucap sebuah mimpi, suatu saat saya prngin naik pesawat terbang. Ucapan itu tersimpul dalam sebuah doa dan harapan di depan Gereja Sedayu. Apa yang terjadi kemudian?

Tidak berselang beberapa bulan, mimpi itu terwujud menjadi kenyataan. 

Pada Bulan Agustus 1997 saya diminta mengikuti World Youth Day di Paris. Tidak hanya terbang ke Jakarta, tetapi ke Paris! 

Tidak hanya naik pesawat domestik, tetapi Air France! Tidak cuma satu dua jam penerbangan, tetapi 19 jam terbang di udara!

Pengalaman itu lebih dari sekedar mimpi dan harapan. Doa dan keyakinan punya daya kekuatan yang luar biasa.

Para perempuan yang datang ke kubur itu tidak menduga sama sekali apa yang terjadi. Mereka pergi ke kubur membawa rempah-rempah untuk merawat jenasah Yesus. Hal itu sudah biasa dilakukan kalau ada orang yang meninggal.

Namun mereka mendapati batu penutup makam sudah terguling. Ini hal pertama yang melampaui pikiran mereka. Mereka tak menduga batu sudah terguling. Mereka terkejut ketika mendapati jenasah Yesus tidak ada.

Mereka termangu-mangu dan bingung. Ada pertanyaan dalam hati mereka, “Dimana jenasah Yesus? Siapa yang mengambil? 

Banyak pikiran berkecamuk, tanpa ada kejelasan dan tiba-tiba ada dua malaikat berdiri dengan pakaian berkilauan dengan berita yang mengejutkan, “Yesus sudah bangkit!”

Seperti mimpi di siang bolong.  Mau pergi ke makam, ternyata batu sudah terguling! Mau merawat orang mati, ternyata Dia telah hidup! 

Seperti dikatakan malaikat, “Mengapa kamu mencari Dia yang hidup, di antara orang mati!” Tuhan menuntun mereka melebihi apa yang mereka pikirkan.

Tuhan memberikan pengalaman dahsyat dan menggetarkan, melampaui apa yang mereka harapkan. Kegembiraan meluap dari hati mereka, dan mereka langsung kembali mewartakan kabar sukacita kepada murid yang lain.

Pernahkah anda punya pengalaman diberi lebih dari apa yang anda harapkan oleh Tuhan? Sebuah mimpi yang menjadi kenyataan karena tangan Tuhan.

Pasti ada banyak pengalaman doa yang dikabulkan melebihi apa yang anda minta. Silahkan sharing pengalaman anda.

Makan gelato seperti ngisap gulali,
Ada rasa coklat dicampur strawbery.
Yesus hadir menampakkan diri,
Para wanita terpana seperti mimpi.

Wonogiri, mimpi jadi nyata
Rm. A. Joko Purwanto, Pr
0 Comments

Wafatnya Sang Raja

11/23/2025

0 Comments

 
Puncta 23 November 2025
HR Tuhan Yesus Raja Semesta Alam
Lukas 23:35-43

AWAL Bulan November ini, tepatnya hari Minggu, 2 November 2025, Keraton Kasunanan Surakarta berdukacita atas wafatnya Sang Raja Sri Susuhunan Pakubuwana XIII yang bertahta sejak tahun 2004 menggantikan ayahandanya.

Kendati demikian, sempat terjadi konflik intenal di antara kerabat Keraton karena ada yang menobatkan KGPH Tejowulan sebagai raja. Selama delapan tahun terjadi dua kekuasaan yang diakui oleh masing-masing pihak. 

Baru pada tahun 2012 terjadi rekonsiliasi antara KGPH Tejowulan yang mengakui Pakubuwono XIII sebagai raja yang sah. Kini masyarakat menunggu siapa yang akan menggantikan raja yang telah wafat dan dimakamkan di Pemakaman Raja-raja Mataram di Imogiri.

Di dalam kisah penyaliban terselip dialog beberapa orang dengan Yesus yang dipercaya sebagai raja. Kendati mereka memandangnya dari dua sisi yang berbeda. Ada yang mengolok-olok, dan ada pula yang mempercayai-Nya.

Prajurit-prajurit mengolok-olokkan Dia; mereka mengunjukkan anggur asam kepada-Nya dan berkata: "Jika Engkau adalah raja orang Yahudi, selamatkanlah diri-Mu!" 

