|
Puncta 16 Februari 2026
Senin Biasa VI Markus 8: 11-13 TIDAK sadar kita sering keliru dalam berdoa. Kebanyakan doa-doa kita adalah meminta, memohon dan bahkan memaksa Tuhan agar memenuhi apa yang kita harapkan. Seolah Tuhan itu menjadi budak atau pembantu kita. Apa yang kita katakan harus dijalankan saat itu juga. Tidak jarang kita juga menuntut kepada Tuhan untuk membuat mukjizat. Kalau kita sedang menghadapi situasi yang berat, masalah yang sulit atau persoalan pelik, tidak segan-segan kita memaksa ada mukjizat dari Tuhan. Kalau permohonan atau doa-doa kita tidak dikabulkan lalu “mutung” atau merajuk, “ngambeg” dan tidak percaya lagi pada Tuhan. Kita mudah meninggalkan Tuhan tidak pernah berdoa, malas pergi ke gereja atau doa-doa di lingkungan. Menuduh Tuhan tidak adil, tidak peduli dan tidak ada. Yesus menegur orang-orang Farisi yang meminta tanda dari sorga. Mereka meminta tanda bukan karena percaya melainkan untuk mencobai Dia. Bagi Yesus tanda atau mukjizat bukan tontonan demi kepuasan hati sesaat, tetapi hadiah dari iman yang kuat. Mukjizat bukan yang terpenting tetapi imanlah yang menentukan. Orang-orang Farisi itu sudah banyak melihat tanda, tetapi mereka tidak mau percaya. Mereka sombong dan degil hatinya. Mereka skeptis dan tidak mau membuka hatinya. Bagi mereka iman seolah-olah hanya bisa dibuktikan kalau ada mukjizat yang spektakuler. Maka mengeluhlah Ia dalam hati-Nya dan berkata: "Mengapa angkatan ini meminta tanda? Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kepada angkatan ini sekali-kali tidak akan diberi tanda." Iman adalah kepasrahan hati dan ketaatan tanpa syarat kepada Tuhan. Menghadapi orang-orang yang sulit percaya, Ia meninggalkan mereka; Ia naik pula ke perahu dan bertolak ke seberang. Kalau kita suka mencobai Tuhan dan menuntut tanda, mungkin Tuhan malah pergi dan tak mau menanggapi kita. Kita bisa melihat drama Ijasah palsu di tengah-tengah kita. Walau nanti ada ketuk palu dari pengadilan yang sah, orang pasti tidak akan percaya. Orang akan selalu mencari bukti-bukti atau tanda-tanda sampai ke ujung dunia karena dasarnya tidak percaya. Iman membutuhkan kerendahan hati untuk bisa menerima hal yang paling sulit sekalipun. Disitulah kepasrahan dan ketundukan kita sedang dibuktikan. Apakah kita seperti kaum Farisi yang selalu menuntut tanda lalu baru bisa percaya? Sepercik pantun buat anda: Drama ijasah palsu tidak ada habisnya, Sekalipun dijelaskan oleh Patih Gajah Mada. Diperlukan kerendahan hati untuk percaya, Jangan memaksa Tuhan membuat tanda-tanda. Wonogiri, jangan mencobai Tuhan Rm. A.Joko Purwanto, Pr
0 Comments
Puncta 15 Februari 2026
Hari Minggu Biasa VI Matius 5:17-37 MOCHTAR LUBIS adalah seorang wartawan dan budayawan. Ia adalah salah satu pendiri kantor berita Antara. Selain wartawan, Mochtar Lubis juga pengarang novel. Salah satu karyanya berjudul “Senja di Jakarta.” Pada 6 April 1977 dia membuat pidato kebudayaan di Taman Ismail Marzuki. Ia mengkritisi sifat dan karakter orang Indonesia. Menurutnya ada enam karakter paling menonjol yang dihidupi oleh orang Indonesia; hipokrit atau munafik, enggan bertanggungjawab atas perbuatannya, jiwa feodal, percaya takhyul, artistik dan watak yang lemah. Menurut Jakob Oetama almarhum, pidato kebudayaan Mochtar Lubis ini perlu menjadi permenungan kita semua agar kita bisa memperbaiki diri. Mochtar Lubis membuat refleksi kritis atas perilaku kita yang ibarat pendulum terlalu “njomplang” atau berat sebelah. Sifat hipokrit atau munafik sudah merambah dalam segala segi kehidupan. Kita mengklaim bangsa yang religius, beragama, rumah ibadat dibangun dimana-mana, tetapi kemiskinan, kebodohan