Pilatus sendiri mewakili pemerintahan resmi menulis di atas salib Yesus sebagai tanda pengakuan, "Inilah raja orang Yahudi".

Namun raja yang mereka pikirkan berbeda dengan raja yang diyakini penjahat yang bertobat. 

Dua orang penjahat itu memandang Yesus secara berbeda pula. Yang satu menghojat Dia, satunya lagi mempercayai-Nya sebagai raja. Ia berkata: "Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja."

Bagi penjahat yang percaya, Yesus adalah raja yang mengalahkan kematian. Sesudah penyaliban ini, Yesus akan datang sebagai Raja yang menyelamatkan. Ia bangkit mengatasi maut. Kerajaan-Nya adalah kerajaan kekal.

Jawaban Yesus menegaskan kekuasaan-Nya yang mengatasi maut. "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus."

Yesus Sang Raja bukan hanya menguasai alam semesta ini, tetapi Dia juga menjamin kita semua pada alam keabadian, yakni Firdaus atau Kerajaan Surga. 

Jika kita percaya kepada-Nya, Firdaus Abadi akan menjadi anugerah sempurna bagi kita.

Imogiri makamnya raja-raja,
Tempatnya tinggi harus naik tangga.
Yesus adalah Raja Alam Semesta,
Yang menjamin kita masuk sorga.

Wonogiri, ingatlah aku ya Raja
Rm. A. Joko Purwanto, Pr
0 Comments

Vita Aeterna

11/22/2025

0 Comments

 
Puncta 22 November 2025
Pw. St. Sesilia, Perawan dan Martir
Lukas 20:27-40 atau Ruybs

DALAM Credo, kita mempercayai kehidupan sesudah kematian. Ada tiga keyakinan kita yakni aku percaya akan kebangkitan badan, kehidupan kekal dan persekutuan dengan para kudus.

Kehidupan kekal adalah tujuan akhir manusia yakni persatuan sempurna dengan Tuhan. Kita mengalami kebahagiaan abadi dengan Tuhan. 

Orang yang masuk dalam hidup kekal akan bersama dengan Tuhan. Mereka akan seperti Tuhan, karena akan melihat “Dia apa adanya, muka dengan muka.”

Yesus menggambarkan kehidupan kekal untuk menjawab pertanyaan orang-orang Saduki yang tidak percaya kepada kebangkitan badan. Pertanyaan mereka ini punya unsur menjebak sekaligus ingin minta penegasan atas keyakinan kaum Saduki sendiri.

Yesus menjawab, "Orang-orang dunia ini kawin dan dikawinkan, tetapi mereka yang dianggap layak untuk mendapat bagian dalam dunia yang lain itu dan dalam kebangkitan dari antara orang mati, tidak kawin dan tidak dikawinkan. 

Sebab mereka tidak dapat mati lagi; mereka sama seperti malaikat-malaikat dan mereka adalah anak-anak Allah, karena mereka telah dibangkitkan.”

Kehidupan kekal tidak lagi terpaut pada ruang, waktu dan unsur. Kita hidup namun tidak diukur dengan nilai-nilai duniawi. Kebahagiaan kita bukan lagi terpaku ke hal-hal duniawi; kawin, harta, kenikmatan, kepuasan dunia. Kebahagiaan kekal mengatasi itu semua. 

Kita tidak membutuhkan kenikmatan duniawi karena kita sudah sempurna hidup bersama dengan Tuhan. Kita sudah menjadi anak-anak Allah, karena kita sudah dibangkitkan. 

Orang-orang Saduki masih berpikir dengan pikiran duniawi. Mereka mempersoalkan kawin dan dikawinkan. Kebahagiaan yang sempurna sudah di atas pikiran-pikiran dunia. 

Kita sudah berbahagia bersama Allah. Kita tidak lagi membutuhkan kebahagiaan dunia yang semu dan sementara.

Dunia ini bukan tujuan akhir kita, tetapi tempat berziarah menuju bahagia yang sesungguhnya.

Melihat parade hari Bayangkara,
Pemuda-pemudinya gagah perkasa.
Orang yang sudah bahagia di sorga,
Cukup memandang Allah apa ada-Nya.