dan korupsi terlihat di depan mata. Tidak bertanggungjawab muncul dalam berbagai bentuk. Misalnya bencana alam yang membawa korban ribuan jiwa di Aceh, Sumatera Utara dan Padang kemarin tak ada orang atau instansi yang mau bertanggungjawab. Kesalahan ditimpakan kepada cuaca ekstrem padahal pembalakan hutan oleh pengusaha besar dibiarkan. Mochtar Lubis mengajak kita untuk melakukan refleksi diri, pembaharuan sikap dan bertobat. Sebagaimana Yesus yang datang untuk menggenapi Hukum Taurat. Aturan atau hukum Taurat itu baik, tetapi jangan hanya berhenti di mulut atau diajarkan saja. Seperti pendulum, yang terjadi pada zaman Yesus, kaum Farisi dan ahli-ahli Taurat mendominasi hukum sebagai panglima tertinggi, akibatnya kemunafikan mencolok mata. Sedangkan tindakan konkret atau pelaksanaannya jauh api dari panggang. Yesus pernah mengkritik dengan mengutip suara nabi; “Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku. Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia. Perintah Allah kamu abaikan untuk berpegang pada adat istiadat manusia.” Yesus datang untuk menggenapi apa yang masih kurang dari bangsa ini yaitu praksis nyata dari aturan atau hukum Taurat. Bukan hanya membunuh, tetapi marah dan merendahkan martabat orang lain tidak dianjurkan. Bukan hanya dosa seksual, tetapi berpikir jahat dalam hati pun jangan. Jangan senang bersumpah dengan membawa-bawa nama Tuhan, tetapi jadilah orang yang bisa dipercaya dalam segala tutur kata. “Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat.” Kedatangan Yesus ingin menggenapi apa yang kurang dalam pelaksanaan hukum Taurat. Ia menghormati hukum sekaligus mentaati-Nya dalam pelaksanaan yang nyata. Marilah kita tidak sekedar mengikuti aturan tetapi mewujudnyatakan dalam sikap dan habitus sehari-hari. Sepercik pantun buat anda: Naik perahu ke kota Palangkaraya, Kanan kiri sudah tidak ada lagi buaya. Tidak perlu banyak omong dan bicara, Tetapi wujudkan dalam tindakan nyata. Wonogiri, bangun integritas diri Rm. A. Joko Purwanto, Pr Puncta 14 Februari 2026
Pw. St. Sirilus, rahib dan St. Metodius, Uskup Markus 8:1-10 atau RUybs Lukas 10:1-9 SAYA sering mengalami mukjizat Tuhan yang memberi dengan berkelimpahan. Pengalaman tak terlupakan selama bertugas di Nanga Tayap, Ketapang. Di Paroki Nanga Tayap setiap tahun selalu ada katekese hidup berkeluarga. Kami membereskan pasangan-pasangan yang nikah secara adat, tetapi belum menikah secara gerejani. Pernah satu kali kegiatan mencapai 45 pasang. Kegiatan dilakukan selama tiga hari di gereja paroki. Mereka menginap seadanya di panti paroki. Kami harus menyediakan makan minum untuk menopang mereka. Juga anak-anaknya yang diajak serta. Kami mengajak mereka untuk membawa apa saja yang bisa dimasak di paroki. Ada yang membawa beras, sayuran, rebung, kacang panjang, daun ubi, bumbu. Ada yang membawa ikan salai, juga daging buruan dari hutan. Ibu-ibu paroki tiap hari memasak untuk mereka dan anak-anaknya. Kami selalu bersyukur. Apa yang dibawa dan dikumpulkan dari rumah bisa dipakai untuk memberi makan mereka sampai kenyang. Bahkan selalu ada sisa yang bisa dibawa pulang. Rasanya mukjizat pergandaan roti dan ikan sungguh terjadi kembali. "Hati-Ku tergerak oleh belas kasihan kepada orang banyak ini. Sudah tiga hari mereka mengikuti Aku dan mereka tidak mempunyai makanan. Dan jika mereka Kusuruh pulang ke rumahnya dengan lapar, mereka akan rebah di jalan, sebab ada yang datang dari jauh." Yesus tergerak oleh belaskasihan kepada mereka yang selalu bersama mengikuti-Nya. Para murid diajak ikut memikirkan kehidupan mereka. Para murid awalnya ingin lepas tangan dan tak mau mengatasi persoalan. Namun Yesus meminta apa yang ada pada mereka untuk dipersembahkan dan didoakan oleh Yesus dan dibagi-bagikan. Ia mengambil ketujuh roti itu, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada murid-murid-Nya untuk dibagi-bagikan, dan mereka memberikannya kepada orang banyak. Mereka juga mempunyai beberapa ikan, dan sesudah mengucap berkat atasnya, Ia menyuruh supaya ikan itu juga dibagi-bagikan. Ketika mau berbagi, ternyata bukan kekurangan atau kehilangan, malah mereka mendapatkan berkelimpahan. Ketika segalanya disyukuri, dan ada kerelaan hati untuk berbagi, Tuhan menambahkan berkat yang berlimpah ruah. Dari tujuh roti dan beberapa ikan itu, banyak orang bisa makan kenyang dan tersisa tujuh bakul. Mari kita bersyukur dan rela berbagi, niscaya Tuhan akan mengganti dengan berkelimpahan tanpa henti. Sepercik pantun untuk anda: Dari Nanga Tayap ke Tumbang Titi, Ada rumah singgah di pinggir kali. Ketika hati penuh syukur dan berbagi, Alam semesta juga akan ikut memberi. Wonogiri, marilah kita berbagi Rm. A.Joko Purwanto, Pr Puncta 13 Februari 2026
Jum’at Biasa V Markus 7:31-37 HELEN KELLER (1880-1968) menderita sakit buta dan tuli sejak usia 19 bulan. Ia berkembang menjadi anak yang liar dalam perilakunya. Perawatnya berganti-ganti karena tidak tahan mendampingi anak yang tak bisa melihat dan mendengar. Akhirnya tahun 1887 datanglah malaikat yang sabar dan setia yakni Anne Sulivan. Ia menjadi pengasuh, guru dan pembimbing yang luar biasa. Ia mengajari Keller bahasa isyarat dengan sentuhan di jari-jarinya. Dalam Film “The Story of My Life,” Momen mengharukan terjadi ketika Helen bisa mengeja "w-a-t-e-r" (air) yang disiramkan Sullivan di tangannya adalah benda cair yang dingin. Sejak saat itu Keller belajar dengan giat. Ia bisa masuk ke sekolah dan menjadi sarjana pertama penyandang buta dan tuli. Hidupnya diabdikan untuk menggugah banyak orang. Ia menjadi penulis, penceramah, pejuang hak-hak kaum disabilitas. Ia berkeliling ke 39 negara untuk memperjuangkan hak kaum disabilitas. Yesus menyembuhkan seorang yang tuli dan gagap dengan berkata, “Efata," artinya terbukalah.” Yesus memasukkan jari ke telinga lalu Ia meludah dan meraba lidah orang itu. Kemudian sambil menengadah ke langit Yesus menarik nafas dan berkata kepadanya: "Efata!", artinya: Terbukalah! Maka terbukalah telinga orang itu dan seketika itu terlepas pulalah pengikat lidahnya, lalu ia berkata-kata dengan baik. Komentar orang-orang mengingatkan kita akan karya penciptaan Allah. Mereka takjub dan tercengang dan berkata: "Ia menjadikan segala-galanya baik, yang tuli dijadikan-Nya mendengar, yang bisu dijadikan-Nya berkata-kata." Sesudah karya penciptaan selesai, "Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh sangat baik." Ya, Tuhan menghendaki semuanya baik adanya. Proses kehidupan kita adalah karya penciptaan Tuhan. Kadang harus mengalami jatuh bangun, derita dan perjuangan. Dengan hal itu kita sedang dibentuk menjadi baik adanya. Mengalami karya kebaikan Allah itu kita hanya bisa bersyukur dengan mewartakan karya Tuhan kepada banyak orang agar semua orang juga ikut memuji dan memuliakan Allah. Apakah anda pernah mengalami kasih Tuhan yang luar biasa? Apakah anda sudah bersyukur dan mewartakannya? Beri salam sama memberi tabik, Kalau kita ketemu orang Malaysia. Karya Tuhan sungguh amat baik, Kita diutus untuk mewartakannya. Wonogiri, pujilah karya-karya Tuhan Rm. A.Joko Purwanto, Pr Puncta 12 Februari 2026