Wonogiri, bahagia yang sempurna
Rm.A.Joko Purwanto, Pr
0 Comments

Rumah Doa Jadi Pasar

11/21/2025

0 Comments

 
Puncta 21 November 2025
Pw. SP. Maria Dipersembahkan pada Allah
Lukas 19: 45-48 atau Ruybs

BANYAK orang Yahudi melakukan ritual doa di Bait Suci. Yerusalem adalah kota raja agung karena Allah bertahta di Bait Suci. Maka segala ritual keagamaan berpusat di Bait Suci. Mereka biasa mempersembahkan segala binatang korban di sana.

Maka terjadilah transaksi ekonomi di Bait Suci. Orang membeli binatang yang halal. Ada institusi pemegang lisensi halal-haram. 

Ada money changer juga di sana. Uang yang berlaku hanya uang Yahudi. Uang dari luar harus ditukarkan. Para penukar uang juga mencari keuntungan.

Seperti upacara sekaten di alun-alun suasananya ketika hari-hari raya tiba di Bait Suci Yerusalem. Hingar bingar, riuh ramai orang bertransaksi menyiapkan ritual. Doa menjadi terganggu oleh kesibukan banyak orang.

Bait Suci adalah rumah Bapa. Yesus kecil pernah berkata pada ibu-Nya, “Bukankah Aku harus berada di rumah Bapa-Ku?” 

Ketika ke Yerusalem, Ia ingin kembali ke rumah Bapa-Nya. Ia ingin berdoa dan bercengkerama dengan Bapa.

Tetapi kondisi tidak memungkinkan karena ramainya. Ia marah dan mengusir semua pedagang di situ, kata-Nya kepada mereka: "Ada tertulis: Rumah-Ku adalah rumah doa. Tetapi kamu menjadikannya sarang penyamun."

Tindakan pembersihan ini tidak disukai oleh pemangku kepentingan di Bait Suci. Ada banyak orang dan lembaga mencari untung di Bait Suci.  

Imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat serta orang-orang terkemuka dari bangsa Israel berusaha untuk membinasakan Dia. 

Mungkin kita juga marah dan tersinggung kalau kepentingan kita di gereja diusik. Ada banyak orang mencari keuntungan berkegiatan di gereja. Ada yang korupsi pembangunan. Ada yang buat mark up belanja program peribadatan. Ada yang 'kongkalikong' dengan pejabat gereja.

Yesus membersihkan segala manipulasi dan kepentingan di Bait Allah. Maka banyak orang yang tidak suka dengan tindakan Yesus ini. Mereka ingin membinasakan-Nya. Menegakkan kebenaran pasti akan ditentang banyak orang. 

Mari kita benahi mental kita yang sering cari untung dalam aktivitas menggereja. Bukan demi kemuliaan Tuhan tetapi hanya demi keuntungan diri sendiri. 

Jangan menunggu ada peringatan dari Tuhan yang sering tak terduga. Tetapi mari kita sadar membenahi diri sendiri. Mari kita sadar diri lebih dahulu.

Di Bogor ada istana besar,
Yang dibangun pakai kayu jati.
Rumah Doa bukan pasar,
Untuk cari keuntungan diri sendiri.

Wonogiri, mari bertobat sendiri
Rm. A. Joko Purwanto, Pr
0 Comments

Tangisan Untuk Indonesia

11/20/2025

0 Comments

 
Puncta 20 November 2021
Kamis Biasa XXXIII
Lukas 19: 41-44

KETIKA Bung Hatta diberitahu bahwa Soekarno, sahabatnya sakit parah di Rumah Sakit Angkatan Darat, ia dengan beberapa orang menjenguk ke rumah sakit. Dua tokoh Proklamator ini bertemu dalam keharuan.

Bertahun-tahun mereka dipisahkan oleh tirai yang tidak kelihatan karena Soekarno menjadi tahanan politik Orde Baru. Hatta hanya tercenung melihat kondisi Soekarno berbaring tidak sadarkan diri. 

Ketika mata Soekarno terbuka, Hatta mendekatkan diri dan berbisik, “Ah No (sapaan akrab Soekarno), apa kabarmu?” 

Soekarno tidak menjawab, ia sulit berbicara karena sakitnya. Namun lirih terdengar suara, “hoe gaat het (apa kabarmu)?” sambil mencoba meraih tangan Hatta.