Kamis Biasa V Markus 7: 24-30 SUATU kali saya mengantar suster-suster pergi ke Pontianak. Perjalanan dari Nanga Tayap membutuhkan waktu sekitar delapan jam melewati perkebunan sawit yang sangat luas. Suster-suster itu berasal dari NTT dan satu orang asli Dayak. Dalam perjalanan yang panjang itu saya merasa “kebelet” mau buang air kecil. Karena jarang ketemu pom bensin atau warung, maka satu-satunya cara hanyalah buang hajat di balik pohon. Mereka bingung karena tiba-tiba mobil membelok ke hutan sawit. “Pastor, kenapa lewat jalan kecil di tengah sawit? Tidak salah jalankah kita? Tanya seorang suster. “Maaf suster, saya permisi mau nangkap kelinci dulu,” kataku pakai bahasa kiasan. “Wah ada kelinci di sini? Saya belum pernah lihat, saya pengin lihat kelincinya!!” kata suster yang muda dengan penuh semangat. Mukaku merah padam. Suster-suster ini bukan orang Jawa. Mereka tidak paham dengan bahasa 'sanepan' atau kiasan. Akhirnya karena sudah tidak tahan menahan “kebelet” saya bilang terus terang, “Maaf suster, saya mau kencing, bukan nangkap kelinci.” Mereka sekarang yang merah padam mukanya sambal cekikikan bilang, ”Pastor ngerjain kita, tadi bilang mau nangkap kelinci.” Ketika ada seorang ibu dari bangsa asing, Siro Fenisia yang datang bersujud kepada Yesus untuk memohon agar anaknya yang sakit disembuhkan, Yesus menolak dengan halus menggunakan bahasa kiasan atau simbolis. "Biarlah anak-anak kenyang dahulu, sebab tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing," kata Yesus kepada perempuan itu. Anak-anak disini maksudnya adalah Bangsa Israel. Roti adalah berkat Allah yang diberikan kepada Israel sebagai bangsa terpilih. Anjing adalah binatang yang najis. Orang asing termasuk bangsa Yunani dari Siro Fenesia dikelompokkan sebagai bangsa yang tidak menerima berkat. Tetapi perempuan itu masih berusaha keras dengan berkata, "Benar, Tuhan. Tetapi anjing yang di bawah meja juga makan remah-remah yang dijatuhkan anak-anak." Ia percaya masih bisa mengais-ngais dari sisa-sisa roti yang jatuh dari meja tuannya. Ia tetap berharap ada remah-remah yang jatuh dari roti yang diberikan kepada anak-anak, walau hanya secuil tetapi berkat itu sudah cukup untuk kesembuhan anaknya. Melihat iman yang sedemikian besar itu, Yesus berkata, "Karena kata-katamu itu, pergilah sekarang sebab setan itu sudah keluar dari anakmu." Iman yang besar membuat apa yang mustahil menjadi kenyataan. Keselamatan diberikan kepada siapapun – juga orang asing di luar bangsa Israel - jika ia memiliki iman yang kuat kepada Yesus. Para suster itu tidak memiliki iman yang kuat sehingga mereka tidak bisa melihat kelinci, apalagi menangkapnya. Apakah kita punya iman yang kuat seperti perempuan dari Siro Fenisia ini? Perempuan asing dari Siro Fenisia, Beriman dengan segala daya upaya. Tidak ada yang mustahil bagi kita, Kalau kita sungguh percaya pada-Nya. Wonogiri, berusaha dengan sekuat tenaga Rm. A.Joko Purwanto, Pr Puncta 11 Februari 2026
Rabu Biasa V Markus 7: 14-23 KALAU kita ziarah ke Israel, ada restoran atau hotel yang menuliskan kata “Kosher” di ruang makannya. Kosher berarti makanan itu harus bersih menurut tata aturan hukum Taurat atau tidak najis. Ada restoran atau toko yang melarang orang membawa makanan dari luar karena aturan najis yang mereka yakini. Berdasarkan Taurat, hewan tertentu dianggap najis, seperti babi, binatang melata, dan makanan yang tidak disembelih dengan cara ritual yang benar (non-kosher). Makanan-makanan non kosher ini membuat seseorang tidak pantas beribadat kepada Allah. Mereka dianggap najis dan harus disucikan atau dibersihkan secara ritual. Aturan halal dan tidak halal ini dijaga ketat oleh kaum Yahudi; para ahli kitab dan orang-orang Farisi. Tetapi Yesus membuat tafsiran berbeda dengan mereka. Bukan soal makanan yang masuk ke dalam tubuh yang menajiskan, tetapi apa yang keluar dari hati manusia. "Kamu semua, dengarlah kepada-Ku dan camkanlah. Apapun dari luar, yang masuk ke dalam seseorang, tidak dapat menajiskannya, tetapi apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya," tegas Yesus kepada orang banyak. "Apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya, sebab dari dalam, dari hati orang, timbul segala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan. Semua hal-hal jahat ini timbul dari dalam dan menajiskan orang." Bagi Yesus, bukan apa yang masuk ke dalam diri seseorang, tetapi apa yang keluar dalam bentuk tindakan buruk itulah yang menajiskannya. Kata-kata kotor, hinaan, hujat dan sumpah serapah yang tidak sopan bisa membuat orang menjadi najis atau kotor. Perilaku jahat dan merugikan orang lain membuat kita tidak suci. Jagalah hati dan pikiran kita agar tidak mengeluarkan perilaku yang buruk dan jahat terhadap sesama. Tindakan seperti itulah yang mengotori hidup kita sehingga kita menjadi najis di hadapan Tuhan. Sepercik pantun buat anda: Banyak warung babi di kota Kuching, Tak usah bingung cari sampai pening. Jagalah hati dan pikiran tetap bening, Agar kita selalu waspada dan ‘eling’ Wonogiri, jaga hati dan pikiranmu Rm. A. Joko Purwanto, Pr Puncta 10 Februari 2026
Pw. St. Skolastika, Perawan Markus 7:1-13 atau RUybs Lukas 10:38-42 KEMATIAN anak usia SD di Kabupaten Ngada, NTT tanggal 29 Januari 2026 menyentakkan kita semua. Peristiwa ini menampar dunia pendidikan kita. Anak kecil itu terpaksa memilih gantung diri karena tidak diberi uang untuk membeli buku dan pena. Mungkin dia putus asa karena pendidikan sebagai satu-satunya cara mencapai masa depan tak mungkin digapai. Ditemukan selembar surat pamit yang ditulis anak itu kepada ibunya. Surat itu ditulis dalam bahasa daerah, jika diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, berbunyi: “Mama saya pergi dulu. Mama relakan saya pergi. Jangan menangis ya Mama. Mama saya pergi. Tidak perlu Mama menangis dan mencari atau merindukan saya. Selamat tinggal Mama.” Terasa menyayat dan memilukan hati, sedemikian derita yang harus dirasakan oleh seorang warga yang katanya punya negara yang kaya dan makmur. "Kita sudah mendapat pagu anggaran Rp 268 triliun dengan dana standby Rp 67 triliun, sehingga total dianggarkan Rp 335 triliun," ujar Dadan Hindayana, kepala Badan Gizi Nasional (BGN) saat ditemui di Menara Kompas, Jakarta Pusat, Senin (19/1/2026). Betapa kayanya kita bisa memberi makan gratis dengan anggaran yang berlimpah ruah. Sungguh ironis sekali biaya MBG sedemikian besar, tetapi di akar rumput, ada anak SD bunuh diri karena tidak mampu membeli buku dan pena untuk bersekolah. Keluarganya hidup dengan kondisi miskin. Mungkin juga tidak mendapat bantuan sosial dari pemerintah. Inilah kemunafikan sosial yang tengah terjadi. Kemunafikan sosial ada hubungannya dengan kemunafikan religius. Orang mengaku beragama tetapi tidak peduli terhadap penderitaan sesama. Gereja dibangun dengan megahnya tetapi banyak rakyat miskin dibiarkan saja. Anak SD di Ngada ini sedang memberi pelajaran kemanusiaan kepada kita semua. Topeng kemunafikan terlalu tebal menutupi wajah kita, sehingga kita tidak peka dan peduli dengan jeritan penderitaan sesama. Yesus mengkritik perilaku munafik orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat yang bertanya kepada-Nya: "Mengapa murid-murid-Mu tidak hidup menurut adat istiadat nenek moyang kita, tetapi makan dengan tangan najis?" Yesus berkata, "Benarlah nubuat Yesaya tentang kamu, hai orang-orang munafik! Sebab ada tertulis: Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku.” Kita