Hatta melihat Soekarno menangis. Air mata keluar tanpa ada suara. Hatta hanya bisa menghibur dengan berkata “Ya, sudahlah. Kuatkan hatimu, tawakal saja pada Allah. Saya doakan agar lekas sembuh.” 

Dua hari kemudian, Soekarno berpulang ke Rahmatullah.

Mungkin dalam hati mereka berkata, mengapa pada akhirnya jadi seperti ini. Bangsa yang telah diperjuangkan dengan susah payah agar merdeka, kini mentelantarkan dan melupakannya. Bangsa ini tidak mengerti makna kemerdekaan dan kebebasan.

Yesus juga menangisi Yerusalem, kota suci tempat Allah meraja di Bait-Nya. Namun mereka tidak mengerti maksud kedatangan Tuhan untuk menyelamatkan bangsa-Nya. Ada beberapa alasan mengapa Yesus menangisi Yerusalem.

Yesus ingin membawa damai bagi Yerusalem, tetapi damai itu tersembunyi bagi mereka. Dari namanya, Yerusalem adalah Kota Damai. Tetapi sejak zaman dahulu kala sampai sekarang, kota ini diliputi pertentangan dan permusuhan. 

Yesus melihat masa depan kota Yerusalem. Kota ini akan dihancurkan karena mereka tidak mau menerima Tuhan melawat umat-Nya. Mereka tidak mengerti kehendak baik Allah yang ingin menyelamatkan manusia.

Menyusuri jalan menuju Lahat,
Jalannya rusak karena kendaraan.
Jadilah bangsa yang bermartabat,
yang menghargai jasa pahlawan.

Wonogiri, tahu bersyukur
Rm. A. Joko Purwanto, Pr
0 Comments

Puncta 18 November 2025

11/18/2025

0 Comments

 
0 Comments

Zakheus “Pendek”

11/18/2025

0 Comments

 
​Puncta 18 November 2025
Selasa Biasa XXXIII
Lukas 19:1-10

DALAM pergaulan dengan teman-teman, kita sering menyebut nama orang dengan “paraban” atau nama panggilan. Kadang paraban itu mengambil sifat-sifat atau ciri-ciri orangnya. 

Misalnya ada nama panggilan Ferry Badrun, Ferry Marduk, Bambang Pusing, Joko Kungkum, Joko si Jack, Hari Dampit, Hari Bagus, Slamet Pendek, Bambang Deglok dan lain-lain. Kalau orang bisa menerima diri apa adanya, nama itu bisa jadi nama kesayangan dan keakraban.

Dalam perikope ini kita bertemu dengan Zakheus yang disebut pendek badannya. Tetapi hambatan ini tidak menghalanginya untuk berjumpa dengan Yesus. Justru mengetahui badannya pendek ia berusaha naik pohon agar bisa melihat Yesus.

Yesus memanggilnya dengan nama Zakheus, tidak si Pendek. Yesus menghargai pribadinya. Hal ini ditunjukkan dengan Yesus melihat ke atas ke arah Zakheus berada. 

Dengan menyebut nama, hubungan penjadi personal dan membuat yang disebut melambung tinggi.

Karena sapaan personal itulah, Zakheus berubah. Yang awalnya sebagai pemungut cukai, sekarang menjadi penderma. 

“Separuh milikku akan kubagikan kepada orang lain. Sekiranya ada yang kuperas, akan kukembalikan empat kali lipat,” janjinya di depan Yesus.

Yang awalnya seorang yang egois, kini menjadi orang sosial. Ia mengumpulkan banyak orang di rumahnya untuk berpesta. Yang awalnya dianggap pendek, pelit, sekarang jadi orang yang panjang sabar, murah hati dan penuh belas kasih.

Perjumpaan dengan Yesus mengubah orang. Ada pertobatan ke arah kebaikan. Apakah kita juga mengalami pertobatan dan perubahan hidup ketika disapa oleh Tuhan Yesus? 

Kalau belum ada perubahan, mungkin kita belum sungguh-sungguh berjumpa dengan Tuhan. Karena sapaan Yesus adalah sapaan yang mengubah orang menjadi lebih baik hidupnya. 