harus mengakui, terlalu sering memuji Allah dengan bibir, tetapi hati dan perilaku kita jauh dari Allah. Kita sering mengklaim diri orang beragama, tetapi kita tega mencuri hak orang-orang miskin dan menderita. Apakah kita harus menunggu jatuhnya korban lagi, anak-anak yang harus mati, baru bertindak untuk mengakhiri penderitanaan dan kemiskinan ini? Sepercik pantun buat anda: Tak mampu beli buku dan pena, Lebih baik mengakhiri hidup selamanya. Kaum munafik sedang meraja lela, Kelihatannya baik ternyata serigala semua. Wonogiri, kita sedang ditampar nurani kita Rm. A. Joko Purwanto, Pr Puncta 9 Februari 2026
Senin Biasa V Markus 6:53-56 NURLAELA adalah bidan di RSUD Kepulauan Seribu. Ia bersama kapal ambulance berkeliling di Kepulauan Seribu untuk membantu warga yang sakit. Ia bersama crew kapal menjemput pasien-pasien yang sakit. Ia menjemput para pasien dari Puskesmas Selatan dan Utara untuk dibawa di RSUD. Setiap minggu dia berkeliling menyelamatkan warga yang sakit. Ia juga membantu para ibu yang akan melahirkan. Ia berkeliling dari Pulau Kepala, Pulau Sebira, Pulau Harapan dan Kelapa dua. Banyak pasien yang sudah menunggu untuk ditolongnya. Sesudah itu dia lanjut ke Pulau Tidung, Pulau Pari, Pulau Lancang dan Pulau Untung Jawa. Di sana juga banyak warga yang menantinya. Orang-orang seperti Nurlaela inilah pahlawan-pahlawan nyata yang menyelamatkan banyak warga. “Kepuasan menolong orang melahirkan itu benar-benar bahagia. Bangga bisa menolong ibu dan bayinya selamat. Bayinya sehat dan ibunya juga selamat, itu menjadi amal saya,” kata Bidan Nurlaela. Yesus tiba di Genesaret dan banyak orang sudah menunggu-Nya. Mereka mengenali Dia dan langsung membawa banyak orang sakit agar disembuhkan. Maka berlari-larilah mereka ke seluruh daerah itu dan mulai mengusung orang-orang sakit di atas tilamnya kepada Yesus, di mana saja kabarnya Ia berada. Ke manapun Ia pergi, ke desa-desa, ke kota-kota, atau ke kampung-kampung, orang meletakkan orang-orang sakit di pasar dan memohon kepada-Nya, supaya mereka diperkenankan hanya menjamah jumbai jubah-Nya saja. Dan semua orang yang menjamah-Nya menjadi sembuh. Pelayanan yang tiada kenal lelah dilakukan Yesus untuk menolong banyak orang. Semua orang percaya oleh kuasa Tuhan yang menyembuhkan. Iman akan kuasa Tuhan itulah yang ikut berperan sembuhnya orang-orang. Yesus selalu berkata, ”Imanmu telah menyelamatkan engkau.” Mari kita juga datang kepada Tuhan dengan iman yang kuat. Niscaya kita juga akan selamat. Sepercik pantun buat anda: Kita masuk anggota Dewan Perdamaian, Harus siap-siap membayar upeti trilyunan. Jangan lelah bekerja di ladangnya Tuhan, Iman yang kuat akan ikut menyelamatkan. Wonogiri, datanglah kepada Tuhan Rm. A. Joko Purwanto, Pr Puncta 8 Februari 2026
Minggu Biasa V Matius 5:13-16 BEREDAR film dokumenter tahun 2007 yang lagi viral tentang seekor penguin yang diberi nama “Adelie.” Ia tiba-tiba meninggalkan koloni dan memisahkan diri dari ribuan penguin lain serta menuju ke pegunungan yang jaraknya 27 km. Penguin adalah binatang berkelompok. Mereka mencari makan bersama-sama dalam koloni. Mereka saling menjaga suhu tubuh dari gugusan es yang membeku. Tetapi mengapa Adelie justru memisahkan diri dan menuju ke pegunungan yang hampir pasti mengarah kepada kematian? Netizen menghubungkannya dengan filsafat Nihilisme. Kaum nihilist memandang bahwa hidup itu adalah kesia-siaan dan tanpa makna. Hidup hanyalah menuju kepada kematian. Perilaku penguin itu adalah cermin dari perilaku manusia modern sekarang ini. Kita semua merasa terwakili oleh tindakan penguin ini yang merasa asing di tengah komunitas, kehilangan arah hidup, dan tekanan mental dan eksistensial. Maka menjawab keprihatinan sosial di dunia modern sekarang ini, Yesus memberi jalan. Ia berkata, "Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang. Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi.” Kita harus menjadi garam dan terang di tengah komunitas. Kalau tidak, seperti penguin itu, yang alami stress merasa tidak berguna, lalu pergi ke pegunungan untuk mati. Menjadi garam di tengah masyarakat berarti memberi rasa yang enak. Garam melebur, hilang wujudnya namun membuat masakan jadi sedap. Kita harus berani berkorban agar masyarakat hidup dalam damai dan sejahtera. Menjadi terang berarti mampu menunjukkan jalan yang benar, menjadi teladan bagi komunitas dan menjadi inspirasi kebaikan bagi koloninya. Jika demikian maka hidup menjadi bermakna, bukan kesia-siaan atau nihilisme semata. “Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga." Itulah tujuan hidup kita di dunia ini. Hidup bukan nihilisme menuju kematian belaka, tetapi hidup menjadi bermakna kalau kita bisa menjadi garam dan terang dunia. Penguin hidup di benua Antartika, Mereka berkelompok slalu hidup bersama. Kita adalah garam dan terang dunia, Hidup bermakna kalau kita lebih berguna. Wonogiri, jadilah garam dan terang Rm. A. Joko Purwanto, Pr Puncta 7 Februari 2026
Sabtu Biasa IV Sabtu Imam Markus 6:30-34 ISTILAH ini sekarang dipakai oleh pemerintah untuk kegiatan pembinaan aparat atau pejabat. Presiden Prabowo membawa seluruh jajaran kabinetnya mengadakan retret di Lembah Tidar, Magelang pada awal pemerintahannya. Retret bukan sekedar latihan fisik baris berbaris ala militer agar mereka berdisiplin. Retret adalah pembinaan rohani dan mental. Retret berasal dari bahasa Prancis la retraite atau bahasa Latin re-trahere, yang berarti menarik diri atau mundur. Tujuan retret adalah menenangkan diri, mendekatkan diri kepada Tuhan, mengevaluasi hidup, dan memulihkan kesehatan jasmani serta rohani. Hasil retret adalah pertobatan atau pembaharuan diri, bukan malah nambah korupsi. Kegiatan retret biasanya melibatkan refleksi, meditasi, doa, atau pembekalan intensif untuk pemulihan jiwa dan penyegaran batin. Setelah retret ada semangat baru dalam pelayanan atau tugas, bukan malah lelet tak punya daya semangat. Yesus mengajak para murid untuk retret setelah menjalankan tugas pelayanan. Ia berkata kepada mereka: "Marilah ke tempat yang sunyi, supaya kita sendirian, dan beristirahatlah seketika!" Sebab memang begitu banyaknya orang yang datang dan yang pergi, sehingga makanpun mereka tidak sempat. Seperti dua orang yang menggergaji kayu, mereka butuh waktu istirahat sejenak untuk memulihkan tenaga. Jika tidak, tenaga terkuras habis dan kayu tidak bisa dipotong. Perlu ada waktu untuk menenangkan diri dan meninggalkan segala kesibukan agar bisa bekerja kembali dengan tenaga dan semangat baru. Tuhan juga memberi kita waktu istirahat dalam satu minggu. Hari Minggu adalah hari Tuhan, dimana kita diajak kembali menimba semangat dari Tuhan. Hari itu adalah saat beristirahat bersama Tuhan. Setelah mengasingkan diri, Yesus dan para murid langsung bekerja karena melihat orang banyak yang berkumpul seperti domba-domba tanpa gembala. Ia tergerak oleh belas kasihan dan bertindak untuk memperhatikan mereka. Mari kita menimba semangat dari Tuhan. Menggunakan waktu dengan efektif agar semakain banyak orang diselamatkan. Banyak pejabat retret di Magelang, Lha kok banyak yang tertangkap tangan? Kalau kita memang sungguh berjuang, Rakyat akan damai dan berkelimpahan. Wonogiri, ambil waktu tenangkan hati Rm. A. Joko Purwanto, Pr |
Archives
December 2034
Categories |
RSS Feed