Ke Yeriko naik pohon kurma,
Buahnya jatuh dimakan oleh unta.
Jumpa Yesus berubah hidupnya,
Dari Zakheus kita belajar mencinta.

Wonogiri, marilah berubah
Rm. A. Joko Purwanto, Pr
0 Comments

Apa yang Kaukehendaki Aku Perbuat Bagimu?

11/17/2025

0 Comments

 
Puncta 17 November 2025
Pw. St. Elisabet dari Hungaria, Biarawati
Lukas 18:35-43 atau Ruybs

SAYA terkesan ketika Rama Hartosubono suatu kali menerima telpon. Dia menjawab dengan berkata, “Halo, disini Rama Bono, apa yang bisa saya bantu?”  

Kalimat itu menarik bagi saya karena tersirat kesiapsediaan hati untuk membantu orang lain.

Orang tidak perlu basa-basi, “ngalor-ngidul” tetapi to the point pada permasalahan dan siap untuk membantu apa yang dibutuhkan orang. 

Rama memposisikan diri pada orang lain yang sedang telpon itu. Ada hati yang siap mendengarkan dan menolong.

Ketika Yesus mendekati Yerikho, ada pengemis buta yang berteriak-teriak. "Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!" Orang-orang yang ada di sekitarnya berusaha agar dia diam. 

Mungkin kita sering bersikap seperti orang banyak ini. Tidak menolong malah menghalangi atau membungkam orang yang butuh bantuan.

Orang banyak itu sudah punya praduga, penilaian awal bahwa orang buta adalah orang berdosa. Kalau kita bergaul dengannya bisa ketularan najis, kotor dan berdosa. Apalagi dia seorang pengemis yang stratanya rendah dalam masyarakat. 

Yesus berbeda dengan pandangan orang banyak. Ia justru menawarkan diri, ”Apa yang kaukehendaki Aku perbuat bagimu?” Dengan pertanyaan ini Yesus ingin orang itu menyatakan keinginannya yang utama. 

Orang buta itu tahu prioritas kebutuhannya. Ia tidak minta uang yang banyak, walaupun dia pengemis. Tetapi dia minta supaya dapat melihat. “Tuhan, tolong buatlah aku melihat.” 

Dengan berkata begitu, si pengemis itu yakin dan percaya bahwa Yesus mampu melakukannya.

Karena keyakinan pengemis yang besar itu, maka Yesus berkata, “Imanmu telah menyelamatkan engkau.” Iman bukan sekedar angan-angan. Iman dibangun atas dasar fakta dan bukti nyata.

Pengemis buta itu mungkin telah mendengar cerita-cerita reputasi Yesus yang bisa menyembuhkan. Ia jadi percaya pasti Yesus mampu menyembuhkannya. Dia kemudian berserah (beriman) kepada-Nya.

Karena iman, orang bisa berserah dan berkata amin sehingga hidupnya aman. Kalau kita mau membuka hati seperti Yesus, “Apa yang kaukehendaki Aku perbuat bagimu?” orang akan tumbuh iman atau keyakinan.

Sikap orang buta itu bisa jadi teladan. Setelah dia bisa melihat, hal pertama yang dilakukan adalah mengikuti Yesus. Setelah kita diselamatkan, kita juga diajak mengikuti-Nya. 

Ada mawar yang tidak berduri,
Milik St. Fransiskus di Porziuncola.
Keselamatan bukan untuk sendiri,
Kita diutus untuk membagikannya.

Wonogiri, iman, amin, aman
Rm. A. Joko Purwanto, Pr
0 Comments
<<Previous
Forward>>

    Archives

    December 2034
    February 2026
    January 2026
    December 2025
    November 2025
    October 2025
    September 2025
    August 2025
    July 2025
    June 2025
    May 2025
    April 2025
    March 2025
    February 2025
    January 2025
    December 2024
    November 2024
    October 2024
    September 2024
    August 2024
    February 2024
    February 2022
    January 2022
    December 2021
    November 2021
    October 2021
    July 2021

    Categories

    All
    Hello Romo!
    Katekese
    Puncta
    Rubrik Alkitab

    RSS Feed

Site powered by Weebly. Managed by Rumahweb Indonesia
  • Home
  • Profil Paroki
  • Katekese
  • Pelayanan
  • Berita Paroki